
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Kedua mata itu saling menatap tajam dan penuh rindu. Rindu yang tak diharapkan, karena akan berakhir sebuah kekecewaan. Mengapa harus bertemu disaat seperti ini. Kenapa harus aku yang merasa bersalah disini batin Suci berkecamuk. Hatinya gundah, melihat Fathan ada di depan matanya. Suci pun langsung mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap Fathan. Bagaimana pun juga Suci sudah bersuami tidak baik menatap lawan jenis dengan tatapan rindu.
Benar kata umi, Suci semakin cantik berhijrah, berhijab dan berniqab. Sempurna. Apa masih boleh aku menatap matanya yang indah. Aku memang tidak bisa memilikinya tapi aku ingin berteman dengannya, Apa itu salah?, batin Fathan.
"Suci ke belakang dulu untuk membuat minuman." ucap Suci pelan.
"Iya sayang, terimakasih" ucap mama Larasati.
"Khadijah gimana kabarmu, sudah lama kita bertemu. Sudah 15 tahun yang lalu, kamu semakin cantik Khadijah." ucap mama Larasati tulus.
"Larasati, kamu tidak berubah selalu merendahkan dirimu sendiri. Kamu itu paling cantik, semua pria suka padamu. Asal jangan suamiku yang ikut mencintaimu." ucap Khadijah dengan senyum.
Bagaikan pisau menusuk tepat di jantung Larasati. Jantungnya pun terasa berhenti mendengar penuturan Khadijah. Tapi dengan cepat Larasati menetralkan kembali degub jantung nya dan bersikap wajar.
"Kamu hanya berdua saja Khadijah, ini anak sulungmu kan? siapa namamu Nak? mama lupa?" ucap Larasati.
"Iya Laras kita hanya berdua. Ini Fathan anak sulungku, yang kedua Fatima, tadi sedang ada perlu jadi tidak ikut. Abi Fathan pun sibuk Laras." ucap Khadijah menjelaskan.
"Diminum umi, mas Fathan, maaf cuma ada ini." ucap Suci kembali membalikkan badan untuk ke dapur.
"Suci temani mama disini, kamu sudah kenal dengan Fathan." tanya mama Larasati.
__ADS_1
"Iya ma kenal, mas Fathan ketua IRMA, dulu Suci pernah ikut aktif dalam kegiatan sosial." ucap Suci dengan menundukkan kepala. Matanya tidak ingin bertatapan dengan Fathan. Ada rasa bersalah menyelimuti dirinya yang telah mengingkari janjinya sendiri.
"Suci, ini tehnya umi minum ya, ayok Fathan diminum, jangan bengong aja lihat Suci." ucap umi Khadijah terkekeh.
Fathan yang sadar dengan ucapan umi langsung menoleh dan menatap mata umi. Umi hanya mengedipkan matanya, sambil tersenyum.
"Ada apa sebenarnya, kok aku malah jadi penasaran." ucap mama Larasati meminta penjelasan.
"Tidak ada apa apa ma." ucap Suci mantap.
"Tadi malam kita berdua ke rumah Ibu Atmojo, dan aku melamar Suci untuk Fathan. Fathan ini fans berat Suci, terlebih sekarang Suci telah berhijrah. Ibu mana yang tidak menginginkan Suci menjadi menantunya. Betul kan Suci. Tapi kata Ibu Atmojo Suci sudah menikah, kami kesini ingin mengucapkan Selamat atas pernikahan Suci. Ini ada sedikit hadiah dari Fathan, mohon diterima." ucap umi Khadijah lembut.
"Benarkah Khadijah, maafkan aku Khadijah, Suci memang sudah menikah dengan Zhein." ucap Larasati pelan.
"Suci masuklah ke dalam, tidak baik seorang Istri berbicara dengan orang yang bukan mahramnya. Bawa masuk hadiahnya, itu pemberian harus dihargai bukalah bersama Zhein nanti biar tidak ada salah paham." ucap bunda tegas.
Bunda dari tadi memang mendengar percakapan mereka. Sebelumnya Suci pernah cerita tentang Fathan. Jadi bunda Jihan bisa menarik kesimpulan.
Fathan yang mendengar ucapan mertua Suci pun mendengus kasar. Hatinya yang tadi sudah mulai tenang dengan melihat gadis yang dicintainya ada dihadapannya mulai pupus karena Kedatangan bunda Jihan mertua Suci.
Suci menurut apa yang diucapkan bunda Jihan. Hatinya memang sudah tidak nyaman dari tadi, karena menghargai mama jadi Suci tetap duduk di dekat mama Larasati dengan menunduk. Suci pun bangkit berdiri dan mulai melangkah masuk ke dalam.
"Suci.. kenapa kamu tega melakukan ini padaku, tidakkah kamu punya hati sedikit untuk menghargai aku sebagai laki laki. Satu tahun aku menunggumu, aku menunggu kamu untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Kamu yang berjanji, tetapi kamu yang mengingkarinya. Susah payah aku datang ke Indonesia hanya ingin melamar kamu, tapi ternyata kamu sudah menjadi milik orang lain. Aku punya hak untuk menagih janji itu kepadamu." ucap Fathan lantang. Dia sudah tidak malu dengan mama Larasati bahkan dengan mertua Suci. Fathan mencari keadilan. Fathan belum bisa menerima kenyataan pahit ini, baginya ini semua omong kosong.
Masih dengan posisi membelakangi Suci pun menjawab semua pertanyaan Fathan.
__ADS_1
"Maafkan aku mas Fathan. Ini semua takdir. Takdir membawaku ke rumah ini, bertemu bunda Jihan dan mas Zhein yang sekarang menjadi suamiku. Takdir ini yang mengantarkan aku sampai mewujudkan keinginanku menjadi seorang muslimah. Proses perjuanganku tidak mudah mas Fathan semua ada pengorbanan dan kamu tidak pernah tahu bagaimana aku menjalani proses hidayah itu. Hanya ada bunda Jihan dan mas Zhein yang selalu mensupport aku. Mereka yang ada disaat aku terpuruk. Cintaku pun tumbuh kepada mad Zhein karena ketulusan dan kesabarannya membantuku berhijrah. Apa salah bila aku juga mencintai mas Zhein yang jelas jelas nyata ada disaat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar. Dia laki laki yang baik, yang paham agama, dari keluarga yang baik, tidak ada cacat sedikit pun untuk aku menolak lamaran itu. SAAT INI DAN SELAMANYA AKU MENCINTAI SUAMIKU ZHEIN. Aku pikir dulu kamu orang yang baik dan bisa menuntunku, tapi kamu tinggalkan aku untuk berusaha sendiri. Maafkan aku mas Fathan, lupakan janji janji itu." ucap Suci mantap.
"Maafkan aku Suci, aku salah, seharusnya aku membantumu, waktu itu aku takut karena kita berbeda. Aku belum pernah mencintai wanita. Dan kamu wanita pertama yang ku cintai, tapi ternyata kita berbeda. Aku bodoh, seharusnya aku berkorban demi kamu." ucap Fathan dengan mata berkaca-kaca.
Suci pun langsung masuk ke dalam, hatinya juga sakit. Tapi dia juga menjadi benci, seolah olah aku yang bersalah. Kamu tidak tahu bagaimana perjuanganku Fathan. Dan aku tidak mungkin mengkhianati cinta suci mas Zhein.
Bunda Jihan dan Larasati hanya saling berpandangan. Seolah semua terjawab, bagaimana masa lalu mereka. Tapi kembali kepada takdir Allah SWT. Kita harus ikhlas menjalaninya.
"Maafkan anakku khadijah, Suci tadi sudah menjelaskan. Aku tidak bisa berbuat apa apa." ucap Larasati pelan.
"Nak Fathan, bunda yakin kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Suci. Bersujud lah Nak, mohon ampun dan mintalah kepada Allah SWT jodoh yang memang menjadi takdirmu kelak." ucap bunda Fathan lembut.
"Maafkan aku bunda, cintaku kepada Suci terlalu dalam hingga aku sulit menerima takdirku. Berat rasanya menunggu satu tahun hanya untuk kecewa." ucap Fathan lirih.
"Maafkan kedatangan kami, malah membuat masalah seperti ini, kami hanya ingin menjaga silaturahmi ibu Jihan dan Larasati. Walaupun seperti ini kita tetap saudara sesama muslim. Kami pamit dulu. Ayok Fathan kita pulang. Assalamualaikum.." ucap umi Khadijah.
"Waalaikumsalam..." ucap mama Larasati dan bunda Jihan bersamaan.
------++---------+++------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1