
Fathan telah memarkirkan mobilnya tepat di depan apartemen Raina. Jarak tempuh sekitar empat puluh lima menit, cukup lama dan degub jantung semakin dekat semakin tidak terkontrol.
Bismillahirrahmanirrahim...
"Assalamualaikum..." ucap Fathan sambil memencet bel yang ada disamping pintu.
Terdengar bunyi anak kunci diputar dan pintu pun terbuka lebar.
"Waalaikumsalam.. Fathan?" ucap Raina pelan, dan mempersilahkan tamunya itu masuk ke dalam apartemennya.
Raina pun masuk ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa cemilan untuk suguhan tamu tak di undangnya ini.
Fathan pun terkagum melihat isi apartemen itu. Seorang wanita Single memiliki hobby yang tidak biasa.
"Ini semua milikmu, miniatur moge?" tanya Fathan pelan ke arah Raina yang baru keluar dari dapur membawa sebuah baki berisi minuman dan makanan ringan.
"Iya betul sekali, aku penyuka moge. Kebetulan papaku memiliki moge dan aku sering ikut papa bila ada touring. Tapi papa telah meninggal karena sakit jantung." ucap Raina pelan.
"Makanya kamu bercita cita jadi dokter?" tanya Fathan menebak.
"Kalau jadi dokter, ini cita cita Bima. Kebetulan aku dulu lebih suka menjadi aktivis atau pekerja sosial. Takdir yang membuatku menjadi dokter. Setelah kehilangan papa, selang dua tahun aku kehilangan Bima, sosok pria yang aku kagumi." ucap Raina pelan.
"Bukankan kamu memiliki kakak laki laki?" tanya Fathan seperti wartawan.
"Iya, dia Reihan. Dia sibuk bekerja, sekarang dia di Amerika, aku tidak terlalu dekat dengan kakakku, dia sejak SMP di Amerika dengan grandma disana. Jarang pulang ke Indonesia juga. Adikku juga laki laki, namanya Raja di kuliah di UI." ucap Raina menjelaskan dengan detail.
"Menarik sekali tentang keluargamu, ibumu?" tanya Fathan lagi, sedikit demi sedikit dia ingin mengenal sosok Raina.
"Mama hanya ibu rumah tangga biasa, kebutuhan mama selalu di cukupi oleh Kak Reihan." ucap Raina pelan.
"Boleh aku minum? mau mencoba teh manis buatan calon istri." ucap Fathan dengan wajah yang cuek dan datar.
Raina pun terdiam mencerna kata kata yang terucap dari bibir Fathan barusan. Tatapannya tajam ke arah Fathan.
"Kamu kenapa Raina? menatapku seolah aku bersalah?" ucap Fathan pelan seolah tidak masalah dengan ucapan tadi.
__ADS_1
"Kamu itu yang kenapa? ngomong asal jeplak gak dipikir dulu, untung aku itu gak baperan." ucap Raina pelan sambil mengunyah makanan ringan yang diambilnya dari toples.
"BAPER juga gak papa. Tandanya kan mau? Iya kan, iya kan?" ucap Fathan sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya yang tebal.
"Yee pede banget... cinta sejati aku itu tidak tergantikan. Sama kayak kamu cinta sejati kamu untuk Suci itu sulit untuk digantikan." ucapan yang cukup menohok bagi Fathan.
Raina pun tidak sadar mengatakan itu, sebenarnya tadi ingin menutupi rasa kegugupannya saja. Hatinya tadi ingin berteriak senang, ingin mencoba kembali membuka hatinya untuk orang lain, tapi Raina ingin melihat seberapa gigih dan serius seorang Fathan terhadapnya.
"Gimana?" ucapnya pelan kepada Raina.
"Apanya?" tanya Raina pura pura bodoh.
"Hemmm.. gak ngerti apa gak paham? atau pura pura gak paham?" ucap Fathan pelan.
"Aku suka tantangan Fathan. Lagi pula, aku gak mau cuma jadi pelarian kamu saja." ucap Raina pelan.
"Baiklah, aku akan membuktikan kepadamu Raina. Mungkin bagimu aku terlihat terburu buru dan kamu menganggap ini semua hanya pelarian saja." ucap Fathan pelan.
"Tujuanmu kesini untuk ini? atau ada tujuan lain?" tanya Raina ke arah plastik yang sejak tadi ada di meja.
"Iya ini dari Suci, belanjaanmu terbawa. Aku sengaja kesini untuk mengantarkan ini untukmu Raina." ucap Fathan pelan.
"Demi Suci?" tanya Raina pelan.
Raina ingin sekali Fathan melupakan Suci, seperti Raina berusaha melupakan Bima.
"Kok pertanyaannya begitu. Ya demi kamulah Raina, kok demi Suci. Suci sudah ada Zhein. Jangan bahas itu lagi, kita kan terluka." ucap Fathan tegas.
"Kita?" ucap Raina dengan kedua mata membola.
"Salah lagi?" ucap Fathan pelan.
"Aku ingin mengikuti takdirku Fathan." ucap Raina pelan.
Matanya menatap ke sembarang arah. Raina mencoba untuk mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Memulai membuka hatinya lewat cinta yang akan dihadirkan kembali oleh Allah SWT.
__ADS_1
"Kalau ternyata aku yang menjadi takdirmu? apakah kamu mau Raina? kita belajar membuka diri dan membuka hati. Kita sama-sama punya masa lalu. Kesalahan kita adalah belum bisa melupakan masa lalu." ucap Fathan lembut, tatapannya sendu dan memohon.
"Aku tidak ingin pacaran Fathan." ucap Raina pelan.
"Maksudmu apa? aku gak ngerti Raina?" tanya Fathan pelan.
"Aku hanya ingin pendamping bukan pacar, Fathan." ucap Raina pelan.
"Lalu, aku harus menanyakan dulu, bagaimana perasaanmu kepadaku sebelum aku melamar kamu Raina. Tidak mungkin aku datang ke rumahmu tanpa arahanmu, kalau aku ditolak, mau ditaruh mana mukaku Raina?" ucap Fathan pelan.
"Hahahaha, Fathan, ini terlalu cepat. Kita mengenal saja dulu." ucap Raina pelan.
"Baiklah Raina, kita mengenal dulu, katakan apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku?" tanya Fathan lembut.
"Masih ada waktu. Biar takdir yang menghampiri kita Fathan. Kamu yakin dengan The Power of Doa?" tanya Raina pelan.
"Yakin? sekarang aku juga hanya ingin berharap kepada Allah SWT, bukan kepada manusia. Aku tidak mau sakit karena patah hati." ucapnya pelan.
"Lakukanlah bila kamu yakin Fathan." ucap Raina tegas, tanpa memperdulikan perasaan dan cinta sejati yang masih mengisi hati mereka.
Mereka berdua pun terdiam tidak bersuara. Fathan pun terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Raina, menatap gelas dengan tatapan kosong.
"Aku pulang dulu Raina, sudah sore, aku harus menjagamu dari gosip. Assalamualaikum..." ucap Fathan pelan.
Fathan pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama tadi. Raina mengikuti dari belakang, untuk mengantarkan Fathan hingga pintu. Fathan pun melihat Raina dengan tatapan penuh kasih sayang. Raina hanya membalas dengan senyuman saat kedua mata mereka saling bertemu.
"Hati hati dijalan, jangan ngebut. Waalaikumsalam..." ucap Raina pelan dan menasehati.
Pintu pun langsung di tutup dan Raina bersandar di pintu itu. Matanya basah dan berkaca kaca, tatapannya seperti milik Sang Papa, Raina pun menangis mengingat papa yang telah tiada.
Sama seperti Fathan, melihat pintu telah ditutup ada perasaan tidak rela meninggalkan Raina sendiri. Fathan pun bersandar pada tembok sebelah pintu, pandangannya lurus ke depan. Merasakan perasaan yang sedang menjalar ke hatinya. Perasaan sayang yang timbul karena ingin menjaga Raina, semoga perasaan yang ku jaga ini bisa terus berubah menjadi perasaan cinta.
*SEMOGA KAMULAH TAKDIRKU....
JAZAKALLAH KHAIRAN*
__ADS_1