
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan pelan Zhein membuka amplop itu, perasaannya saat itu benar benar seperti sedang diaduk aduk.
Amplop pun telah terbuka, hasil test pun sudah berada ditangan Zhein. Dibuka lipatan kertas itu hingga membentang lebar.
Zhein membaca satu per satu hasil test tersebut, semuanya tercetak tanda minus atau negatif, artinya Suci tidak sakit yang serius.
"Dokter Meta, apakah ini benar hasilnya?" ucap Zhein dengan kedua mata berbinar. Hatinya terasa lega membaca hasil test itu.
"Iya Pak Zhein, Ibu Suci sehat. Tidak ada penyakit yang serius. Mungkin Ibu Suci mengalami anemia atau kekurangan darah. Jadi kondisinya sering tidak stabil. Mohon dijaga makanannya, aktivitasnya dan pikirannya, agar tidak menganggu janin yang sedang dikandungnya." ucap dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah Zhein, maafkan aku, aku kemarin hanya mengambil kesimpulan terlalu cepat hingga kamu secemas ini. Aku bisa merasakan orang yang kita sayang sakit." ucap Raina pelan, wajahnya terlihat sedih.
"Tidak apa-apa Raina, kalau itu memang terjadi, aku bisa mengobatinya lebih awal sejak terdeteksi. Aku tidak ingin menjadi suami yang bodoh membiarkan istrinya larut dalam kesakitan." Ucap Zhein pelan.
"Sudah selesai? ayok kita makan dulu keluar?" ucap Raina sopan.
"Dokter Meta terima kasih atas bantuannya. Saya permisi dulu." ucap Zhein pelan.
Zhein pun keluar ruangan dokter Meta dengan perasaan senang. Raina mengikuti dari belakang. Mereka sama-sama terdiam.
"Kamu masih belum move on dari Bima?" ucap Zhein pelan.
"Belum Zhein, belum ada yang bisa menggantikan Bima. Aku sudah berusaha membuka hatiku tapi ternyata sulit. Kecelakaan itu membuat aku trauma dan tidak bisa melupakan Bima, Zhein." ucap Raina pelan.
"Aku juga kehilangan sahabatku Bima, dia bercita cita menjadi dokter, dan kamu memperjuangkan itu untuk mewujudkan cita cita Bima." ucap Zhein lembut.
"Kamu masih ingat itu Zhein, kamu memang sahabat terbaik." ucap Raina dengan senyum manisnya.
"Aku tidak mungkin lupa Raina, Bima sahabatku sejak SMP. Kamu itu cinta pertama Bima." ucap Zhein tidak meneruskan kata-katanya.
"Sudah lupakan, peristiwa itu sudah terjadi delapan tahun yang lalu. Saat kelulusan SMA, niat mau melamar berakhir tragis Zhein." ucap Raina tersenyum kecut.
"Aku ingin pulang Raina, kasian istriku sendiri di rumah." ucap Zhein pelan.
"Aku masih ada tugas Zhein, jadwalku sampai sore. Kapan kapan aku main Zhein, aku suka dengan istrimu, baik dan ramah." ucap Raina memuji dengan tulus.
__ADS_1
"Terima kasih Raina, kamu telah memuji Suci. Aku pun bangga memilikinya, dia mualaf Raina itu kelebihannya." ucap Zhein mantap.
"Alhamdulillah Zhein, kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Salam untuk istrimu Suci." ucap Raina pelan, mengakhiri pembicaraan mereka berdua.
"Iya Raina, akan kusampaikan salammu untuknya. Assalamualaikum." ucap Zhein pelan.
"Waalaikumsalam.." ucap Raina pelan.
Zhein pun pergi meninggalkan Raina didepan ruangannya. Baru beberapa langkah, ponsel Zhein pun berdering. Zhein mengambil ponsel dari saku celananya. Terlihat nama Mama Larasati disana.
"Assalamualaikum Ma, ada apa?" ucap Zhein lembut kepada Mama mertuanya.
"Waalaikumsalam, Zhein, kamu sedang bersama Suci?" ucap Mama Laras pelan.
"Tidak ma, Zhein sedang dikampus. Ada apa Ma? ada yang bisa Zhein bantu?" ucap Zhein pelan.
"Maafkan Mama, Mama hanya bisa bercerita kepadamu. Mama tidak ingin Suci kepikiran setelah Mama mengatakan hal ini." ucap Mama Laras dengan tenang.
"Iya Ma, bagaimana Ma?" ucap Zhein penasaran.
"Jadi Fathan, Aisyah dan Suci itu saudara se-ayah Zhein. Menurutmu ini bisa diceritakan pada Suci atau tidak." ucap Mama Laras pelan.
"Mama, apa Zhein tidak salah dengar?" ucap Zhein ragu.
"Masya Allah, ini berita baik Mama. Nanti Zhein bantu untuk mengatakan hal ini kepada Suci pelan pelan." ucap Zhein mantap.
"Baiklah Mama percayakan kepadamu Zhein. Suci sehat, bagaimana kandungannya?" ucap Mama Laras menanyakan kabar anak dan calon cucunya itu.
"Alhamdulillah semua sehat Mama. Ma Fathan dan Aisyah sudah tahu masalah ini?" ucap Zhein pelan.
"Umi Khadijah sudah memberitahu Fathan. Aisyah pun sudah tahu tentang ini. Hanya suci yang belum mengetahui ini." ucap Mama Laras pelan.
"Baiklah Ma, akan Zhein sampaikan perlahan, agar Suci mengerti dan paham. Takutnya dia kaget dan syok mendengar hal ini." ucap Zhein lembut.
"Iya Zhein, Tolong jaga Suci dengan baik. Sampaikan salam Mama untuk Suci. Assalamualaikum." ucap Mama Laras dengan suara lembut.
"Iya Ma, waalaikumsalam.." ucap Zhein mantap.
Sambungan telepon pun sudah terputus, ponsel pun sudah dimasukkan kembali ke saku celana. Zhein melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit untuk segera pulang. Sebenarnya ada dua berita bahagia hari ini, yang pertama Suci tidak sakit apapun dan yang kedua Fathan adalah saudaranya.
Kecemburuan Zhein selama ini hanya dipendam, melihat Fathan yang melihat Suci dengan tatapan menginginkan. Semua terhempas dengan sebuah kenyataan mereka berdua saudara. Tidak perlu ada ketakutan lagi yang Zhein rasakan. Semua sirna dengan pengakuan Mama Laras.
__ADS_1
Hari ini Engkau mengabulkan kedua doaku. Semua jawaban terungkap hari ini. Ketakutanku untuk kehilangan istri dan anakku telah sirna karena hasil lab yang negatif. Ketakutanku kehilangan istriku karena orang lain, juga sirna karena mereka bersaudara.
Zhein pun pulang ke rumah dengan mantap, hidupnya terasa sempurna sekali. Membina rumah tangga yang Sakinah Mawadah Warahmah itu tidak mudah, banyak kerikil kerikil yang menghalangi ketulusan cinta dan perjalanan hidup.
Pintu apartemen pun dibuka dengan kunci serep yang selalu dibawa Zhein.
"Assalamualaikum, Suci, sayang kamu dimana?" teriak Zhein sedikit panik.
Zhein pun mencari Suci ke dapur, ke kamar, kamar mandi, dan teras belakang, tidak ada.
"Assalamualaikum, Mas Zhein?" ucap suci sedikit kaget melihat suaminya menatapnya dengan wajah yang tidak biasa.
"Waalaikumsalam, kamu dari mana Suci, Mas mencarimu tidak ada, ternyata kamu pergi." ucap Zhein sedikit keras, karena tadi Zhein benar benar cemas dan panik.
"Maafkan aku Mas, aku hanya ke minimarket dibawah. Tadi mau masak udang saos padang, tapi saosnya habis jadi aku membeli dulu, maafkan Suci ya Mas, Suci tidak ijin sama Mas." ucap Suci sedikit menyesal karena kecerobohannya.
"Lain kali jangan seperti tadi, Mas benar benar panik. Kamu ada uang?" tanya Zhein pelan.
"Iya Mas. Aku pakai uang yang ada di saku celana kamu Mas, tadi waktu mencuci aku menemukannya dan aku menyimpannya." ucap Suci lembut.
"Oh, ya sudah. Mas sengaja gak ninggalin kamu uang biar kamu tidak pergi. Ini negara orang Suci, kalau kamu kesasar harus bagaimana Mas mencarimu. Jangan diulangi, kecuali ke minimarket dibawah, Mas ijinkan, selebihnya kamu jangan nekat Suci." ucap Zhein menasehati.
"Siap Mas Zhein, aku selesaikan masak dulu baru kita makan." ucap Suci lembut.
"Wangi banget. Susu sudah diminum sayang?" tanya Zhein sambil membuka kulkas untuk melihat gelas susu yang dibuatnya.
"Sudah Mas. Jelas wangi dong, masakan Suci pasti enak." ucap Suci dengan percaya diri.
"Pintar banget ini istri Mas, selalu bisa nyenengin suami." ucap Zhein sambil memeluk Suci dari belakang dan mengelus perut rata istrinya. Dagunya diletakkan di bahunya dan mencium pipi istrinya yang masih tertutup niqab.
"Mas, jangan mulai nakal ya. Suci lagi masak nih." ucap Suci merengek manja.
"Ekhhmmmmm .... kamu yang nakal sayang, bikin aku cemas." ucap Zhein mengungkit kembali.
"Ini udah matang, ayok kita makan, baby-nya udah minta makan dari tadi." ucap Suci sambil menumpahkan makanannya ke piring besar dan meletakkannya di meja makan.
"Mari makan...." ucap Zhein penuh semangat.
----------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚