
Dalam perjalanan pulang, Suci dan Zhein hanya terdiam, tidak ada suara sedikitpun. Suci hanya fokus pada pemandangan di luar kaca.
Zhein pun sekilas melirik ke arah Suci yang masih setia dengan lamunannya. Tangan.kirinya pun menyentuh perut besar Suci hingga si pemilik pun terkejut.
Suci pun memegang tangan Zhein yang berada di perutnya dan menyusuri seluruh perut itu bersama, ada gerakan gerakan halus disana. Anaknya pun menikmati perjalanan pulang malam itu.
"Mau makan apa? biar sekalian kita beli." ucap Zhein dengan lembut.
"Aku lelah Mas, aku ingin cepat tidur, besok ingin ke rumah sakit ketemu papa Leo."ucap Suci pelan.
"Ya sudah kita langsung pulang saja sayang. Lagipula Mbok Wasih pasti sudah masak." ucap Zhein pelan.
Tidak butuh lama jalanan malam yang semakin lenggang membuat perjalanan pun semakin cepat sampai. Mobil pun sudah memasuki perumahan, dan terparkir cantik di depan rumah bercat hijau itu.
"Sayang, ayo turun." ucap Zhein pelan sambil membukakan sabuk pengaman yang dipakai oleh Suci.
Mereka berdua turun dari mobil langsung masuk menuju rumah. Suci langsung ke kamar untuk membersihkan diri dan segera merebahkan tubuhnya yang sudah terasa pegal sejak tadi.
Zhein pun masih di dapur untuk membuatkan susu untuk sang istri dan membawakan makanan, karena sejak kejadian tadi Suci hilang nafsu makan.
Zhein masuk ke kamar dan mendekati Suci. Duduk di pinggiran ranjang dan mulai membujuk untuk menyuapi istrinya.
"Makan dulu ya sayang, perhatikan untuk anakmu. Sini Mas suapi." ucap Zhein pelan.
Suci pun menegakkan duduknya dan menerima suapan itu dengan pasrah. Dia tidak boleh egois, karena bayi yang dikandungnya membutuhkan nutrisi sehat dari sari makanan yang di makan oleh ibunya.
"Ceritakan tentang Klara! aku ingin mendengarnya sekarang. Aku ingin semuanya jujur padaku, jangan jadikan aku orang bodoh atau sekedar pajangan dalam rumah tangga." ucap Suci terisak.
Zhein pun tersentak dengan ucapan Suci, menatap ke arah mata Suci. Hanya terlihat raut wajah yang kusut dan memohon jawaban dari semua ini. Wajahnya terlihat terluka dan kecewa.
"Habiskan makanannya dulu, baru aku ceritakan semuanya." ucap Zhein pelan. Prioritas tetap pada anak dan istrinya, kesehatan mereka berdua lebih penting dari apapun.
Suapan demi suapan pun dihabiskan oleh Suci hingga piring itu bersih tak bersisa, tidak lupa jamuan terakhir adalah susu rasa strawberry.
__ADS_1
"Sudah habis, tunggu apa lagi? ceritakan." ucap Suci tegas.
"Mas ke kamar mandi duku, lalu ganti baju, tunggu sebentar sayang." ucap Zhein dengan tenang.
Sifat perempuan itu memang selalu penasaran. Penuh rasa ingin tahu yang ujung ujungnya ghibah dan fitnah.
Zhein sudah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
"Sudah? ayo ceritakan?" ucap Suci sedikit keras, yang sudah tidak sabar menunggu sejak tadi.
"Baiklah, dengarkan ceritaku. Aku harap kamu bisa memahami dan mengerti. Terlebih penting kamu mempercayaiku sebagai Suamimu." ucap Zhein pelan.
"Aku dengarkan. Cepat Mas." ucap Suci sudah tidak sabar.
"Sini sambil tiduran dan aku peluk, aku ceritakan." ucap Zhein lembut.
"Sudah Mas, aku mau mendengarkan ceritamu bukan mau tidur. Serius sedikit Mas." ucap Suci pelan.
"Oke dengarkan ya. Kamu tahu kan, dulu Mas itu nakal, pasti Bunda juga cerita. Awal cerita Mas itu kecewa sama Abi, hingga Mas nakal. Mas sering nongkrong di klub malam, disana Mas bertemu dengan Klara, dia duku seorang bartender. Kadang nge-dj di klub itu. Pasti kamu tahu kan, pergaulan mereka seperti apa. Mas dan Bima Hany sekedar nongkrong dan minum, kalau Bima memang tidak pernah minum karena dia bercita-cita menjadi seorang dokter. Bima seorang sahabat yang baik, suatu malam, Mas mabuk berat dan Bima masih berada di rumah Raina. Hingga aku tidak sadarkan diri. Ternyata Klara menjebak Mas untuk bisa tidur bersamanya, agar mengakui bayi yang sedang dikandungnya. Bima datang cepat waktu, waktu Bima melihat aku dibawa ke suatu ruangan oleh suruhan Klara. Bima meminta bantuan teman-teman dan ya begitulah, Klara menjadi dalang ini semua." ucap Zhein menjelaskan.
"Aku kenal dia karena dia bartender di klub, kadang dia bercerita tentang kehidupannya. Hanya itu sebenarnya, mungkin Klara mengsalahartikan semuanya. Klara pernah akan di perkosa, Mas dan Bima yang membantunya. Dari situ kayaknya Klara ada rasa dengan Mas." Ucap Zhein enteng.
"Lalu kenapa harus kamu yang menjadi sasarannya?" tanya Suci kemudian.
"Namanya juga sudah cinta sayang, apapun akan dilakukan untuk mendapatkannya." ucap Zhein dengan jujur
"Klara kenal dengan Kinanti?" tanya Suci kemudian.
"Kenal. Tapi mereka seperti musuh bila bertemu. Kinanti kan pacarnya pemilik Klub, sedangkan Klara hanya anak buah saja. Sempat bersaing katanya, tapi Mas juga gak tau. Kinanti pernah bilang, Klara itu wanita panggilan. Tapi Mas beneran gak tau dan gak mau tahu." ucap Zhein pelan. Raut wajahnya menampilkan rasa kesal dan menyesal.
"Oke baiklah, aku percaya denganmu Mas. Lalu sekarang bagaimana, kalau Klara ingin berbuat nekat?" tanya Suci waspada.
Wanita itu akan lebih nekat melakukan apapun demi orang yang dicintainya.
__ADS_1
"Jujur Mas gak berpikir sampai kesana. Mas akan menghindarkan Klara. Kalau untuk berbuat jahat, Mas gak bisa sayang." ucap Zhein pelan. Zhein memperhatikan setiap perubahan wajah istrinya, kali ini pun Suci merasakan tidak nyaman dengan Klara, terlebih posisinya sedang hamil.
"Aku takut Mas, aku takut bila semua ini berkaitan." ucap Suci pelan.
"Kita punya Allah SWT, untuk apa kita takut dan cemas. Kita tinggal berdoa dan memohon kepada Allah SWT,. selebihnya kita pasrahkan sayang." ucap Zhein dengan mantap.
"Iya Mas, maaf aku sudah berpikir buruk tentang kami Mas. Aku hanya takut kehilanganmu." ucap Suci pelan.
"Biarkan Klara menjadi ujian kita lagi. Yang terpenting kita saling jujur dan terbuka." Ical zhein pelan.
"Tapi benar Klara sudah punya anak?" tanya Suci pelan.
"Iya benar sayang, bahkan waktu itu Bima ikut mengantarkan ke rumah sakit, karena Klara akan melahirkan." ucap Zhein pelan.
"Maafkan Suci ya Mas." ucap Suci pelan.
"Iya sayang. Sekarang kamu tidur, besok aku antar kamu ke rumah sakit. Mudah mudahan papa Leo sudah sadar." ucap Zhein meyakinkan istrinya.
"Iya Mas. Makasih Mas, sudah meluangkan waktumu untuk Suci. Merawat Papa Leo. Kamu baik Mas." ucap Suci pelan.
"Tidak perlu memuji sampai seperti itu. Nanti kalau terbang bagaimana?" ucap Zhein menggoda.
"Apanya yang terbang?" ucap Suci mendelik.
"Ularnya uang terbang." ucap Zhein terkekeh.
"Mana ada ular terbang?" ucap Suci ketus.
"Ular yang menjadi kupu kupu." ucap Zhein pelan.
"Tau ah, mau tidur. Mesum terus kamu Mas." ucap Suci kesal.
Mereka pun tertidur karena lelah dengan aktivitas satu hari ini.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN