Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 49 AMANAH DARI ALLAH


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


"Assalamualaikum bunda, mama, eyang, semuanya..." ucap Suci lembut dan mencium punggung tangan satu per satu diikuti oleh Zhein.


"Waalaikumsalam, sayang sudah pulang. Aisyah belum pulang?" ucap bunda pelan.


"Suci tadi pergi sama mas zhein, nanti Aisyah naik motor atau minta jemput pak Slamet bunda. Lagi apa kok kayak lagi serius begini?" tanya Suci penasaran.


"Gak papa Nak, kalian sudah makan?" ucap mama Larasati.


"Belum mama, sampai lupa makan, saking bahagianya hari ini kita berdua. Iya kan sayang?" ucap Zhein mengedipkan satu matanya pada Suci.


Suci hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian melingkarkan tangannya ke lengan Zhein dengan mesra. Hari itu sungguh menjadi hari kebahagiaannya dengan Zhein.


Ingin berduaan dan bermesraan terus sambil mengajak bicara janin yang mulai berkembang di perut Suci.


"Suci hamil dan Zhein senang sekali, sebentar lagi akan menjadi aby." ucap Zhein tersenyum sumringah.


"Alhamdulillah sayang, sini Nak duduk dekat bunda." ucap bunda menarik lembut tangan Suci, dan mendudukkannya diantara bunda dan mama. Dielusnya perut Suci yang masih rata itu.


"Sayang, selamat ya Nak, jadi ibu yang baik, dan kamu Zhein bertambah tanggung jawabmu selain pada anak mama juga pada cucu mama." ucap mama Larasati tegas mengingatkan.


"Suci sayang, anak itu harta yang Allah titipkan untuk kita. Itu tandanya kita harus menerima amanah dari Allah SWT dengan baik. Bukan hanya selama dalam kandungan, tetapi juga setelah anak ini dilahirkan. Jagalah anak anak kalian dengan baik, seperti bunda dan mama menjaga kalian. Amanah itu berat Nak, bukan sekedar perubahan panggilan menjadi Aby atau bunda tapi lebih bagaimana cara mendidik anak anak kita. Jadilah teladan bagi anak anakmu. Ingat pesan bunda." ucap Bunda dengan senyum bahagia.


Hari ini baik keluarga Zhein maupun Keluarga Eyang Atmojo merasa kebahagiaan secara penuh dan bertumpuk. Pertama hari ini kembalinya mama Larasati menjadi muslimah. Kedua Kabar kehamilan Suci. Semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan di dalam keluarga kita. Dan sampai kapan pun jangan sampai terpecahkan.


"Sayang kamu tetap ke Kairo? kamu sedang hamil." ucap bunda mengingatkan.


"Tenang bunda, tadi sudah ditanyakan kepada dokternya, tidak masalah. Suci diberi obat untuk penguat janin. Insya Allah Suci kuat. Suci dan anak ini ingin bersama Abinya terus bunda." ucap Suci.


"Baiklah banyak istirahat Suci, lusa kamu sudah berangkat. Vitaminnya jangan lupa diminum. Zhein kamu harus mengingatkan Suci." ucap bunda mengingatkan.


"Iya bunda sayang. Zhein dan Suci ke kamar dulu ya." ucap Zhein lembut berpamitan kepada semua keluarga besarnya.

__ADS_1


💚💚💚


-Di Rumah Umi Khadijah-


Beberapa hari setelah kejadian lamaran itu, Fathan banyak terdiam. Ditambah lagi Abinya yang tidak pernah pulang ke rumah selama Fathan di Indonesia. Hatinya masih sedih jadi untuk bertanya tanya tentang Abi kepada umi. Fathan yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Fathan sudahlah Nak, ikhlaskan Suci, mau sampai kapan kamu seperti ini Nak.?" ucap umi Khadijah lembut.


"Fathan sudah mulai ikhlas umi, hanya saja rasa sakit itu masih terasa umi. Fathan menjaga cinta Suci untuk orang lain kalau seperti ini keadaanya. Fathan merasa dikhianati." ucap Fathan terdengar ketus.


"Dengarkan umi sayang, Cinta itu mengalir, mungkin saat itu Suci pun dilema, kamu tidak tahu kebenarannya kan?" ucap umi menjelaskan.


"Kenapa Suci tidak menjelaskan kepadaku? kenapa dia diam dan malah pergi!" ucap Fathan keras.


"Kenapa hatimu menjadi keras seperti ini Fathan? mana anak umi yang lembut dan penuh pesona. Apa hanya karena Suci. Kenapa kamu tidak coba dengan Aisyah, dia juga cantik seperti Suci." ucap umi sedikit kesal.


"Maafkan Fathan, Fathan memang sudah dibutakan karena cinta Suci. Lusa Fathan akan berangkat ke Kairo Umi. Fathan akan menata hidup Fathan kembali. Mulai dari awal tanpa cinta Suci, walaupun itu sulit." ucap Fathan melemah.


"Kamu pasti bisa sayang, umi akan selalu mendukungmu dan mendoakanmu Fathan." ucap umi Khadijah lembut.


"Umi, besok Fathan Ingi ke Ponpes Kakek. Mau minta doa pada Kakek." ucap Fathan pelan.


Sudah menjadi kebiasaan Fathan, bila ingin berpergian jauh untuk berpamitan kepada kakeknya Furqon. Tapi itu niat kedua, niat pertamanya mencari tahu tentang Abi. Selama ini jarang pulang, apa yang dilakukan oleh Abi.


Fathan pun tertidur pulas malam itu. Pagi dini hari Fathan sudah terbangun dan sudah bersiap sholat tahajud kemudian menunggu adzan shubuh untuk sholat shubuh berjamaah.


Hari ini Fathan pergi ke Ponpes kakek Furqon setelah shubuh. Agar bisa lebih lama disana. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Fathan. Perasaanya begitu mengganjal perihal Abinya.


Perjalanan menuju Ponpes itu sekitar satu jam. Akhirnya sampai juga di Ponpes Kakek Furqon. Kakek Furqon telah mengetahui akan kedatangan cucu kesayangannya sejak tadi malam. Terasa biasa saja dan tidak ada hal yang aneh yang bisa saja terjadi. Kakek Furqon melihat sebuah mobil yang sangat dihafal masuk ke dalam pekarangan Ponpes. Kakek Furqon pun tersenyum melihat cucunya itu turun dari mobil mewah itu.


"Assalamualaikum Kakek Furqon, sehat?' ucap Fathan sopan dengan mencium punggung tangan Kakek.


"Waalaikumsalam cucu Kakek tersayang Fathan bin Tito Azzam. Lihat saja Kakek masih bisa pasang kuda kuda dan bergulat denganmu." ucap Kakek dengan senyum penuh arti.


"Kata Umi, Abi disini, Fathan ingin menjemputnya sekalian. Fathan belum pernah ketemu Abi semenjak datang ke Indonesia." ucap Fathan penuh kekecewaan.

__ADS_1


Terakhir bertemu saat Fathan ke Kairo untuk melanjutkan Kuliahnya. Abi yang langsung menjemput Fathan. Siangnya Abi pun pergi ke Indonesia. Ingin bertemu Umi, tapi sampai sekarang tidak ada. Kemana Abi? batin Fathan.


"Abimu sedang sakit, dan sedang berobat kebatinan. Bulan depan juga selesai. Tumben kamu menanyakan abimu cucuku." ucap Kakek meledek.


"Ada yang aneh yang mengganjal pikiran Fathan. Saat ini Fathan sudah dewasa, Fathan tahu rumah tangga umi tidak sedang baik baik saja, walaupun umi selalu bilang baik baik saja." ucap Fathan sedikit keras kepada kakeknya.


"Apa maksudmu?" ucap Kakek Furqon pura pura tidak tahu.


"Yang Fathan inginkan adalah kejujuran kakek dan umi. Jangan tutup tutupi dari Fathan lagi, daripada Fathan akan mencari sumber yang terpercaya." ucap Fathan sedikit ketus.


"Apa umimu tahu kamu kesini untuk tujuan lain cucuku?" ucap kakek Furqon pelan dan lembut seakan tidak tersulut oleh emosi Fathan.


"Tidak kakek, umi hanya tahu, aku ingin berpamitan dengan kakek, karena besok Fathan harus ke Kairo." ucap Fathan dengan lantang.


"Pulanglah, aku metidhoimu pergi cucuku, hati hatilah dijalan." ucap kakek Furqon yang tetap tenang.


"Kakek ini sebenarnya ada apa, seakan semua ditutup tutupi, Fathan penasaran Kakek." ucap Fathan keras.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, tanyakan pada Khadijah, umi mu lebih tahu semuanya, karena umi mu yang menjalaninya." ucap Kakek Furqon pelan.


"Kakek, tidakkah kau mengasihani ku sebagai cucumu? melihat umi selalu menangis dalam sholat malamnya? apa kau tidak ingin memberiku informasi Kakek, agar aku tahu kebenarannya?" ucap Fathan.


"Maafkan Kakek, Fathan." ucap kakek Furqon lirih.


Hatinya perih mengingat kejadian dua puluh tujuh tahun yang lalu.


"Kakek...... demi umi..... agar tangisan umi berhenti." ucap Fathan merajuk.


Kakek Furqon pun menghela nafasnya panjang dan mengeluarkannya pelan pelan.


"Fathan ......


-----------------+++----------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


__ADS_2