Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 42 TAMU MEMBAWA LUKA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


"Sayang, mas boleh request sarapan pagi?" ucap Zhein sedikit manja di sela sela merapikan peralatan sholatnya usai sholat shubuh.


"Mas mau apa?" ucap Suci pelan, sambil mencium punggung tangan Zhein lembut


"Mas pengen roti bakar coklat sama kopi, kita sarapan di Gazebo. Gimana?" ucap Zhein lembut sambil mengecup kening Suci.


Semenjak menikah mencium kening ataupun pipi dan bibir sudah menjadi candu dan kewajiban Zhein sebagai suami untuk memberikan kehangatan kepada Suci istrinya. Bukti sederhana dalam mengungkapkan perasaan cinta. Hal ini bukanlah hal tabu, tapi menambah level rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka.


Selesai sholat Shubuh berjamaah, Zhein ingin menikmati pagi hari hingga matahari terbit berdua bersama istrinya. Suci bukan perempuan yang suka berolahraga lari ataupun joging. Berjalan jalan santai pun jarang Suci lakukan. Jadi Zhein mencari alternatif lain menikmati udara pagi dengan duduk bersantai di Gazebo miliknya di samping rumah.


Menatap langit biru dengan semburat matahari yang mulai terbit berwarna orange kekuningan menambah cantik pemandangan pagi itu. Suasana pagi yang masih sepi, udara sejuk dan cuaca cerah, menambah nikmat bersyukur kepada Sang Pencipta. Allah SWT memberikan semesta dan seisinya ini untuk dinikmati, dijaga dan dilestarikan. Sama seperti pasangan hidup yang telah ditakdirkan berjodoh dengan kita untuk selalu kita syukuri kelebihan dan kekurangannya, kita jaga kehormatannya, harga dirinya dan menutup aib pasangannya dan kita sayangi dengan tulus ikhlas.


"Ini mas roti bakarnya, rasa coklat plus dan kopi plus juga." ucap Suci meletakkan rit dan kopi itu di Gazebo.


"Plusnya apa? sianida?" ucap Zhein terkekeh.


"Plus rasa cinta dong mas, masa iya sianida, Suci belum mau jadi janda mas, pengen bersama mas setiap hari, kalau bisa Suci berharap kita dipanggil Allah SWT pun bersama. Agar mas bisa menolong Suci nantinya. Banyak hal yang Suci belum ketahui, kan mas tahu sendiri, Suci masih dalam tahap belajar." ucap Suci sambil mengambil roti dan menyiapkan pada Zhein.


Zhein pun tersenyum dan merangkul pinggang Suci dan menariknya untuk lebih mendekat dengan Zhein. Zhein pun mulai mengunyah suapan roti itu dengan bahagia.


"Romantis ya ternyata, pacaran setelah berumah tangga, pacaran setelah halal, Mas benar benar bahagia. Cuma satu yang mas minta, jangan pernah berubah, jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah tinggalkan Allah SWT yang telah berada dekat denganmu Suci." ucap Zhein dengan mengecup pipi Suci.


"Iya mas Zhein, Insya Allah Suci Istiqomah, asal Mas selalu membimbing Suci. Tugas Suami adalah bukan sekedar mencari nafkah, memberi nafkah batin, tapi menjaga keteguhan iman keluarganya, menjaga keutuhan rumah tangganya." ucap Suci mantap.


"Wah istri Mas udah mulai pinter nih mendakwahi suaminya." ucap Zhein mencubit pipi Suci gemas.


"Hemmm pagi pagi, udah bikin BAPER bunda aja ya, bunda janda lho, tanggung jawab." ucap bunda terkekeh melihat kemesraan anak dan menantu kesayangannya.


"Sini bunda, kita berdua lagi menikmati pagi yang cerah, mas Zhein lagi ngidam kopi tuh bunda." ucap Suci sambil menarik lengan bundanya untuk duduk bersama.


"Bunda senang melihat kalian bahagia, awalnya bunda ragu, Zhein itu dingin, tapi setelah di lihat-lihat ternyata romantis ya, bunda baru tahu." ucap bunda tersenyum.


"Mas Zhein emang romantis bunda, suka ngasih kejutan kejutan tidak di duga. Iseng." ucap Suci menimpali ikut menggoda suaminya.

__ADS_1


"Terus aja, mumpung orangnya disini, mau diomongin apa lagi." ucap Zhein pura pura kesal sambil memencet hidung Suci.


"Pagi pagi sudah berkumpul disini, ini mama bawain sandwich dan teh panas, ayok kita makan bersama disini." ucap mama Larasati bahagia.


Mama Larasati sangat bersyukur memiliki besan seperti Bunda Jihan yang benar benar tulus dan ikhlas.


"Masya Allah Jeng Laras ini enak banget, Jeng Laras pintar masak ya, nanti ajarin saya ya Jeng resep baru Jeng." ucap Bunda.


"Iya mama ini enak banget, Suci suka." ucap Suci tersenyum.


"Betul ma ini enak, buatan Suci kalah lho ma." ucap Zhein sambil melirik Suci dan mengedipkan matanya.


"Makasih kalau kalian suka, jadi semangat masak nih. Nanti saya ajarin Jeng tenang saja, tapi ajarin juga saya lho Jeng baca Al Qur'an. Nanti siang kita belanja bahan buat masak Jeng." ucap mama Larasati semangat, karena memasak adalah hobbynya.


Sungguh keluarga yang harmonis, semua dilakukan dengan cara yang sederhana untuk bahagia. Bukan kebohongan tapi lewat ketulusan dan perhatian kecil. Kebahagiaan merupakan motivasi hidup seseorang. Seseorang bisa bangkit dari keterpurukannya karena perasaan bahagia, dan kasih sayang orang orang di sekelilingnya.


"Mas Zhein mau mandi sekarang? Suci siaoin airnya?" ucap Suci pelan.


"Iya Suci boleh, jam delapan Mas harus bertemu Rektor sudah janji." ucap Zhein.


Mereka berdua berpamitan kepada kedua orang tuanya dan melangkah menuju kamar untuk bersiap diri melakukan aktivitasnya.


"Pakai kemeja biasa aja sayang. Sayang ini kartu ATM mas, hasil dari mas mengajar, pakailah ini untuk mencukupi kebutuhanmu. Tadi kan mama Larasati mau belanja bahan makanan, pakai ini ya sayang, pin nya tanggal pernikahan kita." ucap Zhein pelan.


"Mas kan aku juga ada uang hasil dari butik, jangan manjakan aku dengan uang na, beti aku secukupnya saja, selebihnya mas juga harus memberi bunda uang untuk kebutuhan bunda." ucap Suci lembut, takut penolakannya menyakiti perasaan Zhein.


"Setiap bulan, mas pasti memberi bunda uang untuk kebutuhan bunda. Bunda tanggung jawab mas. Sekarang kamu istri mas, kamu harus belajar mengurus rumah ini, bayar listrik,bayar air, bayar telepon, bayar ini itu, buat belanja bulanan dan sebagainya. Jangan lupa buat sedekahnya. Atur sesuai keingananmu Suci. Hasil dari butik kamu simpan untuk masa depan nanti, atau keperluanmu untuk membuka cabang baru untuk butikmu." ucap Zhein menjelaskan.


"Baik mas, akan ku jalankan amanahmu." ucap Suci lembut


"Mas berangkat dulu ya, kalau ada apa apa hubungi mas, mas pulang sore, ada jadwal untuk kelas baru." ucap Zhein sambil mengecup kening Suci.


"Iya mas, hati hati, jangan lupa sholat ya." ucap Suci mencium punggung tangan Zhein dan kedua pipi Zhein.


"Assalamualaikum.... sayang"


"Waalaikumsalam... Mas"

__ADS_1


Suci mulai dengan kegiatannya membersihkan dapur.


"Suci, kamu mau ke butik? atau mau ikut belanja?" ucap bunda.


"Ikut belanja bunda, nanti baru ke butik. Mas Zhein pulang sore, mungkin nanti Suci sekalian minta jemput." ucap Suci pelan.


Ting..... Tong......


"Baiklah bunda siap siap dulu, itu siapa? biar bunda yang buka." ucap bunda pelan.


Suci pun meneruskan pekerjaan yang terhenti agar cepat diselesaikan.


"Suci.... panggil mamamu ada tamu, namanya Khadijah, kamu kenal?." ucap bunda pelan.


Suci pun menggeleng, " Suci sepertinya tidak kenal bunda, Suci panggil mama dulu." ucap Suci.


"Ma ada tamu, namanya ibu khadijah, siapa ma?" ucap Suci.


Mama pun tersentak kaget, "Khadijah?? kenapa dia kemari?? apa jangan jangan?? tahu dari mana aku disini??" ucap mama Larasati lirih yang masih terdengar oleh Suci.


"Kenapa ma?" ucap Suci penasaran.


"Tidak apa apa Suci,Khadijah sahabat mama sayang, ayok mama kenalkan." ucap mama pelan.


"Assalamualaikum Khadijah.." ucap mama Larasati.


"Waalaikumsalam Larasati.." ucap umi Khadijah senang.


Deg....


Deg...


Deg...


---------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


__ADS_2