Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 72 WANITA...


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


-KAIRO-


Sudah hampir dua bulan Suci dan Zhein berada di negara orang. Setelah peristiwa tidak sadarkan diri dan berujung dirawat di rumah sakit, Zhein menjadi lebih posesif dan protektif kepada Suci. Kejenuhan Suci berada di apartemen selama Zhein sibuk dengan mengajar dan membuat thesisnya, sesekali Suci pergi bersama Raina. Raina memang bertugas menjaga Suci di sela sela kesibukannya. Kehidupan rumah tangga yang selalu adem ayem membuat semakin memahami sikap dan sifat masing-masing pasangan.


Seperti hari ini usia kandungan Suci sudah berjalan tiga bulan menuju bulan keempat. Perut yang sudah mulai terlihat menyembul ke depan. Betapa bahagianya seorang istri bisa merasakan kehamilan dan sebentar lagi akan merasakan nikmat melahirkan yang sungguh luar biasa rasanya.


"Sudah siap Suci? kita hanya membeli baju hamil dan belanja saja, aku tidak ingin kamu lelah. Lihatlah perutmu semakin besar." ucap Raina pelan.


"Dokter Raina bisa saja. Aku pasien penurut lho. ucap Suci terkekeh.


"Kondisimu kini jauh lebih baik Suci, kandunganmu pun semakin kuat, aku tahu kamu kamu wanita hebat dan terbiasa mandiri, tapi tetap saja wanita lemah di hadapan pria." ucap Raina pelan.


"Kak Raina, kenapa? coba move on, atau biar ku suruh suamiku mengenalkan kamu dengan temannya. Bagaimana?" ucap Suci sambil meneguk susu hamilnya.


Sesuai pesan Zhein, boleh pergi jalan asalkan susu yang sudah dibuat zhein dihabiskan.


"Aku ingin seperti kisahmu, berjalan mengalir begitu saja. Toh, kalau memang bukan jodoh pasti akan dijauhkan." ucap Raina dengan tenang.


Usianya tidak lagi muda. Sudah dua puluh tujuh tahun, usia matang dan pas untuk berumah tangga. Karir yang bagus, wajah yang cantik tidak menjamin memiliki jodoh yang sesuai harapan, bahkan sampai hari ini masih betah menjomblo.


"Kisah hidup seseorang itu berbeda beda. Tapi jangan melihat kebahagiaan seseorang dari casingnya saja. Mungkin ada perjuangan, pengorbanan dan air mata untuk mendapatkan level kebahagiaan yang mereka inginkan. Walaupun pada akhirnya semua orang pasti bahagia, hanya cara menikmati kebahagiaan mereka itu berbeda-beda." ucap Suci pelan.


Mereka sudah berada di dalam mobil menuju pusat perbelanjaan. Zhein akan menemui mereka bila urusannya telah selesai.


"Kamu benar Suci, mungkin orang melihatku sebagai jones, jomblo ngenes tapi sebenarnya aku bahagia menjalani kehidupanku. Aku juga memikirkan jodoh, semuanya sudah ku pasrahkan pada Allah SWT." ucap Raina tersenyum, seolah-olah jawabannya menguatkan dirinya dan memperlihatkan bahwa dia baik baik saja.


"Dulu aku terpesona dengan Mas Fathan karena ilmu agamanya. Aku ingin belajar Islam. Hingga takdir mempertemukan aku pada Bunda Jihan dan bertemu Mas Zhein. Allah SWT Maha membolak-balikkan hati seseorang. Kita dulu juga gak suka satu sama lain, walaupun Mas Zhein itu ganteng, hanya sebatas kagum aja. Tapi seiring berjalannya waktu, kita sering bersama dan nyaman hingga kita menikah hanya itu Kak Raina. Aku mengenal Mas Zhein juga setelah menikah, ternyata beliau sangat sabar, penyayang, perhatian dan tulus. Suci betul betul beruntung." ucap Suci dengan mata berbinar.


"Kamu memang beruntung, banyak kandidat lho Suci, Bunda Jihan selalu membebaskan Zhein memilih pasangannya, termasuk Kinanti, sebenarnya masih banyak lagi. Tapi Zhein sejak awal tidak menyukai Kinanti, karena terlalu mudah mau diajak pria." ucap Raina dengan kesal mengingat Kinanti yang selalu mengejar Zhein.


"Kak Raina kenal Siska?" tanya Suci pelan.

__ADS_1


"Kenal? dia sahabat Kinanti. Siska itu sepupu Zhein tapi ternyata bukan kandung. Sejak rahasia itu terbongkar Siska sangat terobsesi dengan Zhein hingga sekarang." ucap Raina pelan, sambil fokus mencari parkiran untuk memarkirkan mobilnya.


Mereka pun turun dan melangkah pelan masuk ke dalam pusat perbelanjaan sambil melihat lihat ke arah toko toko yang berjajar. Bisa dipastikan, kalau perempuan sudah masuk mall?.


Mereka masuk ke salah satu Butik Muslimah, untuk mencari pakaian hamil untuk Suci dan beberapa kerudung untuk Raina.


"Kak Raina, warnanya bagus yang mana?" tanya Suci pelan.


"Kenapa gak ambil semua Suci, kan kamu membutuhkan banyak baju hamil nantinya perutmu akan lebih membesar." ucap Raina pelan.


"Mama dan Bunda akan kesini, aku sudah pesan untuk dibawakan daster yang banyak. Mau acara syukuran empat bulanan." ucap Suci pelan.


"Oh ya... Kapan bunda datang?" tanya Raina pelan.


"Minggu depan Kak Raina." ucap Suci pelan.


"Aku pasti datang menemui Bunda Jihan. Beliau yang menemani aku saat kehilangan Bima. Suci menurutku bagus yang warna Milo daripada darkblue." ucap Raina pelan.


"Wah kita sehati, aku juga memilih yang ini Kak, tapi aku butuh pendapat orang lain juga. Sebentar ya Kak, aku bayar ini dulu." ucap Suci pelan.


"Kak Raina, kita mau masak apa nanti malam?" tanya Suci kepada Raina yang masih sibuk memilih yoghurt.


"Apa saja Suci, semua masakanmu itu enak dan lezat, aku menyukainya." ucap Raina pelan, sambil merogoh ponselnya dari dalam tas yang dari tadi berbunyi.


πŸ“±Zhein...


"Assalamualaikum, Zhein ada apa?" ucap Raina pelan.


"Waalaikumsalam, Raina, kalian jadi pergi? satu jam lagi aku selesai, nanti aku langsung kesana, jaga istriku. Kinanti sedang ada di Kairo dia bersama Siska, hati hati Raina." ucap Zhein pelan sedikit cemas.


"Iya Zhein aku mengerti. Cepat datang bila sudah selesai urusanmu." ucap Raina pelan sambil menoleh ke arah Suci yang sudah berada dibelakangnya.


Raina pun mematikan ponselnya, raut wajahnya menjadi sedikit tegang, takut bila Suci mendengarkan pembicaraannya dengan Zhein.


"Tadi Mas Zhein? aku tidak membawa ponsel, tertinggal di kamar." tanya Suci pelan.


"Iya Suci, tadi Zhein menelepon, dia akan segera kesini. Katanya kamu jangan terlalu capek. Sini biar aku yang mendorong kereta belanjanya." ucap Raina pelan, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Suci pun mengikuti Raina dari belakang sesekali tertinggal karena harus berhenti dan memilih bahan makanan.


"Arghhh..." teriak Raina tidak terlalu keras.


Ada seorang pria berjaket kulit cokelat menabraknya tidak sengaja. Suci pun menoleh ke arah Pria itu, seperti tidak asing. Mas Fathan, betul itu Mas Fathan, gumam Suci pelan.


"Mas Fathan?" panggil Suci pelan.


Fathan pun menengok ke arah Suci dan bergantian ke arah Raina.


"Maafkan saya telah menabrakmu, saya tidak sengaja. Kenalkan saya Fathan. Kamu?" tanya Fathan sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


Suci mendekati Raina dan Fathan. Raina memandang Fathan dengan raut muka kesal. Sudah beberapa kali dia bertemu dengan Fathan tidak sengaja, selalu teringat peristiwa Suci di rumah sakit.


"Aku Raina, teman Suci." ucap Raina datar dan tidak membalas sodoran tangan Fathan.


Fathan pun tersenyum tipis. Tatapannya berpindah kepada Suci.


"Kamu sedang berbelanja?" tanya Fathan pelan.


Fathan sudah mulai berdamai dengan keadaan dan dirinya sendiri. Perlahan mulai menerima patah hatinya. Fathan sedang mencoba move on dan memasrahkan jodohnya kepada Allah SWT. Tentunya seleranya tidak jauh seperti Suci, yang baik, ramah dan lembut.


Dia mencoba menjaga Suci, sesuai amanat Umi Khadijah. Kairo negara yang jauh, sedangkan Suci sedang mengandung, usahakan kamu menjaganya.


"Iya Mas Fathan. Ini mau ke kasir, setelah ini mau makan, mau gabung?" tanya Suci basa basi.


"Boleh, saya tidak menggangu.kan?" ucap Fathan mantap.


Suci dan Raina saling berpandangan, niatnya untuk berbasis basi tapi malah boomerang bagi Suci.


--------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN


πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š

__ADS_1


__ADS_2