Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 101 K.O.


__ADS_3

"Kalian..........." ucap Suci pelan.


Matanya membola melihat satu pasangan pengantin yang terlihat pucat dan bermata panda. Siapa lagi kalau bukan Fathan dan Raina.


"Pagi Suci..." ucap Raina dengan sedikit menguap karena masih mengantuk.


Zhein hanya tertawa terbahak-bahak. Matanya memandang tajam ke arah Fathan.


"Berapa ronde itu sampe KO gituuu Raina?" tanya Zhein mengejek kemudian terkekeh.


Raina hanya tersenyum kecut, lelah badannya tak sebanding dengan kebahagiaannya tapi rasa ngantuk ini mengalahkan segalanya.


"Kak Raina pakem kerudung, itu lehernya merah semua." ucap Suci menunjuk salah satu tanda merah yang paling besar.


"Wah ganas juga kamu Fathan? lihat itu leher Raina berubah tempat kerokan semua." ucap Zhein mengejek.


Fathan dan Raina saling pandang dan saling menatap, Fathan melihat kondisi leher Raina memang mengenaskan, merah semua. Parah....


Dengan sekali anggukan Fathan, Raina langsung berlari ke arah kamarnya untuk mengambil kerudung instant.


Sebelum memakai kerudung, Raina mengamati lehernya yang sudah penuh cap warna merah di depan cermin. Wah, suamiku ganas juga, ucapnya lirih.


Sedangkan di meja makan, Fathan pun jadi bukan bulanan Zhein.


"Gimana? lolos gak?" tanya Zhein masih dengan terkekeh.


"Mas Zhein..... " ucap Suci pelan. Maksudnya agar tidak terus terusan mengganggu Fathan kakaknya.


"Oh iya kalau gak lolos, mana mungkin sampai K.O gitu Raina." ucap Zhein pelan.


"Mas Zhein... sudah biarin aja. Namanya juga pengantin baru." ucap Suci pelan.


Tangannya mulai mengambil piring dan nasi beserta lauk pauknya untuk diberikan kepada Zhein. Suci pun ke dapur untuk membuatkan kopi hitam kesukaan Suaminya.


"Berapa ronde Fathan?" tanya Zhein pelan sambil menyenggol tangan Fathan.


"Kenapa? penasaran Zhein?" tanya Fathan dengan senyum ketus.


"Lagian itu leher sampai kayak batik aja." ucap Zhein pelan.


"Itu tandanya, aku jantan Fathan." ucap Fathan tak mau kalah.


"Enak kan, kalau sudah masuk mana tahu perawan atau tidak perawan yang penting lolos." ucap Zhein pelan langsung terbahak-bahak.


Suci pun sudah kembali membawa dua cangkir kopi yang satu untuk suaminya yang satu lagi untuk papa Tito.


Fathan menyenggol Zhein, agar tidak mengeluarkan suara kembali dan berpura-pura menikmati sarapan paginya.


"Kok Umi dan Papa belum bangun? Aisyah juga." ucap Suci pelan sambil mengarahkan matanya pada pintu kamar yang belum terbuka sejak tadi.


Raina pun kembali dari kamarnya menuju ruang makan sudah rapi menggunakan kerudung instantnya.


Mereka sarapan pagi bersama, semua diam tidak ada yang mengeluarkan suara kecuali suara dentingan antara sendok dan piring.

__ADS_1


"Ekhmmm.... kalian sudah sarapan?" tanya Umi Khadijah dengan lembut.


"Umi... kami sedang sarapan, Suci tidak berani membangunkan Umi, takut Umi kelelahan. Umi terlihat pucat." ucap Suci pelan sambil mengamati wajah Umi yang pucat seperti kelelahan, sama seperti Raina.


"Iya Suci, Umi lelah tadi malam pun badan pegal-pegal dan malahan tidak bisa tidur nyenyak." ucap Umi Khadijah dengan sangat pelan.


Sedangkan Abi Tito tampak lebih segar, lebih sumringah dan seperti lebih muda sedikit. Suasana hatinya sedang baik, moodnya sedang bahagia, pertumpahan kenikmatan tadi malam pun sukses terjadi berkali-kali.


"Abi... sepertinya senang, sudah mandi, rambut basah. Abi kenapa?" tanya Fathan menyelidik.


"Kalian kira, kalian saja yang bisa menikmati masa pengantin baru, kami juga bisa dong." ucap Abi dengan enteng.


"Abi.... ngomong apa sih.... jangan mengajarkan yang tidak baik." ucap Umi Khadijah tegas. Wajahnya nampak memerah karena malu, takut ketiga anaknya mengetahui hal ini.


"Umi, kita sudah menikah, bahkan Suci akan menjadi ibu. Suci mengerti Umi." ucap Suci pelan.


"Sudah jangan bahas seperti ini. Setelah ini acara kita apa Abi?" ucap Umi Khadijah pelan.


"Kita pesta kebun saja di belakang rumah, biar lebih akrab. Besok Suci harus kembali ke Yogyakarta. Papa tidak ingin Suci kelelahan." ucap Papa Tito sambil menyeruput kopi hitam yang telah disediakan oleh Suci.


"Iya Papa, Suci bisa berkumpul seperti ini juga sudah senang." ucap Suci pelan. Suci pun bangkit berdiri dan memeluk Sang Papa dengan penuh kasih sayang.


Semua mata memandang ke arah Suci dan Papa Tito, ada rasa iba disana tapi lebih banyak rasa bahagia dan senang, karena semua sudah berkumpul menjadi satu saudara.


"Maafkan Suci, yang masih ingin bermanja-manja dengan papa." ucap Suci pelan dan mencium pipi Papa Tito.


"Iya Suci sayang. Papa sayang dengan Suci." ucap Papa Tito penuh kelembutan.


"Sayang, biar Papa Tito sarapan dulu, ini susunya diminum dulu, Mas buatkan khusu untuk istri tercantik Mas." ucap Zhein pelan.


"Aisyah dan Baihaqi belum bangun ya. Apa perlu dibangunkan? ini sudah siang." ucap Suci pelan, mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang duduk di meja makan.


"Biarkan Suci, kita jangan mengganggunya. Itu tidak baik, mereka sudah suami istri biarkan saja." Ucap Zhein pelan sambil mengusap perut Suci dari bawah meja.


Di dalam Kamar Aisyah dan Baihaqi. Mereka sudah terbangun sejak pagi, dan sudah melaksanakan sholat shubuh.


Seperti pengantin baru saja mereka pun mengulangi kegiatan panas itu. Hingga waktunya tiba untuk penyelesaian mereka pun hanya bisa terkulai lemas diatas kasur.


Kedua sejoli yang awalnya tampak malu malu itu saat ini sudah mulai terbiasa dan tidak canggung lagi. Mereka melakukannya pun dengan tulus dan ikhlas.


"Dek Aisyah, Mas lihat kok kamu berjalan seperti sakit?" tanya Baihaqi pelan.


"Iya Mas, ini perih kayak lecet gitu. Terus kayak ada yang ganjal gitu." ucap Aisyah dengan polos.


"Ya sudah, kamu tiduran saja dulu, pakai kerudungnya soalnya itu dileher kamu sedikit merah Dek. Maafkan Mas kalau sudah menyakitimu." ucap Baihaqi pelan dan merasa bersalah dengan kejadian ini.


"Mas, ini sudah kewajibanku, jangan pernah merasa bersalah. Mungkin awalnya sakit seperti ini, lama lama juga pasti tidak." ucap Aisyah pelan.


"Ya sudah kamu mau makan, biar Mas ambilkan?" ucap Baihaqi pelan.


Aisyah pun tersenyum, memang Baihaqi itu sifatnya lembut dan penyayang.


"Makasih ya Mas, maaf aku gak bisa melayani untuk sarapan pagi Mas." ucap Aisyah lembut.

__ADS_1


"Dek Aisyah, kamu ini istri Mas, jangan pernah sungkan meminta tolong pada Mas apapun itu. Mas ambilkan sarapan nanti Mas suapin kamu." Ucap Baihaqi pelan.


"Iya Mas." jawab Aisyah pelan.


Baihaqi pun keluar kamar dan berjalan ruang makan. Sejak membuka pintu, semua mata tertuju kepadanya.


"Aisyah mana, Bay?" tanya Fathan pelan.


"Itu Mas, ehhh anu... sakit Mas Fathan, ini juga mau ambil sarapan biar saya bawa ke kamar." ucap Baihaqi pelan.


"Aisyah sakit? biar aku yang membawakan sarapannya, kamu disini Bay, sarapan dengan yang lain. Mas, aku antar sarapan untuk Aisyah dulu ya." tanya Suci pelan kepada Zhein.


"Iya sayang, bawakan sarapan dan air minum." ucap Zhein pelan.


Suci pun mulai mengambil piring dan nasi serta beberapa lauk kesukaan Aisyah, tidak lupa air putih di dalam gelas besar.


Suci pun berjalan menuju kamar Aisyah. Terlihat Aisyah sedang rebahan di kasurnya. Tubuhnya diselimuti setengah badan.


"Kamu sakit apa Aisyah? kata Bay kamu sakit?" tanya Suci pelan ke arah Aisyah.


"Suci, sesuai yang kamu katakan kemarin, tapi kok sakit ya Suci?" tanya Aisyah pelan.


Suci pun langsung tertawa renyah.


"Kalian sudah......" ucapan Suci pun terhenti.


"Sssttt.... diam.. nanti yang lain dengar, aku malu Suci." ucap Aisyah pelan.


"Makan dulu, aku suapin Aisyah, kamu duduk dulu." ucap Suci pelan. Tangannya dengan telaten menyuapkan nasi ke dalam mulut Aisyah.


"Kamu memnag terbaik Suci, makanya Mas Zhein begitu mencintaimu." ucap Aisyah pelan sambil mengunyah makanan tersebut didalam mulutnya.


"Dia Suamiku tentu saja mencintai aku Aisyah. Aku sudah percaya pada Zhein, gak ada yang perlu aku ragukan lagi dari seorang Zhein." ucap Suci pelan.


Aisyah pun tersenyum, suapan terkahir pun sudah selesai lalu Aisyah meminum air putih hingga setengah gelas pun habis .


"Makasih Suci." ucap Aisyah pelan.


"Sakit di bagian intim itu biasa, karena kita seorang perawan yang baru pertama kali melakukan hal itu. Nanti lama lama juga akan terbiasa, dan rasa sakitnya juga pasti akan hilang." ucap Suci pelan.


"Benarkah Suci, kamu memang guru terbaikku. Maafkan aku, hal seperti ini saja aku harus bertanya kepadamu." ucap Aisyah pelan.


"Aku kembali ke meja makan. Nanti biar Baihaqi yang menemanimu." ucap Suci pelan.


Suci pun pergi keluar kamar menuju ruang makan. Meletakkan piring dan gelas kotor di wastafel samping.


"Aisyah sakit apa Suci?" tanya Papa Tito pelan.


"Hanya kelelahan Pah." ucap Suci singkat. Kedua bola matanya menatap ke arah Baihaqi.


"Jaga istrimu Bay, jangan sampai Aisyah kelelahan seperti ini." Ucap Suci dengan tegas.


Ada senyum manis tercetak di wajah Suci yang membuat Baihaqi semakin merasa bersalah.

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2