
"Maafkan aku, Klara. Bukti yang kumiliki sudah cukup kuat untuk melaporkan segala kejahatanmu. Semua anak buahmu juga sudah ditangkap." ucap Zhein pelan dan sambil berlalu meninggalkan Klara.
"BRENGSEKKK .... KAMU ZHEIN !!!!!! LIHAT PEMBALASANKU !!!" ucap Klara dengan lantang dan keras.
Kedua tangannya sudah diborgol dan digiring oleh polisi menuju mobil tahanan.
Zhein hanya memandang teduh. Ada rasa iba, tapi memang itu semua harus dipertanggungjawabkan atas semua kesalahannya di masa lampau dan saat ini.
"Maafkan aku Klara, tapi ini adalah cara terbaik untuk membuatmu lebih jera." gumam Zhein dari balik pintu.
Zhein pun bergegas pulang dan memberikan informasi ini kepada Bunda dan Mama Laras. Semua bukti dan saksi sudah lengkap dan sudah dilaporkan dan diberikan kepada pihak kepolisian.
"Sayang... Kamu belum tidur?" tanya Zhein lembut. Saat melihat Suci sedang berada di ruang keluarga berkumpul bersama Bunda Jihan dan Mama Larasati.
"Mas zhein, kamu sudah pulang. Katanya sampai sore?" ucap Suci menghampiri Zhein dan mencium punggung tangannya.
"Sudah beres kelasnya. Tadi ada dosen minta tukar jam kelas." ucap Zhein berbohong.
"Mau makan Mas? Suci tadi masak pepes jamur kesukaanmu?." ucap Suci lembut.
Hari ini Suci sudah bisa tersenyum, bicaranya pun sudah mulai banyak. Tidak hanya diam dan mengambil atau menggeleng. Mungkin Suci sudah bisa menerima keadaan ini dengan ikhlas.
"Boleh, tapi suapi Mas ya." ucap Zhein sambil mengedipkan satu matanya ke arah Suci.
"Mas, ada Bunda sama Mama, malu." ucap Suci sambil mencubit lengan Suaminya.
"Mereka tidak mendengar kok sayang, ayo Mas sudah lapar." ucap Zhein pelan.
Bunda dan Mama sudah sangat hafal dengan sifat anaknya itu. Jadi lebih baik pura pura tidak mendengar dan fokus pada majalahnya masing masing.
"Sayang, setelah ini Mas mau keluar sebentar dengan Mama dan Bunda. Ada perlu, kamu dirumah dan istirahat. Persiapan tahlil nanti malam sudah beres kan?" tanya Zhein pelan.
Suci masih sibuk mengambilkan makanan ke dalam piring pun, hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Jadi minta di suapin gak?" tanya Suci pelan.
__ADS_1
"Jadi... aaaa.." ucap Zhein. Membuka mulutnya agar satu sendok nasi itu bisa langsung masuk ke dalam mulutnya.
"Makan yang banyak Mas. Aku gak pengen kamu sakit." ucap Suci lembut.
"Kalau pengen aku selalu sehat. Kamu harus nurut sama aku." ucap Zhein bertitah.
"Aku kan selalu nurut sama kamu sayang. Kamu ada perlu apa? sampai aku gak diajak? aku ke butik saja. Bantu anak anak disana? boleh Mas?" tanya Suci pelan.
"Boleh sayang, nanti Mas anter kamu dulu ke butik. Tunggu sampai Mas jemput. Kamu harus makan. Biar mbok Wasih ikut, takut kamu capek ada yang mijitin." ucap Zhein pelan.
"Kamu lapar ya Mas, ini suapan terakhir lho? mau nambah?" tanya Suci pelan.
"Cukup sayang. Mas harus buru buru. Ayo... kita berangkat." ucap Zhein pelan.
Zhein pun berdiri dan memanggil Bunda Jihan dan Mama Laras, untuk segera berangkat.
Mobil pun sudah melaju dengan kecepatan sedang. Semua hanya terdiam seribu bahasa, termasuk Suci yang tidak menanyakan lebih lanjut masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Suci dan Mbok Wasih pun sudah turun di depan butik. Zhein berpamitan kepada Suci untuk segera pergi.
"Iya Mas, hati hati dijalan ya." ucap Suci sopan. Bibirnya mencium punggung tangan Zhein dengan hormat.
"Mbok... belikan ibu cemilan dan jus. Jangan lupa untuk makan, belikan saja sekitar sini, atau minta tolong Eva atau Maya." titah Zhein kepada Mbok Wasih.
"Iya Den... pasti Mbok laksanakan." ucap Mbok Wasih dengan sopan.
Mobil Zhein pun sudah meninggalkan area butik dan melaju menuju Kantor Polisi. Menghadiri panggilan sebagai saksi. Pengacara Zhein pun sudah berada di kantor polisi untuk memenangkan perkara ini.
Semua saksi sedang di BAP. Saksi mata kecelakaan Bima dan penusukan Papa Leo tempo hari. Termasuk saksi keluarga yang menghadirkan Mama Laras.
"Assalamualaikum Pak Zhein. Sepertinya kali ini banyak saksi akan memberatkan Bu Klara. Terlebih rekaman Papa Leo itu bukti paling penting." ucap Bayu Sang Pengacara.
"Waalaikumsalam... Pak Bayu. Anda terlihat keren, setelah lama menghilang." ucap Zhein pelan.
"Untuk bodyguard yang ikut dalam rencana pun akan di hukum seumur hidup. Untuk Bu Klara akan di kenai hukuman mati. Ternyata, banyak kasus, bukan ini saja Pak Zhein." ucap Bayu dengan antusias dan semangat.
__ADS_1
"Kasus apa saja?" tanya Zhein memyelidik.
"Paling banyak Narkoba, Klara itu bandar narkoba. Namanya Ara, dia adalah Klara." Ucap Bayu dengan mantap.
Bunda Jihan sejak tadi hanya menyimak. Sedangkan Mama Laras, sedang BAP di ruangan.
"Gila... itu serius? gak nyangka aja. Klara itu kan terlihat polos. Ku serahkan kasus ini sama kamu Bayu. Kalau Mama Laras sudah selesai aku akan pulang Bayu. Aku tidak ingin membuat istriku cemas. Perasaanku tidak enak. Aku takut anak buah Klara masih ada dan mengincar keluargaku." ucap Zhein dengan datar. Pikirannya berkecamuk antara cemas dan panik.
"Aku akan menjamin keselamatanmu dan keluargamu." ucap Bayu dengan mantap.
"Bagaiman caramu?" tanya Zhein pelan.
"Hari ini juga rumah Klara dan club malam langsung di geledah, ada ratusan karyawan yang ditangkap dan diintrogasi. Lalu dirumahmu sudah ada yang mengawasi, termasuk butik istrimu." ucap Bayu dengan mantap.
"Hebat sekali kamu Bayu. Bisa kamu secerdas ini?" ucap Zhein memuji.
"Sebenarnya aku sudah mengintai sejak lama untuk kasus narkoba, apalagi aku pernah melihat salah satu supir Bima, menjadi supir Klara. Itu suatu kejanggalan bukan? Makanya aku menyelidiki kasus ini. Semoga hukuman Klara dan anak buahnya cepat divonis." ucap Bayu mantap.
"Aamiin." Zhein pun mengamini.
Satu jam berlalu, Mama Laras pun keluar dari ruangan BAP.
"Aku duluan. Kalau ada perkembangan baik beritahu aku." titah Zhein kepada Bayu.
Zhein pun pulang bersama kedua ibunya. Hatinya sedikit tenang dengan ucapan Bayu. Satu hal yang membuatnya kuat adalah anak yang sedang dikandung Suci.
Hari ini masalah pun selesai. Vonis akan turun setelah sidang pertama, yang jelas hukuman berat sudah pasti akan diberikan kepada Klara dan anak buahnya.
Pasrahkan saja semua kepada Allah SWT. Jalan keluar akan datang, disaat pikiran kita jernih dan hati kita tenang. Perbanyak ibadah, sholat dan sholawat. Kita tidak tahu, doa mana yang dengan cepat akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Sebagai manusia, hamba Allah yang lemah kita hanya bisa berharap kepada Allah SWT bukan kepada sesama manusia.
Mintalah semuanya kepada Allah SWT, keluh kesahmu, rejekimu, sehatmu, umur panjangmu, keberkahan hidupmu. Maka niscaya Allah akan memberikan sesuai dengan KEBUTUHANMU BUKAN KEINGINANMU.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1