Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 74 MENCOBA MEMBUKA HATI


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


"Apa Saja." ucap Suci dan Fathan bersamaan.


"Kompak banget sih ini saudara." ucap Raina pelan dengan tidak sadar.


"SAUDARA?!! siapa Kak Raina?" tanya Suci pelan sambil menatap Raina memohon jawaban.


Raina sontak kaget dengan pertanyaan tegas Suci, bibirnya Kelu, wajahnya sedikit pucat, Raina takut kesalahan ucapnya ini bisa membuka rahasia besar diantara mereka.


Fathan pun menatap tajam wajah Raina, seolah meminta penjelasan tentang hal ini


Kenapa masalah ini Raina mengetahui, sudah jelas ini bukan hal yang tidak disengaja, tapi memang Raina mengetahui rahasia besar ini.


"Maafkan aku Suci, maksudku tadi kalian seperti saudara. Jawaban kalian kompak." ucap Raina pelan sambil tersenyum.


"Ku pikir apa Kak Raina, semenjak hamil, aku merasa lebih sensitif." ucap Suci yang menyadari perubahan itu.


"Itu hal biasa Suci, alami terjadi pada ibu hamil. Nikmati saja, suatu saat kamu akan kangen dengan moment seperti ini." ucap Raina.


"Assalamualaikum....Sayang..." ucap Zhein lembut sambil mengecup kening Suci.


"Waalaikumsalam... " ucap ketiganya dengan serempak.


Suci pun mengecup punggung tangan suaminya dan membuka kursi disebelah untuk Zhein duduk.


"Maaf, kalian sudah lama? Hai Fathan, gimana kabarmu?" tanya Zhein pelan.


"Maaf, Mas, Suci mau ke toilet dulu." ucap Si i pelan.


"Mas antar ya sayang?" tanya Zhein pelan.


"Mas, kamar mandi cuma disitu." ucap Suci menunjuk ke arah kamar mandi.


"Biar denganku Zhein, aku juga ingin ke toilet. Ayok Suci." ucapnya pelan.


Kedua wanita itu telah menyerahkan note pesanan kemudian menuju toilet. Toilet yang cukup ramai, mengharuskan mengantri untuk beberapa waktu.


"Maafkan aku untuk kejadian waktu itu, aku belum sempat meminta maaf padamu. Untuk saranmu waktu itu, boleh aku mendekati Raina sahabatmu? Aku belum bisa melupakan Suci, Zhein, tapi aku lihat Raina, memiliki sifat uang mirip dengan Suci. Gimana aku direstui dengan sahabat mu?" tanya Fathan pelan.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya Fathan, kamu mau berjuang dari patah hatimu. Raina itu baik dan penyayang, dia trauma karena calon tunangannya meninggal dalam kecelakaan. Aku harap kamu bisa membuat dia bangkit juga, dan melupakan masa lalunya. Aku percaya padamu." ucap Zhein mantap sambil menepuk bahu Fathan dengan lembut.


"Aku akan mencoba Zhein, aku janji akan membahagiakan sahabatmu. Tugasku sudah selesai bukan menjaga jodoh orang lain?" ucap Fathan terkekeh.


"Maksudmu aku? kalian saudara Fathan. Kalaupun kalian sempat menikah, itu pernikahan yang salah." ucap Zhein pelan.


"Kamu benar Zhein. Aku juga bersyukur takdirku berkata lain, Suci bukan jodohku, ternyata rahasia besar terungkap, dia adalah adikku. Berarti aku kakakmu Zhein, kamu harus panggil aku kakak!!!" ucap Fathan kemudian tertawa. Hatinya masih pilu, tapi berusaha menutupi perihnya kekecewaan, dan patah hatinya.


"Itu Raina datang, dia tidak suka pria yang keras kepala dan kasar. Dia suka pria yang lucu dan sering menghibur." ucap Zhein pelan.


Suci dan Raina pun kembali ke mejanya. Tidak lama pesanan mereka juga datang, mereka makan siang bersama dan sesekali mengobrol santai seputar kampus dan pekerjaan.


"Suci, bulan depan Mas, wisuda. Thesis Mas Alhamdulillah sudah ACC, Minggu depan Mas presentasi dan sidang thesis, kamu mau menemani Mas?" tanya Zhein sambil meminum jusnya.


"Permintaan suamiku mana yang pernah Suci tolak?" ucap Suci sambil memeluk Zhein dan mencium pipinya.


Rasa bahagia dan bangga terhadap suaminya yang telah menyelesaikan pendidikannya.


"Besok aku akan mendaftar untuk menjadi dosen di Indonesia, aku ingin meminta rekomendasi dari kampus. Kamu bagaimana Fathan?" tanya Zhein pelan.


"Aku masih lama Zhein. Selamat ya atas keberhasilannya." ucap Fathan dengan tulus.


"Makasih Fathan, Raina. Oh ya... kalian cocok lho, tidak mencoba untuk saling membuka hati?" tanya Zhein dengan sikap cueknya.


Raina dan Fathan menjadi salah tingkah, Raina yang langsung memerah wajahnya, sedangkan Fathan yang langsung menatap Raina yang terlihat keki.


"Biar takdir yang menyatukan, bila Memnag kita berjodoh Zhein." ucap Fathan sambil mengedipkan satu matanya pada Zhein.


Raina pun menoleh saat Fathan memberikan pernyataan tadi. Hatinya yang kosong seperti terisi kembali dengan kehangatan cinta. Raina hanya tersenyum, kebahagiaannya di tahan agar tidak terlihat berlebihan. Raina menginginkan Fathan yang memulai, bukan Raina.


"Besok weekend, bagaimana kalau kita berjalan jalan? biar ibu hamil ini bisa jalan sehat." tanya Zhein pelan, tangannya menggenggam telapak tangan Suci yang dari tadi hanya menyimak obrolan mereka dan sesekali menengok ke arah suaminya, seolah meminta penjelasan setelah ini.


"Aku setuju Zhein, Raina kamu bisa kan? besok biar aku jemput kamu." ucap Fathan mantap.


"Jadwal hari ini masuk malam, aku takut lelah." ucap Raina pelan.


"Makanya biar ku jemput, kamu bisa tidur di mobil, demi aku yang jomblo diantara mereka?" ucap Fathan memohon.


Raina seperti tampak berpikir, padahal hatinya sudah mengatakan ingin dari tadi. Hanya saja perlu menguji kesabaran dan ketukusan seorang pria.


"Baiklah, nanti ku kabari Fathan. Kita mau kemana? aku ingin pulang dan istirahat." ucap Raina pelan.

__ADS_1


"Iya Raina, hati hati dijalan. Biar kami nanti naik taksi saja." ucap Zhein pelan.


"Maaf ya Zhein tidak bisa mengantar, assalamualaikum semuanya." ucap Raina pelan, kakinya terburu-buru untuk segera pulang. Raina memang seorang dokter tapi degub jantungnya lemah berada disamping laki laki yang sedang merayunya itu.


Raina ingin mencari jodoh yang tepat, bukan sekedar untuk pelarian ataupun pelepasan.


"Waalaikumsalam, hati hati Kak Raina." ucap Suci pelan.


Mereka bertiga saling berpandangan, ada perasaan canggung antara Suci, Fathan dan Zhein. Sejatinya Zhein dan Fathan sudah berhubungan baik setelah rahasia besar terungkap.


"Kalian bareng aku saja, gimana? kita kan searah?" tanya Fathan pelan.


"Boleh Fathan, kita tidak merepotkan?, gak papa kan Suci?" tanya Fathan lembut.


"Iya Mas, Suci gak papa." ucap Suci pelan.


Mereka pun akhirnya pulang bersama dalam satu mobil. Banyak obrolan diantara kedua lelaki itu seperti terlihat sudah akrab dan tidak ada masalah.


Perasaan Suci pun lega, melihat keduanya bisa berdamai, semoga ini semua bisa berlangsung selamanya.


*Romantis tidak selalu identik dengan seikat bunga ataupun sekotak cokelat, tapi romantis sesungguhnya bila pasangan kita membangunkan kita disepertiga malam untuk tahajud bersama.


Jangan terbuai dengan rayuan setan yang hanya memberikan kesedihan lewat satu kenangan hingga kita melupakan Kebesaran Allah SWT yang telah memberikan SERIBU KEBAHAGIAAN.


DAN HANYA LEWAT DOA YANG MAMPU MENGUBAH YANG MUSTAHIL MENJADI KENYATAAN.


Mungkin kita tidak akan pernah tahu,


Seberapa Indah besar balasan di masa depan,


Sampai kita benar-benar mampu,


Menempatkan hati untuk mengikhlaskan.


-------------------


**TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚***

__ADS_1


__ADS_2