Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 44 KECEMBURUAN TIDAK BERALASAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Malam telah larut, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib. Mas Zhein belum pulang, hpnya juga gak diangkat, pesanku hanya dibaca aja. Ada apa ya, malah buat aku cemas, batin suci yang berusaha menenangkan dirinya.


"Assalamualaikum, sayang maaf mas telat pulang tadi banyak urusan, terus tadi dipanggil bunda." ucap Zhein pelan sambil mengecup kening Suci.


"Waalaikumsalam mas, iya gak papa. Mas udah makan belum, aku siapin apa mau aku bawa ke kamar?" ucap suci lembut dengan mencium punggung tangan Zhein.


"Makan disini aja ya, mas mandi dulu, udah pada lengket." ucap Zhein pelan.


Zhein pun sudah selesai mandi dan duduk di sofa kamar itu sambil menyalakan TV. Sholat Isya sudah dilakukan waktu masih dikampus bersama beberapa rekannya. Badannya lelah, dan pikirannya tertuju nama Fathan, tamu yang datang pagi pagi berniat melamar Suci.


"Mas, ini makanannya, mau suci suapin juga?" ucap suci meledek Zhein.


"Boleh, suapin ya sayang, yang ikhlas sama suami tersayang." ucap Zhein ikut meledek.


"Ikhlas mas, kamu kan cape, aku pasti melayani kamu dengan baik, termasuk menyuapi bayi besarku ini." ucap suci terkekeh dan mulai menyuapi suaminya dengan tulus.


"Hari ini gimana? ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?" ucap Zhein memancing Suci agar mau bercerita tentang siapa Fathan.


"Suci mengantar bunda dan mama belanja, kemudian maympi ke butik sampai sore. Biasa aja gak ada yang berbeda, dan gak ada yang special." ucap suci datar, ia benar benar lupa tentang pertemuannya dengan Fathan.


"Tidak ada yang special? kamu yakin?" ucap Zhein yang semakin gemas, karena merasa suci menutup nutupi masalah ini darinya.


"Apa ya, oh iya aku lupa, tadi waktu belanja bunda ketemu Kinanti katanya bunda itu mantan kamu mas, cantik orangnya. Dua kaget waktu kenalan sama suci, suci bilang saya istri mas zhein, terlihat seperti marah." ucap suci dengan nada yang biasa. Tidak ada rasa cemburu sedikit pun terhadap Zhein.


"Kok jadi ngomongin Kinanti? itu masa lalu mas, Suci. Mas kan lagi bertanya tentang kamu sehari ini, bukan tentang Kinanti." ucap mas Zhein sedikit keras. Rasa cemburu terhadap tamu yang bernama Fathan membuatnya kesal.


"Kamu kenapa mas? kok jadi galak begini? aku gak papa Mas, sehari ini aku juga cuma belanja dan ke butik, kok kamu menyelidiki aku begitu, kayak aku berbuat salah sama kamu." ucap Suci pelan. Hatinya kecewa, Zhein tidak mempercayainya, seolah olah suci sedang menutupi perselingkuhannya.


"Fathan!! siapa Fathan sebenarnya?? Kita sudah berumah tangga suci dan aku mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu. Walaupun kita belum mengenal masa lalu kita masing masing, setidaknya bisa kita mulai dengan bercerita pelan pelan. Kejujuran sangat penting dalam berumah tangga walaupun pahit menerima kenyataan, tapi masa lalu tetaplah masa lalu, dan sebagai suami, mas ingin agar masa lalumu berhenti sampai disini dan tidak ada kelanjutan dari masa lalu itu." ucap Zhein menjelaskan.

__ADS_1


"Astaghfirullah mas Zhein, kamu bertanya tentang mas Fathan. Suci bener bener gak ingat dia datang kemari tadi pagi, karena memang Suci tidak mau mengingatnya kembali. Tapi suci akan menceritakan apa yang terjadi antara suci dan Fathan biar kita gak salah paham mas." ucap suci pelan.


"Ceritakan, aku butuh kejujuranmu, aku kaan menerima masa lalumu sayang, redamkan rasa cemburuku dengan kejujuranmu." sambil memeluk suci dan mencium pipi istrinya ini.


"Mas Fathan aktif di organisasi sosial, dulu aku sering ikut untuk membantu kegiatan sosial. Aku kagum dengan mas Fathan, dan aku ingin memiliki suami seperti mas Fathan. Tapi karena waktu itu aku berbeda keyakinan, aku putuskan untuk tetap mengungkapkan rasa kagum ku kepada mas Fathan. Dari situ aku bertekad mencari hidayah, tapi mas Fathan bukannya membimbingku malah meninggalkanku ke Kairo. Takdir membawaku ke rumah ini, dan bertemu suamiku tersayang." ucap suci manja dan mengecup bibir zhein. Suci ingin meredam kecemburuan Zhein yang tidak beralasan.


"Terus......." ucap Zhein menunggu.


"Terus aku jatuh cinta beneran sama suamiku ini, dan aku selalu rindu bila jauh, pulang malam aja aku tadi sudah gundah gulana mas." ucap suci merengek manja.


"Terus......." ucap Zhein menunggu lagi.


"Apa lagi mas Zhein, suci kan sudh jujur sama mas." ucap suci pura pura kesal.


"Kamu gak mau buka kado dari Fathan sama aku?" ucap Zhein menatap sendu wajah Suci.


"Astaghfirullah mas Zhein..... Suci malah gak inget, suci ambil dulu kadonya, ini suapan terakhir ayo buka mulutnya." ucap suci lembut.


Suci bangkit berdiri meletakkan piring kotor itu dimeja dan mengambil kado dari Fathan yang diletakkan di atas lemari. Kado itu dibungkus dengan kertas kado berwarna hijau muda dan diatasnya diberi pita putih. Bentuknya kotak besar dan sedikit berat.


"Kira kira isinya apa? tanya Zhein kepada Suci.


"Paling sprei, atau gelas atau jam dinding. Biasanya kalau kado pernikahan kan ayam begitu." ucap Suci polos.


Wajah Zhein sedikit berubah kecewa melihat isinya. Dan disana ada sebuah surat dan foto Suci saat berada di rumah sakit bertemu umi Khadijah.


"Apa mas isinya?" tanya Suci penasaran.


"Ini ada baju syar'i berwarna hijau kesukaan Suci, ada seperangkat alat sholat, ada make up dengan merk kesukaan Suci, ada Kalung dengan liontin bergambar hati, dan sepasang cincin dengan ukiran nama kalian berdua dan ini ada surat." ucap Zhein kesal dan menyerahkan surat itu kepada Suci.


"Baca saja mas, aku dengarkan." ucap Suci sambil tidur dipangkuan Zhein.


Hatinya kecewa melihat suaminya kecewa dengan isi kado itu. Suci semakin benci kepada Fathan, karena ini sana saja membuat rumah tangga Suci berantakan. Kenapa kamu tega denganku Fathan, kenapa kamu tidak bisa menerima takdirmu. Kamu pikir dengan kado itu bisa membuatku untuk berpikir dua kali. Tidak Fathan, caramu ini sungguh diluar akal sehatmu, ini membuatku benci padamu Fathan. Dan aku lebih memantapkan hatiku untuk suamiku.

__ADS_1


"Mas..." ucap suci tahu betul bagaimana perasaan Zhein saat ini. Suci duduk kembali dan menyandarkan kepalnya dibagi Zhein.


"Hemm...." ucap Zhein datar.


"Kamu marah?"ucap Suci pelan sambil mengelus-elus pipi Zhein dan mengecupnya.


Posisi Suci sudah berada dipangkuan Zhein. Suci memang sedang merayu Zhein agar hatinya tidak panas terbakar api cemburu yang menyulutnya.


"Kamu sedang merayuku Suci? agar apa?" ucap Zhein menatap Suci sendu.


"Agar kamu selalu mengingat tulusnya cintaku untukmu mas." ucap Suci pelan.


"Bukan untuk meredam kecemburuan ku yang tidak beralasan?" ucap Zhein semakin mendekatkan wajahnya ke arah Suci.


"Aku senang kamu cemburuimas, itu tandanya kamu mencintaiku dengan tulus." ucap suci lirih.


"Apa yang selalu aku ungkapkan kepadamu, tidak pernah kamu percaya?" ucap Zhein memiringkan wajahnya seperti sedang membidik sesuatu agar pas.


"Aku percaya dan selalu percaya tapi hari aku membuktikan semua ucapanmu itu." ucap suci mengalungkan kedua tangannya ke leher Zhein.


"Kamu ingin aku membacakan surat ini atau kamu sedang menginginkan yang lain suci." ucap Zhein mengecup bibir suci.


"Kalau aku menginginkan yang lain apa kamu tidak lelah mas?" ucap suci menggoda.


"Untuk bermain-main ke gua sempit, aku tidak akan pernah lelah sayang, apa kamu menginginkannya?" ucap Zhein semangat, wajahnya yang tadi kesal berubah menjadi hangat dan bergairah.


"Sama sepertimu, aku pun menginginkannya mas." ucap suci mengecup bibir zhein.


Mereka berdua sudah hanyut dalam permainan yang mereka buat sendiri. Dan malam ini mereka membuktikan cinta mereka yang tulus dan suci.


-----------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


__ADS_2