
Hidup di dunia itu hanya sementara, jadikan hidupmu lebih bermanfaat dan berkualitas. Bukan sekedar menikmati hidup saja, tetapi bagaimana menikmati hidup dengan bersyukur.
Keikhlasan, ketulusan dan kesabaran akan selalu menjadi satu kesatuan. Karena ujian dan cobaan akan membutuhkan ketiganya. Kesempurnaan itu milik Allah SWT, setidaknya kita bisa melakukannya dengan maksimal tanpa mengeluh dan menyerah.
Suci masih larut dalam tangis kebahagiaan. Tanpa di duga Sang Ayah sambung mau mengucap dua kalimat syahadat atas keinginannya sendiri. Akhirnya hidayah itu benar-benar datang kepada Sang Ayah sambung. Doa Suci selama ini untuk membawa kedua orang tuanya menuju Jannah pun bisa terlaksana.
Tampak Zhein pun sedang memperkenalkan Allah SWT dan mengenalkan Islam kepada Papa Leo. Suci sendiri sedang beristirahat menyandarkan pinggangnya yang mulai terasa pegal di sofa kamar perawatan tersebut.
Papa Leo tampak antusias memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Zhein. Beberapa kali ikut melafalkan surat surat pendek, dan mengajari untuk sholat. Sedikit demi sedikit pun Papa bisa melakukannya dengan baik, walaupun masih ada kekeliruan, masih butuh perbaikan.
"Mas Zhein?... Suci lapar, mau makan bakso boleh?" tanya Suci pelan kepada Zhein.
Zhein pun menoleh ke arah Suci dan tersenyum mengangguk.
"Sebentar ya sayang. Mas masih mengajari Papa Leo, sedikit lagi." ucap Zhein lembut.
"Sabar ya Suci, sebentar takut Papa lupa lagi, minimal Papa bisa menghafal dua surat pendek." ucap Papa Leo pelan dan mengiba.
"Iya Pah, gak papa. Selesaikan dulu, ini masih ada cemilan juga." ucap Suci pelan.
Setengah jam kemudian terdengar Adzan Maghrib berkumandang. Zhein pun segera menghampiri Suci yang nampak tertidur dengan pulas.
"Sayang, bangun sudah maghrib, mau ikut sholat Maghrib? kamu tayamum aja. Infusanmu belum dilepas, sholat sambil duduk saja gak papa. Papa Leo juga akan ikut sholat Maghrib berjamaah. Setelah ini Mas belikan bakso. Gak papa ya terlambat." ucap Zhein dengan lembut, tangannya mengusap perut Suci agar Sang anak bisa mengerti.
Suci pun terbangun karena sentuhan halus dan lembut di perut buncitnya. Kedua matanya terasa berat tapi berusaha membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya agar sadar.
"Iya Mas, Suci akan tanyamum dan ikut sholat Maghrib berjamaah." ucap Suci pelan.
"Mas mau wudhu dan menyiapkan peralatan sholat dulu." ucap Zhein pelan.
"Mas.. Maafkan Suci gak bisa melayani menyiapkan kebutuhanmu." ucap Suci lembut.
__ADS_1
"Kamu selalu berada di sampingku saja. Aku sudah sangat senang sayang. Yang penting kamu cepat sembuh, dan sehat lagi, gak banyak pikiran, dan selalu bahagia." ucap Zhein penuh kelembutan.
"Terima kasih Mas, sudah menjadi Suami Suci, suami pilihan dari Allah SWT untuk Suci. Entah hatimu terbuat dari apa Mas? kamu bisa se-sabar itu menghadapi aku dan masalah keluargaku." ucap Suci penuh ketulusan.
"Aku mencintai karena Allah, makanya semua Mas pasrahkan kepada Allah SWT. Mas wudhu dulu, nanti terlambat." ucap Zhein pelan.
Zhein pun bangkit berdiri dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Kemudian keluar dan menghampiri Papa Leo untuk menjelaskan tentang tata cara sholat Maghrib dan tayamum. Zhein seorang laki laki penyabar, dalam menjelaskan pun terlihat detail dan telaten, wajahnya tetap tersenyum walaupun masih ada kesalahan yang dilakukan Papa Leo. Setelah dirasa paham dan mengerti Zhein pun mengambil peralatan sholatnya dan menggelar sajadah, memakai kain sarung dan kopeah kesukaannya.
"Sudah Siap, kita berniat dulu untuk sholat Maghrib." ucap Zhein menitah.
"Siap." jawab Suci dan Papa Leo serempak.
Mereka bertiga melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, Zhein sebagai imam, Suci dan Pap Leo sebagai makmum. Ini menjadi moment tersendiri bagi Pak Leo, yang baru pertama kali melaksanakan sholat. Beliau hanya mengikuti apa yang sudah diarahkan dan dicontohkan oleh Zhein tadi.
Bulir kristal itu membasahi pipinya, ada perasaan senang dan bahagia, tapi juga perasaan penyesalan dan kecewa, serta rasa sakit yang semakin terasa. Papa Leo berusaha bertahan hingga bisa melaksanakan sholat Maghrib Samapi selesai tanpa hambatan. Minimal telah menjadi seorang muslim yang sempurna, karena telah berusaha melaksanakan sholat.
Dada Papa Leo semakin sesak dan nafasnya mulai tidak beraturan, lambungnya tiba tiba saja terasa perih dan sakit seperti ditusuk-tusuk. Sholat Maghrib masih satu raka'at lagi, Papa Leo berusaha keras bisa menyelesaikan dengan khusyuk walaupun sakit semakin terasa dan menyiksa tubuhnya. Dalam hati, ia berdoa, bila malam ini menjadi malam terakhir maka jadikanlah ia hamba Allah yang meninggal dengan Husnul Khotimah. Semuanya telah dipasrahkan kepada Allah SWT. Sesuai yang diajarkan oleh Zhein menantunya. Pasrahkan semuanya seluruh jiwa dan raga kita kepada Allah SWT, jadikanlah kita hamba yang selalu taat dan tawaduk hanya kepada Allah SWT.
"Ya Allah Engkaulah Maha Penyembuh, Maha Pengampun dan juga Maha Pengasih. Tunjukkan kebesaranMu atas ijinmu Ya Allah. Bukakan pintu kesembuhan bagi Papa Leo atau berikan yang terbaik untuknya. Aamiin." lirih dalam hati Zhein.
Zhein pun menyelesaikan Sholat Maghribnya dengan mengucapkan salam. Sayup-sayup terdengar suara rintihan yang sangat lirih, seperti sedang ditahan. Zhein pun bangkit berdiri dan berlari menuju brankar. Begitupun Suci yang sedang mengucapkan salam tersentak melihat Papa Leo terbaring dengan nafas tersengal. Zhein pun langsung memencet bel tanda darurat dari kamar perawatan itu.
Suci tertatih-tatih membawa tiang infusan berjalan menuju brankar Papa Leo. Saking bingung, cemas dan panik, Zhein pun tidak memperhatikan Suci yang membutuhkan bantuan.
"Masya Allah sayang, sini duduk disini." ucap Zhein sambil menarik kursi untuk Suci duduk.
"Papah...... papah kenapa Pah.... Papa jangan tinggalkan Suci Pah." ucap Suci yang sudah histeris melihat keadaan dan kondisi Papa Leo seperti dalam keadaan sakratul maut.
"Papah... ti.... dak... ku.....at... Zhe...inn...to...long... pa...pa...." ucap Papa Leo terbata bata dan sangat lirih. Suaranya hampir tidak terdengar lagi.
Zhein pun memegang kedua tangan Papa Leo dan mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
"Ikuti Zhein Pah.... tolong ikuti kata kata Zhein.... kalau Papa sudah tidak kuat dan Papa sudah ikhlas, kami pun akan mengikhlaskan Papa..... Ikuti Zhein ya Pah. ’laa ilaha illallah’. Ayo Pah ikuti Zhein." ucap Zhein dengan lembut mengucapkan tepat di telinga Papa Leo dengan pelan.
Papa Leo pun tersenyum dan mencoba mengikuti apa yang di ucapkan Zhein.
" ’laa ilaha illallah’.” ucap Papa Leo dengan sangat lirih dan terbata bata. Hanya gerak bibirnya saja yang masih bisa terlihat jelas mengucap kata kaya itu.
"Papah....... bangun Papa..... jangan tinggalkan Suci papa.....!!!" teriak suci dengan histeris.
Ucapan terakhir dari Papa Leo pun mengakhiri semua yang ada di dunia. Nafasnya pun langsung berhenti begitu juga detak jantungnya pun sudah tidak terdeteksi lagi dengan alat bantu. Leo pun meninggal dunia dengan tenang dan bahagia. Semua penyesalannya sudah terbayarkan, semua kecewanya sudah terluapkan. Dan semua yang terjadi pun atas ijin Allah SWT.
Masalahnya pun sudah terkuak dengan pengakuannya.
Selamat Tinggal Papa Leo semoga Husnul Khotimah.
Dokter Dirga pun berlari dengan cepat menuju Kamar Leo. Hanya suara tangis histeris dan jeritan kecil yang terdengar di ruangan itu. Zhein memeluk istrinya dan menenangkannya dalam dekapan di dada.
Dokter Dirga pun sibuk memberikan nafas bantuan, tapi nihil semua nihil, Allah SWT sudah berkehendak lain.
"Maafkan Saya, Bu Suci, Pak Zhein. Pak Leo sudah dinyatakan meninggal dunia." ucap Dokter Dirga pelan.
"Papah......... " teriak Suci sambil berlari ke arah jenazah Papa Leo yang sudah di tutup dengan kain putih.
Tangisannya pecah seketika, jeritnya kecil tapi sungguh menyayat hati yang mendengarnya. Rintihan suara hati seorang anak yang di tinggalkan selamanya oleh Papanya.
"Papahhhhhhh....... " jerit Suci.
Zhein pun menarik tubuh Suci, dan memeluknya erat. Hatinya terasa sakit melihat se-histeris ini istrinya ditinggalkan oleh Papa Leo, yang hanya Papa sambungnya.
"Papa sudah tenang bersama Allah SWT. Kamu harus ikhlas sayang. Jangan menangis lagi, kasihan anak kita. Aku mencintaimu Humairahku..." ucap Zhein lembut mengecup pucuk kepalanya Suci berkali-kali.
Suci masih sesegukan di dalam dekapan Zhein. Hatinya baru saja senang dan bahagia, tapi takdir berkata lain. Memang semua kehendak Allah SWT, semua rencana Allah SWT. Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berharap lewat do'a yang dimunajatkan.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN