
Keesokan harinya, Zhein ijin untuk pergi. Pagi ini akan menemui Fathan di apartemen Fathan. Sejak tadi malam Zhein sudah membuat janji kepada Fathan, tentu dengan sepengetahuan Suci istrinya.
Zhein berharap Suci untuk ikut menjelaskan, tapi Suci menolak dengan alasan biarkan itu menjadi urusan para pria yang ingin mendapatkan gadis pilihannya.
Waktu mereka tinggal bersisa lima hari lagi sebelum acara wisuda itu. Zhein sudah memberikan thesis dengan hard cover sebanyak lima eksemplar. Selanjutnya Zhein langsung menemui Fathan.
Perjalanan dari kampus menuju apartemen Fathan hanya sekita sepuluh menit, sangat dekat dengan kampus. Apartemen elite dengan biaya perawatan yang cukup menguras kantong. Fathan selain kuliah, mengurus restauran dan cafe milik keluarga besar ayahnya. Fathan dan pamannya pun bekerjasama untuk merintis kembali restauran itu setelah mengalami kebangkrutan berbeda waktu silam.
Zhein pun sudah berada dalam apartemen Fathan. Sangat luas, cocok untuk ditinggali keluarga kecil. Zhein pun duduk di sofa rumah TV. Disana Fathan juga memiliki asisten rumah tangga, segala keperluannya sudah di ambil alih oleh asisten rumah tangga itu.
"Ada apa ini, tumben aku kedatangan adik ipar ku?" ucap Fathan pelan.
Semenjak kejadian Suci pingsan, Fathan dan Zhein pun semakin dekat, terlebih Fathan secara tidak langsung adalah kakak Suci.
"Perasaanmu pada Raina bagaimana?" tanya Zhein dengan serius.
"Kenapa zhein? kamu kira aku main main?" tanya Fathan kemudian.
"Aku harus tahu dulu. Jawab Fathan?" tanya Zhein dengan tegas.
"Aku menyukainya." ucap Fathan singkat.
"Atas dasar?" tanya Zhein pelan.
"Mencoba move on dari Suci. Maafkan aku Zhein, aku memang masih mencintai Suci." ucap Fathan dengan jujur.
"Raina hanya untuk pelarian?" ucap Zhein kemudian.
Sedikitpun Zhein tidak perduli dengan perasaan Fathan yang masih mencintai Suci. Karena Fathan tidak mungkin menikahi adiknya sendiri.
"Aku butuh kepastian. Di saat Raina bisa memberikan kepastian maka aku pun serius dengan hubunganku. Aku laki laki normal, yang bisa patah hati. Dan itu, aku tidak mau terulang lagi." ucap Fathan pelan.
"Kalau serius nikahi Raina, Fathan." ucap Zhein pelan.
"Kalau ternyata aku ditolak?" ucap Fathan dengan keras.
"Lalu kamu menyerah sebelum mencoba?" tanya Zhein kemudian.
Suasana yang hangat menjadi semakin panas. Rasa emosi dan egois dari masing-masing pria itu membuat perdebatan ini tidak ada akhir.
"Aku hanya tidak ingin patah hati Zhein. Coba mengerti kondisiku." ucap Fathan lirih.
"Kamu mencintai Raina tidak?" tanya Zhein kemudian.
"Aku nyaman, aku sayang tapi kalau cinta aku tidak tahu Zhein. Kadang perasanku masih saja memikirkan wanita lain yang sudah bersuami." ucap Fathan sambil.melirik Zhein.
__ADS_1
Zhein pun hanya tersenyum kecut.
"Raina memiliki masa lalu yang buruk, apa kamu bisa menerima kenyataannya." tanya Zhein kemudian menatap tajam Fathan.
"Bima?" tanya Fathan.
"Bramantyo atau Bram, pemilik Bar dan pengedar narkoba. Raina sudah hilang kehormatannya." ucap Zhein pelnya dengan wajah sendunya.
"Hahhhhh... bukankah dia wanita baik baik, berkerudung, kenapa kelakuannya seperti itu." tanya Fathan yang terlihat sudah kecewa dan ilfil terhadap Raina.
"Jangan menuduh seseorang tanpa bukti, cari kebenarannya dan cari buktinya baru ambil keputusan."ucap Zhein pelan.
"Entahlah, mendengarkan sudah hilang kehormatannya, untuk apa aku mendekatinya. Aku bahkan jijik melihatnya." ucap Fathan dengan nada mengejek.
"Cukup Fathan, jangan menghinanya. Aku kenal Raina, dia dijebak. Bram sahabat Reihan kakak Raina di Amerika. Intinya persahabatan mereka tidak karena wanita. Mungkin awalnya Bram memang mencintai Raina, tapi setelah tahu Raina adiknya Reihan maka Bram pun membalaskan dendamnya dengan menghancurkan Raina." ucap Zhein menjelaskan duduk perkaranya.
Fathan hanya terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku mundur, aku menyerah Zhein." ucap Fathan pelan.
"Kamu ragu?" tanya Zhein pelan.
"Dia gak perawan Zhein?" ucap Fathan menegaskan.
"Tapi Suci perawan Zhein?" ucap Fathan pelan.
"Kamu tahu apa soal itu? kalau ternyata Suci tidak perawan? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Zhein kemudian.
"Aku kecewa dan aku ilfil tentunya. Buatku hanya wanita terhormat yang bisa menjaga kehormatannya." ucap Fathan dengan mantap tanpa rasa bersalah.
"Lalu apa kabar dengan orang korban pemerkosaan?" tanya Zhein pelan.
"Itu lain cerita Zhein. Tolong jangan menyudutkan aku." ucap Fathan pelan.
"Aku tidak menyudutkanmu, tapi aku ingin membuka wawasanmu. Terimalah orang dengan baik dan apa adanya bukan ada apanya." ucap Zhein pelan.
"Jangan paksa aku Zhein." ucap Fathan pelan.
"Aku tidak memaksamu Fathan." ucap Zhein kemudian.
"Lalu?" ucap Fathan pelan.
"Suci pun sudah tidak perawan. Masih mencintainya. Nyatanya dia tidak bisa menjaga kehormatannya dengan baik. Tapi aku tetap menerimanya dengan baik." ucap Zhein dengan wajah serius. Tawanya pun ditahan agar tidak lepas.
Tentu saja Suci tidak perawan saat ini, karena sudah menikah dengan Zhein. Dan aku yang sudah membobol kehormatannya, gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Kamu serius Zhein?" tanya Fathan dengan rasa penasarannya.
"Kamu pikir aku bercanda Fathan?" ucap Zhein menatap tajam ke arah Fathan.
"Kamu tidak bertanya siapa yang memakainya pertama?" tanya Fathan asal bertanya.
"Kamu pikir baju, dipakai?" ucap Zhein sedikit ketus.
"Maksudku, kamu tidak menanyakan siapa yang mengambil kehormatannya?" tanya Fathan pelan.
"Aku tidak Fathan. Buatku kejujuran adalah segalanya. Masa lalunya biarlah menjadi pelajaran untuknya, karena masa depannya ada bersamaku." ucap Zhein kemudian.
"Hebat kamu Fathan bisa menerima gadis yang tidak virgin?" ucap Fathan berdecak kagum.
"Apa maksudmu?" tannya Zhein kembali.
"Setiap pria, menginginkan keperawanan istrinya bukan? kata orang rasanya beda?" ucap Fathan.
"Tergantung yang melakukan Fathan. Kalau kita berpikir positif maka akan terasa perawan terus." ucap Zhein kemudian.
"Zhein kamu aja dapetnya bekas, mana mungkin tahu rasanya perawan?" tanya Fathan pelan.
Zhein pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lelah berdebat dengan Fathan.
"Aku tidak pernah memikirkan itu. Saat ini yang terpenting aku memiliki keturunan dari orang yang aku cintai." ucap Zhein mantap dan tegas.
"Aku tidak bisa sabar seperti kamu Zhein. Maafkan aku bila mengecewakan sahabatmu Raina." ucap Fathan dengan wajah kecewa.
"Nyawanya sedang diincar Bram. Mungkin Raina akan resign. Jangan buka mulut tentang Raina kepada siapapun. Mata mata Bram banyak." ucap Zhein tegas.
"Baiklah." ucap Fathan kemudian.
"Aku pulang Fathan. Kasihan Suci, sejak mengandung dua lebih manja." ucap Zhein membuat Fathan cemburu.
"Kamu suaminya, wajarlah." ucap Fathan enteng.
"Tapi sayang sudah tidak perawan." ucap Zhein kemudian.
"hahahha..... Penasaran?" Fathan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Zhein.
"Sama sekali tidak." ucap Zhein merutuki dirinya sendiri.
Zhein pun pulang dengan rasa kecewanya. Mendengar Fathan menyerah karena status keperawanan. Zhein pun mengingat siang itu menjebol keperawanan Suci, memang itu menjadi kebahagiaan tersendiri bila memiliki istri yang masih perawan.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1