Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 104 KLARA NOVENA, HANYA SEBATAS KENAL


__ADS_3

"Zhein........... " panggil seorang wanita muslimah. Wanita itu menatap intens ke arah Zhein tanpa berkedip.


Suci menatap wanita itu penuh tanya, kemudian beralih menatap Zhein dengan tajam.


Zhein pun menoleh ke arah wanita muslimah itu.


"Maaf anda siapa?" ucap Zhein pelan sambil mengingat ingat wajah wanita di hadapannya.


"Kamu melupakan aku Zhein? Kamu yang menyuruhku untuk memakai pakaian seperti ini?" ucap wanita itu pelan.


Zhein terus saja mencoba mengingat-ingat.


"Aku Klara Novena. Kamu Ingat aku Zhein? kejadian lima tahun yang lalu?" ucap Klara dengan suara tegas.


"Astaghfirullah... Klara apa kabar? kenalkan ini istriku Suci. Sayang ini Klara, dia temanku." ucap Zhein menjelaskan dengan tegas.


"Suci.." ucap Suci pelan memperkenalkan namanya.


"Klara..." Ucap Klara dengan tegas.


"Maaf Klara, saya harus buru buru. Ayo sayang." ucap Zhein pelan sambil menggandeng tangan istrinya menuju ruangannya.


"Klara siapa Mas?" tanya Suci pelan. Mereka sudah berada di dalam ruangan Zhein.


"Nanti aku ceritakan Suci, Mas harus segera mengajar dulu. Kamu gak papa disini sendirian?" tanya Zhein pelan.


Zhein mendekati Suci dan membuka niqab istrinya, diusap pipi Suci dengan lembut. Lalu Wajahnya semakin mendekat ke wajah Suci, dan...... Cup...... Satu kecupan mendarat di bibir Suci, lalu Cup... kecupan kedua ternyata lebih dalam dan hanyut dalam perasaan.


"Jangan pernah berpikir yang tidak tidak tentang Mas, Suci. Biarkanlah mereka berbuat sesukanya, tapi cinta Mas hanya untuk kamu. Kamu mengerti?" tanya Zhein pelan.


Suci pun mengganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya Mas, aku mengerti. Cinta Suci untuk Mas selalu abadi." ucap Suci pelan.


Zhein pun mencium kening Suci dan memasangkan kembali niqabnya.


"Aku pergi dulu, semua keperluanku dan anak kita ada di tas kecil ini. Sudah aku siapkan susu dan cemilan. Ini ponselku kalau kamu bisa boleh main pakai ponsel ini." ucap Zhein pelan.


"Iya Mas, makasih ya." ucap Suci pelan.


Zhein pun meninggalkan ruangan kerjanya menuju kelas yang akan diajarnya. Semua mahasiswa telah masuk, Zhein pun masuk ke dalam kelas dan menutup pintunya.


"Perkenalkan, saya dosen baru disini. Aturan main saya selama berada di kelas harus memperhatikan, bila kedapatan mahasiswa tidak serius silahkan keluar dari kelas saya. Materi akan kita mulai dengan tema 1 tentang Adab dan Akhlak." ucap Zhein menjelaskan.


Satu jam Zhein menjelaskan kepada mahasiswanya dan pandangannya pun tertuju pada satu wanita yang duduk di paling belakang. Tatapannya menjadi dingin dan kecewa.


"Baiklah, kerjakan soal latihan setelah itu kumpulkan. Minggu depan kita presentasi siapkan kelompok untuk membahas Bab kedua tentang Ilmu Ikhlas." ucap Zhein dengan nada yang tegas.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, semua latihan dikumpulkan dan semua mahasiswa satu per satu bisa meninggalkan kelasnya.


Zhein pun sedang merapikan buku bukunya dan semua hasil latihan. Semua dibawa menuju ruangan kerjanya. Ditengah perjalanan menuju ruangan kerjanya, Klara menghampiri Zhein.


"Kamu menjadi dosen disini?" tanya Klara pelan.


"Jangan mengganggu hidupku Klara." ucap Zhein pelan.


"Kamu takut? istrimu akan mengetahui sebuah kebenaran?" ucap Klara mengejek Zhein.


"Aku tidak pernah takut, dan aku selalu jujur dengan istriku. Aku telah membantumu Klara." ucap Zhein pelan.


"Kamu memang membantuku Zhein, maka dari itu aku juga ingin memilikimu. Kamu ingat kamu selalu menginginkan wanita Sholehah dan itu sudah aku turuti." ucap Klara keras.


"Aku tidak ada urusan dengan kamu Klara. Jangan berubah demi aku tapi demi Allah SWT. Permisi." ucap Zhein ketus dan langsung pergi meninggalkan Klara yang masih terpaku dengan Zhein yang ketus dan cuek.


Berbeda dengan Zhein, lima tahun lalu yang Klara kenal. Zhein yang baik dan ramah serta penyayang.


"Sayang... Suci..?" panggil Zhein pelan.


"Door.... Kaget ya Mas, habis pipis." ucap Suci pelan. Kemudian duduk di sofa.


Zhein pun terdiam, pikirannya sudah macam macam mendapati istrinya tidak ada di ruangan kerjanya.


"Ya sayang aku takut kamu pergi." ucap Zhein dengan jujur.


"Tidak akan pernah sayang. Kamu lapar Suci?" tanya Zhein lembut sambil meletakkan buku buku dan latihan di dalam kelas tadi.


"Aku mau somay Mas. Di kantin ada gak? biar aku kesana sendiri." tanya Suci pelan.


"Sudah biar aku suruh OB membelikannya untuk kamu Suci, jangan pernah meninggalkan tempat ini tanpa aku." ucap Zhein dengan dan memerintah.


Zhein pun mengambil ponselnya dan menelepon OB untuk membelikan somay sesuai keinginan istrinya yang sedang mengidam.


"Baiklah Mas. Kenapa kamu se-khawatir itu denganku Mas?" tanya Suci pelan.


"Kamu sedang mengandung sayang, tentu aku khawatir." ucap Zhein menutupi kekhawatirannya.


"Kamu itu terlalu berlebihan Mas. Apa ini karena Klara?" tanya Suci menyelidik.


"Jangan sebut nama itu lagi Suci." ucap Zhein sedikit menyentak.


Suci pun bangkit berdiri, dan menghampiri Suaminya. Mengusap punggung Suaminya dengan penuh kelembutan.


"Maafkan aku Suci, bukan bermaksud untuk menyentakmu. Aku tidak ingin kamu kecewa Suci." ucap Zhein pelan.

__ADS_1


"Kamu mau menceritakan semuanya kepadamu agar aku tidak salah paham Mas?" tanya Suci pelan, dengan kecupan di pipi Zhein.


"Aku akan cerita. Bunda Jihan pun tahu masalah ini. Tapi ini sudah selesai lima tahun yang lalu, sewaktu Bima masih ada." ucap Zhein pelan.


"Aku percaya sayang. Aku percaya padamu bukan orang lain." ucap Suci pelan.


"Makasih sayang, nanti akan aku ceritakan semuanya." ucap Zhein sambil mencium tangan Suci dengan lembut.


"Assalamualaikum... Pak, ini pesanannya somaynya." ucap OB itu kepada Zhein.


"Waalaikumsalam... iya terima kasih." ucap Zhein seraya memberikan uang tip kepada OB tersebut.


Zhein pun membuka kotak makan itu dan menyodorkannya kepada Suci.


"Mau disuapi?" tanya Zhein lembut kepada istrinya.


"Kalau tidak merepotkan Pak dosen. Aku bersedia disuapi." ucap Suci merengek.


"Sini sayang, Mas pangku, lalu Mas suapi." ucap Zhein tersenyum.


Di lain tempat, Klara sedang mengatur strategi bersama temannya, bagaimana caranya agar Zhein bisa menjadi ayah dari anaknya.


Hidupnya hancur semenjak kejadian itu. Laki laki yang dia harapkan ternyata tidak pernah mencintainya. Pergaulan bebas membuatnya salah jalan, hingga tragedi itu datang.


Waktu sudah semakin sore, Zhein dan Suci akan beranjak pulang ke rumah.


"Ayok pulang, kamu lelah kan? besok lagi jangan ikut ya?" ucap Zhein lembut.


"Kalau aku gak ikut, Klara akan mendekatimu Mas." ucap Suci cemas.


Zhein pun hanya menghela nafas panjang.


"Aku tidak akan berselingkuh Suci. Kamu jangan berpikiran yang buruk tentang aku." ucap Zhein pelan.


"Aku ingin mendengar ceritamu Mas. Aku ingin segera sampai di rumah." ucap Suci pelan.


Tidak jauh dari tempatnya, ada kerumunan orang banyak. Zhein pun turun melihat apa yang terjadi.


"Ada apa Pak?" tanya Zhein pelan membelah kerumunan itu.


"Itu Pak ada orang ditusuk, tapi masih bernyawa. Harus segera dibawa ke rumah sakit." ucap salah seorang Bapak tua.


Zhein pun melihat orang itu dan terkejut.....


"Astaghfirullah....., bawa ke mobil saya cepat, jangan biarkan kehabisan darah." ucap Zhein panik.

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2