Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
KESUCIAN SYAHADAT SS 2 KERAGUAN AISYAH


__ADS_3

Aisyah dan Baihaqi sudah berada dalam kamarnya. Nadya sudah diantarkan pulang ke rumahnya oleh Mbok Surti.


Keduanya hanya terdiam seribu bahasa. Baihaqi yang diam menatap Aisyah dengan raut wajah penuh kekecewaan. Sedangkan Aisyah hanya mencari jalan keluar untuk hari esok. Karena Aisyah lah yang memberikan solusi itu kepada Bu Margaretha.


Baihaqi menyentuh lengan Aisyah lalu mengusapnya dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan Aisyah? Besok aku akan menemui Bu Margaretha tentang kesalah pahaman ini." ucap Baihaqi lembut, memberikan ketenangan bahwa memang tidak ada yang salah disini. Yang tahu kebenarannya tentu hanya Anggie siapa ayah biologis dari anak uang ada dalam kandungannya.


Aisyah hanya menatap sendu kepada Baihaqi.


"Apa salah Dan dosaku Mas? Aku harus menerima kenyataan pahit ini?" ucap Aisyah menahan tangisnya, tetap saja buliran kristal itu mengalir deras di pipinya.


Baihaqi pun mengusap air mata Aisyah menggunakan jempolnya dengan lembut.


"Jangan menangis terus Humairah... Apa kamu tidak mempercayai aku?" tanya Baihaqi pelan.


"Aku tidak tahu kebenarannya Mas? Hasil itu menunjukkan Anggie positif hamil. Lalu ibunya menuduhmu? Atas dasar apa? Paling tidak ada bukti yang bisa mengarahkan kamu?" ucap Aisyah pelan.


"Bukti apa Aisyah? Bukan aku membela diriku, tapi demi Allah SWT, aku tidak pernah berbuat zinah Aisyah." ucap Baihaqi dengan lirih dan mengiba.


"Mungkin kamu jenuh dengan penantian keturunan bersamaku?" tanya Aisyah lembut.


"Apa maksud ucapanmu Aisyah?!! Sedikitpun aku tidak pernah berpikir buruk tentang itu. Kalau pun memang masih harus tertunda mungkin ini sudah takdir indah dari Allah SWT." ucap Baihaqi sedikit tegas.

__ADS_1


"Dulu baru aku tidak ragu Mas. Entah kenapa sekarang aku menjadi ragu kepadamu." ucap Aisyah pelan.


"Aisyah... aku tetap Ahmad Baihaqi, dan selamanya menjadi Baihaqi yang kamu kenal. Aku tidak akan berubah apalagi meninggalkanmu. Aku pastikan itu tidak akan terjadi." ucap Baihaqi dengan lantang.


"Biarkan aku menenangkan diriku Mas." ucap Aisyah pelan.


"Humairah.... jangan kamu siksa aku seperti ini. Cukup Humairah, aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku harus bagaimana lagi Humairah menjelaskan ini semua?" ucap Baihaqi dengan gusar.


Aisyah pun menulikan kedua telinganya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Wajahnya terasa panas, menangis terlalu lama membuat badannya pun lelah dan lemas. Aisyah pun tertidur dengan sangat nyenyak dan pulas. Air mata di sudut matanya masih tersisa, wajahnya tampak kusut dan sembab.


Baihaqi berulang kali mengecup pipi Aisyah yang tertidur dengan pulas. Batinnya pun kembali sesak atas tuduhan dan fitnah yang sangat keji. Di saat rumah tangganya sedang di uji keimanannya karena keturunan yang belum hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya. Kali ini, badai pun datang tiba-tiba seperti tsunami yang merobohkan segala pondasi rumah tangga yang terbina lima tahun ini.


Pikirannya kalut dan bingung. Solusi apa yang harus ia berikan kepada Bu Margaretha. Hanya ada satu petunjuk yang tidak mungkin salah, dengan Sholat Malam atau Sholat Tahajud. Baihaqi pun mulai tertidur karena terlalu lelah dengan beban seharian ini.


Selesai berwudhu seperti biasa Aisyah menggelar sajadah kesayangannya dan memakai mukena putih polos. Dengan rasa taat dan tawadu, Aisyah pun mulai melaksanakan sholat tahajud sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam.


Tangisannya mulai luruh saat bermunajat indah kepada Sang Pencipta dan Pemberi hidup.


"Ku pasrahkan semuanya Ya Allah, aku bukan seorang hakim yang bijak, aku bukan seorang istri yang sempurna, aku bukan wanita yang keras dan tak punya hati. Aku bukan Sayidah Khadijah dan Sayidah Aisyah ataupun Sayidah Fatima Az-Zahra. Aku hanyalah Aisyah Maharani yang terlalu mencintai Seorang Ahmad Baihaqi yang juga milikmu. Aku tersadar bahwa sejatinya tidaklah baik bila kita terlalu mencintai sesama makhluk yang juga ciptaanMu, melebihi rasa cintaku Kepada Mu Ya Allah SWT, Ya Rasululloh... Ampuni hamba yang masih banyak dosa dan kedurhakaan terhadap Suami hamba. Hingga saat ini pun, hamba belum bisa membahagiakan Suami hamba dengan memberikan keturunan. Apa ini salah satu caramu? bagiku mungkin ini menyakitkan, tapi bagi Allah SWT ini adalah jawaban terindah. Aku hanya butuh kesabaran yang lebih lagi, memiliki kelembutan dan ketulusan serta keihklasan. Berikan petunjuk kepadaku Ya Allah..." lirih Aisyah dengan terisak-isak.


Hatinya sungguh perih dan pedih. Suasana malam yang sunyi dan hening menambah pilu di hati pun semakin terasa. Rasa sesak di dada Aisyah pun makin kuat.


"Humairah........ " ucap Baihaqi lirih memanggil istrinya yang sedang bersujud lama dengan bahu yang bergetar hebat.

__ADS_1


Baginya hanya kepada Allah SWT cara yang tepat Aisyah meminta pertolongan dan petunjuk.


"Humairah ...... " panggil Baihaqi kemudian.


Baihaqi pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke menuju tempat sujud Aisyah.


Di pegangnya bahu Aisyah kemudian di dudukkan dengan tegak di atas sajadahnya. Matanya sudah basah dan merah. Dengan penuh kelembutan Baihaqi pun mengecup kedua mata Aisyah yang basah itu secara bergantian dan berulang ulang. Tangannya pun saling bertaut seperti akan berpisah lama.


"Jangan menangis lagi Humairah... Air matamu terlalu mahal dan terlalu istimewa untuk dikeluarkan karena Aku? Maafkan aku yang selalu membuatmu bersedih dan menangis. Dan aku tahu Aisyah, kamu mengadukannya hanya kepada Allah SWT. Aku tidak tahu harus berbuat apa, hingga pagi ini pun aku belum menemukan jawabannya." ucap Baihaqi pelan mengusap kepala Aisyah penuh kasih sayang.


Hanya ini yang bisa Baihaqi lakukan saat ini. Pikirannya benar benar kalut dan tidak bisa berpikir dengan jernih.


Satu tangan Baihaqi pun mengusap sisa air mata di pipi Aisyah. Aisyah pun memegang tangan Baihaqi dan mengecupnya berulang kali.


Senyumnya manis tapi tipis karena kegundahan hatinya masih ada dan belum lega, walaupun sudah mengadukan semuanya kepada Allah SWT. Aisyah tetaplah Aisyah, wanita yang lembut dan halus perasaanya.


"Sholat Tahajud Mas Bai.. agar hatimu tenang dan pikiranmu jernih. Kita hadapi masalah ini berdua. Aku ingin kita saling menghargai by pendapat kita masing masing." ucap Aisyah lembut kemudian mengecup pipi Baihaqi dengan penuh kasih sayang.


Baihaqi pun menganggukan kepalanya dan tersenyum manis.


"Kamu memang Humairah ku, Aisyah. Tetaplah di sisiku hingga maut yang memisahkan kita. Walaupun rasanya pun aku tak sanggup untuk kamu tinggalkan Aisyah. Hidupku sudah tergantung denganmu Aisyah." ucap Baihaqi pelan.


Itulah kenyataannya, setelah menikah, mungkin rasa cinta itu baru mereka pupuk bersama. Pacaran setelah menikah, mengenal setelah menikah. Sejak itu juga Aisyah yang selalu mendukung, mensuport serta melayani suaminya dengan baik dan tanpa cela, menurut Baihaqi. Semua terasa sempurna dan indah. Pakaian, makanan, hingga hal hal kecil pun Aisyah yang menyiapkan dan mengingatkan. Aisyah bagaikan alarm hidup bagi Baihaqi. Bisa dibayangkan bagaimana rasa cinta Baihaqi kepada Aisyah.

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2