Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 110 KESUCIAN SYAHADAT


__ADS_3

Sudah tepat berada di depan kamar perawatan Papa Leo. Zhein, Suci dan Bunda Jihan pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan mengucap salam.


"Assalamualaikum.... Papa..." ucap Suci menuju samping brankar papanya.


"Waalaikumsalam.... Anakku Suci, apakah kamu baik baik saja?" ucap Papa Leo dengan lembut


Suci pun terkejut dengan balasan salam yang keluar dari mulut Papa Leo.


"Papa menjawab salamku?" ucap Suci pelan.


"Iya Suci. Apa ada yang salah?" ucap Papa Leo lirih.


Kondisi Papa Leo semakin memburuk, hari ini saja hanya masuk dua sendok bubur.


"Tidak ada yang salah Papa. Suci bahkan senang mendengarnya." ucap Suci pelan.


Papa Leo hanya tersenyum tipis, bahagia bisa diantara orang-orang yang disayangi.


"Suci, Mama dan Bunda pulang dulu, nanti sore kesini lagi. Mama lelah sayang." ucap Mama Larasati pelan.


"Iya Mama silahkan. Ada Mas Zhein yang nemenin Suci. Mama dan Bunda jangan khawatir ya." ucap Suci pelan.


"Pasti Sayang, kalau bodyguardnya sudah datang Bunda tenang." ucap Bunda Jihan terkekeh.


"Bunda, selalu mengejek Zhein." ucap Zhein dengan raut wajah kesal.


"Mas Zhein, Bunda juga kan bercanda." ucap Suci mengingatkan.


"Iya Suci, Mas juga tahu." ucap Zhein pelan. Senyumnya dipaksakan.


Kedua ibu itu pun melenggang ke luar kamar perawatan untuk pulang ke rumah. Suci masih setia menemani Papa leo di sisi brankar. Sedangkan Zhein sedang melaksanakan sholat ashar kemudian dilanjutkan membaca Al Qur'an yang dibawa dari dalam mobil.


Lantunan ayat-ayat Suci Al-Quran mengalun hingga membuat hati yang mendengarnya menjadi damai, Nyaman dan tenteram. Begitu pula yang dirasakan oleh Papa Leo. Sedikit demi sedikit Papa Leo juga ikut menyimak bacaan Al Qur'an tersebut.


"Suamimu pintar sekali mengajinya? Suaranya begitu indah, masuk ke dalam sanubari papa." ucap Papa Leo pelan di sela sela mendengarkan bacaan tersebut.


"Suci juga bisa karena Mas Zhein yang mengajarkan." ucap Suci pelan, memuji Suaminya di depan papa Leo.


"Kalau sudah selesai, Papa ingin bicara pada Zhein suamimu. Ada hal yang ingin papa minta selain untuk menjagamu, cucu papa dan Mama Larasati." ucap Papa Leo pelan.


"Iya Papa. Sebentar lagi Mas Zhein selesai. Papa boleh bicara apapun dengan Mas Zhein." ucap Suci pelan.


"Waktu Papa tidak banyak Suci. Papa ingin memberikan yang terbaik untuk Kamu Suci, untuk anakmu dan untuk Mama Larasati. Walaupun semuanya sudah tidak bisa diulang kembali, setidaknya apa yang Papa minta kepada Zhein bisa memberikan kesempurnaan bagi Papa." ucap Papa Leo pelan.


Papa Leo pun kembali terdiam mengamati langit langit atap. Hidupnya yang entah tinggal berapa lama lagi. Tapi memang Papa Leo sudah tidak kuat menahan sakit di dadanya dan di lambungnya.

__ADS_1


Zhein telah selesai melaksanakan sholat ashar, kemudian merapikan peralatan sholatnya dan duduk di pinggir brankar itu, menemani istrinya dan Papa Leo.


"Suaramu begitu indah Zhein, kamu melantunkan semuanya dengan baik. Tuhanmu pasti bangga kepadamu?" ucap Papa Leo tersenyum.


"Tuhanku adalah Allah SWT. Dia Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang lagi Maha Pengampun." ucap Zhein dengan tenang.


"Papa bangga memiliki membatu sepertimu. Maafkan Papa bila Papa harus bersikap jahat dan egois sehingga membuat kalian semua kecewa terhadap Papa." ucap Papa Leo pelan.


"Papa tidak jahat, mungkin saat itu Papa belum mengenal Zhein dengan baik. Seorang Papa pasti akan melindungi anak perempuan agar tidak dijaga oleh orang yang salah." ucap Zhein pelan.


Tangan Papa Leo memegang kedua tangan anak dan menantunya itu. Kemudian Pak Leo melanjutkan lagi pembicaraannya.


"Ini karma dari dosa Papa. Zhein dan Suci kalian harus selalu rukun dan saling mengasihi. Tentu Tuhan kalian mengajarkan kalian yang baik baik hingga kalian pun menjadi orang yang baik dan peduli dengan sesama." ucap Papa Leo pelan.


"Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik Papa." ucap Zhein pelan.


"Boleh Papa mengenal Tuhanmu?" ucap Papa lirih. Kedua matanya menatap tajam ke arah Zhein meminta jawaban.


Zhein pun tersentak dengan ucapan Papa Leo. Ingin mengenal Tuhanmu berati Papa ingin mengenal Allah SWT. Apakah ini nyata, seorang Papa Leo yang notabene seorang Kristiani fanatik ingin menjadi seorang muslim.


"Papa... apakah Zhein tidak salah mendengar?" tanya Zhein kemudian.


Papa Leo hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa menurutmu seorang Papa ini, seorang pembohong? pengecut?" tanya Papa Leo pelan kepada Zhein.


"Karena aku Kristiani fanatik? aku tidak pantas menjadi bagianmu dan mengenal Tuhanmu?? betul begitu..... awhhhh..." teriak Papa Leo.


"Papa.... sudah ....Papa masih sakit. Papa harus jaga kondisi ban Papa. Suci tidak ingin kehilanganmu Papa." ucap Suci terisak.


"Suci, sayangnya Papa. Papa hanya ingin bisa bersamamu di Surga. Mungkin hanya ini cara satu satunya Papa Bertobat dan mengakui semua kesalahan Papa." ucap Papa Leo lirih.


"Tapi Pah..... " ucap Suci pelan.


"Ini permintaan terakhir Papa Suci, bantu Papa agar rasa bersalah Papa pun bisa berkurang. Papa hanya memilikimu dan Mama Larasati." ucap Papa Leo menangis.


Papa Leo sudah pasrah dengan semuanya. Hidup dan matinya semua diserahkan kepada Tuhannya. Hanya ucapan Maaf dan penyesalan yang teramat dalam membuat Papa Leo tersadar bahwa hidup ini adalah fatamorgana, semua itu hanyalah titipan, termasuk jiwa kita didalam tubuh ini hanya titipan. Jadilah jiwa yang baik dan beriman kepada Allah SWT.


"Papa boleh Zhein bertanya, apa ynag membuat Papa Leo ingin mengenal Tuhanku yaitu Allah SWT?" ucap Zhein pelan, kedua manik mata pria itu bertemu.


"Papa ingin selalu dekat dengan Suci dan Larasati. Mereka tulus mencintai dan menyayangi Papa. Bukan karena raga ataupun harta yang Papa miliki. Berbeda dengan teman teman Papa yang lain, yang mendekati Papa hanya karena uang. Nyatanya di saat Papa bangkrut tidak ada satupun diantara mereka yang menolong Papa dari keterpurukan ini. Yang ada mereka membalaskan dendamnya di saat Papa sudah tidak berdaya." ucap Papa semakin terbata bata.


"Papa tahu, pelakunya siapa? dan motifnya apa?" tanya Zhein menyelidik. Tidak lupa Zhein merekam semua pembicaraannya dengan Papa Leo sejak tadi.


"Akan ku ceritakan kepadamu Zhein, aku yakin aku amanah. Aku memiliki musuh dalam selimut tidak lain adalah sepupuku sendiri. Namanya Lukas dia adik sepupuku sendiri. Usahanya bangkrut semenjak kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Lukas menikah dengan seorang wanita penghibur club bernama Rachel. Pernikahannya tidak disetujui alasannya karena Rachel hanya menginginkan harta Lukas. Mereka memiliki anak bernama Klara Novena. Mereka membuka club malam terbesar di kota ini dengan hasil menjual narkoba. Akhirnya mereka bangkrut, Rachel meninggalkan Lukas dan Klara. Sedangkan Rachel menikah lagi dengan pria hidung belang. Hingga suatu hari Lukas dan Klara datang untuk meminjam uang, namun tidak diberi oleh kedua orang tuaku, alasannya Lukas telah membangkang, saat itu Lukas akan dijodohkan dengan anak pengusaha batu bara di pulau sebelah. Orang tuaku murka dan mengusir mereka." ucap Papa leo mengingat kejadian itu sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Lalu Pah?" tanya Zhein penasaran. Karena ada nama Klara Novena disana.


"Secara tidak sengaja, orang tua papa mendorong Lukas hingga terluka dan meninggal. Sejak saat itu, informasi yang Papa dengar Klara Novena menjadi wanita simpanan seorang Bos Narkoba, dan berencana membunuh seluruh keluarga Papa untuk balas dendam." ucap Papa Leo menangis.


"Yang menusuk, Klara Novena?" yg Naya zhein pelan.


"Betul Zhein, dia mengincar nyawa Papa." ucap Papa Leo pelan.


"Pah ....Zhein akan membantu Papa." ucap Zhein lembut.


"Lupakan Zhein, biarkanlah. Semua sudah terjadi, Papa belajar ikhlas seperti Suci. Papa hanya ingin mengenal Tuhanmu Zhein. Papa ingin bersama kalian, kalau tidak bisa di dunia mungkin di akhirat kita bisa bertemu." ucap Papa Leo pelan dan mulai merintih kesakitan.


"Papa...... papa..... ini Suci lah.... Papa kenapa? Suci panggilkan Dokter Dirga ya Lah?" ucap Suci pelan.


Papa Leo mendaratkan telunjuknya tepat di bibir Suci.


"Jangan katakan itu, jangan panggil Dokter. Papa ingin mengenal.... Allah SWT..... bisa kamu menuntunku Zhein?" ucap Papa Leo pelan.


"Papa sudah siap? untuk bersyahadat dan mengenal Allah SWT." ucap Zhein pelan.


"Papa .... sudah siap Zhein. Syahadat ini bisa membersihkan dosa dosa ku Zhein?" tanya Papa Leo lirih.


"Papa akan menjadi manusia yang Suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan setelah bersyahadat. Maka itulah makna dari KESUCIAN SYAHADAT." ucap Zhein pelan.


"Bantu Papa, Zhein. Agar Papa bisa bersyahadat. Ajari Papa Zhein." ucap Papa Leo lirih dan serak. Tangisannya begitu tulus, isakannya terdengar sangat lirih.


"Ikuti Zhein ya Pah.... pelan pelan saja. Nanti kita akan membaca Dua Kalimat Syahadat.


"*Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".


Artinya:


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah*".


Papa Leo pun mengikuti apa yang terucap dari bibir Zhein. Dua kalimat syahadat terucap dengan baik dan lancar oleh Papa Leo.


"Alhamdulillah.... Papah...." ucap Suci memeluk Papa nya dengan erat.


"Alhamdulillah Papa saat ini sudah menjadi seorang muslim. Dan Zhein akan mengajarkan agar Papa bisa lebih dekat dan mengenal Allah SWT." ucap Zhein pelan.


"Alhamdulillah.... terima kasih kalian sudah memberikan jalan terbaik untuk Papa, agar bisa mengenal Islam dan mengenal Allah SWT." ucap Papa Leo dengan sedikit histeris.


"Sudah Pah. Zhein yang seharusnya berterima kasih pada Papa sudah mau dan yakin menjadi seorang muslim dengan menjadi mualaf. Zhein bangga pada Papa." ucap Zhein dengan sopan dan mencium punggung tangan Papa Leo sebagai baktinya.


Suci dan Zhein pun berbahagia atas hidayah dan Inayah yang langsung diturunkan oleh Allah SWT kepada Papa Leo. Cara Allah SWT menginginkan hambaNya kembali ke jalan yang benar itu sangat mudah dan terkadang tidak dapat di duga.

__ADS_1


Sama halnya yang di alami oleh Papa Leo, mengalir begitu saja karena kebesaranMu Ya Allah.


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2