
"MALU BERTANYA TERSESAT DIJALAN, TELAT MELAMAR HARUS SIAP JADI TAMU UNDANGAN"
"ENAKNYA MENIKAH BERMESRAAN SAJA BISA JADI PAHALA"
Zhein kembali ke apartemennya dengan wajah yang kusut dan tidak bergairah. Zhein hanya menyapa kedua ibunya dan Raina yang sedang asyik menonton TV bersama. Sedangkan Suci sudah dipastikan berada di kamar untuk membaca buku atau sekedar rebahan.
"Assalamualaikum.. sayang" ucap Zhein pelan langsung menghampiri istrinya dan mengusap perut Suci.
"Waalaikumsalam, Mas, kamu sudah pulang, maaf Suci tadi ketiduran." ucap Suci pelan, karena biasanya Suci akan selalu menunggu kedatangan Zhein.
"Sssttttt.... kamu diam saja ya, Mas punya salah sama kamu sayang." ucap Zhein pelan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Suci.
Seluruh wajah Suci pun di ciumi dengan mesra. Tidak ada yang terlewatkan.
"Aku bikinin kopi ya Mas, kamu ganti baju dulu, setelah ini kamu cerita. Kamu kenapa? gak biasanya sampai kusut begini." ucap Suci pelan mengusap pipi Zhein berusaha menenangkan suaminya.
"Boleh sayang, kamu minum susu juga ya, tadi pagi aku buatkan satu gelas besar di kulkas. Sudah kamu minum?" tanya Zhein dengan lembut.
"Belum Mas, aku ingin minum bersamamu." ucap Suci dengan senyum manisnya.
Suci pun bangkit berdiri dari kasurnya menuju dapur. Membuatkan kopi hitam untuk suaminya itu sudah menjadi kewajibannya. Semenjak Zhein menikah, kopi selalu menemani mereka saat bicara, bukan hanya teh hangat saja yang bisa diajak menjadi teman bicara.
Suci membawa baki berisi dua gelas dan satu toples keripik pisang manis.
"Ini kopinya sayang, coba dulu." ucap Suci pelan sambil menyodorkan satu gelas kopi hitam.
Zhein pun menyeruput kopi buatan istrinya itu , benar sekali rasa nikmat membuat kepala yang berdenyut tadi menghilang dengan sendirinya.
Suci menatap Zhein dengan pandangan penuh tanya. Sedangkan Zhein langsung paham dengan maksud tatapan Suci.
"Tadi Mas sudah menemui Fathan. Kita bicara banyak tentang pria. Ada satu hal yang membuat aku berdosa kepadamu sayang. Aku.... " ucap Zhein menjelaskan secara detail tentang pertemuan tadi dengan Fathan yang membahas keperawanan. Lebih parahnya lagi, Zhein berbohong kepada Fathan, bila Suci sudah tidak perawan.
__ADS_1
Suci hanya manggut-manggut mendengarkan semua cerita suaminya. Lalu Suci pun tertawa terbahak-bahak....
"Sayang, kamu gak papa kan?" tanya Zhein pelan.
"Kamu itu lucu Mas. Hanya begitu saja kenapa juga aku harus marah, biarin aja Mas Fathan ilfil sama aku. Tapi hubungannya dengan Kak Raina bagaimana?" tanya Ada Uci pelan.
"Mas rasa, semuanya sudh jelas Suci mereka sama-sama mencintai, hanya saja saat ini bnyak ujian yang harus mereka hadapi. Lebih baik mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Tugas kita hanya sebagai mediator saja. Selanjutnya biar mereka yang menentukan dan memutuskan. Kita tidak boleh ikut campur." ucap Zhein pelan.
"Benar Mas, lebih baik kita urus persiapan wisuda kamu dan kepindahan kita nanti. Barang barang sudah ada beberapa yang aku packing. Yang kurang berguna mau Suci bagikan saja ke orang yang membutuhkan." ucap Suci lembut.
"Terserah kamu sayang, barang mau kamu tinggal semua juga gak papa, nanti kita beli yang baru disana." jawab Zhein singkat.
Kebanyakan pria itu hidupnya simple dan gak mau ribet. Yang rempong itu memang wanita., karena terlalu pakai hati berpikirnya.
💚💚💚💚💚
Malam ini, Bram dan anak buahnya mencari keberadaan Raina. Mencari di apartemen, fi rumah sakit dan tempat tongkrongannya dulu.
Kabar tentang Raina dekat dengan Bram pun terdengar oleh Reihan. Reihan yang cemas, mengirim beberapa anak buahnya untuk menjaga keselamatan Raina. Untuk sementara waktu ponsel Raina tidak diaktifkan. Nomornya pun diblokir pribadi agar keberadaannya tidak terdeteksi.
Ponselnya pun sudah dijual oleh Zhein tadi siang. Mobil Raina pun sudah dijual oleh Zhein. Zhein benar benar menghilangkan jejak Raina. Zhein membeli mobil baru atas nama dirinya. Keselamatan Raina, Suci dan Keluarganya menjadi prioritas Zhein.
Reihan menemukan celah untuk menjebloskan Bram kembali ke sel tahanan. Ada beberapa kasus yang berhasil Reihan ungkap, dan dalangnya adalah Bramantyo.
"Raina apa kamu tidak ingin mengabari kakakmu?" tanya Zhein di sela sela makan malamnya.
"Tidak perlu Zhein, aku ingin cepat cepat ke Indonesia. Jika perlu aku menggunakan nama lain." ucap Raina pelan.
"Akan ku coba Raina. Aku akan cari temanku yang bisa membantuku." ucap Zhein pelan.
"Kinanti... aku pernah bertemu Kinanti. Kita bisa bertukar identitas." ucap Raina.
__ADS_1
"Biar bunda yang bicara pada Kinanti, Zhein itu paling anti dengan Kinanti. Besok kita cari Kinanti, waktu kita sempit." ucap Bunda Jihan dengan tenang.
Suci dan Mama Laras hanya menyimak saja. Mereka tidak mengerti arah pembicaraan ini.
"Jangan pernah libatkan Kinanti ataupun Siska. Nyawa Raina dalam bahaya, aku tidak ingin sesuatu terjadi lebih buruk bila kita melibatkan kedua wanita itu. Ucap Zhein dengan tegas.
"Baiklah Bunda menurut. Raina, kenapa tidak memakai nama pasienmu? mungkin kamu memiliki kenalan?" tanya Bunda Jihan memberikan pendapatnya.
"Tidak bunda jangan libatkan rumah sakit, itu mudah tercium oleh Bram. Lebih baik aku cari solusinya dengan Fathan. Aku bisa minta tolong pada mahasiswiku." ucap Zhein dengan sopan menjelaskan.
"Maksud Mas Zhein, minta tolong sama ZHEIN LOVERS..." tanya Suci dengan ketus, jelas nampak rasa cemburu yang berlebih kepada Zhein. Pembelaannya selalu, bawaan hamil jadi sensitif.
"Sayang, ini semua demi kebaikan kita bersama, demi Raina sahabat kita?" ucap Zhein penuh kelembutan. Menghadapi kondisi kejiwaan ibu hamil sama seperti masuk ke dalam kandang singa yang sedang tertidur. Silahkan dibayangkan...
Acara makan malam sudah selesai, meja makan sudah dibersihkan dan piring piring kotor sudah di cuci dengan bersih.
Raina, Bunda Jihan dan Mama Larasati ke kamar membongkar beberapa belanjaan yang belum sempat di bongkar kemarin.
DI BAR MILIK BRAM...
Di tempat lain, Bram masih kehilangan jejak Raina, mencari nama Raina di bandara, di stasiun, ataupun di terminal barangkali Raina melarikan diri dari Bramantyo.
Bram pun meninggalkan Bar dan pergi menyusuri jalanan, sambil mencari-cari sosok Raina yang sejak kemarin hilang dan tidak ada tanda-tanda ditemukan. Bram semakin fruatasi. dan panik.
Apartemennya pun kosong, dan tidak ditemukan jejak apa apa, untuk menggali informasi tentang Raina.
Rumah yang di Indonesia pun tampak kosong dan tidak bertuan sejak kemarin. Tetangga pun tidak ada yang mengetahui.
Akan kucari kamu Raina, hingga ke ujung dunia, kamu satu satunya orang yang ku anggap bisa menghancurkan Reihan, gumam Bram di dalam hatinya.
Mobilnya pun terus melaju dengan kecepatan pelan sekali. Berharap Raina dapat ditemukan kembali.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN