Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 102 BETULKAH ITU DIA???


__ADS_3

Seharian bersama keluarga Tito Azzam membuat rasa semangat bagi Suci. Menjelang kehamilannya yang semakin besar membuat semuanya terasa indah dan sempurna.


Perhatian dan kasih sayang dari Papa Tito, Umi Khadijah, Mas Fathan, Kak Raina, Aisyah, Baihaqi dan Fatima benar benar tulus, membuat Suci pun berat untuk meninggalkan atau jauh dari mereka. Keluarga yang hangat dan harmonis walaupun sempat ada permasalahan di masa lalu, dengan sabar dan ikhlas membuahkan tali persaudaraan yang semakin erat.


Walaupun berkeinginan untuk tinggal lebih lama lagi pun sangat diharapkan Suci tapi karena tugas dan pekerjaan Suami serta butik yang harus di urus maka Keluarga Zhein dan Suci pun harus kembali ke Yogyakarta untuk beraktivitas kembali.


"Sudah siap semua sayang." tanya Zhein pelan kepada istrinya.


"Sudah Mas, tinggal ditutup saja kopernya, bawa keluar Mas." Ucap Suci pelan sambil membereskan tempat tidurnya sebelum ditinggalkan.


Mereka berdua pun keluar dari kamar menuju ruang tamu. Disana sudah banyak keluarganya yang berkumpul termasuk Mama Larasati dan Bunda Jihan. Sedangkan Pakde Bowo dan Bude Ameera sudah kembali ke kotanya sejak kemarin ada pekerjaan Pakde Bowo yang tidak bisa ditinggalkan.


"Hallo sayang, anak Mama betah sekarang sama Umi ya?" tanya Mama Larasati pelan sambil memeluk anak semata wayangnya.


"Mama, Suci kan dirumah Papa dan Umi jadi gak perlu cemas dan panik gitu. Suci senang disini Mama." ucap Suci pelan sambil mencium pipi Mama Larasati.


"Sudah siap semua?" tanya Bunda Jihan pelan.


"Sudah Bunda, Zhein masukkan koper dulu ke mobil, baru kita berpamitan." ucap Zhein pelan sambil menarik koper ke arah teras.


"Dimakan dulu, Jihan, Laras? kita kan saudara sekarang, jangan sungkan." Ucap Umi Khadijah dengan lembut.


Sedikitpun Umi Khadijah tidak memiliki perasaan kesal, benci dan dendam kepada Larasati sahabatnya. Ada juga Umi Khadijah merasa iba, kasihan dan bersalah terhadap kondisinya saat ini. Mereka sama-sama wanita, pastinya mereka lebih tahu perasaan masing-masing, mereka saling menghargai dan menghormati perasaan orang lain.


"Saya cicipi ini browniesnya Khadijah, buatanmu selalu enak." ucap Larasati pelan sambil mengambil satu potong brownis untuk di cicipi.


Zhein pun sudah masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sebelah Bunda Jihan.


"Bener enak ya Jeung Laras browniesnya. Sudah beres semua Zhein?, kita berangkat sekarang mumpung masih pagi." ucap Bunda Jihan pelan.


Zhein pun bangkit berdiri dan menghampiri Umi Khadijah untuk berpamitan dan mencium punggung tangan Umi Khadijah, Suci pun mengikuti.

__ADS_1


"Umi, Zhein dan keluarga pulang dulu. Papa mana?" ucap Zhein pelan.


"Papa disini Zhein, baru selesai mandi. Kalian buru buru sekali?" ucap Papa Tito pelan ke arah Zhein.


"Mumpung pagi, biar bisa istirahat, kasihan Suci." ucap Zhein dengan tenang.


"Baiklah, hati hati dijalan ya." Ucap Papa Tito dan Umi Khadijah bersamaan.


Suci dan Zhein serta kedua ibunya sudah berada di dalam mobil, mereka berdoa dan mulai melakukan perjalanan pulang.


"Sayang, kalau pegel, kursinya di rebahkan, biar kamu nyaman." ucap Zhein penuh sayang.


"Sudah Mas gak papa, ini juga sudah ada bantal." ucap Suci pelan.


Mereka hanya berempat kembali ke Yogyakarta. Sedangkan Raina akan bekerja di Rumah sakit di kota P. Raina akan tinggal bersama Umi Khadijah. Mama Kirana dan Reihan akan kembali ke Amerika, dan akan menetap disana sementara sampai keadaan membaik. Fathan harus kembali ke Kairo tanpa Raina, dan menyelesaikan thesisnya tinggal menunggu sidang dan wisuda. Untuk Aisyah dan Baihaqi sudah kembali ke rumahnya, Baihaqi seorang guru dan membuka sekolah gratis untuk anak anak tidak mampu.


Semua perjalanan hidup yang penuh lika liku pun berakhir kebahagian, karena ada pengorbanan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan. Cinta bisa hadir kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.


Mulai hari ini, semua memiliki kehidupannya masingmasing. Tapi dibalik kebahagiaan mereka ada seseorang yang bersedih. Dia tidak rela melihat kebahagiaan keluarga besar itu, niat menghancurkan malah membuat mereka bersatu dan semakin kuat.


Perjalanan menuju kota Yogyakarta sangatlah lumayan membosankan, terlebih sudah terjebak macet. Suci sesekali menolehkan wajahnya ke arah Zhein karena sorot matahari begitu terik ke arah jendela kaca mobilnya sehingga membuat mata sedikit silau.


Suci memperhatikan jalanan yang padat merayap, ada sosok yang dia kenal tapi benarkah itu dia. Suci hanya menoleh sebentar karena mobil berjalan dengan cepat, orang yang dilihatnya pun berlalu begitu saja. Pakaiannya compang camping, membawa karung tapi benarkah dia?, gumamnya dalam hati.


Suci hanya mengamati dan berlalu begitu saja. Zhein yang sejak tadi memperhatikan Suci pun ikut penasaran dan bertanya.


"Ada apa? kok kelihatan bingung" tanya Zhein pelan sambil menggenggam tangan Suci.


"Gak papa Mas, tadi cuma lihat pemulung, kasihan." ucap Suci sedikit berbohong karena masih belum yakin dengan orang tersebut.


"Kamu yakin? gak bohong sama Mas? Kamu gak pandai berbohong lho sayang?" ucap Zhein pelan, genggamannya semakin erat.

__ADS_1


Suci hanya memandang wajah Zhein penuh tanya, kenapa bisa tahu? gumamnya dalam hati.


"Mas, aku tampak sedang menutupi sesuatu?" tanya Suci pelan.


Zhein pun menoleh ke arah Suci dan tersenyum.


"Menurut Mas iya. Tapi kan yang tahu hanya kamu dan Allah SWT. Mas mengenal kamu sudah satu tahun Suci. Mas tahu, kamu kenapa? sedih atau senang? Mas tahu betul. Karena Mas mencintai karena Allah SWT, pakai hati bukan pakai nafsu. Jadi Mas bisa merasakan." ucap Zhein pelan melepaskan genggaman tangannya dan mengoper speed perseneling mobil.


"Tapi aku gak papa Mas. Tadi ada pemulung tapi mirip...." ucap Suci pelan tidak melanjutkan ucapannya.


"Mas tahu, tadi Mas lihat, tidak perlu kamu lanjutkan. Dibelakang ada Mama Larasati dan Bunda, gak enak kalau kedengaran. Kita bahas nanti di rumah ya." ucap Zhein dengan senyum sambil mengusap pipi Suci dibalik niqabnya.


"Iya Mas. Kamu tahu juga?" tanya Suci pelan sambil mengapit lengan Zhein dan menidurkan kepalanya pada lengan Zhein.


"Tidak sengaja lewat spion, lihat kamu serius banget ngamatin orang." ucap Zhein pelan.


Hari itu terasa cepat, yang tadinya membosankan ternyata Suci bisa merubah menjadi suasana yang romantis.


"Mau beli apa dulu gitu, buat dirumah? Takutnya lagi ngidam apa? biar gak keluar lagi sayang Mas cape nyetir." ucap Zhein pelan.


"Aku mau tempura Mas, di deket kampus kamu. Boleh?" tanya Suci pelan.


"Boleh, tapi antar Bunda dan Mama dulu ya sayang. Bunda, Mama, Zhein langsung antar tapi gak mampir, ini Suci mau tempura setelah itu pulang mau istirahat, Zhein lelah." ucap Zhein dengan jujur.


"Iya sayang gak papa. Hati hati ya. Suci jaga kandunganmu, jangan terlalu lelah ya. Kan sudah ada yang bantuin di rumah." ucap Bunda pelan.


Kedua ibu itu pun turun dan masuk ke dalam rumah, sementara Zhein melanjutkan perjalanan untuk membeli cemilan ibu hamil. Suami yang sabar dan penyayang, dalam keadaan lelah masih mengantarkan istrinya membeli makanan yang sedang diidamkan.


Zhein kamu memang terbaik, tidak ada yang lain......


JAZAKALLAH KHAIRAN

__ADS_1


__ADS_2