Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 45 KINANTI ITU SIAPA?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Rutinitas dini hari pun tetap dijalankan, walaupun badan masih terasa pegal dan lelah akibat terlalu lama mendekam di gua sempit. Usaha dan doa harus seimbang.


Kini mereka berdua sedang bersantai di kamar, kebetulan Zhein baru nanti siang ke kampus ada jadwal.


"Mas kamu mau ke kampus jam berapa? aku boleh ikut mas? aku pengen lihat kamu mengajar?" tanya suci sambil sedikit terkekeh membayangkan suaminya mengajar.


"Bener mau ikut?" ucap Zhein tersenyum.


Zhein akan senang sekali bila Suci ikut, hari ini jujur Zhein lagi malas. Selain rasanya cape dan lelah pikirannya mulai tertuju pada isi surat Fathan yang belum dibuka.


"Beneran mas, boleh?" tanya Suci mantap.


"Dengan senang hati humairahku, kamu ikut ke kelas ya, nanti duduk di depan, oke?" ucap zhein lembut.


"Mas itu kado dan suratnya dibuang saja. Aku tidak mau hal kecil seperti itu menjadi boomerang dalam rumah tangga ku sendiri." ucap Suci pelan. Sedikit pun Suci tidak ingin membuat suaminya kecewa.


"Kamu belum baca surat itu Suci? apa kamu tidak penasaran?" ucap Zhein lembut kepada Suci.


"Suci gak penasaran, dan Suci ingin mengubur semua masa lalu Suci berkaitan dengan Fathan. Sekarang Suci sudah punya mas zhein, untuk apa suci harus penasaran dan mengingat pria lain. Itu sama saja membuang buang waktu mas? mending kita buat sholat, istighfar, berdzikir atau apapun hal yang positif." ucap Suci pelan.


"Baiklah kalau itu mau kamu Suci. Terima kasih sudah menjaga perasaanku. Aku pikir kamu akan penasaran." ucap Zhein mengecup pipi Suci.


"Aku istri mas, aku lebih tahu yang terbaik buat keluarga kita." ucap Suci lembut.


Zhein pun keluar kamar menuju ruang keluarga, disana ada mama Larasati dan bunda Jihan sedang asyik mengobrol.


"Apa yang kamu bawa Zhein, itu seperti kado pernikahan kalian?" ucap bunda sambil mengintip isinya.


"Iya bunda, kata Suci dikasihkan ke orang saja." ucap Zhein pelan.


"Ya ampun ini ada kalung emas bagus, seleranya bagus ya Nak Fathan itu Jeng Laras." ucap bunda sengaja menggoda Zhein agar marah.


"Mah dikemanakan Zhein? lebih baik sumbangkan ke panti asuhan, biar hasil klung dan cincin itu bisa untuk biaya hidup panti." ucap mama Laras.

__ADS_1


"Ide bagus, kalau gitu Zhein titip bunda aja ya, tolong berikan ini ke panti asuhan ya bunda." ucap Zhein pelan.


"Kamu mau kemana Zhein?" ucap bunda menyelidik.


"Suci mau ikut ke kampus, tapi Zhein mau ajak dulu ke suatu tempat. Seminggu lagi Zhein kan berangkat bunda." ucap Zhein merayu bundanya.


"Kamu gak menunda kehamilan kan? Bunda pengen cepet cepet punya cucu Zhein." ucap bunda pelan.


"Bunda dan mama tenang, Suci dan Zhein tidak menunda sama sekali, biarkan semua menjadi rahasia Allah SWT. Lagi pula Suci sudah jinak." ucap Zhein terkekeh.


Mereka tertawa mendengar ucapan Zhein yang cuek. Hari ini memang jadwal bunda dan mama untuk berdonasi ke Panti Asuhan Mawar, kado yang diberikan Fathan pun akan langsung didonasikan ke Panti Aduhan tersebut.


Zhein dan Suci pun bersiap siap untuk ke kampus. Jarak dari rumah bunda ke kampus Zhein sekitar tiga puluh menit.


"Mas kan ngajarnya masih jam 1 nanti, kita mau kemana dulu? mau ke butik?" tanya suci pelan.


"Sayang kita gak ke butik hari ini gak papa? dan sepertinya kamu harus cari orang untuk mengurus butikmu itu. Kalau mama jangan, biar mama nemenin bunda aja, mereka kompak." ucap Zhein tetap fokus pada jalan raya.


"Siapa ya..? Aisyah..? boleh aku mengajak Aisyah mas? untuk mengurus butikku. Dia belum bekerja, selama ini hanya membantu organisasi di masjid. Boleh mas?" ucap Suci memohon.


"Iya mas betul. Nanti kuhubungi agar dia kemari, dan kuajari mengurus butik, sebelum kita pergi." ucap Suci pelan.


"Siap sayang, apapun keinginanmu aku dukung selama itu positif." ucap Zhein lembut.


"Kok ke restaurant mas, kamu laper?" ucap Suci menatap Zhein suaminya.


"Kamu lupa? aku memang gak bisa romantis sayang, tapi bersamamu aku akan selalu mengingat setiap moment yang akan ku abadikan didalam hati dan pikiranku. Hari ini tepat satu bulan usia pernikahan kita sayang. Kamu tidak ingat ya?" ucap Zhein sambil mengecup pipi istrinya yang tertutup niqab sepwrti tampak tekejut.


"Masya Allah mas, maafin Suci ya, suci benar benar tidak ingat. Akhir akhir ini aku sibuk di butik mas. Kamu mau maafin aku kan?" ucap Suci lembut.


"Pasti sayang, ayok turun dulu keburu siang.' ucap Zhein lembut.


Zhein sudah memesan tempat dan beberapa menu makanan kesukaan Suci. Masa perkenalan mereka sangat singkat dan usia pernikahan mereka pun masih terhitung baru. Tetapi untuk urusan kesukaan dan ketidaksukaan itu sudah mereka ungkapkan di awal pernikahan mereka. Jadi mereka berdua pun sudah paham akan kesukaan masing-masing pasangan.


"Tempatnya sangat bagus mas, aku suka banget. Kamu romantis banget sih mas?" ucap Suci merayu Zhein dengan mengedipkan satu matanya.


"Ini di tempat umum lho sayang, jangan menggodaku." ucap Zhein sambil memegang tangan Suci.

__ADS_1


"Bisa aja, bilang aja nanti malam jalan jalan malam lagi ya, ini Abang punya penerangan biar guanya gak gelap." ucap Suci sambil mencibir, dia hafal betul dengan suaminya.


"Meledek nih ceritanya, awas ya ntar malam." ucap Zhein pura pura kesal.


Pesanan mereka pun datang, mereka mulai memilih makanan yang ingin dimakan lebih dulu.


"Mas itu bebek gorengnya pindahin, aku gak suka baunya mas." ucap Suci sambil memencet hidungnya.


"Ini kan bebek goreng kesukaanmu sayang, kok tumben kamu gak mau sih aku udah pesen lho." ucap Zhein bingung.


Biasanya Suci antusias makan dengan nenek goreng tapi sekarang minta dijauhin. Suci memilih menu yang tidak biasa kepiting saus Padang. Padahal menu ini menu yang paling dibenci oleh Suci. Biarkanlah mungkin lagi gak kepengen, batin Zhein. Mereka pun makan dengan sangat menikmati.


"Hai Zhein?? apa kabar, akhirnya ketemu juga disini, kupikir kamu masih di Kairo?" ucap Kinanti sambil duduk disebelah Zhein.


"Waalaikumsalam Kinanti, kenalkan ini istriku Suci, Suci ini Kinanti sahabatku dulu waktu SMA." ucap Zhein mengenalkan.


"Kamu berubah Zhein, kamu beda dengan yang dulu." ucap Kinanti tenang.


"Kinanti kamu ada perlu apa, kalau tidak ada perlu denganku jangan ganggu aku dan istriku." ucap Zhein tegas.


"Kenapa zhein, kamu takut istrimu tahu kita pernah berhubungan?" ucap Kinanti keras.


"Cukup Kinanti itu masa lalu aku dengan kamu, dan itu ulah saudara sepupuku Siska!! Jangan pernah ganggu kehidupanku dan istriku!! Suci, ayok kita pergi." ucap Zhein tidak kalah keras.


"Zhein ......" ucap Kinanti lantang.


Suci hanya menuruti keinginan suaminya. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan, tetapi Suci mengurungkannya. waktunya tidak tepat. Mungkin nanti Zhein akan lebih terbuka dengan Suci.


MAAFKAN AKU SUCI, AKU TIDAK INGIN MENYAKITIMU, SAAT INI DAN SETERUSNYA AKU HANYA MENCINTAIMU SAYANG.


------------------+++--------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚

__ADS_1


__ADS_2