Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 115 DETIK DETIK MENEGANGKAN (END)


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian......


Kandungan Suci pun sudah memasuki bulan untuk melahirkan. Perutnya kian membuncit dan membesar. Dengan sengaja Suci tidak menanyakan jenis kelaminnya anaknya selama USG, biarkan itu menjadi rahasia Allah SWT dan menjadi kejutan bagi pasangan muda itu.


Satu per satu masalah yang timbul pun dapat diatasi dengan baik, semua ada jalan keluarnya, ada solusinya asalkan kita sabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Solusi akan datang tepat pada waktunya, saat pikiran jernih dan hati tenang, bukan mengambil keputusan secara tergesa gesa. Dalam berumah tangga juga perlu ombak, tidak seterusnya akan datar datar saja. Semua butuh proses, hanya saja, bagaimana kita berusaha menjadi yang terbaik diantara yang baik.


"Assalamualaikum sayang, sedang apa?" tanya Zhein lembut sambil memeluk Suci dari belakang.


Tangannya mengusap perut Suci pelan, ada gerakan gerakan yang sangat kuat, berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, yang terasa lebih halus.


"Waalaikumsalam... Mas Zhein.. Ngagetin Suci aja. Baru sampai sayang?" tanya Suci pelan, dan mengecup pipi Zhein yang tertempel di bahunya.


"Kamu sudah minum susu sayang?" tanya Zhein pelan.


Suci menganggukan kepalanya dengan pelan


"Sudah Mas, hanya saja, aku jadi sering ke kamar mandi rasanya seperti kebelet pipis aja." ucap Suci pelan.


"Kata dokter bukannya masih dua Minggu lagi sayang? kok Mas jadi cemas begini." ucap Zhein pelan langsung membalikkan tubuh Suci agar menghadapnya.


Zhein pun berjongkok di depan Suci dan mengajak bicara anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Anak Abi... kalau mau keluar, keluar ya Nak...jangan buat Umimu kesakitan. Abi akan menemani Umi saat mengeluarkanmu sayang." ucap Zhein penuh kelembutan dan mencium perut Suci.


"Iya Abi..." ucap Suci dengan nada khas anak kecil.


"Kamu sudah siap sayang, kalau harus melahirkan dalam waktu dekat?" tanya Zhein menatap sendu wajah istrinya.


Sang Istri pun hanya tersenyum manis.


"Aku siap Mas... Kalaupun hari ini aku harus melahirkan aku siap Mas. Temani aku ya Mas." ucap Suci pelan.


"Pasti sayang, Mas akan menjadi Suami siaga mu. Mas mandi dulu ya. Mau menemani di kamar?" tanya Zhein lembut.


"Iya boleh Mas. Pinggang Suci rasanya juga mulai sering sakit mau rebahan dulu ya." ucap Suci pelan.


Suci pun mulai rebahan di tempat tidur, sedangkan Zhein membersihkan diri dan mandi. Suci hanya merasakan nyeri yang sering disekitar area perut dan pinggangnya. Rasanya sakit luar biasa, Suci hanya membolak-balikkan tubuhnya ke kanya atau ke kiri menggunakan guling sebagai ganjalan perutnya. Sudah tidak memungkinkan untuk tidur terlentang, pastinya akan terasa engap dan sesak.


Suci pun sudah tidak jejak, berdiri salah, duduk pun rasanya sudah mengganjal. Posisi yang menurutnya nyaman adalah rebahan ke arah samping.


Zhein yang sejak tadi sudah selesai mandi pun memperhatikan Sang Istri yang mulai tidak nyaman. Zhein menghampiri Suci, dan duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang? kamu okey? Mas lihat kok kayak cemas." tanya Zhein pelan.


"Perutku mulas Mas, seperti mau buang air besar. Rasanya sungguh gak enak Mas." ucap Suci pelan. Mas, Suci mau pipis ya." ucap Suci benar benar cemas dan tidak nyaman.


Perutnya seperti terasa turun dan Rasanya ingin mengeluarkan sesuatu.


"Aku antar ya." ucap Zhein pelan.


Zhein memapah istrinya dan membukakan celana istrinya yang sudah tampak kesulitan. Dengan pelan Zhein pun melepaskan celana dalam Suci, dan terkejut melihat bercak darah dan lendir yang agak mengental.


"Sayang itu apa, kok berdarah?" ucap Zhein pelan.


"Aku gak tahu Mas. Aku mau pipis Mas, pegang aku, ini sakit sekali." ucap Suci yang sudah menahan hasratnya.

__ADS_1


"Sudah ayo pipis dulu, nanti Mas bantu lagi." ucap Zhein yang menunggu Suci yang sedang buang air kecil dengan cara berdiri.


Zhein sangat telaten membersihkan dan memakaikan celananya kembali kepada Suci. Dan direbahkan kembali ke kasur. Dengan sigap Zhein langsung memberitahukan Bunda Jihan dan Mama Larasati.


Karena ini baru pertama kali, tentu pasangan muda ini tidak mengerti. Dengan segera Zhein pun menelepon Bunda Jihan, untuk menanyakan arti bercak darah dan lendir itu


Zhein pun menjelaskan keadaan Suci kepada kedua ibunya. Bunda Jihan dan Mama Laras pun panik dan segera menyusul ke rumah Zhein dan memanggil bidan untuk di bawa ke rumah Zhein.


"Zhein itu tanda tanda akan melahirkan, Nak." ucap Bunda Jihan pelan, suaranya terdengar cemas dari arah seberang.


"Tapi kan rencana lahiran masih dua Minggu lagi Bunda?" tanya Zhein pelan. Wajah paniknya tertutup oleh ponsel sehingga Bunda Jihan tidak akan tahu.


"Bisa maju Zhein. Ya sudah untuk memastikan, Bunda mau panggil bidan dulu dan segera ke rumah kamu. Tolong jaga Suci." ucap Bunda Jihan lembut.


Bunda Jihan, Mama Larasati dan Bidan Titin serta asisten Bidan Titin pun segera ke rumah Zhein. Dari hasil kondisi yang di informasikan oleh Zhein, Suci saat ini akan melahirkan.


"Assalamualaikum... Zhein, Suci, gimana sayang, sakitnya makin sering?" tanya Bunda Jihan lembuta, tangannya mengusap punggung Suci agar memberikan kenyamanan.


"Waalaikumsalam Bunda, Mama, iya ini sakit sekali, dari pagi memang sudah sakit tapi bisa di tahan, kali ini sakit luar biasa. Maafin Suci kalau ada salah sama kamu Mas, Bunda dan Mama. Doakan yang terbaik untuk Suci." ucap Suci yang sudah terlihat cemas dan takut menghadapi persalinan.


Bidan Titin dan asistennya pun dengan segera, memeriksa pembukaan jalan lahir Suci, apakah sudah lengkap atau masih harus menunggu hingga lengkap. Peluh keringat mengucur dan membanjiri kening hingga pipi Suci.


Bidan Titin pun menjelaskan, pembukaan baru sampai di pembukaan tujuh mungkin satu jam lagi Suci akan melahirkan secara normal, karena kondisinya cukup baik.


"Bu Suci, jangan mengejan ya. Ditahan sakitnya, boleh miring ke kanan atau ke kiri atau mau jalan jalan biar cepat keluar bayinya. Gimana Bu Suci aja, mau makan juga boleh." ucap Bidan Titin lembut.


Bidan Titin, bidan senior yang bertugas di sebuah rumah sakit. Jika sedang tidak bertugas, bidan Titin mau membantu persalinan secara normal, boleh datang ke kliniknya atau dipanggil ke rumah.


"Sayang makan dulu, biar kamu kuat nanti mengejan. Mas Suapin ya?" yg Anya Zhein lembut, dan mengambil piring berisi nasi untuk istrinya.


Suci hanya bisa menggangguk pasrah. Rasa sakit mulas dan melilit membuat Suci sudah tidak mau apa apa lagi. Tapi karena permintaan Suaminya pasti terbaik untuknya dan anaknya, maka dengan terpaksa pun Suci turuti.


"Sudah ya Mas, sakit banget. Suci gak kuat." ucap Suci pelan.


"Ya sudah, ini minum dulu, baru tiduran miring diganjal bantal ya." ucap Zhein lembut.


Bunda Jihan masih setia mengusap punggung Suci. Saat mau melahirkan usapan di punggung itu benar-benar ampuh, rasa sakit akan hilang dengan sendirinya.


Satu jam berlalu, Suci pun masih meringis dan menangis, menangis rasa sakit. Ada sesuatu yang akan keluar, tapi bukan seperti buang air kecil.


Bisa Titin pun memeriksa kembali, dan ternyata kondisi jalan lahir sudah pembukaan sepuluh artinya, sudah lengkap dan sudah siap melahirkan.


Bidan Titin dan asistennya pun menyiapkan peralatan, kain panjang, baju bayi dan pembalut. Tidak lupa ember kecil untuk ari ati dan satu lagi untuk kain kotor setelah melahirkan.


"Bu Suci sudah siap, ikuti aba aba saya bila harus mengejan. Posisi kaki seperti ini, saat mengejan pantat diusahakan menempel pada kasur jangan diangkat itu akan mengakibatkan sobeknya ******. Siap ya Bu Suci.... Tarik nafas panjang..... keluarkan pelan, tarik lagi.... silahkan mengejan, ayo Bu..... pasti bisa..." ucap Bidan Titin menyemangati.


"Hemmmmm uhhhhhh hemmmmm uhhhh.... " Suci menghela nafas panjang dan mengeluarkannya pelan lalu mengejan.....


Arghhhhhhhhhhh................. oek....... oek.....


"Alhamdulillah..... sudah lahir Bu... bayinya laki laki sehat dan sempurna seperti Abinya. Dibersihkan dahulu, baru nanti di adzankan Pak Zhein." ucap Bidan Titin memberikan bayi laki laki itu kepada Asistennya untuk di bersihkan.


Sedangkan Bidan Titin menyelesaikan tugasnya sebagai Bidan untuk mengurus Suci setelah melahirkan.


"Alhamdulillah, sayang sudah lahir, terima kasih mau berkorban untuk keluarga. Jujur Mas takut sekali, melihatmu seperti sudah tidak ada daya dan upaya. Terima kasih sayang." ucap Zhein terisak bahagia dan mencium kening Suci berkali kali.

__ADS_1


"Mas... aku senang, kita dapat amanah dari Allah SWT, harus kita jaga dengan baik dan penuh kasih sayang. Ini tugas seorang ibu dan seorang istri untuk memberikan keturunan, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Terima kasih Mas, selalu ada buat Suci. Bahkan saat melahirkan pun kamu setia menemani aku dengan sabar." ucap Suci lembut. Buliran kristal sudah menumpuk di sudut matanya karena bahagia.


"Itu juga sudah kewajiban Suami untuk selalu menemani istri, aku harus bisa menjadi Suami siaga untuk Humairah Bidadari Surga ku..... Semoga keluarga kita selalu dalam lindungan Allah SWT." ucap Zhein pelan dan mencium kedua pipi Suci dengan penuh kasih sayang.


Kehidupan berumah tangga akan lebih sempurna dengan kehadiran seorang anak. Kadang ada yang mengatakan anak adalah sebagai pengikat rumah tangga antara suami dan istri. Tidak ada istilah mantan anak, Sampai kapanpun anak tetaplah anak tetap menjadi darah daging kedua orang tuanya.


Bayi laki-laki mungil itu sudah bersih dan terlihat tampan dengan baju bayi dan bedong yang membalut seluruh tubuhnya. Aroma wangi minyak telon dan bedak bayi pun menjadi ciri khas bayi mungil itu.


Zhein pun mengadzani anak laki-lakinya itu. Generasi penerus untuk mensyiarkan Islam, menjadi anak yang Sholeh dan jujur serta bijaksana. Setiap orang tua akan memberikan doa terbaik untuk anaknya kelak anaknya bisa menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan agamanya.


"Mas, mau kamu namai siapa anak itu?" tanya Suci dengan lembut.


"Aku akan menamainya MUHAMMAD ABUYA DIMYATI. Panggil saja Abuya atau Buya. Bagaimana sayang? kamu setuju?" tanya Zhein pelan kepada istrinya.


"Kalau itu mengartikan yang terbaik aku setuju Mas, Assalamualaikum... Abuya sayang? ini Abi sama Umi." ucap Suci pelan dan lembut sambil mencium pipi anaknya yang berada dalam gendongan Zhein.


Bunda Jihan dan Mama Larasati sedang sibuk merapikan kamar bayi. Mereka sibuk menyambut cucu laki laki pertamanya itu. Sibuk menyiapkan nama dan pernak pernik dalam boks bayi tersebut. Kedua nenek itu semakin bahagia akan hadirnya cucu mereka.


"Sayang, ini Abuya menangis, mungkin ingin menyusu, cobalah untuk disusui. Aku akan menemanimu." ucap Zhein lembut dan memberikan bayi mungil itu kepada Suci.


Suci pun mulai menyusui anaknya untuk pertama kalinya, sesuai dengan saran bidan Titin, jika air susunya belum keluar tidak apa-apa tetap disusui saja, bayi tetap akan bertahan hidup. Ini sungguh Kebesaran Allah SWT.


Wajah Suci tampak meringis kesakitan sewaktu menyusui.


"Kenapa? Sakit?" hanya Zhein pelan.


"Iya Mas, sakit sekali, mungkin memang awalnya seperti ini, pasti lama lama juga akan terbiasa Mas." ucap Suci pelan.


"Subhanallah istriku Humairahku.... kamu benar benar mulia sekali, Mas sangat beruntung mendapatkanmu. Tetaplah bersama Mas, apapun yang terjadi, kita bersama-sama menuju Jannah." ucap Zhein dan mencium kening Suci dengan penuh kasih sayang.


Betapa mulianya hati seorang ibu, sudah merasakan sakit sejak mengandung, melahirkan dan merawat serta membesarkannya. Sungguh durhaka wahai engkau anak anak yang tidak mengakui kedua orang tuamu karena suatu kekurangan uang diberikan oleh Allah SWT. Kekurangan itu adalah ujian dan cobaan, bila engkau sabar dan ikhlas merawat kedua orang tuamu dengan sabar dan ikhlas di masa tuanya, maka jaminanmu Surga.


"Terima kasih Mas, aku mencintaimu Suamiku." ucap Suci pelan.


"Terima kasih istriku, aku pun mencintaimu Humairahku Bidadari Surgaku." ucap Zhein pelan.


Mereka saling berpelukan bersama dengan bayi mereka yang sedang berada dalam dekapan Suci.


Rumah tangga yang sempurna.... kebahagiaan milik kalian karena Allah SWT....


**END


JAZAKALLAH KHAIRAN**


Assalamualaikum....


Selesai sudah cerita Kesucian Syahadat tentang Suci dan Zhein.


Gimana Part ini ??....


Kita akan lanjutkan langsung kisah Aisyah dan Baihaqi..... tentu dengan masalah yang berbeda.


Jangan komplain dengan alur author. Karena author sudah memiliki jalan cerita sendiri. Mau Kritik dan saran boleh. Kalau ceritanya monoton tentu kalian akan bosan.


Author hanya ingin kalian pembaca setiaku mengambil hikmah dari setiap ceritaku. Jadikan pelajaran dan berbagi pengalaman, karena sebagian cerita sudah author alami sendiri.

__ADS_1


Mari kita berlanjut pada Ketabahan Aisyah.. Tetap stay ya sayangku...


Terima Kasih


__ADS_2