Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 63 KEHANGATAN DALAM BERKELUARGA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Aroma Udang saus Padang dan kerupuk udang yang tersaji diatas meja sungguh luar biasa nikmat. Zhein pun sudah nampak menahan air liurnya agar tidak terjatuh karena ingin segera mencicipi masakan istri tercintanya.


Zhein pun mulai memakan makanan itu dengan lahap seperti sudah satu Minggu tidak makan. Entah memang lapar atau memang makanan itu cocok di lidah Zhein.


Suci hanya melihat cara makan Zhein dengan takjub. Tidak biasanya seperti ini, biasanya Zhein itu lembut dan pelan pelan. Tapi memang sudah seminggu ini, Zhein selalu makan dengan lahap dan seperti orang yang sedang kelaparan.


"Mas Zhein, pelan pelan sayang, nanti kamu tersedak." ucap Suci pelan dan lembut.


Sesekali tangan Suci memegang rambut Zhein yang basah karena keringat. Suci pun mengelap keringat itu dengan penuh kasih sayang menggunakan tissu.


Mendapat perlakuan romantis, Zhein pun menatap Suci yang sedari tadi menatapnya dengan penuh kelembutan.


"Kamu gak makan sayang?" ucap Zhein masih dengan mengunyah.


Zhein pun mengambil nasi dan udang kedalam sendok makannya dan menyuapkan kepada istri tercintanya.


"Kamu harus makan, ada anak kita yang membutuhkan gizi dari ibunya. Kamu gak boleh egois." ucap Zhein dengan senyum mengembang.


Suci menerima suapan mesra itu seperti berbeda, kemesraannya kali ini seperti sepuluh kali lipat dari biasanya padahal hanya disuapi oleh suaminya.


"Iya Mas, aku takjub lihat kamu makan Mas, kamu gak biasanya makan selahap itu Mas." ucap Suci menjelaskan.


"Akhir akhir ini aku lebih senang makan dirumah dan makan masakan dari tanganmu sendiri." ucap Zhein mantap.


"Oh ya, padahal rasanya jauh dari restauran lho Mas. Aku masih belajar Mas?" ucap Suci pelan.


Hatinya senang mendengar pengakuan Zhein yang lebih senang untuk makan dirumah daripada diluar rumah. Istri mana yang tidak berbunga bunga mendapatkan pernyataan seperti itu, padahal suaminya tahu, istrinya tidak begitu pandai memasak tapi tetap menghargai hasil karya istrinya.


"Sayang, apapun yang dimasak oleh istri, aku pasti makan. Mau enak atau tidak itu hasil karya istri, kita sebagai suami harus menghargai. Sama seperti istri menghargai suami, berapa pun nafkah yang diberikan suami selalu diterima dengan ikhlas dan penuh syukur." ucap Zhein menjelaskan.


"Makasih ya Mas, kamu selalu mengajarkanku hal hal baru yang aku tidak tahu." ucap Suci lembut.


"Ini udangnya boleh aku habiskan?" ucap Zhein memohon.


"Habisin Mas nanti malam aku masak menu yang lain." ucap Suci terkekeh melihat kelakuan suaminya.


"Kok kamu menertawakan Mas seperti itu Suci. Mas aneh ya?" ucap Zhein pelan.


"Nih aneh, makannya belepotan begini." ucap Suci lembut sambil mengelap sisa saus yang ada di pipi Zhein.


"Istriku kok jadi sweet gini sih. Masih ada lagi gak?" ucap Zhein menggoda Suci, masih mengunyah udang yang tersisa.

__ADS_1


"Udah Mas habisin. Setelah ini kamu ganti baju, aku mau bicara sesuatu sama kamu." ucap Suci sambil membereskan piring piring kotor ke dalam cucian piring.


Zhein pun sudah selesai menyantap habis makanan siang itu. Membuka lemari es dan mengambil sisa susu serta potongan buah. Dengan setia menunggu Suci menyelesaikan cucian piringnya, sesekali Zhein menatap punggung Suci yang bergerak kesana kemari mengikuti alur kegiatannya.


Proses hidup pun seperti itu, bila mengikuti alur maka semuanya akan baik baik saja. Tapi bila menjauhi alur maka semua akan terjadi diluar dugaan.


"Hayo melamun apa?" ucap Suci sampul mengecup pipi Zhein.


"Kaget sayang, untung gak jantungan. Ini makan dulu buahnya." ucap Zhein sambil menancapkan garpu pada satu potongan buah apel.


"Mas, apel rasanya apa?" tanya Suci pelan.


"Manis?" ucap Zhein sekenanya.


"Apel itu rasanya seperti hatiku, manis dan sedikit asam." ucap Suci memakan potongan buah kembali.


"Kok bisa? Mas lihat kamu baik baik saja?" ucap Zhein tenang.


"Siapa Raina?" ucap Suci pelan dengan menatap kedua mata Zhein.


Zhein pun membalas tatapan itu dengan penuh kasih sayang.


"Apa yang ingin kamu tahu? Dia dokter kandungan? masih kurang informasi itu?" ucap Zhein sedikit mengerjai Suci.


"Cukup, tapi kalian dekat sekali." ucap Suci menimpali.


"Cemburu?" ucap Zhein mantap.


"Memangnya salah kalau itu benar?" ucap Suci datar.


Hatinya sudah penasaran sejak kemarin tentang Raina.


"Apa perlu ku undang Raina kemari untuk menjelaskan kepadamu?" ucap Zhein pelan.


"Kalau kamu tidak keberatan?" ucap Suci tenang.


Suci memang pandai menyimpan perasaannya agar terlihat baik baik saja, padahal hatinya sedang tidak baik baik saja.


"Baiklah nanti malam aku ajak Raina makan malam disini, agar kamu tahu siapa Raina? kamu masak yang enak seperti tadi ya istri pencemburuku." ucap Zhein sambil mencubit pipi Suci gemas.


"Kamu serius Mas?" ucap Suci yang terkejut mendengar ucapan Zhein barusan.


"Iya sayang. Tadi aku habis dari rumah sakit mengambil hasil test mu. Kamu sehat sayang, kamu hanya anemia biasa. Jadi hanya perlu vitamin dan obat penambah darah biar stabil." ucap Zhein pelan.


"Alhamdulillah Mas, syukur kalau begitu, aku cemas tentang anak kita Mas." ucap Suci pelan sambil menghabiskan susunya hingga tak bersisa.

__ADS_1


"Ayok rebahan dulu, badan Mas pegel Suci." ucap Zhein.


"Mau dipijit?" ucap Suci menawarkan.


"Dengan senang hati sayang." ucap Zhein pelan.


Suci pun memijat seluruh badan Zhein, dari telapak kaki hingga tangan dan kepala. Pijatan yang membuat badan menjadi rileks dan segar kembali. Zhein pun tertidur selama di pijat.


Suci hanya terdiam dan merenung. Hari ini Raina datang, aku harus bagaimana bersikap. Mas Zhein malah menyuruhnya kesini. Sebenarnya ada apa diantara mereka.


Suci pun sibuk kembali didapur mempersiapkan masakan untuk acara nanti sore.


Berkutat dengan bahan dan bumbu, suci memasak makanan khas Indonesia opor ayam.


Zhein pun terbangun mencium aroma wangi santan kesukaannya. Wanginya persis masakan bundanya. Zhein pun terbangun mencari asal wangi itu. Zhein melihat istrinya tengah sibuk hingga fokus pada masakannya.


Kedua tangan pun sudah melingkar di pinggang Suci. Sempat kaget, tapi Suci langsung menetralisir rasa kagetnya itu.


"Sudah bangun Mas? Raina sudah dikabari? aku sudah masak banyak, jadi jangan sampai gagal ya acaranya." ucap Suci mengultimatum.


"Segitu besarnya rasa cemburumu pada Raina, Suci?" tanya Zhein lembut dan mencium leher Suci.


Suci hanya menikmati ciuman ciuman itu. Pikirannya tetap fokus pada masakannya.


"Aku seorang istri lho Mas? Aku bukan orang lain?" ucap Suci agak meninggi.


Mendengar ucapan itu Zhein pun membalikkan badan Suci dan meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Suci.


"Sssuuutt... Jangan katakan hal yang aneh sayang. Hatimu jangan terus menerus dikuasai api cemburu yang tidak beralasan." ucap Zhein lembut.


Zhein pun mencium bibir Suci dengan lembut dan pasti. Ciuman yang pelan, hangat hingga menjadi sedikit panas. Nafsunya pun masih mengikuti insting nalurinya.


Mereka pun merasakan kebutuhan dan kehangatan dari pasangan halalnya ini.


Suci pun melepaskan ciuman itu.


"Mas, aku masih masak." ucap Suci pelan.


"Kita lanjutkan nanti malam ya, sudah berapa hari suamimu ini berpuasa? apa kamu tega Suci?" ucap Zhein tersenyum dan mencium bibir Suci kembali sebelum Suci menjawab.


--------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN

__ADS_1


💚💚💚💚💚


__ADS_2