
Suci sudah mulai tenang dan matanya mulai terpejam. Tiba tiba rasa lelah menangis membuat rasa kantuknya pun muncul seketika. Zhein dengan sigap merebahkan Suci di tempat tidurnya. Wajahnya sedikit kusut matanya bengkak hingga susah untuk membuka matanya.
Zhein hanya mengusap perut Suci yang masih menegang, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terucap dari bibir manisnya.
Zhein pun keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar itu. Masih dengan posisi yang sama, semua orang menatap Zhein dengan penuh tanya. Apa yang terjadi dengan Suci?. Zhein pun seakan mengerti dengan maksud tatapan semua orang disana.
"Suci sudah lebih baik, dia sudah tenang dan tidak histeris lagi. Perlu waktu untuk menerima keadaan ini, terlebih posisinya Suci adalah orang terakhir yang mengetahui hal ini. Ini membuat tingkat kepercayaannya berkurang termasuk kepada saya. Tapi saya berusaha untuk selalu membantu Suci." ucap Zhein lembut menjelaskan detail tentang yang terjadi kepada Suci.
"Maafkan papa Leo, papa yang sudah membuat keadaan menjadi tidak kondusif seperti ini. Aku memang salah Laras, aku hanya memperalat kamu, agar aku mendapatkan harta dari kedua orang tuaku. Aku menyesal, sungguh sangat menyesal, ini adalah calon istriku. Kenalkan Wina." ucap Papa Leo pelan.
Wina adalah wanita sewaan yang bertugas untuk menjadi kekasih Leo. Keadaan Leo yang sedang terpuruk secara finansial tidak mungkin diumbar dan diketahui oleh Keluarga Atmojo. Leo harus terlihat baik baik saja, walaupun sebenarnya sudah menjadi gembel jalanan.
"Aku Wina, calon istri Leo. Salam kenal semuanya." ucap Wina dengan sopan. Pandangannya menatap satu per satu pria Single yang ada disampingnya. Mungkin setelah misi ini selesai, Wina akan menggoda pria kaya yang lain yang bisa memberinya uang yang sangat banyak.
"Aku kecewa denganmu Leo. Karena perbuatan bejatmu, aku harus menyakiti anakku sendiri. Jika aku mengetahuinya lebih awal, aku tidak mau menikah denganmu dan menjadi murtad bersamamu. Aku kehilangan segalanya karena kamu, cita citaku, masa depanku, keluarga kecilku, sepertinya aku tidak pantas bahagia." ucap Laras dengan lantang menunjukkan rasa kesal dan kecewanya kepada Leo.
"Hentikan Larasati, aku memang bejat, aku masih punya hati dengan membahagiakanmu dengan uang yang ku miliki, apa kamu lupa? bahkan kamu menikmati semua hartaku Larasati." ucap Leo yang tidak mau disalahkan.
"Tapi kalau ini tidak terjadi, kalau kamu tidak menjebak Tito anakku akan baik baik saja. Leo kamu memang jahat." ucap Larasati pelan, tangisannya kembali pecah mengingat kebodohannya dua puluh tahun silam.
"Sudah Larasati, ini semua masa lalu, mungkin takdir hidupmu seperti ini. Ini teguran untukmu Larasati atas perbuatan dosa yang kamu lakukan.' ucap Bowo menengahi masalah ini.
Umi Khadijah dan Tito Azzam pun masuk ke dalam rumah dengan segera karena mendengar suara ribut.
Tito hanya memandang sendu ke arah Larasati, biar bagaimanapun juga Larasati adalah cinta pertamanya, mungkin banyak orang yang tidak tahu. Hanya Bowo yang tahu persis perasaan sahabatnya ini kepada adik semata wayangnya.
Larasati sudah terduduk di lantai. Wajahnya menunduk, ada Bowo disampingnya. Mengusap bahu Larasati dengan lembut.
__ADS_1
"Semua sudah terjadi Larasati, saat ini fokuskan mengurus Suci dan cucumu yang akan lahir. Anggap ini sebagai penerus dosa dosamu." ucap Bowo pelan.
Larasati hanya terdiam tapi anggukan kecil mendalam setuju dengan pendapat Bowo Sang Kakak.
"Inilah perjalan hidup yang penuh teka teki dan semuanya hanya disekitaran kita. Lihat yang di alami menantuku, sama dia pun tertekan dengan keadaan ini. Sama seperti Suci dan Larasati yang menjadi korban disini. Mereka pasti lebih hancur, wajar bila meluapkan rasa kecewanya berubah jadi kebencian asal jangan berkepanjangan. Kami kesini untuk mengakui sebuah kesalahan dan kami bertanggungjawab atas kesalahan ini dengan menerima dan mengakui Suci sebagai anak dan cucu kami. Begitupun dengan Aisyah. Kalian memiliki banyak ibu dan Kakek, kami akan menerimanya dengan senang hati." ucap Kakek Furqon menjelaskan.
"Furqon, sejak dulu kamu selalu berjiwa besar menerima keadaan yang bahkan tidak sesuai harapanmu. Menerima takdir yang pahit yang harus kamu telan sendiri. Aku saja tidak bisa seperti itu. Berat menerima semuanya dengan lapang dada dan ikhlas." ucap Eyang Atmojo pelan.
"Bukankah aku selalu mengajarimu untuk menjadi orang yang ikhlas." ucap Kakek Furqon dengan senyum penuh kemenangan.
"Ya, Furqon." ucap Eyang Atmojo pelan.
"Maafkan aku juga Ibu Atmo. Tito banyak salah, tapi Tito hanya bisa mengakui dan bertanggung jawab untuk Suci, sedangkan untuk Larasati maafkan aku sudah mengecewakanmu." ucap Tito singkat.
"Laras, aku merestui bila kamu menikah dengan Tito. Kamu mau jadi istri kedua Mas Tito, Laras?" tanya Khadijah pelan.
Larasati hanya mendongakkan kepalanya kepada Khadijah. Sungguh mulia hati Khadijah, hingga memperbolehkan suaminya menikah lagi dengan alasan tanggung jawab.
"Mas, lihatlah dia Larasati cinta pertamamu, aku tahu Mas, kamu tidak bahagia dengan perjodohan ini. Kami terpaksa menjalani bersamaku, nyatanya kamu tidak pernah berubah demi aku, istrimu Mas." ucap Khadijah dengan suara seraknya.
"Cukup Khadijah, aku tidak mau mendengar apapun lagi. Aku mencintaimu Khadijah. Larasati itu masa lalu, dia bukan jodohku. Kamu jodohku Khadijah." ucap Tito menyakinkan istrinya.
"Tapi Larasati juga wanita Mas, lihatlah? apa dia kurang menarik untukmu walau kita sudah berusia tidak muda lagi?" tanya Khadijah.
"Apa yang ada di pikiranmu Khadijah, kamu menjajakan Suamimu sendiri untuk dijadikan suami sahabatmu. Aku yang sudah tidak waras atau kamu yang sedang sakit." ucap Tito mengejek dan tertawa lepas, pandangannya dihempaskan ke segala arah.
Khadijah pun berlutut dihadapan suaminya.
__ADS_1
"Demi aku Mas, jikalau kamu mencintaiku, menikahlah dengan Larasati. Aku rasa anak anak kita paham dengan hal ini." ucap Khadijah pelan.
"Maafkan aku Khadijah, aku tidak ingin ada wanita lain. Saya rasa persoalan ini sudah selesai. Saya mohon pamit semuanya." ucap Tito pelan dan meninggalkan Khadijah yang masih berlutut di lantai.
Tito meninggalkan Khadijah dengan begitu saja. Perasaan Tito sebagai laki laki pun sudah tidak dianggap. Disaat suami mempertahankan pernikahannya, ini malah istri menyuruhnya menikah kembali.
"Ibu Atmojo, Leo pamit pulang. Maafkan Leo, sudah banyak salah dengan Ibu atmo dan Larasati." ucap Leo pelan.
Leo pun mendekati Larasati yang masih duduk dilantai.
"Maafkan aku Larasati, bila semuanya harus berakhir seperti ini. Kamu wanita yang baik Laras, semoga kamu bisa mendapatkan suami yang lebih baik lagi dari aku" ucap leo lembut, tidak di pungkiri hidup bersama Larasati selama bertahun-tahun membuat Leo pun jatuh hati dengan pesona Larasati.
"Aku tidak akan menikah lagi Leo. Semua laki laki sama bejatnya. Benar kata Mas Bowo, aku akan fokus pada Suci dan kelahiran cucuku." ucap Larasati pelan.
"Itu terserah kamu Larasati, hak kamu untuk menikah lagi atau tidak toh Memang kita sudah bercerai. Aku pulang dulu Larasati, mungkin lain waktu aku akan menemuimu dan Suci dan Cucumu untuk sekedar memberikan selamat. Sampaikan salamku untuk Suci, aku tetap menyayangi Suci sebagai anakku sendiri." ucap Leo pelan.
Leo pun pergi meninggalkan rumah ibu Atmojo bersama Wina kekasih barunya.
Semua mata memandang pilu kepada dua wanita yang terduduk dilantai, ada Larasati dan Khadijah.
Zhein pun memapah tubuh Larasati untuk didudukkan dan disandarkan ke sofa.
Sedangkan Fathan memapah Umi Khadijah untuk duduk di kursi sebelahnya.
Semua orang terdiam, Bunda Jihan, Mama Kirana, Raina, Ameera, Aisyah dan Fatima hanya saling berpandangan.
Kakek Furqon dan Kakek Alvaro pun pamit untuk kembali pulang.
__ADS_1
Fathan, Baihaqi dan Reihan juga terdiam membisu.
JAZAKALLAH KHAIRAN