
Satu hari ini benar-benar melelahkan bagi Zhein. Seharian menyetir ditambah jalanan yang super padat. Masih harus mengantarkan bidadarinya menginginkan makanan yang aneh.
"Alhamdulillah, akhirnya Mas bisa juga rebahan." ucap Zhein pelan, matanya masih menatap Suci yang masih merapikan rambutnya.
Suci pun membalikkan badannya dan menatap Zhein penuh tanya.
"Kenapa sih Mas, kok ngeliat Suci begitu?" tanya Suci pelan.
"Ibu hamil selalu sensitif, di lihat salah gak di lihat katanya gak perhatian." ucap Zhein yang pura pura kesal.
Suci pun menghampiri Zhein, dan duduk di tepi ranjang.
"Kamu mau kopi hitam? biar Suci buatkan?" ucap Suci pelan ingin merayu Suaminya.
"Mau merayu dengan segelas kopi hitam?" tanya Zhein dengan pura pura ketus.
"Heemmmm.. aku gak merayu kamu." Ucap Suci datar. Skakmat, tujuannya ketahuan.
"Lalu? membuatkan aku kopi hitam untuk apa?" tanya Zhein menatap mata Suci penuh tanya.
"Aku pikir kamu mau lembur Mas." ucap Suci enteng kemudian terkekeh.
Mata Zhein pun langsung terbelalak mendengar ucapan istrinya mau lembur. Pikirannya sudah melayang dengan segala mimpi dan harapannya untuk kembali berjalan jalan ke gua sempit.
"Kamu serius Suci?" tanya Zhein menyelidik.
Suci pun hanya mengangguk tanda iya.
"Boleh deh, kopi hitam sekarang ya Suci." ucap Zhein bertitah.
"Baik Mas, Suci buatkan dulu." ucap Suci pelan.
Suci pun bergegas ke luar kamar menuju dapur dan membuatkan segelas kopi hitam. Setelah selesai di bawanya kopi hitam itu ke kamar.
Zhein yang sudah mempersiapkan diri untuk memulai pemanasan pun sudah melepaskan kaos dan hanya memakai celana pendek yang tertutup oleh selimut.
"Ini Mas kopinya." ucap Suci pelan.
"Makasih sayang." Zhein pun menerima segelas kopi hitam itu dan langsung menyeruput dengan nikmat.
"Lho kamu sudah siap Mas? kok sudah buka kaos begitu?" tanya Suci pelan.
"Sudah sayang, mau sekarang?" tanya Zhein penuh harap.
"Mau Sekarang? oke bentar ya Mas, Suci ambil peralatannya dulu." ucap Suci pelan.
__ADS_1
"Lho kok pakai peralatan? ada juga semua peralatan di buka sayang?" ucap Zhein pelan dengan raut wajah bingung.
"Lho Mas ini gimana? katanya capek tapi mau lembur. Sini Suci kerokin terus pijitin biar gak masuk angin." ucap Suci dengan polos.
"Astaghfirullah... Mas kira lembur ke dunia fantasi. Mas udah seneng." ucap Zhein terkekeh.
"Ya ampun Mas, pikiran kamu begitu Mulu, mesum tahu gak sih. Kalau ke dunia fantasi ada tambah capek Mas." ucap Suci pelan.
"Berharap kan boleh Suci." ucap Zhein memelas.
"Sini Suci pijitin, besok kamu itu mulai kerja Mas, kamu harus sehat jangan loyo. Apa nanti kata mahasiswa kamu. Dosennya loyo." ucap Suci pelan sambil memijat badan Zhein dengan minyak urut.
"Udah lama gak dipijitin, enak banget. Itunya jangan ikut diurut ya sayang." ucap Zhein terkekeh.
"Itu apaan?" tanya Suci.
"Ular nya Mas, takut membesar kalau dibelai apalagi di urut." ucap Zhein terbahak-bahak.
"Astaghfirullah.... Mas, kamu ini beneran ya. Mesum tingkat dewa. Udah ah, jadi males." ucap Suci dengan kesal.
"Jangan donk sayang. Iya gak deh, Mas diam ya. " ucap Zhein pelan lalu memejamkan kedua matanya.
Zhein sangat menikmati pijatan Sang Istri hingga tertidur pulas. Suci pun langsung membenarkan posisi tidur suaminya agar tidak salah tidur. Diselimuti tubuh Zhein hingga bagian dadanya.
Suci pun mematikan lampu kamarnya dan ikut merebahkan tubuhnya disamping suaminya. Suci memiringkan tubuhnya ke arah Zhein, agar tidurnya pun nyaman karena perutnya yang makin membesar.
"Sudah puaskan? mandangin suaminya, pake nyium lagi. Ucap Zhein pelan sambil tersenyum dan memeluk istrinya untuk kembali tidur dalam pelukannya.
Mereka berdua pun tertidur hingga pulas hingga dini hari. Suara alarm yang telah di setel oleh Zhein pun berbunyi dengan nyaring. Tanda waktu untuk melaksanakan sholat malam.
"Aishhh ... " runtuh Zhein karena tangannya sedikit keram.
Zhein pun turun dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Sholat malam pun dilakukan dengan khidmat badan khusyuk. Sedangkan Suci masih tertidur pulas.
Suara nyaring Zhein membaca Al Qur'an pun membuat Suci tersadar dari tidurnya. Matanya yang terpejam kemudian dibuka perlahan seiring sayup-sayup terdengar lantunan ayat Suci yang begitu indah.
"Mas, kok gak bangunin aku?" tanya Suci pelan setelah Zhein menutup Al Qur'an tanda selesai membaca.
"Kamu terlalu nyenyak sayang, hingga Mas tidak tega membangunkan kamu." ucap Zhein lembut. Masih terduduk di sajadahnya dan mulai memainkan tasbihnya.
Suci pun bangkit berdiri kemudian berwudhu lalu ikut melaksanakan sholat malam sendiri.
Setiap untaian doa selalu di munajatkan oleh Suci kepada Allah SWT dan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.
__ADS_1
"Kenapa setiap sholat kamu terlihat cantik?" tanya Zhein pelan.
Satu tangannya sudah menelusup ke dalam dasternya untuk mengusap perut Suci.
"Jangan komentar, biarkan aku mengusap anakku? Nanti Mas kan mulai ngajar Suci, jadi Mas juga gak tau pulang jam berapa." ucap Zhein pelan.
"Aku boleh ikut ke kampus?" tanya Suci pelan Waktu itu pernah diajak ke kampus dan mengikuti kelas, jadi kepengen lagi.
"Jangan sayang, kamu nanti bosan. Belum lagi lelah juga, aku kan gak di kantor, lebih sering di kelas untuk ngajar." ucap Zhein pelan menjelaskan.
"Aku itu sayang gak sih sama aku Mas? kok ikut aja gak boleh, pasti punya selingkuhan?" ucap Suci keras.
"Jangan suka memfitnah sayang. Mas aja baru akan mulai kerja. Sudah dibilang nanti kamu bosan sayang, tapi kalau mau ikut ya terserah, nanti dikiranya gak boleh." ucap Zhein pasrah.
"Nah gitu dong Mas, aku kan jadinya yakin kamu gak punya selingkuhan." ucap Suci enteng.
Sejak kehamilannya membesar mood kepekaannya makin sensitif. Zhein lebih banyak mengalah dan sabar menghadapi Suci, seperti amanah Bunda Jihan.
"Ya sudah, yuk kita Sholat Shubuh berjamaah lalu kita bersiap ke kampus ya. Jam tujuh harus sudah di kampus, paling tidakk kita berangkat jam enam pagi." ucap Zhein pelan.
Zhein termasuk tipe pria yang disiplin waktu, baginya waktu juga termasuk kepercayaan. Jika waktu kita tepat, tingkat kepercayaan orang pun akan tinggi terhadap kita.
"Iya Mas, yuk sholat dulu." ucap Suci pelan.
Semua sudah selesai termasuk mandi dan merapikan diri dan bersiap untuk ke kampus. Hari ini hari pertama Zhein mengajar sebagai Dosen Honorer dengan uji coba tiga bulan.
Setelah sarapan pagi mereka pun berangkat berdua menuju Kampus Zhein berkerja.
"Mas, ini adalah kampus yang diimpikan banyak orang, dan kamu memiliki kesempatan untuk menjadi dosen disini. Sukses terus ya Mas." ucap Suci yang berucap dengan tulus.
"Makasih ya sayang atas doa dan munajat kamu, agar Mas sukses dunia akhirat untuk menjaga anak dan istri Mas." ucap pelan.
"Aamiin ya Rabb, Mas. Doaku selalu untuk kamu Suamiku" ucap Suci pelan.
"Makasih ya sayang." ucap Zhein pelan.
Mobil pun sudah masuk ke dalam parkiran khusus para dosen. Mereka berdua turun dan berjalan ke arah lorong kampus untuk mencari lift.
"Mas kita naik tangga aja ya? biar sekalian berolah raga." ucap Suci pelan.
"Ayok sayang." ucap Zhein pelan, secara reflek langsung menggandeng tangan Suci untuk segera menaiki tangga.
Banyak pasang mata memandang, ada yang menatap senang, sebel bahkan tatapan membunuh.
"Zhein........... " panggil seorang wanita muslimah. Wanita itu menatap intens ke arah Zhein tanpa berkedip.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN