
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Pertanyaan Zhein sontak membuat Suci tersadar, kalau Suci benar benar yang memulainya. Suci pun hanya terdiam menatap Zhein penuh kasih sayang.
Suci pun malah terpesona dengan senyum manis milik Zhein, benar benar ampuh membuat jantung berloncat loncat ria.
"Ekhmmm aku malu mas, masa iya perempuan yang memulai lebih dulu, apalagi untuk masalah seperti ini." ucap Suci dengan rona merah di pipi, memang dia sangat malu, apalagi saat ini Suci hanya memakai pakaian dalamnya saja.
Sungguh kondisi ini harus segera diakhiri kalau tidak ini jantung makin menjadi jadi.
"Baiklah itu permintaanmu, jangan kamu menolakku." ucap Zhein penuh makna.
Zhein pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah Suci, lebih tepatnya ke arah bibir Suci, karena bibirnya yang sudah menjadi candu bagi Zhein walaupun baru mengecupnya sekali.
Bibir zhein pun mulai menyentuh mengecup dan menghisap bibir Suci, sehingga terbukala ruang kebebasan bagi Zhein untuk mengabsen seluruh gigi Suci dengan lidahnya. Lidah mereka pun saling bersentuhan dan saling menghisap hingga mengeluarkan desahan desahan kenikmatan luar biasa yang begitu pelan, lirih, namun penuh dengan nafsu, ini yang dinamakan kenikmatan sensasional. Pelukan Zhein di pinggang Suci pun semakin erat pertanda tidak ingin lepas dari ciuman itu. Suci pun mulai terbuai dengan ciuman bibir itu hingga tak terasa Arghh.....
"Arghhh..... mas, ekhmmmm nafasku mulai habis mas." ucap Suci polos, sambil melepaskan ciuman itu dan melepaskan pelukan Zhein, ada getaran aneh dalam tubuhku dari kaki hingga kepala tapi nikmat.
"Ekhmmm, tapi kamu menikmatinya Suci, perlukah kita ulangi lagi, aku masih ingin?" ucap Zhein menggoda istrinya. Zhein pun sebenarnya masih menginginkan lagi.
"Kita masih banyak waktu mas, nanti malam kita bisa berduaan, tapi bude ku sudah menungguku sejak tadi, aku tidak enak kalau harus menungguku terlalu lama, sebentar saja, mungkin ada hal penting yang harus disampaikan. mas mau ikut?" ucap Suci pelan, sambil memakai baju dan kerudungnya, tidak lupa memasangkan cadarnya. Sempurna sudah kecantikannya.
"Baiklah, aku antar, mandinya nanti saja, kalau sudah makan kamu, aku masih ingin memelukmu, kan sudah halal sayang" ucap Zhein merengek manja kemudian terkekeh sambil menjawil hidung Suci yang tertutup cadar.
"Iya, aku mengerti mas, apa kamu sudah tidak sabar untuk meminta hakmu?" ucap Suci lembut dan mendesah sambil meninggalkan Zhein keluar kamar menuju ruang tamu.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan seakan takut kehilangan satu sama lain, sungguh pasangan yang serasi dan kompak. Keduanya sudah tidak malu malu dan tidak canggung bila terlihat mesra didepan umum, padahal baru hari ini mereka menikah seperti sudah lama. Mereka kemudian menemui bude Ameera, yang terlihat seperti sedang panik dan cemas begitu juga dengan pakde Bowo. Ada apa sebenarnya? Apa ada hal penting?
__ADS_1
"Assalamualaikum bude, pakde, maaf sudah menunggu lama, ada apa sebenarnya? hal apa yang akan dibicarakan kepada suci?" ucap Suci penasaran.
"Waalaikumsalam Suci... Maafkan kami baru memberitahukanmu sekarang. Eyang Atmojo sakit, beliau sekarang di rumah sakit, dan kabar terakhir beliau sedang kritis. Beliau berpesan ingin bertemu kamu dan Zhein setelah pernikahanmu, apa kalian bersedia menjenguk Eyang?" ucap pakde Bowo datar.
"Pasti Suci dan Zhein mau menjenguk pakde, tapi Eyang sakit apa pakde? kemarin bahkan eyang meneleponku dan katanya baik baik saja. Apa yang kalian tutupi, beri tahu padaku?" ucap Suci kesal sekaligus panik.
Zhein pun merangkul bahu Suci sambil menepuk nepuk pundaknya, pertanda agar Suci tenang dan tidak gegabah.
"Eyang Atmaja sakit jantung, beliau sudah tiga hari di rumah sakit. Beliau tidak ingin membuatmu cemas dan membuat acara pernikahanmu menjadi berantakan Suci karena kabar buruk ini. Jangan marah pada beliau, karena beliau ingin yang terbaik untukmu. Sekarang bersiaplah kita ke rumah eyang nanti pakde jelaskan penyebabnya di perjalanan." ucap pakde Bowo.
"Iya pakde, mas kamu ikut kan? bunda... bunda ikut ke rumah Eyang Atmojo ya? biarkan rumahnya bunda, kan ada mbok Munah bunda, ikut ya bunda?" ucap suci memohon.
"Baiklah bunda ikut, bunda siap siap dulu ya nak, kita bawa supir aja biar gak cape, mang Ujang siapkan mobil!" ucap Bunda.
"Baik Bu Jihan, akan saya siapkan." ucap mang Ujang.
"Iya sayang aku juga ikut kamu, kamu disini aja, biar aku yang siapkan bajumu dan tas mu." ucap Zhein sambil mencium kening Suci penuh kasih sayang.
Semua panik, cemas, gugup. Sambil mempersiapkan segala keperluan untuk menjenguk sekaligus silaturahmi ke rumah Eyang Atmojo.
Semua telah bersiap, dan sudah mengecek kembali barang bawaan mereka.
Mereka semua sudah berada dalam satu mobil, ada mang Ujang, bunda Jihan, pakde Bowo, bude ameera, mas Zhein dan suci.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Tangan kanan Zhein sejak tadi, merangkul bahu suci dan menidurkannya dipundak Zhein agak sedikit nyaman. Sedangkan tangan yang satu lagi memegang tangan suci dan menautkan jari jemarinya dengan jemari suci. Dengan sesekali mengecup kepala suci yang tertutup kerudung.
"Sabar ya sayang, tidak akan terjadi apa apa, berdoalah dan berdzikir untuk kesembuhan eyang." ucap Zhein mantap tapi menguatkan. sambil mengelus elus lengan suci.
__ADS_1
Entah memakai ilmu pelet apa, yang jelas berada di dekat mas Zhein benar benar sangat nyaman.
"Iya mas Zhein, tetaplah disampingku, saat aku membutuhkan kamu mas, aku takut." ucap suci sambil menenggelamkan kepalanya ke bahu Zhein.
"Aku selalu ada untukmu Suci dalam keadaan suka maupun duka, aku berharap kita saling menguatkan, saling mengisi kekurangan kita. Kamu hadir untuk melengkapi kekurangan ku Suci. Aku sangat mencintaimu Suci." ucap Zhein mantap dan lembut dan mengecup kening Suci berkali kali.
Setelah 30 menit perjalanan, pakde Bowo mulai angkat bicara perihal penyebab Eyang Atmojo masih rumah sakit karena serangan jantung mendadak.
"Suci, sebenarnya ibumu yang menyebabkan semua ini terjadi. Yang menyebabkan Eyang Atmojo masuk rumah sakit akibat serangan jantung mendadak. Seminggu sebelum acara pernikahan mu, eyang sudah meminta izin pada Larasati ibumu. Eyang memberitahukannya secara langsung agar tidak ada salah paham, dan dengan cara yang baik-baik malahan dibalas oleh Larasati dengan amarah dan amukan. Eyang Atmojo juga diancam oleh Larasati akan dihabisi bila memberi restu kepadamu. Keinginan Larasati adalah agar namamu di coret dalam Keluarga Besar Atmojo. Agar hidupmu susah dan sengsara tanpa gelar Atmojo. Mendengar ucapan keterus terangan Larasati, mendadak penyakit jantung Eyang kambuh dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Itulah kebenarannya Suci. Pakde mohon kamu bijak menyikapi ini. Tidak baik masalah pribadi dibawa ke dalam masalah keluarga. Terlebih saat ini kamu sudah memiliki suami. Suamimu yang paling berhak kamu turuti, kamu hargai dan jamu hormati. Jadilah istri yang tawaduk Suci." ucap pakde Bowo.
Pikiran dan hati Suci sudah entah kemana walau matanya terpejam. Tidak ada yang perlu disesali cukup perbanyak istighfar saja. Dalam hatinya tetap berdzikir dan berdoa mohon perlindungan, keselamatan dan dijauhkan segala yang buruk.
Pintalah, Ceritakan lah kepada Allah Sampai hal terkecil sekalipun, maka Allah akan selalu menolongmu dalam masalah sebesar apapun
"Tidur sayang jangan banyak pikiran, nanti kamu sakit." ucap Zhein pelan.
"Iya mas, kmau gak pegel aku dipundakmu terus begini?" ucap Suci.
"Apapun ku lakukan untukmu sayang. Tapi malam ini jadi tertunda ya sayang." ucap Zhein pelan dana berbisik ditelinga Suci. Sontak membuat geli Suci.
"Mulai nih mesumnya, tunda dulu ya, maafin aku." ucap Suci sambil mencubit perut Zhein.
"Arghhhawwwwww......." ucap Zhein spontan didalam mobil yang sunyi itu.
-------------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚