
Pagi hari ini merupakan hari bersejarah bagi seorang Raina dan Fathan. Mereka akan mengikat hubungan mereka ke jenjang lebih tinggi dari sekedar berteman, yaitu bertunangan.
"Kak Raina sudah siap di lamar Mas Fathan?" tanya Suci pelan.
"Insya Allah Suci... aku seneng banget." ucap Raina pelan.
"Alhamdulillah, kalau seneng. Suci juga ikut senang Kak Raina." Ucap Suci pelan.
"Kami belum cek kehamilanku Suci, Kamu gak lelah." tanya Raina.
"Lelah Kak Raina. Sering kenceng perutnya, sakit sih gak, cuma kayak keram gitu." ucap Suci sambil meraba raba perutnya yang mulai membesar.
"Nanti siang kita ke dokter. Kamu pulang masih lusa Suci. Jaga kandungannya." ucap Rania lembut.
Zhein pun menghampiri Suci di meja makan setelah membuatkan Susu untuk istri kesayangannya.
"Mas, ini Mas Fathan nelepon." ucap Suci pelan.
📱Fathan calling
"Assalamualaikum... Ya .. Serius? aku mengerti... hemmm baiklah Fathan.." ucap Zhein pelan.
Zhein pun meletakkan Hpnya di meja makan.
"Ada apa Mas?" tanya Suci pelan.
"Urusan pria sayang." ucap Zhein mengusap pipi Suci yang belum tertutup oleh niqab.
"Kamu Mas, kalau ditanya selalu begitu." ucap Suci dengan bibir manyun.
"Gak baik kalau selalu penasaran. Jadilah orang yang selalu berpikir positif." ucap Zhein sambil memberikan segelas Susu kepada Suci.
"Baiklah Mas. Aku tidak akan bertanya apapun lagi tentang hak yang bukan urusanku, kecuali kamu yang membicarakannya lebih dulu." ucap Suci pelan, seolah membenarkan apapun yang diucapkan Zhein kepadanya.
Suasana Pagi yang hangat berkumpul untuk sarapan pagi bersama.
"Nanti acara jam berapa Raina?" tanya Bunda Jihan pelan.
"Jam sembilan Bunda Jihan." ucap Raina pelan.
__ADS_1
"Zhein bagaimana dengan ijab kabulmu, akan diulang kapan? biar lebih afdol Nak." tanya Bunda Jihan pelan.
"Jadi Bunda, nanti kita ulangi, kemarin aku sudah minta Kakek Furqon sebagai saksi. Semua kita pakai Kyai dan penghulu dari KUA saja, yang penting sekarang semuanya sudah jelas, Suci akan di nasabkan pada ibunya saja, walaupun papa Tito sudah SAH sebagai ayah kandungnya." ucap Zhein pelan.
"Baiklah bunda setuju, sesuaikan dengan hukum Islam yang baik dan benar. Walaupun semua pernikahan itu SAH, Allah SWT maha mengetahui, tapi kita hidup bermasyarakat jadi pandangan orang pun akan berbeda, bila ada satu kesalahan yang fatal." ucap Bunda Jihan mengingatkan.
"Iya Bunda, terimakasih dukungannya." ucap Zhein pelan.
"Kita jadi akad lagi?" tanya Suci pelan.
"Iya sayang, mumpung semua berkumpul disini." ucap Zhein pelan.
"Iya Mas.." ucap Suci dengan pasrah.
Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Semua orang sibuk merapikan diri untuk ikut ke acara Fathan. Awalnya banyak yang tidak bisa menghadiri, berhubung Zhein memiliki acara lain hingga membuat yang lain pun ikut mendukung acara Zhein.
"Kalau sudah siap semua, lebih baik kita berangkat sekarang." ucap Eyang Atmojo pelan.
Semua sudah siap dan menunggu beberapa orang yang masih mempersiapkan diri. Perjalanan ke rumah Fathan tidak jauh, sangat dekat hanya berbeda gang saja. Rumah yang cukup besar tapi tidak sebesar rumah Eyang Atmojo. Ada tenda besar disana, kursi tamu pun banyak berjejer rapi, meja prasmanan pun sudah lengkap tersaji jamuan makan besar maupun sekedar camilan ringan.
"Kok ada tenda Mas, memang undang undang." tanya Suci pelan.
"Mas kurang tahu Suci, mungkin saja mereka menyebarkan undangan mendadak." ucap Zhein sambil memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan.
Pasalnya Zhein saat ini dekat dengan Fathan, mungkin ada misi yang akan mereka jalankan. Rahasia besar antar pria.
Semua keluarga besar Eyang Atmojo datang dan disambut dengan baik oleh keluarga Fathan.
Masih lengkap dengan formasi seperti tadi malam. Hanya bertambah keluarga Anwar besan dari Tito.
Petugas KUA pun beserta penghulu dan beberapa kyai sahabat Kakek Furqon sudah berada di dalam. Beberapa tamu undangan, dan para tetangga pun sudah menempati kursi yang berbaris dengan rapi.
Zhein menggandeng tangan Suci dengan erat memasuki rumah Fathan dan memilih duduk di sofa agar punggungnya terasa nyaman.
Acara akan segera dimulai dan semua tamu undangan beserta keluarganya sudah berkumpul ditempatnya masing-masing.
Kakek Furqon membuka acaranya pagi hari itu. Dengan sambutan dan perjalanan kisah cinta antara Raina dan Fathan. Hari ini akan menjadi hari yang spesial bagi keduanya.
Sampai di acara puncak, Fathan pun berdiri mengambil alih pengeras suara ke arahnya, permintaan Fathan kali ini langsung kepada Mama Kirana dan Kak Reihan untuk merestui mereka.
__ADS_1
"Untuk Mama Kirana dan Kak Reihan, pagi hari ini kita semua berkumpul untuk menjadi saksi pengikatan hubungan antara Saya, Muhammad Fathan dengan Raina Hermawan. Susilah Mama Kirana dan Kak Reihan merestuinya." ucap Fathan dengan suara lantang dan tegas.
"Insya Allah, kami sekeluarga merestui kalian berdua, untuk bertunangan. Tali pengikat ini untuk saling menjaga, melindungi dan mendukung satu sama lain sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pernikahan." ucap Mama Kirana dengan lembut sambil tersenyum ke arah Kirana.
"Saya Reihan sebagai kakak Raina, merestui hubungan kalian berdua. Semoga kalian selalu berbahagia, saling mensupport, saling jujur dan komunikasi satu sama lain." ucap Reihan ikut berpendapat.
"Terima kasih atas restu yang sudah saya dapat dari Mama Kirana dan Kak Reihan. Sekarang saya ingin menanyakan kepada Raina sebagai calon istri saya. Raina apakah kamu mau..." tanya Fathan yang belum sempat terucap.
Karena rasa bahagia dan rasa senang bercampur dengan rasa gugup dan cemas, membuat Raina setengah berteriak.
"Aku mau Fathan. Aku bersedia." Ucap Raina pelan.
"Kamu yakin bersedia Raina?" tanya Fathan curiga karena Raina tidak mendengar semua pertanyaan Fathan dengan baik.
Dengan mantap Raina menganggukan kepalanya.
"Aku mau Fathan." ucap Raina mengulang jawabannya dengan mantap dan tegas.
"Kamu yakin dengan jawabanmu? banyak saksi di sini Raina?" tanya Fathan kemudian untuk meyakinkan jawaban Raina.
"Aku yakin, aku mau Fathan." ucap Raina mantap.
"Biarkan aku selesaikan pertanyaanmu Raina. Dengarkan aku, walaupun jawabanmu sudah mantap dan yakin." ucap Fathan dengan tenang.
Semua orang pun terlihat bingung, pasalnya Fathan belum bertanya secara utuh. Pertanyaannya masih mengambang dan belum terselesaikan.
Semua tamu undangan pun saling berpandangan dan ikut menghela nafas panjang. Mereka pun penasaran dengan pertanyaan Fathan yang masih tertunda.
Fathan pun melakukan hal yang sama, jawaban Raina membuatnya semakin cemas dan gugup untuk melanjutkan pertanyaannya.
Bismillahirrahmanirrahim, ucapnya dalam hati.
"Rania, apakah kamu bersedia menikah denganku hari ini juga?" ucap Fathan mantap dan tegas.
Deg.....
Deg....
Deg....
__ADS_1
Raina pun terkejut bukan main setelah menyimak dengan baik pertanyaan Fathan. Dicerna dengan benar pertanyaan itu, permintaan menikah saat ini juga membuat jantungnya mencelos entah kemana.
JAZAKALLAH KHAIRAN