Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 60 TANGISAN KETIGA WANITA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Pagi ini hari kedua Larasati menginap di rumah ibu Atmojo. Larasati memang lebih senang dirumah dari pada pergi keluyuran tidak jelas. Walaupun sebenarnya Larasati kangen dengan teman temannya yang dulu. Tapi niat yang besar Larasati untuk berhijrah bisa menahan semua keinginannya itu.


Tidak boleh aku harus kuat menahan keinginanku, lebih baik aku menggunakan waktuku untuk hal hal yang positif.


"Assalamualaikum, mama Laras?" ucap Aisyah pelan.


Aisyah memang ikut bersama Larasati kembali ke kota P dengan alasan nenek cempaka tidak ada yang mengurusi. Aisyah lebih memilih bekerja di kota P dengan gaji kecil daripada harus berjauhan dengan nenek cempaka. Dari bayi, semenjak ibunda Aisyah meninggal saat melahirkan, Aisyah diasuh oleh nenek cempaka. Nenek cempaka berusaha mencari keberadaan Reza yang tak lain adalah Tito Azam, tidak pernah membuahkan hasil. Nenek cempaka pun berhenti pencariannya karena sudah tua, dan hanya bisa berdoa berharap ayah kandung Aisyah kembali lagi dalam keadaan sehat.


"Waalaikumsalam Aisyah, ada apa?" ucap mama Larasati lembut.


"Mama Laras tahu, siapa ayah Aisyah?" ucap lembut Aisyah seakan menusuk jantung uang paling dalam.


"Mama Laras belum tahu pastinya, sedang mama Laras selidiki dulu, nanti kalau benar, Aisyah mama kasih tahu. Oke?" ucap mama Larasati pelan.


"Baiklah Aisyah akan menunggu kabar mama, atau nanti Aisyah akan pergi ke rumah Umi Khadijah untuk menanyakan hal yang serupa, mungkin Umi Khadijah tahu tentang hal ini?" ucap Aisyah sendu.


"Untuk apa Nak kesana? buat mama Laras yang bantu mencari ayah kandungmu?" ucap mama Laras pelan.


"Biar jelas mama Laras, Aisyah ingin berusaha. Apa mama Laras mau ke rumah Umi Khadijah juga? Kita pergi bersama?" ucap Aisyah semangat.


"Baiklah, Aisyah, mama Laras ganti baju dulu." ucap mama Laras pelan.


"Iya mama Laras, Aisyah tunggu." ucap Aisyah dengan lembut.


Alasan lain Aisyah kembali ke kota P karena Aisyah tidak ingin mengganggu persahabatan antara Aisyah dan Suci. Suci adalah anak yang baik dan suka membantu. Aisyah lahir hanya berbeda beberapa bulan dengan Suci. Suci sering membantu Aisyah terutama dalam hal keuangan. Suci pernah membantu untuk membayar administrasi sekolah agar Aisyah tetap bisa mengikuti Ujian Nasional. Dari situ balas Budi yang baik adalah membiarkan Suci bahagia dengan pilihannya. Walaupun mereka selalu menyukai lelaki yang sama pada akhirnya Aisyah lah yang harus mengalah.

__ADS_1


"Mama Laras, gimana kabar Suci?" ucap Aisyah lembut.


"Baik Aisyah, kehamilannya juga baik, tapi sudah dua hari Suci tidak memberi kabar, mungkin sibuk, atau bagaimana mama Laras juga tidak tahu, tapi mama percaya, ada Zhein yang menjaga Suci." ucap mama Laras pelan.


"Alhamdulillah mam Laras. Sepertinya Mas Zhein orang yang sangat baik dan perhatian. Kalau Allah SWT mengizinkan Aisyah ingin memiliki suami seperti Mas Zhein." ucap Aisyah pelan.


"Mama doain, biar Aisyah segera mendapatkan jodoh yang baik. Aamiin." ucap mama Laras lembut.


Mereka berjalan kaki berdua, seperti ibu dan anak. Terlihat serasi dan penuh kasih sayang. Aisyah sejak kecil sudah dianggap cucu oleh ibu Atmojo, karena nenek cempaka selalu membawa Aisyah ke rumah ibu Atmojo selama berkerja. Nenek cempaka sudah lama mengabdi kepada keluarga Atmojo. Dari situ Suci dan Aisyah bersahabat dengan baik bahkan sudah dianggap seperti saudara sendiri.


"Aisyah, apa kamu sudah memiliki pria yang kamu taksir?" tanya mama Laras secara tiba tiba.


Sontak pertanyaan itu membuat Aisyah sedikit bingung mencari jawabannya.


"Mama, sepertinya aku perlu berguru pada Suci, dia selalu nomor satu untuk mendapatkan yang terbaik." ucap Aisyah lirih.


"Kebahagian setiap orang sudah ada porsinya sendiri Aisyah. Mama Laras juga baru sadar selama ini Suci tidak bahagia. Saat ini melihat Suci dan Zhein bahagia, mama ikut bahagia, ditambah lagi Suci sedang hamil. Tadinya mama dan bunda Jihan ingin Suci berada disini. Tapi Zhein adalah suaminya jadi Zhein yang lebih berhak untuk membawa Suci. Apapun keadaannya doa mama selalu untuk Suci yang jauh disana." ucap mama Laras sedikit terkekeh, matanya mulai berkaca-kaca.


"Suci akan baik baik saja mama Laras. Sudah sampai di rumah Umi Khadijah, masuk mama Laras." ucap Aisyah pelan.


Mereka memasuki pekarangan rumah Umi Khadijah. Banyak tanaman terawat disana, bunga bunga pun terlihat segar seperti baru disiram.


"Assalamualaikum.. Umi Khadijah?" ucap Aisyah sambil mengetuk pintu rumah itu.


"Waalaikumslm.." ucap Umi Khadijah berteriak dari dalam rumah.


ceklek.....


"Astaghfirullah, Kedatangan tamu sahabatku, dan anak sahabatku. Larasati, Aisyah ayok masuk. Fatima lagi ke sekolah ada event katanya. Mas Tito lagi ada urusan bisnis." ucap Umi Khadijah dengan rasa bahagia.

__ADS_1


Selama ini dia selalu sendiri, berharap ada yang menemani untuk sekedar ngobrol atau bercengkerama sebentar. Kadang lelah ini hilang melihat senyum dari orang lain.


"Larasati kapan kamu datang? Kamu dan Leo?" ucap Umi Khadijah pelan.


"Aku sudah dua hari berada disini Khadijah, aku dirumah saja. Aku dan Leo sudah berpisah, Leo tidak pernah mencintaiku Khadijah, Leo hanya memperalat ku untuk mendapatkan keturunan agar warisan turun kepadanya. Tapi ternyata Suci bukan anak Leo, aku dijebak oleh Leo. Faktanya Leo itu mandul Khadijah. Nasibku sungguh tidak seberuntung kamu Khadijah." ucap Larasati menangis dengan dua telapak tangannya menutupi wajahnya.


"Aisyah buatkan minum dibelakang ya Nak" ucap Umi Khadijah pelan.


"Iya Umi." jawab Aisyah sopan.


"Larasati, kamu yang sabar, kita sama sama tidak baik-baik saja. Mas Tito sudah menceritakan semuanya Larasati. Kebenaran dua puluh tahun yang lalu. Suci, Fathan, Fatima, dan Aisyah mereka bersaudara, hanya saja lahir dari rahim yang berbeda tetapi dengan benih yang sama." ucap Khadijah, kali ini Khadijah sangat tegar dan tidak menangis.


Khadijah mulai bersikap dewasa dan bijak. Karena itu sebuah kesalahpahaman berujung aib suami yang harus ditutupi oleh istri.


"Apa kamu sudah tahu kebenarannya Khadijah? kalau mereka adalah bersaudara?" ucap Larasati cemas.


Larasati takut, bila Khadijah tidak bisa menerima kenyataan itu. Tidak bisa menerima Aisyah dan Suci sebagai bagian dari anak Tito Azam.


Prannngggg.....


Tiga gelas yang yang dibawa Aisyah pun terguling dan jatuh ke lantai. Pecahan gelas pun berserakan tak menentu arah. Suara Umi Khadijah dan Mama Larasati membuat Aisyah ayok dan terhuyung hingga menubruk tembok. Aisyah tidak menyangka dengan kebenaran ini.


"Apa!!!!! benarkah ini semua Umi Khadijah, mama Larasati??? benarkah kalian tidak membohongiku?" ucap Aisyah dengan histeris.


Umi Khadijah dan Mama Larasati pun kaget, karena pembicaraan mereka diketahui oleh Aisyah. Kedua wanita paruh baya itu pun bingung bagaimana harus memulai untuk menjelaskan kepada Aisyah tentang kebenaran ini.


--------------------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


__ADS_2