
Jangan lupa like, komentar dan VOTENYA, biar semangat terus nih menebarkan kebaikan kebaikan.
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Sejak selesai Shubuh Zhein dan Suci sudah berkemas rapi dan sudah bersiap siap untuk berangkat menuju Kairo.
"Sayang makan dulu, terus minum obat dan vitaminnya, perjalanan ini cukup lama takutnya kamu lelah atau jenuh." ucap Zhein lembut.
"Iya mas, setelah ini Suci makan dulu, Suci juga udah siapin cemilan buat dijalan. Lagi pula Suci gak bakalan jenuh kan ada Mas Zhein disamping Suci, tinggal nyubit pipinya yang bikin gemes ini, pasti jenuhnya hilang." ucap Suci terkekeh.
"Mulai nih ya, godain lagi ya, awas nanti sampai di Kairo, dikurung di apartemen." ucap Zhein pelan.
"Gak papa dikurung Abinya ini, lagi pula di negara orang, Suci kan gak tau apa apa mas." ucap Suci melemah.
"Ayok kita berangkat, nanti terlambat." ucap Zhein pelan sambil membawa barang barangnya ke luar kamar.
"Makan dulu sayang, peswatnya jam 11 kan, ini baru jam 7 pagi Zhein, jangan buat Suci panik, dia lagi hamil gak baik nanti jadi stres. Ayo makan dulu Suci, bunda sudah buat nasi goreng dan ayam goreng kesukaanmu." ucap bunda lembut.
"Suci ini bawa sayang buat bekal, mama buat sandwich, masukin di tas mu ya sayang, takut lupa dimakan. Itu buat cucu mama. Sudah diminum obat dan vitaminnya." ucap mama Larasati.
"Suci makan dulu mama, baru minum obat sama vitamin. Aisyah mana mama." ucap Suci pelan.
"Lagi menyiram tanaman di depan. Zhein kemana kok belum sarapan?" ucap bunda Jihan.
"Lagi masukin barang ke mobil bunda, takut ada yang tertinggal bunda. Bunda dan mama baik baik dirumah. Maafin mama ya bunda ngerepotin untuk tinggal disini, tambah lagi Aisyah." ucap Suci pelan.
"Sayang, kamu anak bunda, mamamu besan bunda, jangan kamu risaukan sayang, satu hal yang mau bunda katakan kepadamu. Lebih baik Aisyah jangan tinggal disini, tidak baik untuk rumah tanggamu. Lebih baik dia kos dekat butik Suci." ucap bunda pelan.
"Kenap bunda, bunda kurang suka dengan Aisyah?" ucap Suci berhati hati.
"Bukan begitu. Dia itu masih gadis, sedangkan kalian sudah berumah tangga. Ada baiknya tidak satu rumah, kan Aisyah hanya teman bukan adikmu Suci. Itu maksud bunda, jangan salah paham ya Nak." ucap bunda pelan.
"Iya bunda, nanti biar aku telepon Aisyah, bila aku sudah di Kairo. Untuk saat ini, Suci tidak enak bunda." ucap Suci lembut.
"Iya sayang, Bunda mengerti. Habiskan ya Nak, bunda bukakan obat dan vitaminnya langsung diminum biar bayinya sehat." ucap bunda yang sumringah mendengar kata cucu.
__ADS_1
"Terima kasihnya bunda dan mama, aku sayang kalian semua." ucap Suci.
"Mas gak ikut dipeluk sayang, gak rindu?" ucap Zhein terkekeh.
"Mas Zhein makan dulu jangan mikirin peluk peluk aja. Ini sayang sudah Suci ambilkan." ucap Suci.
Perjalanan menuju bandara hanya sekitar satu jam, tapi karena jalanan padat dan ramai, dua jam baru sampai. Mereka kemudian berpamitan dan berjalan menuju pesawat.
"Hati hati sayang jaga kandunganmu, banyak makan dan istirahat, Zhein jaga istrimu jangan sampai bunda dengar terjadi sesuatu dengan Suci." ucap bunda tegas.
"Siap bunda laksanakan." ucap Zhein dengan senyum yang menampilkan lesung pipinya.
"Sayang, jangan lupa periksa kandunganmu, banyak makan terutama buah, sayur dan susu. Obat dan vitaminnya juga ya Nak. We Love you." ucap mama Larasati menasehati.
"Semuanya Zhein dan Suci berangkat dulu, assalamualaikum." ucap Zhein sambil mencium punggung tangan kedua ibunya dan diikuti Suci.
"Waalaikumsalam, kabari bunda bila sudah sampai." ucap bunda Jihan mulai terisak.
Zhein pun menggandeng Suci berjalan menuju pesawat.
Mereka berdua sudah duduk di kursinya masing-masing. Suci duduk dekat laki laki berjaket kulit cokelat matanya terpejam ditutupi oleh kain sorban berwarna merah. Sedangkan Zhein duduk di sebelah laki laki yang juga berjaket kulit berwarna hitam, ada tato di lehernya membuat orang tersebut terlihat seram.
"Sayang kamu kenapa? makan dulu ya, kamu harus sering makan biar gak mual." ucap Zhein lembut sambil mengelus kepala Suci yang disandarkan di bahu Zhein.
"Aku gak papa, ada sandwich di tas dari mama tapi aku lagi gak pengen, pengen mangga muda, atau buah gitu pengen yang asem asem." ucap Suci pelan.
"Mas tanya dulu ke petugasnya ya, sekalian mau ke toilet sebentar. Kamu disini senderan kursi, ini bantal kecilnya." ucap Zhein lembut.
Zhein pun beranjak dari duduknya menuju petugas untuk memesan makanan keinginan istrinya itu, kemudian ke toilet.
"Assalamualaikum Suci.." ucap laki laki yang sejak tadi tertutup sorban merah. Ia mulai duduk tegak dan menyapa Suci dengan senyum.
"Waalaikumsalam,.." ucap Suci menoleh arah suara dan duduk tegak dikursinya.
"Kita bertemu lagi, walau kamu sudah menjadi istri orang, kaget melihatku?" ucap pria itu.
"Mas Fathan?" ucap Suci sedikit tergagap.
__ADS_1
"Tujuan kita sama? Kita akan masih bisa bertemu disana." ucap Fathan dengan senyum.
Beberapa hari ini Fathan sedang dibebani masalah yang luar biasa sulit. Hatinya kembali kecewa melihat Suci satu pesawat dengannya untuk tujuan yang sama.
"Suci sayang, kenapa kok kamu seperti tegang melihat jendela. Maaf hanya ada apel dan pear tidak apa ya. Nanti kalau sudah sampai kita beli mangga muda." ucap Zhein yang sudah duduk kembali dikursinya dengan membawa potongan buah.
"Iya mas terima kasih." ucap Suci menatap Zhein dan menyandarkan kembali kepalanya ke bahu Zhein.
Maafkan aku mas, bukan aku menutupi atau tidak mengenalkanmu pada mas Fathan. Aku sendiri ingin melupakan dan menguburnya. Tapi kenapa semesta malah mempertemukan aku kembali dengannya.
"Kok gak dimakan, mau disuapin sayang, kasihan anaknya nanti. Suapin ya, buka mulutnya." ucap Zhein lembut dan memanjakan Suci.
Fathan yang duduk disebelahnya pun melirik interaksi kedua pasangan itu. Ada rasa iri dan kesal. Tapi ini kenyataannya Suci sudah menjadi milik orang lain. Aku harus bisa kuat seperti Umi, kuat dan ikhlas menerima kenyataan walaupun pahit. Aku akan berusaha melupakanmu Suci, walaupun itu sangat berat.
"Assalamualaikum, mas tujuan Kairo juga? sekolah atau bisnis? ucap Zhein menyapa Fathan.
"Waalaikumsalam, saya masih study. Anda tuan?" ucap Fathan.
"Panggil saya Zhein, saya juga masih study semester akhir di xxx." ucap Zhein mantap.
"Kita sama, semester akhir di xxx, saya jurusan xx, kamu zhein?" ucap Fathan pelan.
"Saya jurusan xx, kenalkan ini istriku Suci." ucap Zhein mengenalkan.
"Istri kamu terlihat pucat. Kenapa sakit?" ucap Fathan sedikit cemas. Kali ini ia harus berdamai dengan dirinya agar kesempatan baik ini tidak hilang begitu saja.
"Istriku sedang hamil, mungkin efek hormonnya dan mual." ucap Zhein pelan.
"Ohh hamil ya... selamat ya Zhein. Semoga selalu bahagia." ucap Fathan tersenyum kecut.
Nama Fathan seperti tidak asing. Apa iya dia? mungkin saja Fathan yang lain, aku tidak boleh berburuk sangka pada istriku sendiri.
----------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚