
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari ini terasa cepat, tidak terasa sudah sore hari. Persiapan acara lamaran dilanjutkan makan malam keluarga pun sudah siap sekitar sembilan puluh lima persen. Umi Khadijah terlihat senang dan bahagia melihat dekor dan masakan sudah tertata dengan rapi.
Tinggal menunggu tamu datang setelah maghrib. Semua penghuni rumah itu melakukan rutinitas sore mandi dan berdandan serta memakai baju yang pantas untuk acara lamaran hari ini.
Waktu sudah menunjukkan memasuki waktu Maghrib. Semua berkumpul di dalam Mushola kecil dan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, Abi Tito sebagai imamnya.
Setelah selesai sholat Maghrib, Abi Tito pun berdoa demi kelancaran acara lamaran pada malam ini. Semua persiapan sudah beres dan rapi.
Abi Tito, Umi Khadijah, Aisyah dan Fatima, semua berkumpul di ruang tengah menunggu kedatangan tamu dari keluarga Haikal. Abah Furqon juga turut hadir sebagai saksi acara lamaran Fatima cucu perempuannya.
Tidak lama kemudian, ada suara mobil masuk ke pekarangan rumah Abi Tito. Pintu rumah pun sudah dibuka dengan lebar untuk menyambut kedatangan calon besannya.
Fatima dan Aisyah tetap menunggu di ruang tengah hingga puncak acara lamaran nanti. Para asisten rumah tangga pun mulai sibuk mempersiapkan hidangan kecil untuk diantarkan ke ruang tamu.
"Assalamualaikum ... ucap Ayah Haikal sambil memasuki teras rumah megah itu.
"Waalaikumsalam... Lho Kamu Anwar?" ucap Abi Tito dengan rasa percaya diri. Mereka saling berjabat tangan berpelukan.
Tito dan Anwar teman seperjuangan dalam Kobong Abah Furqon. Semenjak kukus mereka berpisah dan melanjutkan hidup masing masing tanpa berkabar. Hingga takdir menyatukan kembali tali silaturahmi persahabatan mereka dengan acara lamaran ini.
"Tito apa kabar? Kamu besanku?" ucap Anwar bahagia.
"Kamu datang untuk melamarkan Ahmad?" tanya Abi Tito pelan.
"Lho kamu ini lupa, aku melamar Fatima untuk Haikal anakku. Kenapa Tito?" tanya Anwar bingung.
"Ahmad dan Haikal saudara kandung?" tanya Tito ikut cemas.
"Aku tidak disuruh masuk dulu? langsung diinterogasi seperti ini, seperti buronan saja aku Tito." ucap Anwar pelan.
"Buronan cinta!!! Ayok masuk, ngomong ngomong itu yang namanya Hasna cinta mati kamu?" tanya Tito terkekeh mengingat curhatan Anwar dahulu.
__ADS_1
"Bukan, ini hasil perjodohan, Hasna sudah menikah dengan temanku sendiri." ucapnya sambil berbisik.
"Ayo masuk, kenalkan ini istriku Khadijah. Pasti kenal kan?" ucap Tito pelan sambil mengedipkan satu mata ke arah Anwar.
"Ini Rinjani istriku, ini Haikal dan Ahmad." ucap Anwar pelan.
"Pak Azzam, saya Ahmad, maaf ternyata kita bertemu disini, ini acara keluarga saya." ucap Ahmad pelan.
"Kalian saudara kandung?" tanya Tito mengulang pertanyaan tadi karena masih penasaran.
"Kamu kenapa Tito? ada jodoh juga untuk anakku Ahmad?" tanya Anwar menyelidik.
"Ya, niatku seperti itu. Kalau boleh akan ku jodohkan dengan anakku juga. Tapi mereka bersaudara, jadi tidak mungkin Anwar." ucap Tito pelan. Perasan kecewanya terlihat nampak pada raut wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
"Hahahha, Ahmad ini anak angkatku Tito. Ujianku begitu berat, hampir tujuh tahun istriku menantikan kehamilan pada rahimnya. Usia pernikahanku yang kedua, aku memilih mengangkat anak dari panti asuhan yang masih bayi. Ada Ahmad disana, usianya sekitar baru empat puluh hari. Aku adopsi hingga sekarang. Ahmad juga sudah tahu perihal ini, mereka tetap anak anakku dan aku tidak membedakannya." ucap Anwar pelan.
"Alhamdulillah, kalau begitu kita jodohkan saja, siapa tahu mereka cocok." ucap Tito pelan.
"Maaf Pak Azzam, kalau boleh saya akan langsung menikahinya. Sudah satu Minggu ini saya bermimpi wanita bernama Aisyah, mungkin ini jodoh saya. Saya siap lahir batin." ucap Ahmad pelan.
"Baiklah, tapi karena ini acara Haikal dan Fatima, biarkan mereka melaksanakan acara lamarannya dulu. Setelah ini kita bahas masalah pernikahan kalian." ucap Tito senang.
"Fatima, kemari sayang. Kita mulai acaranya sekarang saja." ucap Abi Tito pelan.
Fatima sudah duduk diantara Abi Tito dan Umi Khadijah. Wajahnya tertunduk, rasa takut dan cemas menghinggapi pikiran dan hatinya.
"Abah Furqon, Pak Tito dan ibu Khadijah, terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada keluarga saya untuk menjalin tali silaturahmi yang sempat terputus. Malam ini saya dan keluarga datang untuk melancarkan anak saya Haikal Alamsyah untuk Fatima putri Pak Tito." ucap Anwar singkat, padat dan jelas.
"Bagaimana Fatima? jawablah Nak?" ucap Umi Khadijah pelan.
"Saya Fatima menerima lamaran Kak Haikal." jawab Fatima pelan. Ada perasaan lega yang dari siang sungguh mengganjal hatinya.
"Ini Cincin sebagai bukti lamaran putra saya untuk putri anda Bu Khadijah." ucap Rinjani pelan sambil menyodorkan kotak cincin agr dibuka oleh Fatima.
"Terima kasih Bu Rinjani. Buka Fatima, biar Calon mertuamu yang memasangkannya." ucap Umi Khadijah pelan.
__ADS_1
Kotak Cincin itu perlahan dibuka dan menampakkan satu cincin emas dengan permata diatasnya. Cincin sederhana tapi memiliki yang besar bagi Fatima. Fatima mendongakkan wajahnya dan melirik ke arah Haikal. Haikal pun tersenyum melihat tatapan polos Fatima. Bunda Rinjani mengambil cincin itu dari kotak beludru dan memasangkannya di jari manis Fatima.
"Alhamdulillah, Anwar kita besanan juga. " ucap Tito sambil melempar senyum bahagia kepada Anwar.
"Aku pikir niat kita dulu hanya main main ternyata? semua berjalan karena rencana Allah SWT." ucap Anwar mantap.
"Untuk Haikal dan Fatima, kalian harus tetap menjaga satu sama lain. Jangan pernah berpikir karena sudah lamaran dan bertunangan kalian menjadi bebas. Ini hanya sebatas bukti ikatan bila kalian sudah ada yang memiliki. Kalian boleh menikah apabila Fatima sudah lulus dari MA. Tinggal beberapa bulan lagi, jadi kalian harus menunggu." ucap Abi Tito menasehati.
"Baik Pak Tito, akan saya ingat semua nasihat Bapak." ucap Haikal mantap.
"Panggil Abi, sekarang kamu sudah Abi anggap menjadi anak Abi." ucap Abi Tito pelan.
"Iya Abi, terima kasih." ucap Haikal mantap dan tersenyum pada Fatima.
"Kita makan dulu saja, sekalian mengenalkan Ahmad dan Aisyah sambil makan malam bersama, nanti setelah ini biar mereka yang menentukan. Mereka sudah sama sama dewasa." ucap Umi Khadijah sambil mengajak tamunya untuk menuju rumah makan.
Ruang makan yang sudah ditata sedemikian rupa. Ada dua belas kursi di depan meja panjang. Aroma masakan tercium sangat enak dan lezat. Banyak menu makanan tertata rapi disana dan sangat menggugah selera makan.
Semua anggota keluarga Tito dan keluarga Anwar sudah duduk di kursinya masing-masing. Mereka menatap Aisyah yang sedang menuangkan air putih pada setiap gelas para tamu.
Aisyah pun duduk bersama dekat dengan Fatima. Wajahnya sedari tadi menunduk tidak berani melihat calon suaminya itu. Hanya saja Fatima sempat berbisik Kak Ahmad ganteng banget, walaupun lebih ganteng Kak Haikal.
"Ini yang namanya Aisyah." tanya Anwar kepada Aisyah.
Semua mata memandang Aisyah termasuk Ahmad.
"Aisyah, Pak Anwar bertanya kepadamu. Jangan menunduk Nak." ucap Umi Khadijah lembut.
Aisyah pun menegakkan duduknya dan mendongakkan wajahnya sedikit, mata itu langsung bertemu dengan mata Pak Anwar, dan satu lagi ada satu pasang mata yang sedang menatap betapa indah ciptaan Allah SWT.
"Kak Ahmad..." ucap Aisyah lirih yang cukup terdengar ditelinga semua orang.
--------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚