Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 112 PEMAKAMAN LEO


__ADS_3

Suci masih sesegukan di dalam dekapan Zhein. Hatinya baru saja senang dan bahagia, tapi takdir berkata lain. Memang semua kehendak Allah SWT, semua rencana Allah SWT. Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berharap lewat do'a yang dimunajatkan.


Mama Larasati dan Bunda Jihan pun langsung datang ke Rumah Sakit setelah mendapatkan kabar dari Zhein tentang kematian Papa Leo yang begitu mendadak.


Mama Larasati, orang yang paling terpukul karena saat saat terakhir Papa Leo, Mama Larasati tidak ada di sampingnya.


Mama Larasati mendekati jenazah dan menangis histeris. Pertemuan terakhirnya harus berakhir tragis seperti ini.


"Mas.... Mas Leo... bangun Mas, Laras belum minta maaf sama kamu Mas. Maafin Laras Mas, kalau Laras punya salah dan dosa sama Mas Leo. Masya Allah Jeng Jihan, saya nyesel pulang segala, seharusnya saya berada didekatnya." ucap Mama Larasati pelan dan menangis sesegukan.


"Yang kuat ya Jeng Laras. Semua ini sudah takdir. Kita tidak bisa menyalakan takdir yang sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Ada hikmah dibalik kejadian ini Jeng Laras." ucap Bunda Jihan menenangkan Mama Larasati.


Zhein sibuk mengurus administrasi dan kepulangan jenazah Papa Leo. Papa Leo akan di makamkan di Pemakaman Umum dekat rumahnya secara Islam. Karena memang Papa Leo sudah mengucap dua kalimat syahadat.


Suci yang masih terbaring lemah dan lesu di atas brankar, dengan infusan yang masih tertempel di tangannya pun membuat ia harus tetap diam dan beristirahat agar tidak kelelahan. Sudah berapa jam menangis terus hingga matanya terlihat bengkak dan wajahnya sangat kusut karena sembab.


Bunda Jihan pun menuju ruang perawatan Suci, meninggalkan Larasati sendiri di ruang jenazah.


"Assalamualaikum... sayang, gimana? kamu kuat kan Nak?" tanya Bunda Jihan dengan lembut.


"Waalaikumsalam... iya Bunda.... Suci mau peluk Bunda." ucap Suci pelan sambil memeluk erat tubuh Bunda Jihan mencari kenyamanan yang biasa Suci dapatkan bila sedang bersedih atau memiliki masalah. Kedekatan Suci dan Bunda Jihan, sudah seperti anak kandung dengan ibunya sendiri, hingga kadang membuat Zhein dan Mama Larasati merasa tersisih dan terabaikan.


"Sini sayang, Bunda peluk, jangan menangis, kamu harus kuat dan tegar, kasihan anak dalam kandungan kamu harus ikut stres seperti Uminya?" ucap Bunda Jihan mengingatkan.


Suci hanya menganggukkan kepalanya pelan. Air matanya masih saja mengalir deras walau sudah ditahan.

__ADS_1


"Makasih Bunda selalu ada buat Suci, disaat Mas Zhein masih sibuk mengurus keperluan terakhir Papa Leo. Bunda memang terbaik buat Suci. Suci senang punya Bunda. Selalu temani Suci ya Bunda." ucap Suci pelan. Isakan tangisnya masih terdengar walaupun sangat lirih.


Bunda Jihan bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Suci sebagai anak. Walaupun hanya anak sambung dari Papa Leo yang sudah merawatnya sejak bayi hingga dewasa. Memberikan kebahagiaan dan curahan kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri. Tentu akan sangat sulit dan terluka mengingat kebaikan Papa Leo di masa lalu. Walaupun pada akhirnya semua runyam begitu saja karena suatu kesalahan besar yang Papa Leo buat sehingga menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Bunda cari perawat untuk membuka infus kamu, dan kita persiapkan untuk pemakaman Papa Leo besok pagi, karena hari ini sudah malam jadi biar jenazahnya di mandikan disini dan dimasukkan ke dalam peti mati." Ucap Bunda Jihan menjelaskan.


Suci pun melepaskan pelukannya dari Bunda Jihan dan menatap sendu wajah Bunda Jihan yang terlihat ayu, walaupun usianya sudah cukup lanjut.


"Papa Leo sudah menjadi seorang muslim Bunda. Tadi sore beliau mengucapkan syahadat, dan sudah melaksanakan sholat Maghrib sebagai sholat pertamanya. Beliau meninggal dengan mengucapkan kalimat 'laa ilaha illallah’." ucap Suci dengan pelan menjelaskan kejadian sore tadi sebelum Papa Leo dipanggil oleh Allah SWT.


Buda Jihan pun terkejut, kedua matanya terbelalak karena kaget dengan ucapan Suci.


"Benar yang kamu ucapkan Suci? Papa Leo sudah mualaf?" tanya Bunda Jihan menyelidik.


"Alhamdulillah, Allah SWT memang memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Memberikan petunjuk kepada hambanya yang taat. Memberikan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Dan menunjukkan kebesaranNya bagi orang-orang yang mau bertobat dan kembali kepadaNya." ucap Bunda Jihan dengan takjub dan bahagia.


"Iya betul Bunda. Suci pun bersyukur, Papa bisa mengenal Islam dan mengenal Allah SWT sebelum usianya ditutup. Bahkan mengakui segala dosa dan kesalahannya serta menyesali dan memohon ampun kepada Allah SWT. Semoga Papa Leo Husnul khatimah. Doakan ya Bunda." ucap Suci pelan.


Wajahnya kembali dibenamkan kembali ke dada Bunda Jihan. Nyaman sekali, hatinya yang berkecamuk seakan menjadi damai dan tenang.


"Assalamualaikum Bunda, Suci? Mama Laras mana?" tanya Zhein yang tiba tiba masuk ke dalam ruang perawatan itu didampingi oleh seorang perawat yang akan melepaskan infusan dari istrinya.


"Waalaikumsalam... Zhein? sudah beres semua Nak? Mama Laras di kamar jenazah. Mungkin dia menyesali saat terakhir tidak berada di samping Papa Leo." ucap Bunda Jihan pelan.


Perawat pun segera masuk dan membuka infusan dari tubuh Suci, dan memberikan surat keterangan keluar rumah sakit dan beberapa resep obat yang harus di tebus di apotik.

__ADS_1


"Kamu kuat jalan, atau mau pakai kursi roda sampai parkiran. Tidak mungkin aku menggendongmu sayang?" ucap Zhein lembut.


"Aku naik kursi roda tidak apa-apa Mas. Aku masih sedikit lemas." ucap Suci pelan.


"Ya sudah sini Mas angkat, lalu Mas dudukan di kursi roda. Bunda orang rumah sudah di beri tahu? kita adakan baca Yasin bersama." ucap Zhein pelan.


"Sudah beres Zhein. Penggali kubur pun sudah Bunda beri tahu. Ya sudah kita segera pulang, mungkin jenasahnya sudah beres di kain kafan." ucap Bunda Jihan pelan.


"Baik Bunda. Kita menemui Mama Laras. Kita bantu untuk memberikan dukungan kepadanya. Mama Laras mungkin sangat terpukul karena kejadian ini. Kejadian yang begitu cepat. Ada dalang di balik ini semua, bukti sudah ada, tapi Zhein perlu memancing untuk mencari bukti lain." ucap Zhein pelan.


"Zhein sudah jangan. Biarkan saja, toh Papa Leo juga mengikhlaskan bukan?" ucap Bunda Jihan pelan.


"Bunda, masih ingat Klara Novena? dia kembali lagi, bahkan sudah mengenal Suci. Aku takut dia nekat untuk menghancurkan keluargaku karena obsesinya. Apalagi Klara membenci dan dendam pada keluarga Papa Leo. Ini bisa jadi rangkaian acaranya untuk menghancurkan keluargaku juga, dan Suci." ucap Zhein menjelaskan.


"Baiklah, bunda mengerti. Tapi kamu harus hati-hati. Kami tahu Klara sejak dahulu itu jahat dan licik. Semua bisa dia lakukan." ucap Bunda Jihan yang ikut geram mengingat nama Klara Novena.


"Terima kasih bunda sudah mendukung Zhein. Doakan semuanya lancar dan baik baik saja. Biar polisi yang bertindak, Zhein hanya memancing dan mencari bukti tambahan selain rekaman itu." ucap Zhein penuh semangat.


Jenasah Papa Leo sudah dimandikan dan di kafani. Mama Larasati dengan setia melihat satu per satu proses tersebut. Air matanya sudah kering, sudah tidak ada buliran kristal yang jatuh. Hanya saja wajahnya sangat kusut, matanya sangat merah dan berair. Jenazah diletakkan di atas brankar untuk di masukkan ke dalam mobil dan diantarkan ke rumah duka.


Bunyi sirine mobil jenasah pun menghantarkan jenasah Papa Leo ke rumah duka untuk di doakan, di shalatkan sebelum akhirnya di kebumikan.


Mama Larasati ikut dalam mobil jenasah, tangannya memegang tubuh Jenasah Papa Leo yang sudah terbungkus kain kafan dengan rapi.


JAZAKALLAH KHAIRAN

__ADS_1


__ADS_2