Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 113 PENJEBAKAN


__ADS_3

Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar dan khidmat. Seluruh prosesi acara sudah dilakukan sesuai dengan syari'at Islam.


"Semua manusia, pasti akan kembali kepada Allah SWT. Maka kita harus berpasrah, berserah diri dan ikhlas." ucap Zhein lembut sambil merangkul bahu Suci dan menatap ke arah gundukan tanah merah itu.


Suci sejak malam hanya terdiam. Dia hanya mau makan dan minum, itupun karena Suci memikirkan kondisi anak di dalam perutnya.


"Pulang sekarang ya? Mas harus ke kampus, ada kelas sayang. Gimana?" ucap Zhein pelan kepada Suci.


Suci pun menoleh ke arah Suaminya, wajahnya sangat sendu sekali seperti membutuhkan perlindungan.


"Aku ingin disini bersama Mama dan Bunda, nanti kita pulang ya Mas. Kamu duluan aja Mas." ucap Suci lembut. Tatapannya kosong mengarah gundukan tanah merah yang bertabur bunga.


Batu Nisan yang yang terbuat dari kayu sederhana sudah tertancap rapi bertuliskan nama Leonardus.


"Pulang sekarang, sama Mas. Kondisi kamu sedang tidak baik. Nanti sore kita kesini lagi, Mas akan mengantar kamu menaburkan bunga mawar yang segar." ucap Zhein lembut, tangannya mengusap punggung istrinya dengan pelan.


Suci pun berdiri dan mengapit tangannya ke lengan Suaminya. Apapun alasannya, perkataan Suami itu wajib dituruti, itulah sifat istri yang baik. Tidak ada penolakkan, dan tidak ada bantahan.


"Bunda, Zhein dan Suci pulang dulu. Bunda jaga Mama Laras ya." ucap Zhein pelan.


"Iya Zhein, bawa istrimu pulang. Pemakaman umum tidak naik untuk orang hamil." ucap Bunda Jihan menjelaskan.


Suci dan Zhein pun pulang ke rumah Bunda Jihan, Suci telah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan yang baru. Menit orang tua, kalau pulang dari makam harus segera mengganti baju, takutnya kena sawan.


"Aku berangkat dulu. Ada mbok Wasih yang akan menjaga dirimu sayang. Aku buatkan Susu ya, aku langsung berangkat ya sayang." ucap Zhein lembut sambil mencium kening istrinya.


Suci hanya mengangguk pelan dan mencium punggung tangan Suaminya dengan hormat.


Zhein pun tidak memaksa istrinya untuk ceria, biarkan dia mengekspresikan perasaannya saat ini. Munkin nanti malam akan dihibur lagi agar suasana hatinya pun tidak sekacau pagi ini.


Zhein pun meninggalkan kamar nya dan keluar menuju dapur, dan membuatkan susu hamil untuk istri tercintanya.


Susu pun sudah diberikan ke mbok wasih untuk diberikan kepada Suci. Zhein pun langsung berangkat menuju kampus.


Hari ini jadwal mengajar hanya ada satu kelas ini jadwal sekitar jam Sembilan pagi. Niat Zhein ingin menjebak Klara Novena. CCTV sudah di pasang di seluruh ruangan dan karmera pun sudah di setel di pojok ruangan.


Selesai mengajar Zhein pun kembali ke ruangannya. Zhein sudah mempersiapkan jebakan dengan sangat rapi. Dibantu dengan beberapa rekan kerja dan teman teman di masa lalunya yang mengetahui sifat Klara.

__ADS_1


Klara datang menemui Zhein di ruangannya. Ada satu tugas yang diberikan Zhein, yang agak sulit membuat setiap mahasiswa atau mahasiswi nya akan menemui dosen dan menanyakan maksud dari tugas tersebut.


Tugas yang ambigu. Termasuk Klara pun yang tidak mengerti langsung datang ke ruangan Zhein.


"Haiii Zhein.... " ucap Klara pelan. Tanpa dipersilahkan pun Klara duduk di kursi depan Zhein.


"Waalaikumsalam... Klara. Biasakan ketuk pintu dan ucapkan salam." ucap Zhein pelan.


Klara pun celingukan mencari sosok Suci istri Zhein.


"Kucing peliharaanmu tidak kamu bawa Zhein? kok tidak ada?" ucap Klara pelan.


"Dia istriku Klara, namanya Suci. Jangan sebut kucing peliharaan." ucap Zhein dengan tenang. Emosinya ditahan agar tidak terpancing.


"Bukankah dia anak Leo? Dia bukan muslim Zhein? pasti dia hanya pura pura, untuk mendapatkan hartamu." ucap Klara memanasi.


"Aku yang mengislamkan Suci. Dia gadis yang baik dan terhormat." ucap Zhein datar. Zhein pun ikut memancing Klara dengan pertanyaan yang menjurus.


"Tetap saja, Larasati menikahi Leo karena harta." ucap Klara mengejek.


"Kamu tidak perlu tahu siapa lelaki mandul itu. Berharap harta warisan dan menikahi wanita yang telah ditiduri temannya sendiri hingga hamil. Suci anak haram Zhein, asal usulnya tidak jelas. Mungkin hasil perbuatan dengan pria hidung belang." ucap Klara dengan asal.


Hein hanya mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Klara.


"Apa hubunganmu dengan Papa Leo?" ucap Zhein pelan.


"Apa pedulimu?" ucap Klara menatap tajam.


"Aku hanya ingin tahu? saat Aku dan Suci menikah pun Papa Leo juga tidak menghadirinya." ucap Zhein pelan. Dia tidak berdusta itu suatu kenyataan.


"Kenapa tiba-tiba kamu tertarik mengurusi permasalahan keluargaku Zhein?" ucap Klara pelan.


"Ohh jadi Papa Leo itu saudaramu?" ucap Zhein pelan.


"Tidak perlu memancingku. Jadikan aku juga istrimu agar Noval memiliki ayah, Zhein." ucap Klara pelan.


"Aku sudah memiliki istri yang begitu sholehah dan baik. Sebentar lagi pun aku memiliki anak. Kehidupanku sudah sempurna Klara. Aku dulu memang tidak baik, karena aku salah pergaulan. Bima selalu memotivasi aku untuk bertobat dan berbuat baik." ucap Zhein pelan. Hatinya selalu basah bila mengingat sosok Bima.

__ADS_1


"Bima? bukankah dia sudah mati?" ucap Klara pelan.


"Bima masih hidup Klara. Dia selamat dari peristiwa naas itu. Peristiwa yang sepertinya ada dalang dibalik kejadiannya. Mau aku pertemukan dengan Bima sahabatku." gertak Zhein pelan.


"Tidak mungkin Zhein. Aku bahkan datang dan melihat langsung pemakaman itu. Tolong jangan berdusta. Tidak mungkin informasi anak buahku salah." ucap Klara pelan.


"Kamu dalangnya Klara? Apa salah Bima hingga dia harus mengalami nasib itu." ucap Zhein dengan nada tinggi. Emosinya mulai tersulut.


"Karena dia yang menggagalkan rencana ku untuk tidur denganmu." ucap Klara tak kalah keras.


"Cepat atau lambat kamu akan membusuk di penjara." ucap Zhein dengan nada datar.


"Kamu tidak punya bukti untuk itu Zhein. Jangan memancingku untuk merusak rumah tanggamu dengan cara yang kotor. Aku hanya ingin kamu menerima tawaranku Zhein." ucap Klara.


"Tawaran bodoh seperti itu mana bisa aku terima Klara. Aku harus menduakan istriku yang Sholehah hanya demi wanita seperti kamu?" ucap zhein pun meledek.


"Apa kamu bilang? tawaran bodoh!!! Ohhh... kamu ingin bermain-main dengan aku? Zhein? apa kamu sudah tidak sayang dengan nyawa istrimu?" ucap Klara tersenyum licik.


"Kamu sentuh istriku, kamu berhadapan denganku Klara!! kamu paham!!" ucap Zhein lantang.


Klara pun berdiri dan mendekati Zhein.


"Aku tidak pernah takut denganmu Zhein. Semua itu uang yang berbicara. Aku tahu hartamu sangatlah banyak, maka itu aku ingin menikah denganmu. Aku ingin hidup enak dan bebas." ucap Klara tertawa terbahak-bahak.


gubrak......


"Angkat tangan Nyonya Klara. Anda kami tangkap, atas tuduhan pembunuhan berencana atas nama saudara Bima dan pembunuhan atas nama Bapak Leonardus. Silahkan ikut kami ke kantor dan jelaskan semuanya di kantor" ucap Seorang polisi dengan menodongkan pistol.


Satu polisi lagi menangkap dan memborgol kedua tangan Klara di belakang.


Klara pun memberontak dan berteriak histeris.


"Apa maksudnya ini? kami Zhein?" ucap Klara dengan suara sangat keras.


"Maafkan aku, Klara. Bukti yang kumiliki sudah cukup kuat untuk melaporkan segala kejahatanmu. Semua anak buahmu juga sudah ditangkap." ucap Zhein pelan dan sambil berlalu meninggalkan Klara.


JAZAKALLAH KHAIRAN

__ADS_1


__ADS_2