
Semua rangkaian acara telah selesai, para tamu undangan pun selesai menikmati jamuan yang telah disediakan tuan rumah sebagai tanda terima kasih telah meluangkan waktu menjadi saksi atas pernikahan kedua anak Tito dan beberapa tamu undangan pun sudah pamit untuk undur diri dengan berbagai alasan.
Keluarga Besar Eyang Atmojo pun sudah kembali ke rumah. Sedangkan Zhein dan Suci masih berada di rumah Papa Tito dan Umi Khadijah.
"Kamu mau bermalam disini Suci, ada kamar tamu di atas. Bagaimana?" tanya papa Tito dengan lembut.
Sesuai dengan janjinya kepada Khadijah semalam akan menerima Suci untuk menginap satu malam sebelum kepulangannya ke Yogyakarta.
"Boleh Lah? Suci mau, mau kan Mas, kita menginap dirumah papa?" tanya Suci kepada Zhein Suaminya.
"Iya sayang, kita menginap disini." ucap Zhein pelan penuh dengan senyum.
Suci terlihat semangat dan bahagia sejak Papa Tito mengajaknya bermalam di rumahnya. Senyumnya tidak pernah luntur. Kebahagiaan seorang anak yang merindukan kasih sayang seorang Papa.
"Makasih ya Mas, sudah menjadi Suami yang paling pengertian." ucap Suci dengan tulus.
Zhein pun hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Suci, ada Papa Tito yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, sehingga terlihat canggung dan kaku.
"Ya sudah, kalian istirahat saja dulu. Zhein jaga istrimu dan calon cucuku. Papa juga ingin istirahat, nanti malam kita masih ada syukuran." ucap Papa Tito pelan.
"Baik Lah, Zhein akan menjaga Suci dengan baik. Kami ke kamar dulu Pah." ucap Zhein pelan sambil menggandeng istrinya menuju kamar tamu yang ditunjukkan oleh Papah Tito.
Semua sudah beristirahat di kamarnya masing-masing. Fathan dan Rania sang istri yang sudah tidak malu malu lagi untuk bermesraan.
Ada Aisyah dan Baihaqi yang masih terlihat kaku. Bagimana tidak, mereka sebelumnya tidak pernah kenal dan dipertemukan karena suatu kondisi dan menikah. Tentu akan sangat canggung, tapi sudah beberapa hari ini Aisyah mulai mencairkan suasana. Mulai sedikit bermanja hingga Sang Suami pun merasa lebih dihargai dan di cintai.
Semua itu butuh proses, cepat atau lambat semuanya pasti berubah seiring dengan berjalannya waktu. Karena dengan kesabaran dan kasih sayang akan mengubah segalanya.
Di dalam kamar yang tidak sebesar kamarnya di Eyang Atmojo. Suci dan Zhein sudah merebahkan tubuhnya di kasur. Suci yang harus selalu memiringkan tubuhnya karena perutnya yang mulai terasa sesak bila tidur secara terlentang.
"Mas, pernikahan kita saat ini benar sudah sesuai syariat Islam? aku takut kita melakukan kesalahan lagi?" tanya Suci pelan kepada Suaminya.
__ADS_1
"Allah SWT Maha Besar dan Maha Pengasih, Allah SWT juga Maha Mengetahui yang terjadi, kesalahan yang tidak disengaja, kita mohon ampun semoga Allah SWT mau mengampuni kesalahan kita Suci. Jangan pernah merasa bersalah karena ini suatu ketidaksengajaan, yang terpenting kita sudah mengulanginya kembali, dan menyesuaikan dengan syariat Islam." ucap Zhein pelan perlahan mengecup pipi Suci dengan lembut.
"Iya Mas Zhein, Suci hanya merasa takut saja." ucap Suci lembut dengan raut wajah yang tampak cemas.
Zhein pun memeluk istrinya dan mengecup keningnya berulang kali. Ada perasaan senang dan bahagia didalam hatinya.
"Kamu gak perlu khawatir dan cemas. Ada Mas yang selalu membuat kamu bahagia. Mas akan menjaga kamu. Kamu percaya dengan Mas?" tanya Zhein pelan.
Kedua matanya menatap penuh cinta kepada istrinya. Suci pun membalas tatapan penuh cinta itu dengan kecupan di bibir Zhein, hingga keduanya pun larut dalam kebahagiaan karena kemesraan yang tengah mereka jalani.
Di lain Kamar, pasangan baru Fathan dan Raina pun tidak kalah bucin. Secara umur mereka sudah pantas menikah, hasrat mereka pun sudah menggebu-gebu.
"Kamu kok bisa sih ngasih kejutan yang bener bener bikin jantung aku copot Fathan?" ucap Rania pelan.
"Kamu suka kan? aku lihat kamu bahagia Raina?" ucap Fathan pelan sambil mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek.
"Aku suka sekaligus aku sedih, aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Kamu tahu kan, aku...." ucapan Raina pun terhenti.
Bibir Fathan sukses menutup bibir Raina yang sedang berbicara, agar tidak berbicara mengingat masa lalunya.
"Jangan ucapkan hal yang mengingatkan kamu pada keburukan dan rasa sakit hati. Aku menerimamu apa adanya Raina. Kekuranganmu aku sempurnakan, begitupun dengan kekuranganku kamu harus menyempurnakan." ucap Fathan pelan.
"Kamu tidak kecewa Mas? aku seperti ini?" tanya Raina pelan.
"Kenapa harus kecewa? kalau aku kecewa, aku tidak akan menikahimu Raina." ucap Fathan lembut.
"Terima kasih Fathan kamu sudah menerimaku apa adanya, kekuranganku banyak Fathan, kehormatanku saja tidak bisa kamu nikmati untuk malam pertama kita." ucap Raina pelan.
"Apalah arti keperawanan dibandingkan aku bisa memilikimu seumur hidupku?" ucap Fathan pelan.
Sontak Raina pun tersenyum dan memeluk Fathan dengan erat. Dekapan penuh rasa sayang dan rasa cinta.
__ADS_1
"Makasih ya Fathan, kamu memang terbaik buatku." ucap Raina pelan.
"Raina boleh aku minta satu permintaan." tanya Fathan lembut.
Raina pun mendongakkan kepalanya dan menatap sendu ke arah Fathan.
"Apa Fathan? katakanlah?" tanya Raina penuh harap.
"Panggil aku Mas Fathan, hargai aku di depan keluargamu dan keluargaku. Aku ingin membimbing kamu menjadi istri yang sholehah." ucap Fathan penuh kelembutan.
Tidak ada paksaan tapi kata menghargai membuat Raina pun menuruti keinginan suaminya itu.
"Iya Mas Fathan, aku akan menghargai kamu di depan keluargamu dan juga keluargaku. Dan aku akan menjaga aibmu dengan baik tanpa ada seorang pun boleh mengetahui." ucap Raina lembut diiringi kecupan lembut di pipi Fathan.
"Kamu lagi menggodaku? aku laki laki normal Raina." ucap Fathan pelan.
"Kalau aku goda, terus kenapa? bukankah kita sudah halal?" ucap Raina menantang suaminya.
"Raina awas ya....." ucap Fathan sambil menubruk tubuh Raina hingga terjatuh dikasur empuk itu.
Berbeda di kamar sebelah yang di huni pasangan muda yang masih polos. Pasangan muda Baihaqi dan Aisyah.
"Mas ini kopinya, katanya mau lembur nanti malam?" tanya Aisyah pelan.
"Iya Aisyah, terima kasih. Aku ingin lembur bersamamu. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki keturunan dari kamu Aisyah. Melihat Suci sudah mengandung aku pun ingin bahagia seperti mereka." ucap Baihaqi pelan.
"Tapi Mas.... aku takut... " ucap Aisyah yang mulai cemas dan takut.
"Aku akan melakukannya selembut mungkin agar kamu tidak merasakan sakit." ucap Baihaqi lembut dengan memegang dagu Aisyah.
Wajahnya didekatkan dan di cium sekilas hanya kecupan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Aisyah." ucap Baihaqi pelan. Bibirnya mendekat lagi ke arah bibir Aisyah, seperti candu yang ingin selalu diulang lagi.
JAZAKALLAH KHAIRAN