Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 69 KENANGAN ITU HANYA PEMANIS


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Hari ini seisi rumah pun sibuk mempersiapkan acara lamaran Fatima. Pagi pagi sekali Haikal sudah memberi kabar bahwa malam ini kedua orangtuanya akan datang melamar Fatima.


Umi Khadijah sudah membicarakan hal ini kepada Abi Tito dan Abi Tito setuju dengan lamaran itu.


Secara umum Abi Tito dan Umi Khadijah sudah bisa menerima satu sama lain. Tapi untuk kembali seperti dulu rasanya agak sulit. Tidak mudah menempelkan kembali kaca yang sudah pecah.


Contohnya tadi malam, Abi Tito pun rela untuk tidur di sofa yang tidak nyaman itu. Semua sudah terjadi, sekarang tinggal menebus dosa dosanya saja.


"Sayang, kamu yakin Haikal anak yang baik kan sayang?" tanya Abi Tito lembut kepada istrinya yang sedang menata ruang tamunya.


"Iya Mas, kalau gak baik, mana mungkin aku menyuruhnya untuk melamar Fatima." ucap Umi Khadijah dengan nada yang sangat manis.


"Aisyah sudah punya jodoh belum?" tanya Abi Tito pelan.


"Kurang tahu Mas, gak pernah lihat Aisyah dekat dengan siapapun. Dulu denger denger, suka sama Fathan, tapi Fathan kan sukanya sama Suci, tapi sekarang mereka malah bersaudara." ucap Umi Khadijah dengan sedikit menyesal.


"Mau Abi jodohkan dengan murid Abah Furqon. Dia anak yang Sholeh kesayangan Abah Furqon. Biasa dipanggil Ahmad di Kobong. Gimana menurutmu sayang? Aisyah kan sudah pantas untuk berumah tangga. Kesibukannya hanya kursus menjahit, kita bantu buka usaha menjahit, biar mandiri." ucap Abi Tito pelan.


"Kalau Ahmad laki laki yang baik, kenapa tidak? aku senang Mas. Apalagi melihat Suci sekarang sudah mengandung. Jadi pengen punya cucu." ucap Umi Khadijah pelan.


"Coba Abi telepon dulu Ahmad." ucap Abi Tito pelan.


Abi Tito mengambil ponselnya dari kantong celananya dan mulai mencari nama Ahmad disana. Di sambungkan nomor itu dan terdengar nada sambung disana.


Tut....Tut


"*Assalamualaikum Ahmad, apa kabar?" tanya Abi Tito dengan sopan.


"Waalaikumsalam, Pak Azzam, alhamdulillah saya baik. Ada apa Pak?" tanya Ahmad dengan sopan.


"Aku ingin menjodohkanmu dengan putriku Ahmad, usianya sekitar dua puluh tahun. Sudah lulus sekolah, dan saat ini mengikuti kursus menjahit. Namanya Aisyah. Berkenalan dulu saja. Bagaimana?" ucap Abi Tito dengan semangat.

__ADS_1


"Saya memang berniat mencari istri Pak Azzam, kalau boleh saya langsung menikah saja. Saya yakin pilihan bapak tepat dan terbaik untuk saya." ucap Ahmad mantap.


"Boleh, nanti akan ku bicarakan pada anakku. Kapan kamu bisa membawa orang tuamu kesini Ahmad?" tanya Abi Tito pelan.


"Hari ini kebetulan ada acara keluarga dengan besan Abi dan Umi. Mungkin besok saya ke rumah Pak Ahmad. Bapak tinggal kirim alamatnya saja." ucap Ahmad penuh semangat dan mantap.


"Baiklah ku tunggu kedatanganmu besok malam Ahmad. Nanti alamatnya akan ku kirimkan kepadamu." Ucap Abi Tito mantap.


"Iya Pak, terimakasih." jawab Ahmad pelan.


"Oke, assalamualaikum." ucap Abi Tito pelan.


"Waalaikumsalam Pak Azzam." jawab Ahmad lembut*.


Sambungan telepon pun diakhiri. Satu per satu masalah yang datang pun terselesaikan dengan baik dan lancar.


Semoga memang kebahagiaan dan keberkahan mulai menyinari keluarga besar ini.


Perilaku penyimpangan dan perbuatan dosa yang telah dilakukan sudah ditebus dengan memperbaiki diri selama di Ponpes dibawah naungan Abah Furqon secara langsung.


"Gimana Mas?" tanya umi Khadijah pelan.


"Ahmad mau sayang, dia bersedia. Besok keluarganya akan datang kesini dan langsung menentukan tanggal pernikahan. Mereka bisa pacaran setelah menikah bukan?" ucap Abi Tito lembut.


"Iya Mas, aku setuju." ucap Umi Khadijah pelan.


"Fathan bagaimana Umi?" tanya Abi pelan.


"Maksud Abi dalam hal apa?" ucap Umi Khadijah pelan.


"Sudah bisa move on belum dari Suci?" tanya Abi menyelidik.


"Belum Bu, tapi Fathan itu kan keras seperti kamu. Dia pasti menolak tuh dijodohkan." ucap Umi Khadijah sedikit kecewa mengingat Fathan yang begitu terluka dengan cinta pertamanya.


"Lalu kuliahnya?" tanya Abi pelan.

__ADS_1


"Lagi thesis bi, beberapa bulan lagi selesai. Baru nanti kita tanyakan masalah jodoh. Lagipula Fathan itu laki laki, jadi menikah bukan prioritas. Iya kan Bi?" tanya umi Khadijah lembut.


"Ada yang perlu di bantu lagi gak? ini kursi sudah dikeluarkan Umi." tanya Abi pelan.


"Sudah Bi, cukup. Ini hanya lamaran tidak perlu hiasan kan. Umi mau bantu masak Bu Inah ya. Jangan lupa undang tetangga sebagai saksi Bi." ucap Umi Khadijah pelan.


"Tadi suruh minta tolong Aisyah untuk menyampaikan niat baik kita, hanya beberapa orang termasuk Ibu Atmojo, kamu tidak apa apa kan Khadijah? kalau keberatan biar Mas batalkan." ucap Abi Tito.


"Iya Mas. Larasati juga sedang ada dirumah." ucap Umi Khadijah.


"Sudahlah sayang kamu tidak perlu membicarakan Larasati. Jadi mau beli kue gak? Mas mau manasin mobil dulu." ucap Abi Tito datar.


Memorinya mengingat kembali sosok Larasati, adik dari temannya Bowo. Beberapa kali Tito menyatakan cintanya pada adik Bowo itu tetapi tetap saja ditolak dengan alasan aku hanya ingin main main.


Takdir berkata lain, aku tidak bisa menjadikanmu pendamping Larasati, tapi aku bisa memiliki keturunan dari rahimmu. Kamu tahu betapa saat itu aku senang tapi aku juga sedih kalau kenyataan itu sangat pahit untuk istriku.


"Sudah Mas, manasin mobilnya? kira berangkat sekarang saja?" ucap Umi Khadijah pelan.


"Sudah. Ayok kita berangkat" ucap Abi Tito lembut.


Itu semua hanya kenangan, pemanis di masa lalu. Saat ini yang kita jalani kehidupan nyata untuk menggapai angan-angan dan tujuan berumah tangga. Menikah itu untuk lebih memahami pasangannya, menerima masa lalunya. Kadang kita sebagai manusia tidak bisa menerima sesuatu yang buruk atau mudah tersulut emosi dengan kejadian yang kurang mengenakkan tanpa menanyakan kebenarannya.


Hal ini juga pemicu keretakkan rumah tangga. Jadilah pasangan yang bijak, cari kebenarannya sebelum memutuskan sesuatu. Penyesalan selalu datang terlambat. Satu hal yang paling penting, urusan rumah tangga jangan sampai ada pihak ketiga yang ikut campur dalam mengambil keputusan, baik orang tua, mertua, saudara kandung atau siapapun.


Carilah jawabannya dengan sholat malam dan bermunajat kepada Allah SWT. Minta yang terbaik untuk kita. Allah SWT akan memberikan apa yang menjadi kebutuhan kita bukan keinginan kita.


Keharmonisan rumah tangga terletak pada bagaimana pasangan suami istri tetap bisa menjaga komitmennya tanpa ada egois dan emosi. Kebanyakan kendala berumahtangga itu kejenuhan. Buatlah suasana rumah itu menjadi hangat dan selalu ceria, ini tugas bersama.


-------------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚

__ADS_1


__ADS_2