
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari telah sore, adzan Maghrib pun sudah berkumandang dengan merdunya. Begitu pula Suci dan Zhein yang telah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dirumah. Semenjak mengandung, Suci selalu ingin sholat berjamaah dengan Zhein setiap waktu sholat, kemudian Zhein harus membacakan ayat-ayat Suci Al-Quran hingga khatam tepat waktu Suci melahirkan. Permintaan yang cukup mudah tapi sangat sulit dilakukan bila tanpa niat uang tulus dan ikhlas.
Rutinitas setelah sholat fardhu pun sudah diselesaikan dengan baik. Sebagai penutup Zhein selalu mencium kening Suci dan mengajak bicara bayi yang ada di dalam perut Suci.
"Assalamualaikum, anak Abi, sudah selesai mendengar Abi mengaji. Sekarang Abi mau melanjutkan aktivitas Abi, baik baik ya sayang di perut Umi. Jangan nakal, kasian Umi ya Nak." ucap Zhein lembut sambil mencium perut Suci.
"Waalaikumsalam, iya Abi." jawab Suci menirukan suara anak kecil.
"Kok jadi Uminya yang menjawab?" ucap Zhein gemas sambil memencet pelan hidung mancung Suci.
"Aauwww Mas sakit. Mas, kalau boleh memilih kamu menginginkan anak laki-laki atau perempuan?" ucap Suci pelan sambil membereskan peralatan sholat yang mereka pakai.
Zhein pun berdiri dan duduk di tepi ranjang. Setelah meletakkan peralatan sholatnya diatas meja, Suci pun duduk di samping Zhein menghadap ke arah Zhein menunggu jawaban sang suami. Zhein hanya tersenyum manis hingga menunjukkan kedua lesung pipinya sambil memilih rambut Suci yang panjang.
"Apapun yang diamanahkan Allah SWT ke hambanya berarti itu yang terbaik untuk hambanya. Jangan pernah berandai-andai, disaat harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan maka kamu yang akan sakit sayang. Mintalah untuk kesehatan ibu dan bayinya hingga diberikan kelancaran dalam melahirkan, dan sempurna tidak kekurangan satu apapun." ucap Zhein lembut mengecup bibir Suci yang terlihat menggoda.
Suci sudah terbiasa dengan perlakuan Zhein yang romantis dan sering menciumnya. Suci selalu menikmati keromantisan itu, jadi bila Zhein terlalu lama berada di luar rumah, maka Suci akan merasakan kehilangan.
Tangan mereka pun sudah bertautan dan saling meremas satu sama lain. Suci sangat paham dengan kode seperti ini. Tapi ini masih sore tidak mungkin mereka melakukannya di jam jam seperti ini, apalagi Raina akan datang.
Raina menerima undangan makan malam di apartemen Zhein. Sebagai sahabat, Raina tidak ada sedikit pun rasa untuk mengganggu kebahagiaan Suci dan Zhein.
Ting tong..........
Zhein yang baru saja memulai pergerakannya, menghentikan dengan segera. Lalu memandang Suci penuh harap, agar nanti malam bisa diselesaikan dengan baik dan sempurna.
"Mas, ada tamu, mungkin Raina? lagi nanggung ya?" ucap Suci menggoda.
"Ekhmmm awas ya nanti, gak ada ampun." ucap Zhein terkekeh sambil mengganti bajunya.
"Sayang, anak Umi, itu Abi mau membuat Umi kelelahan nanti malam, bagaimana?" ucap Suci manja kepada perutnya.
"Itu tugasmu Umi, untuk membuat Abi juga kepayahan." jawab Zhein mengikuti suara anak kecil lalu terbahak bahak meninggalkan Suci yang masih menggunakan kerudungnya untuk membukakan pintu depan.
"Mas Zhein........." ucap Suci setengah berteriak.
Zhein pun setengah berlari menuju arah pintu, dan membukakan pintu itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, hai Zhein, Suci mana?" ucap Raina masih didepan. Raina enggan masuk bila Suci tidak ada di dalam.
"Waalaikumsalam, ada lagi pakai baju." ucap Zhein sambil tertawa.
"Zhein, Suci itu lagi hamil, jangan dikerjai terus kasian nanti kecapean. Walaupun kondisinya memang baik dan stabil." ucap Raina panjang lebar.
Raina pun duduk disofa ruang TV. Apartemen Zhein memang tidak besar, kecil dan sederhana.
"Raina, mulai Minggu depan aku sibuk dengan kuliah dan tugas mengajar ku sebagai ASDOS. Kamu keberatan bila harus menemani Suci disini." tanya Zhein pelan.
"Insya Allah ya Zhein, aku tidak janji tapi aku usahakan." ucap Raina dengan tulus.
"Assalamualaikum, dokter Raina?" panggil Suci kepada Raina, sambil memeluk Raina dengan erat.
"Waalaikumsalam, Suci, panggil aku Raina saja. Ini diluar tugasku. Kamu sehat Suci." tanya Raina lembut.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat Raina." ucap Suci duduk disebelah Raina.
"Apa yang ingin kamu tahu tentangku Suci tanyakan saja, tidak perlu sungkan." ucap Raina langsung menembak.
Tadi Zhein sudah mengatakan kepada Raina, bahwa Suci istrinya cemburu dengan Raina.
Sontak Suci pun merasa tersentak dengan pertanyaan Raina.
"Suci cemburu denganmu Raina, ceritakan tentangmu Raina, kenari Suci dekat aku, kita dengarkan Raina mendongeng." ucap Zhein terkekeh.
Suci pun menatap Zhein yang membuka rahasia cemburunya terhadap Raina.
"Mas, kamu apa apaan sih?" ucap Suci sedikit ketus.
"Suci, aku, Bima dan Zhein bersahabat baik, hingga aku dan Bima memiliki hubungan khusus, tapi Zhein tetap menjadi sahabat yang baik. Zhein tidak pernah mempersoalkan hubunganku dengan Bima. Hingga kelulusan SMA, niat Bima untuk melamarku pun kandas karena kejadian tragis itu. Bima meninggal karena kecelakaan." ucap Raina pelan.
Matanya sudah berkaca-kaca tapi tangisannya ditahan agar tidak tumpah. Raina sudah berusaha mengubur semua kenangannya bersama Bima.
"Maafkan aku Raina, aku sudah berburuk sangka kepadamu. Aku memang terlalu posesif dan pencemburu terhadap suamiku. Aku tidak bisa melihat suamiku bersama wanita lain. Aku pun tidak mau berbagi suami dengan yang lain." ucap Suci lirih.
"Aku paham Suci, karena kita belum mengenal satu sama lain. Aku juga ingin menjadi sahabatmu seperti aku menjadi sahabat suamimu. Kamu beruntung mendapatkan wanita seperti Suci, dia mengakui takut kehilanganmu, berarti dia tulus mencintaimu. Betul kan Suci?" ucap Raina pelan.
"Aku pun bersyukur atas pernikahan yang kujalani ini Raina. Awalnya Suci tidak mencintaiku, dia masih mencintai pria lain yang menjadi cinta sejatinya." ucap Zhein membuka rahasia diantara mereka.
"WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO. Betul kan Suci." ucap Raina menimpali.
__ADS_1
Pipi Suci pun sudah memerah, karena dipermalukan dan digoda oleh suaminya dan sahabatnya itu. Suci hanya bisa tersenyum tipis.
"Iya Raina, tapi Suci sekarang betul betul jatuh cinta pada Zhein." ucap Suci sambil menatap Zhein dengan penuh kasih sayang.
"Kita makan yuk, perempuan kalau udah ngobrol, perut lelaki jadi lapar." ucap Zhein asal.
Mereka bertiga pun bangkit menuju ruang makan. Raina dan Zhein sudah duduk dengan manis, sedangkan Suci masih menyiapkan makanannya ke dalam piring dan mangkok besar.
"Opor ayam? ini kesukaanku Suci? Zhein yang memberitahumu?" ucap Raina senang.
Matanya berbinar melihat semangkok besar opor ayam kesukaannya. Wanginya pun mengingatkan masakan mamanya dirumah sama seperti Zhein.
"Aku tidak memberitahu Suci. Kebetulan kita penggemar opor ayam. Iya kan sayang." ucap Zhein lembu sambil merangkul Suci yang duduk disebelahnya.
"Dimakan Raina, coba masakanmu apakah seenak masakan mamamu?" ucap Suci pelan.
"Aku akan makan, tapi lepaskan pelukan kalian. Aku jomblo Suci." ucap Raina mencicipi masakan Suci yang ternyata luar biasa enak.
Rasa gurih dari santan menyatu dengan rasa kaldu ayam hingga membuat lidah pun tidak berhenti mengecap.
"Bagaimana Raina, masakan istriku? apa kamu suka?" ucap Zhein pelan.
"Ini liar biasa enak, persis dengan resep mama dirumah. Aku jadi ingin pulang ke Indonesia. Sudah lama aku tidak pulang." ucap Raina yang masih fokus dengan makanannya.
"Habiskan Raina. Atau mau kamu bawa ke apartemenmu tinggal kamu panaskan saja. Sering mampirlah kesini untuk makan bersamaku. Zhein akan sibuk setelah ini, jadi aku pasti kesepian." ucap Suci dengan sedih.
"Aku akan sering main kemari, asal kamu tidak keberatan. Aku takut sebenarnya, kalian sudah menikah, takut ada salah paham." ucap Raina pelan.
"Aku akan memahami sebagai sahabatku. Aku percaya kepadamu Raina." ucap Suci lembut.
"Sudah jelaskan? Raina itu hanya sahabatku tidak lebih. Jaga hatimu agar tidak dikuasai rasa cemburu yang berlebih. Aku selalu mencintaimu Suci" ucap Zhein dengan senyum mengembang.
"Aku juga mencintaimu Mas Zhein." ucap Suci menyahuti.
"Dunia milik berdua, aku ngontrak ya." ucap Raina terkekeh.
Mereka tertawa dengan kekonyolannya Raina. Hidup mereka semakin bahagia dan nyaris sempurna. Apa kuncinya ?!!! SABAR, IKHLAS, TULUS DAN MENERIMA.
-----++----
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚