
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Suci dan Raina saling berpandangan, niatnya untuk berbasis basi tapi malah boomerang bagi Suci.
"Tapi, Suci masih mencari bahan untuk di kulkas Mas Fathan. Gimana? gak papa jalan dengan dua wanita seperti ini? takutnya malah risih?" tanya Suci pelan agar Fathan tidak tersinggung. Bahasa halus untuk mengusir.
Tapi Fathan tetaplah seorang Fathan yang keras kepala. Fathan terlihat berpikir dan menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Selama kalian memperbolehkan, aku rasa aku tetap berada di belakang kalian. Anggap saja saya bodyguard kalian." ucap Fathan sambil mengedipkan satu matanya ke arah Raina.
Raina yang sadar dengan perlakuan Fathan pun segera berbalik dan mendorong kereta belanja Suci berjalan ke arah lorong bagian susu hamil dan Snack sehat untuk ibu hamil.
Suci pun melenggang memilih milih buah yang akan dibelinya. Sedangkan Fathan mendekati Raina untuk membantu wanita imut itu mengambil barang dibatas rak yang tidak tergapai oleh tangannya.
"Kalau butuh bantuan minta tolong, jangan merasa bisa padahal lemah, walaupun kamu seorang dokter tentu kamu membutuhkan sosok pria yang bisa menjagamu." ucap Fathan pelan mengambilkan barang tersebut untuk Raina.
Sontak kata kata itu membuat Raina terkejut, sejak kapan ini berdiri di belakangnya. Raina pun hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih sudah diambilkan." ucap Raina dengan ketus.
Fathan masih tetap berjalan dibelakangnya, mengedarkan pandangannya ke seluruh supermarket itu. Menangkap sosok pria dengan gaya casualnya sedang berjalan dengan seorang wanita yang tidak asing.
Bukankah itu Siska, gumamnya pelan. Wanita itu bersama pria yang sudah tampak terlihat paruh baya dan bergelayut manja. Seperti sepasang kekasih, tapi seperti ada yang janggal.
Tidak lama ada seorang perempuan masuk, dan memarahi Siska, wanita itu seperti sebaya. Keributan kecil itu mengundang para pengunjung menonton adegan itu.
Raina pun yang tadinya fokus dengan kegiatannya memilih milih pun terganggu dengan suara teriakan kecil namun melengking dari mulut seorang wanita.
Raina menoleh arah keributan itu terjadi. Kinanti, Siska kenapa mereka, gumam Raina yang masih terdengar oleh Fathan.
"Kamu kenal dengan Siska?" tanya Fathan pelan menatap ke arah Raina.
"Iya, kedua perempuan itu teman SMA ku. Laki laki itu mantan suami Kinanti yang pake baju merah itu. Kinanti dan Siska bersahabat mereka menyukai Zhein. Dunia itu sempit Fathan." ucap Raina pelan.
Fathan tersenyum, mendengar namanya disebut.
__ADS_1
"Lalu Siska?" ucap Fathan penasaran. Cerita mereka semakin menarik untuk didengar.
"Siska? kamu kenal dengan Siska?" tanya Raina pelan.
"Iya aku mengenalnya. Dia seolah mendekatiku, terakhir mengajak kencan tapi aku tolak. Aku tidak mau kebablasan dalam berteman terlebih dengan wanita." ucap Fathan pelan sambil menatap sendu wajah Raina.
"Siska itu sepupu Zhein, tapi entahlah panjang ceritanya. Bisa tolong ambilkan Snack yang itu Fathan?" tanya Raina lembut.
"Ternyata dokter imut ini bisa berbicara dengan lembut, tidak ketus lagi." ucap Fathan sambil mengambilkan snack yang berada di paling atas.
"Aku hanya kecewa denganmu waktu itu, tapi Zhein dan Suci saja bisa memaafkanmu, kenapa aku tidak. Lagi pula aku juga tidak mengenalmu. Betul kan?" tanya Raina pelan.
Mereka berjalan menyusuri lorong demi lorong supermarket, hingga melupakan keberadaan Suci yang sedang memilih buah buahan. Melupakan keributan kecil cinta segitiga kedua temannya hingga terlihat dipaksa keluar oleh satpam supermarket.
Raina dan Fathan berjalan berdua seperti sudah lama kenal, mereka berdua bertukar cerita apapun hingga masalah keluarga dan masalah pribadi mereka.
"Astaghfirullah... Suci, Fathan, Suci masih memilih buah, dan kita terlalu asyik mengobrol." ucap Raina sedikit cemas, pasalnya ibu hamil itu tidak tahu negara ini.
Fathan pun langsung berlari mencari Suci, lorong demi lorong tapi tidak ada. Di bagian buah tidak ada, di bagian susu hamil juga tidak ada, di bagian Snack pun tidak ada. Kemana Suci pergi, gumamnya lirih.
"Dooor .... Mas Fathan. Kak Raina mana?" tanya Suci sedikit canggung.
"Maaf Mas Fathan, jangan pegang tangan Suci. Bisa timbul fitnah karena Suci sudah bersuami, lagi pula Suci dan Mas Fathan bukan mahramnya." ucap Suci pelan sambil menundukkan kepala.
"Maafkan Mas, Suci, Mas tidak sengaja." ucap Fathan pelan.
Ada getaran aneh sebenarnya waktu memegang tangan Suci, walau bagaimanapun juga wanita itu pernah mengisi seluruh hatinya, dan wanita itu pula yang telah mematahkan hatinya. Tapi kembali kepada takdir, kalau semuanya terlanjur maka akan terjadi pernikahan saudara seAyah.
Takdir itu indah, walaupun disana ada perjuangan, pengorbanan dan air mata.
Fathan mempersilahkan Suci untuk berjalan terlebih dulu dan dia berada di belakangnya. Wajahnya sekilas terlihat mirip, memang cocok sebagai saudara kandung, sama dengan statusnya saat ini, hanya saja Suci belum mengetahuinya.
"Kak Raina, kenapa Suci ditinggal?" tanya Suci dengan nada manja.
"Maafkan aku, Suci, aku terlalu asyik mengobrol dengan Fathan." ucap Raina dengan wajah bahagia sambil melirik Fathan yang berada di ruang tunggu di luar supermarket.
"Dia baik Kak Raina. Pria Sholeh, agamis, dan baik. Kurang apa coba?" tanya Suci pelan.
__ADS_1
"Gak lagi berniat menjodohkan aku dengan Mas Fathanmu kan Suci?" tanya Raina menyelidik.
"Kalau itu takdir Kak Raina? Jodoh dunia dan akhirat Kak Raina?" ucap Suci pelan.
Tangannya merapikan barang belanjaan menuju meja kasir, untuk segera dihitung.
Raina hanya tersenyum tipis, hari ini ada perasaan bahagia. Berbicara dengan Fathan, laki laki yang membuat kesal di pertemuan pertamanya ternyata memiliki sifat yang baik dan tulus.
Semua barang belanjaan sudah dihitung dan di packing ke dalam kardus sedang. Fathan menghampiri kedua wanita itu dan dengan senang hati membawakan kedua dua tersebut.
"Fathan kita makan dulu ya, sekalian menunggu Zhein menjemput Suci." ucap Raina pelan.
"Baiklah Bu dokter." ucap Fathan sedikit terkekeh.
"Jangan sebut aku seperti itu Fathan, aku tidak suka." ucap Raina kesal.
"Maafkan aku, Raina." ucap Fathan lembut dengan raut wajah menyesal.
"Kak Raina, kita duduk disebelah sana dekat kaca besar, Suci ingin melihat jalan." ucap Suci pelan.
"Baiklah ibu hamil, pilihlah tempat yang kamu suka." ucap Raina pelan sambil mencubit gemas pipi Suci yang tertutup niqab.
"Telepon Mas Zhein, kita berada disini sekarang Kak Raina." ucap Suci pelan.
"Sudah aku chat Suci sayang, kalian mau pesan apa?" ucap Raina pelan.
"Apa Saja." ucap Suci dan Fathan bersamaan.
"Kompak banget sih ini saudara." ucap Raina pelan dengan tidak sadar.
"SAUDARA?!! siapa Kak Raina?" tanya Suci pelan sambil menatap Raina memohon jawaban.
-----------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚