
Sesuai dengan yang di amanatkan Dokter, Papa Leo boleh minum dan makan sesuai ketentuan yang dianjurkan, itupun harus perlahan. Setelah selesai menyuapi Papa leo, Suci pun meminta ijin kepada Papa Leo dan Mama Larasati untuk menemui Sang Dokter di ruangannya.
"Hati hati Suci, jalan sedang di pel, pasti licin." ucap Mama Larasati menasehati.
"Iya Ma, terima kasih nasihatnya. Papa, Suci ke Dokter Dirga dulu ya." ucap Suci pelan sambil mencium kening Papa Leo dengan tulus.
Suci pun keluar kamar perawatan Papanya menuju Ruang Dokter Dirga. Bunyi langkah kaki dengan sepatu pantopel mengisi kesunyian di lorong itu.
"Itu ruangan Dokter Dirga Specialis Penyakit Dalam." gumam Suci lirih.
Suci pun dengan segera mengetuk pintu dan membuka pintu itu setelah ada sahutan dari dalam ruangan untuk diperbolehkan masuk.
"Assalamualaikum... " ucap Suci pelan.
"Waalaikumsalam... masuk saja." ucap Dokter Dirga dengan sopan.
Dokter Dirga ini Dokter spesialis penyakit dalam, umurnya mungkin tidak jauh dari Zhein.
"Bagaimana kondisi pasien Dokter?" tanya Si i dengan sopan.
"Silahkan duduk dulu Bu Suci." ucap Dokter Dirga pelan, sambil mempersilahkan Suci untuk duduk di kursi tamu yang telah disediakan.
Suci pun duduk, dan menatap ke arah Dokter Dirga agar segera memberikan penjelasan tentang kondisi Papa Leo.
"Jadi gimana Dokter? Papa saya bagaimana?" ucap Suci tidak sabaran. Hatinya terlalu cemas dan panik. Ketakutan akan kehilangan Papa Leo pun menjadi momok yang buruk baginya. Belum juga berbakti kepada orang tuanya tapi harus meninggalkan dunia ini terlebih dahulu tanpa sempat membalasnya.
"Ibu tenang dulu, saya akan menjelaskan. Operasinya memang berhasil, tapi luka yang terjadi pada lambung dan dekat jantung membuat nyawanya tidak akan mungkin lama lagi Bu Suci. Saya kira untuk makan pasti kesulitan." ucap Dokter Dirga.
"Iya betul, tadi di beri sesendok air putih juga tersedak." ucap Suci mengiyakan.
"Kita beri infusan nutrisi untuk Pak Leo, agar beliau kuat dan tidak lemas. Untuk bicara usahakan pelan pelan, buatlah berbahagia. Karena saya tidak yakin dengan umur beliau." ucap Dokter Dirga pelan. Raut wajahnya terlihat menyesal telah memberikan informasi seperti ini.
"Tidak ada cara lain Dokter? untuk menyembuhkan papaku?" ucap Suci pelan.
"Maafkan kami Bu Suci, kami sudah melakukan dengan maksimal, kita hanya menunggu keajaiban dari Allah SWT." ucap Dokter Dirga pelan.
Hatinya pun ikut basah saat melihat Suci sudah terisak dengan histeris mendengar pernyataannya.
__ADS_1
Leher Suci seperti tercekat, dadanya sesak, hingga perutnya pun terasa keram dan kencang. Seluruh tubuhnya lemas, mengingat ucapan Dokter Dirga yang menganalisa tentang usia Pak Leo tidak lama lagi.
Alat-alat tersebut hanya membantu bukan menyembuhkan. Semua terasa gelap dan Hitam hingga Suci pun tidak sadarkan diri di kiri tamu tersebut.
Dengan sigap Dokter Dirga pun menangkap tubuh Suci, dan segera meminta bantuan kepada tenaga medis lain.
Dengan cekatan perawat pun membawa Suci untuk diperiksa. Dokter Dirga pun segera menyampaikan keadaan Suci pada keluarganya yang berada di kamar perawatan Pak Leo.
"Apa Suci pingsan?, dimana dia?" tanya Bunda Jihan yang kebetulan baru sekali datang langsung memberondong pertanyaan kepada Dokter Dirga uang memberikan informasi.
"Dia berada di ruang tindakan obgyn, sedang di periksa." ucap Dokter Dirga menjelaskan.
"Baiklah saya kesana. Jeng Laras, saya lihat keadaan Suci dulu ya." ucap Bunda Jihan pelan.
"Iya Jeng Jihan, saya titip Suci. Saya harus menjaga Mas Leo, dia juga membutuhkan saya disini." ucap Larasati pelan. Hatinya pedih mendengar Suci tidak sadarkan diri, pasti ada sesuatu yang mengakibatkan sampai seperti itu.
Bunda Jihan pun berjalan menuju ruang Obgyn sesuai petunjuk arahan Dokter Dirga.
Suci masih tergolek di atas brankar rumah sakit, keadaannya baik baik saja, hanya saja syok sedikit mengakibatkan pikirannya menjadi sedikit stres. Kandungannya pun baik baik saja, tidak ada masalah. Begitu kira kira penjelasan Dokter Kandungan yang memeriksanya.
Di Kelas Kampus Universitas.....
Suara ponsel bergetar dari arah saku celananya membuat konsentrasinya menjadi buyar. Memilih antara karier dan keluarga itu sulit memang, terlebih di masa percobaannya ini.
Zhein pun mengakhiri kelasnya dan segera keluar dari kelas menuju ruangan kerjanya. Diambilnya ponsel dari dalam saku celananya dan meletakkan buku-buku dimeja kerjanya. Tertera nama Bunda disana.
"Ada apa bunda sampai menelepon?" gumam Zhein pelan. Pikirannya melayang ingin segera pergi ke rumah sakit tetapi masih ada dua kelas lagi yang harus diajar.
Selama masa percobaan tidak boleh membuat jam kosong atau perpindahan waktu. Semua harus dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Prodi Jurusan.
Zhein menelepon kembali Bunda Jihan karena tadi tidak sempat terangkat.
📱Bunda Sayang....
"Assalamualaikum.... Bunda ada apa?" tanya Zhein dengan tenang. Pikiran buruknya di buang jauh jauh agar tetap berpikir jernih dan positif.
"Waalaikumsalam... Zhein, maafkan bunda membuat kamu cemas Nak. Suci tidak sadarkan diri saat Dokter Dirga menjelaskan sesuatu kepadanya. Bunda hanya ingin kamu tahu. Bukan berarti Bunda menyuhmu untuk datang. Bunda tahu tentang kontrak kerjamu dari Suci. Jangan memaksakan diri Nak. Bunda akan menjaga Suci disini." ucap Bunda pelan.
__ADS_1
"Bunda.... terima kasih sudah membantu Zhein. Zhein masih ada km di kelas lagi. Nanti kalau sudah selesai Zhein langsung ke rumah sakit." ucap Zhein lirih. Saat saat seperti ini tidak bisa menemani istrinya.
"Iya Sayang, Bunda akan jaga Suci dengan baik. Kondisinya baik semua termasuk anak dalam kandungannya. Hanya saja, sampai sekarang belum sadar. Doakan yang terbaik Nak." ucap Bunda Jihan pelan.
"Iya Bunda, ya sudah Zhein akan mengajar lagi. Assalamualaikum..." ucap Zhein pelan.
"Iya Zhein. Hati hati Nak. waalaikumsalam.. " ucap Bunda Jihan dengan mantap.
Sambungan pun telah di putuskan.. Konsentrasi Zhein pun mulai terbagi, antara bekerja, dan keadaan istrinya yang masih belum sadar.
Mau tidak mau Zhein pun harus menyelesaikan tugasnya hari ini untuk mengajar dua kelas lagi.
Kamar Perawatan Leo
Leo menatap wajah Larasati dengan sendu. Wajahnya terlihat cemas, mendengar anaknya sedang tidak sadarkan diri. Larasati pun melihat perubahan raut wajah Leo yang berubah cemas dan panik.
"Kamu mengkhawatirkan Suci?" tanya Larasati pelan ke arah Leo.
"Iya....." jawab Leo sangat lirih.
"Suci baik baik saja, kamu tenang saja. Kamu harus sehat Mas, agar Suci bahagia melihatmu lebih baik. Suci anak yang kuat, dia pasti bisa melaluinya dengan baik." ucap Larasati pelan.
"Iya... " jawab Leo lirih.
"Aku sholat dulu ya Mas. Disini saja." ucap Larasati pelan.
Leo pun menatap manik mantan istrinya itu dengan terkejut.
"Kamu Muslim?" tanya Leo lirih dan sedikit terbata bata.
"Iya Mas, ini semua karena Suci. Aku bahagia Mas menjadi muslim. Aku tenang bila sholat, aku nyaman bersholawat." ucap Larasati dengan mata berbinar.
Kebahagiaanya sangat tercurah dari mata dan wajah Larasati karena hidayah datang kepadanya tepat pada waktunya.
"Laras......????
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1