
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Umi Khadijah keluar dari kamarnya untuk menemui kedua tamunya dan memberikan sumbangan untuk renovasi masjid sekolah.
"Lho kok minumannya dianggurin? ayok diminum dulu." ucap Umi Khadijah lembut.
"Iya Bu, terima kasih." ucap Baihaqi pelan sambil mengambil minuman itu dan meneguknya sedikit.
"Bagaimana?" ucap Umi Khadijah pelan.
"Maksud ibu?" ucap Baihaqi pelan, tidak maksud dengan pertanyaan Khadijah.
"Ohh maksud Ibu? sumbangan untuk renovasi masjid sekolah. Biayanya berapa?" ucap Umi Khadijah dengan sopan.
"Maaf Bu sebelumnya saya mengganggu. Saya Baihaqi perwakilan guru yang mendapatkan tugas untuk datang ke orang tua murid meminta sumbangan. Adapun anggaran biaya untuk renovasi masjid sekolah bisa di lihat di dalam proposal ini. Silahkan ibu baca dulu. Dan untuk sumbangannya seikhlasnya Bu, pihak sekolah tidak memaksa." ucap Baihaqi pelan.
"Anggaran biaya renovasi sebesar hampir 500 juta, tapi ini mau ditingkat ya?" ucap Umi Khadijah.
"Betul Bu." ucap Baihaqi lembut.
"Sudah lama jadi guru?" ucap Umi pelan.
"Baru dua tahun Bu." ucap Baihaqi pelan.
"Lulusan mana?atau pernah di pesantren?" ucap Umi Khadijah dengan tenang.
"Saya lulusan S2 IAIN Bu, sebelumnya saya mesantren ditempat Abah Furqon." ucap Baihaqi pelan.
"Ohh ya, sudah berkeluarga?." ucap Umi Khadijah senang.
"Belum Bu, mau langsung menikah aja. Pacaran setelah menikah lebih asyik." ucap Baihaqi dengan senyum.
"Betul banget, ibu setuju. Insya Allah, Allah SWT juga akan menggolongkan jodoh kita. Pria yang alim dengan wanita alim, pria Sholeh dengan wanita yang Sholehah." ucap Umi Khadijah dengan senyum.
"Aamiin ya Rabb. Insya Allah semua munajat saya di dengar oleh Allah SWT." ucap Baihaqi pelan.
"Ini Nak Haikal, yang sering antar Fatima pulang ya?" ucap Umi Khadijah pelan.
"Iya Umi. Umi benar." ucap Haikal tersenyum.
Umi Khadijah tersenyum, hampir setiap malam Fatima menceritakan sosok Haikal.
"Haikal Ketua OSIS, sekarang kelas berapa?" ucap Umi Khadijah pelan.
"Saya sudah lulus, saya mengabdi membantu mengajar untuk bidang kretifitas. Untuk mengisi waktu luang saya menunggu untuk masuk kuliah." ucap Haikal mantap.
"Sudah lulus. Fatima sering bercerita tentang Nak Haikal." ucap Umi Khadijah pelan.
"Maafkan saya Umi. Saya mempunyai niat untuk melamar Fatima setelah Fatima lulus." ucap Haikal pelan.
"Nak Haikal, kalau mau melamar, Umi senang, jangan sering membawa anak Umi tanpa status yang jelas. Bawa kedua orang tuamu kemari." ucap Umi Khadijah lembut.
"Umi memperbolehkan saya melamar Fatima disaat Fatima masih sekolah? Kalau memang boleh, akan saya bawa orang tua saya melamar Fatima." ucap Haikal mantap.
"Umi tunggu secepatnya." ucap Umi Khadijah.
Bagi Umi Khadijah memiliki anak perempuan itu harus dijaga. Disaat anak wanita ada yang ikut menjaga, maka lebih baik untuk segera menghalalkannya karena setan akan bertindak lebih cepat.
"Baik Umi, nanti saya kabari secepatnya. Terima kasih atas kepercayaan Umi untuk saya." ucap Haikal pelan.
"Iya Nak Haikal sama sama. Ini sumbangan untuk renovasi masjid sekolah. Tolong jangan lihat nominalnya tapi lihat keikhlasan saya untuk memakmurkan sebuah masjid." ucap Umi Khadijah lembut.
__ADS_1
"Iya Umi terima kasih banyak, ini lebih dari cukup untuk membantu gotong royong renovasi masjid sekolah. Semoga semua dapat berjalan dengan baik." ucap Baihaqi pelan.
"Aamiin, diminum dulu ya." ucap Umi Khadijah pelan.
"Umi kami pamit dulu. Mungkin besok atau lusa orang tua saya datang kemari untuk melamar Fatima." ucap Haikal dengan sopan.
"Umi tunggu ya, jangan buat Fatima menunggu, dia anak perempuan Umi satu satunya." ucap Umi Khadijah lembut.
"Mari ibu.. assalamualaikum.." ucap Baihaqi dan Haikal bersamaan.
"Waalaikumsalam... hati hati dijalan." Ucap Umi Khadijah.
Pintu ruang tamu baru saja ditutup. Bunyi ketukan pintu kembali terdengar.
"Assalamualaikum.." ucap Abi Tito sambil mengetuk pintu itu.
"Waalaikumsalam, Mas Tito? Masuk Mas" ucap umi Khadijah lembut.
Sempat terkejut melihat Abi Tito datang. Perasaan kecewanya kembali muncul, sebisa mungkin Umi Khadijah menutupi keadaan hatinya yang sedang tidak baik baik saja.
"Khadijah, Mas merindukanmu." ucap Abi Tito sambil memeluk Khadijah dengan erat, matanya sudah berkaca-kaca, mengharapakan maaf dari Khadijah istrinya.
"Mas, malu kalau di lihat anak anak. Aisyah juga sedang ada disini." ucap Khadijah tegar.
Abi Tito melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya. Wajah tampannya masih terlihat jelas, hanya sekarang lebih terlihat lebih dewasa dan bijak.
Abi Tito pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aisyah buatkan minum, ada tamu Umi sayang." ucap Umi Khadijah setengah berteriak.
"Iya Umi, Aisyah bawakan." jawab Aisyah sedikit keras.
Abi Tito dan Umi Khadijah hanya diam, tidak ada yang membuka suara. Entah apa saat ini yang ingin mereka bahas. Semuanya seperti kemarin, tidak ada jawaban yang harus diberikan untuk Abi Tito.
"Khadijah, bagaimana sayang?" ucap Abi Tito pelan.
"Aku tahu perasaanmu sayang, apakah tidak ada kesempatan kedua untukku." ucap Abi Tito menatap mata Khadijah yang indah.
"Masih sulit Mas, luka itu masih menganga, aku sudah berusaha menutupnya, tapi terbuka lagi." ucap Khadijah dengan jujur.
Aisyah pun datang membawa minuman dan toples kecil berisi kue kering. Tanpa melihat ke arah tamu Umi Khadijah, Aisyah berjalan sambil menundukkan kepalanya.
Khadijah pun meletakkan gelas dan toples itu dimeja.
"Silahkan diminum, permisi." ucap Aisyah lembut, tetap menundukkan kepalanya.
"Dia Aisyah? anak Siti? benar Khadijah?" tanya Abi Tito memberondong.
"Iya Mas, dia Aisyah anak Siti sahabatku." ucap Khadijah memalingkan wajahnya ke arah lain.
Mendengar ucapan Umi Khadijah, Aisyah pun memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Melihat wajah tamu itu dengan seksama.
"Ayah ..." ucap Aisyah lirih.
"Aisyah, dia ayahmu Nak. Ayah Tito, dan kamu anaknya dari pernikahan yang SAH." ucap Umi Khadijah pelan.
Abi Tito pun berdiri menghampiri Aisyah yang masih terpaku dengan ucapan Umi Khadijah. Perasaan cemas dan panik sejak pagi Aisyah rasakan, saat ini berbuah kebahagian dan kelegaan.
Abi Tito merentangkan kedua tangannya dan memeluk Aisyah. Pelukan pertama antara ayah dan anak setelah 20 tahun lebih terpisah oleh ruang dan waktu. Kenyataan pahit yang selama ini Aisyah rasakan tidak mengenal sosok ibu dan ayahnya, hari ini Aisyah bisa merasakan pelukan ayah kandungnya. Pelukan hangat yang Aisyah inginkan sejak dulu. Apakah pelukan ini sampai disini atau bisa selamanya.
Umi Khadijah tidak kuasa melihat kebahagiaan yang terpancar dari keduanya. Hatinya sakit dan perih mengingat kesalahan Abi Tito. Tangisannya pun kembali pecah.
"Ada apa ini? kok kak Aisyah dan Abi berpelukan?" tanya Fatima menyelidik, menatap Abi dan Uminya secara bergantian.
__ADS_1
Umi pun tersentak kaget, tenggorokannya pun tercekat hingga sulit untuk mengeluarkan suara. Umi Khadijah menghapus air matanya dan menyuruh Fatima untuk duduk dekat Umi Khadijah.
"Kemari Fatima, kak Aisyah ini kakaknya sayang. Fatima senang?" tanya Umi Khadijah kepada Fatima.
"Aku senang sekali Umi memiliki kakak seperti kak Aisyah." jawab Fatima polos.
"Kak Aisyah selamanya menjadi kakak Fatima dan akan tinggal disini selamanya juga. Fatima tidak keberatan?" tanya Umi Khadijah lembut sambil mengelus punggung Fatima dengan perlahan.
Fatima pun bangkit berdiri dan ikut memeluk Aisyah dari belakang.
"Fatima senang memiliki Kakak perempuan seperti Kak Aisyah." ucap Fatima dengan tulus.
Abi Tito melepaskan pelukannya dengan Aisyah. Aisyah hanya menurut, wajahnya telah basah air mata. Diamnya Aisyah membawa luka batinnya sendiri.
"Fatima, kalian bersaudara jangan sampai kalian berantem atau berselisih hal hal yang tidak perlu." ucap Abi Tito kepada Fatima.
"Iya Abi, Fatima paham. Fatima sayang dengan kak Aisyah." ucap Fatima dengan polos.
Ucapan Fatima semakin membuat air mata Aisyah kembali deras. Aisyah yang diterima dengan baik, dan disayang oleh keluarga ini seperti sudah menjadi bagian keluarganya sejak lama.
Aisyah bisa merasakan kehangatan keluarga, memiliki Ayah, Umi, Kakak laki laki dan Adik Perempuan. Lengkap sudah penantiannya untuk memiliki keluarga yang utuh.
"Terima kasih Ayah sudah mengakui Aisyah sebagai anak Ayah." ucap Aisyah pelan.
"Iya sayang, maafkan Ayah, Aisyah." ucap Abi Tito sambil menyeka air matanya.
Fatima hanya terdiam melihat kedekatan Abinya dengan Aisyah. Ada pertanyaan yang muncul namun enggan untuk diungkapkan.
"Fatima ke kamar dulu Umi, Abi." ucap Fatima sambil meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Umi Khadijah pun mengejar Fatima, agar tidak ada salah paham untuk masalah ini. Perlu menjelaskan semuanya dengan detail.
ceklek...
"Fatima sayang? ada yang kamu tanyakan sayang?" tanya Umi Khadijah pelan.
"Fatima hanya bingung Umi, setahu Fatima Ayah Kak Aisyah pergi meninggalkan Ibu Kak Aisyah waktu mengandung Kak Aisyah. Ibu Kak Aisyah pun meninggal setelah melahirkan kak Aisyah." ucap Fatima dengan polos.
"Maafkan Umi, belum menjelaskan kepadamu. Mas Fathan sudah Umi jelaskan, kemarin Fatima sibuk dengan urusan Fatima jadi Umi belum sempat cerita. Sekalinya bertemu Fatima, Fatima selalu bercerita tentang Kak Haikal." ucap Umi Khadijah lembut.
"Bagaimana kalau kak Haikal melamar Fatima dalam waktu dekat?" tanya Umi Khadijah pelan.
"Fatima masih sekolah Umi." ucap Fatima pelan.
"Kan cuma lamaran Fatima, bukan menikah, nanti menikahnya kalau Fatima sudah lulus dari MA. Setuju?" tanya Umi Khadijah.
"Bagi Fatima, kalau ada restu Abi dan Umi Fatima bersedia." Ucap Fatima pelan.
"Ada satu hal lagi yang mau Umi ceritakan, ini tentang Kak Aisyah. Kamu siap mendengarkan? dan janji setelah mendengar penjelasan ini kamu tidak akan membenci siapapun dan mau menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Bagaimana sayang?" tanya Umi Khadijah lembut.
"Fatima janji Umi." jawab Fatima dengan senyum melebar.
Jadi begini Fatima, ini kembali ke dua puluh tahun yang lalu. Umi pun menjelaskan panjang lebar dan detail. Nampak raut kecewa dari wajah Fatima, tapi berhasil disudutkan karena alasan Umi uang masuk akal.
"Jadi seperti itu ceritanya. Umi mohon kamu bisa menerima dengan baik dan ikhlas bila Kak Aisyah dan Kak Suci itu Kakak Fatima." ucap Umi Khadijah lembut.
"Iya Umi. Fatima mengerti, sempet kaget dan kecewa dengan Abi. Tapi kan Abi juga tidak sepenuhnya bersalah. Fatima memaklumi. Umi yang sabar." ucap Fatima lembut.
Kedua perempuan berbeda usia itu berpelukan saking menguatkan satu sama lain, saling mendukung dan saling memaafkan. Kenyataan yang pahit akan terasa manis bila diterima dengan ikhlas.
---+++------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚