Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 109 PERMINTAAN LEO


__ADS_3

"Laras..... Larasati....." ucap Leo terbata bata dan semakin lirih.


"Ada apa Mas Leo? aku disini?" tanya Laras pelan, tatapannya lembut ke arah Leo.


"Doakan aku kepada Tuhanmu, agar aku sembuh, dan bisa bertobat. Aku menyesal dengan semua perbuatanku. Aku ingin menceritakan suatu rahasia, tapi aku ingin melihatmu Sholat Laras." ucap Leo lirih dan menitikkan air mata dari sudut matanya yang sedikit sipit.


"Baiklah... aku akan sholat dan mendoakanmu kepada Allah SWT agar kamu cepat sembuh Mas. Suci anak yang baik, dia pasti bisa menerimamu kembali apapun keadaanmu." ucap Larasati pelan.


Larasati menggelar sajadahnya dan mulai melaksanakan sholat Dzuhur. Bersujud dan bermunajat kepada Allah SWT dengan khusyuk seperti yang diajarkan Suci kepada dirinya.


Kedua tangannya ditengadahkan ke atas, memohon ampunan kepada Sang Pencipta, memohon kesembuhan untuk mantan suaminya. Seketika tangisannya pun luruh.


Leo sejak awal mengamati cara beribadah Laras, melakukan sholat dan bersujud hingga berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya. Diperhatikan satu per satu cara mantan istrinya beribadah dan berdoa kepada Tuhannya.


"Kenapa menangis Laras?" tanya Leo pelan, matanya menatap manik mata yang basah dan sembab milik mantan istrinya itu.


Larasati pun tersenyum tipis, matanya terlihat masih berkaca-kaca walaupun tetesan air matanya sudah dihapus dengan telapak tangannya.


"Aku tidak apa-apa Mas Leo. Mungkin aku terlalu terbawa suasana hatiku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu, untuk kesembuhanmu Mas Leo." ucap Larasati pelan.


"Maafkan aku selama ini sudah membuatmu bersedih, kecewa dan terluka. Mungkin ini balasan untukku Laras. Aku pantas mendapatkan ini semua. Bahkan aku tidak pernah berdoa dan bersyukur kepada Tuhanku atas semua yang telah aku miliki. Aku juga menceraikanmu karena keegoisanku padahal kamu begitu baik Laras. Keluarga besarku terutama mama dan papa begitu menyayangimu dan Suci. Sewaktu mereka mendengar Suci berpindah keyakinan dan mengetahui keberadaannya, mereka mereka kecewa, apalagi mendengar aku bercerai padamu mereka lebih kecewa dan terluka, hingga aku dibuang dan tidak diakui sebagai keturunannya karena aku seorang yang mandul." ucap Leo lirih dan terbata bata.


Larasati mendegarkan dengan seksama. Tidak ada satupun kata yang terlewatkan.


"Kamu harus semangat dan berusaha sembuh Mas. Buatlah hidupmu menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak orang." ucap Larasati dengan penuh semangat.


"Aku sudah jatuh miskin Laras, siapa yang mau berteman denganku. Melihat kepedulianmu dan Suci membuat aku tersadar apa artinya ketulusan dan keikhlasan. Mungkin Tuhanmu yang mengajarkan ini semua, membuat hati pun semakin damai dan tenteram. Aku bahagia masih bisa bertemu denganmu dan Suci. Setidaknya aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku disaat umurku sudah tidak panjang lagi." ucap Leo pelan.


"Apa yang kau katakan Mas Leo. Kamu pasti sembuh Mas. Jangan berpikiran buruk tentang Tuhan, Tuhan itu maha baik dan maha penyayang, pasti hambanya akan diberikan yang terbaik juga." ucap Larasati dengan histeris. Tangisannya mulai keras dan kencang hingga terdengar di seluruh penjuru kamar perawatan itu.


"Kalau Tuhan bilang yang terbaik untukku adalah kematian, aku harus siap Larasati." ucap Leo sangat lirih.


Tiba tiba saja dadanya terasa sakit, Leo pun sedikit berteriak dan merintih kesakitan. Larasati pun memencet bel di samping brankar Leo dan segera ke luar kamar perawatan untuk mencari bantuan agar segera memeriksa kondisi Leo.


Leo hanya menahan rasa sakit dan perih di dadanya, tangisannya pun luruh membasahi pipi hingga ke kasurnya.


"Mas Leo..... Mas..... kamu harus bertahan demi Suci Mas.... demi cucumu." ucap Larasati pelan, tangisannya sudah tidak terkontrol dan histeris sangat kencang.


"Larasss..... aku ingin sepertiiiiimuuuu." ucap Leo merintih.

__ADS_1


Larasati pun berlari menuju ruangan Dokter Dirga untuk membantunya. Di pikirannya hanya satu, yaitu menyelamatkan nyawa Leo.


"Dokter, tolong pasien Leo...." ucapannya terhenti karena sesak di dadanya hingga lehernya pun tercekat tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Dokter Dirga yang sedang menerima pasien pun langsung berlari kencang ke arah kamar perawatan Leo.


"Baiklah, Kita segera periksa. Suster bantu saya, cepat bawa peralatan." ucap Dokter Dirga dengan cemas.


Dengan segera Dokter Leo pun memeriksa keadaan Pak Leo, yang tiba tiba saja terkulai lemas.


Leo hanya memejamkan matanya menahan rintihan agar dadanya tidak sakit lagi. Sungguh sakit sekali, jantungnya terasa tertusuk.


Dokter Dirga mengamati mata Leo dan mengontrol tubuh Leo dengan baik.


"Pak Leo, anda harus bisa mengontrol emosi anda. Jangan sampai hal ini terulang lagi, ini bisa membuat nyawa anda melayang.


"Tadi Pak Leo menceritakan masalahnya Dokter, mungkin terbawa suasana hati hingga membuatnya menjadi seperti ini." ucap Larasati pelan.


"Harus dijaga emosinya Bu Laras, ini akan memperburuk keadaannya. Baiklah sepertinya sudah lebih baik, biarkan Pak Leo beristirahat dulu Bu Laras." ucap Dokter Dirga menasehati.


"Baiklah Dokter Terima kasih sudah memeriksa, maaf mengganggu pekerjaan Anda. Tadi saya benar benar cemas, panik dan takut Dokter." ucap Larasati pelan.


"Waalaikumsalam.... iya dokter terima kasih nasihatnya." jawab Larasati dengan pelan.


Ruangan yang sepi dan sunyi membuat Leo pun bisa tertidur dengan pulas dan nyenyak. Larasati masih setia di samping brankar itu, dan memperhatikan dengan seksama wajah lemah Leo, hingga buliran kristal itu pun turun kembali membasahi pipinya.


Zhein telah menyelesaikan dua jadwal kelasnya, mobil yang dikendarainya melaju dengan sangat cepat. Hatinya begitu cemas sejak lima jam yang lalu karena mendengar kabar buruk tentang Suci. Bibirnya terus bersholawat dan berdoa yang terbaik untuk istri dan anak yang masih dalam kandungan.


Mobil sudah masuk ke area parkiran Rumah Sakit. Dengan segera mungkin Zhein turun dan berlari masuk ke dalam Rumah Sakit.


Zhein pun berlari menyusuri lorong Rumah Sakit dengan cepat. Menurut informasi Sang Bunda, Suci sudah dipindahkan ke ruang perawatan di dekat ruang papa Leo. Suci sudah sadar dan kondisinya sudah lebih baik.


"Assalamualaikum... Bunda, bagaimana keadaan Suci." tanya Zhein dengan penuh kecemasan.


"Waalaikumsalam... Mas... Bunda sedang istirahat." ucap Suci dengan lembut menunjuk arah Bunda yang tertidur pulas di sofa. Tangannya meraih punggung tangan Zhein untuk dicium.


"Sayang... kamu tidak apa-apa kan? sebenarnya ada apa? tolong ceritakan pada Mas?." ucap Zhein lembut. Kecupan pada kening Suci membuat Suci makin bersemangat lagi untuk sembuh.


"Mas... umur papa Leo tidak akan lama lagi. Itu yang dikatakan oleh Dokter. Dua tusukan yang mengenai jantung dan lambung itu memperparah keadaan papa Leo." ucap Suci pelan

__ADS_1


Tangan Zhein mengusap lembut di pucuk kepala Suci, dan satu tangannya mengusap perut Suci.


"Lalu...." tanya Zhein kemudian, sambil menatap lembut ke arah Suci.


"Aku ingin menemaninya disini. Boleh Mas?" ucap Suci pelan.


Permintaan yang sangat sulit, tapi di sisi lain, ada nyawa yang harus Zhein jaga.


"Sayang, bukan aku tidak memperbolehkan kamu menjaga Pap Leo tapi...." ucapan Zhein berhenti, telunjuk Suci sudah menutup bibir Zhein untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Hanya malam ini saja. Aku ingin mengaji untuk Papa Leo." ucap Suci pelan.


"Kamu gak lelah? kalau hanya semalam aku ijinkan, selebihnya biar Mama Laras yang menjaga Papa Leo." ucap Zhein dengan lembut.


"Iya Mas.... makasih sudah memberikan ijin untuk Suci." ucap Suci pelan.


"Karena aku ingin kamu bahagia Suci. Aku mencintaimu." ucap Zhein lirih tepat di dekat telinga Suci dan mengecup pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ekhhmmmmm..... " Bunda Jihan berdehem pelan.


Zhein pun menoleh dan menghampiri Bunda Jihan untuk mencium tangan Bundanya.


"Bunda mengagetkan saja." ucap Zhein pelan.


"Mesranya selalu tidak tepat, Zhein. Disini ada Bunda." ucap Bunda pelan.


"Iya Bunda... maafkan Zhein" ucap Zhein pelan.


"Suci bagaimana? sudah lebih baik?." ucap Bunda lembut.


"Sudah Bunda, Suci ingin ke papa Leo. Bisa bantu Suci, Mas?" tanya Suci pelan


"Naik kursi roda ya sayang, jangan jalan." ucap Zhein pelan.


"Iya Mas...." ucap Suci pelan.


Suci pun berada di kursi roda dan didorong menuju kamar perawatan Papa Leo oleh Zhein.


JAZAKALLAH KHAIRAN

__ADS_1


__ADS_2