
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
"Maafkan mama, mama tidak tahu, tolong jangan bahas ini dulu, mama tidak tahu Suci." ucap mama Larasati dengan suara serak tertahan dan pelan. Hatinya hancur dan rasanya seperyi tertusuk tusuk duri tajam.
Zhein pun mengangkat tubuh Suci dari pangkalan Larasati.
"Kita istirahat dulu dikamar, kamu pasti lelah sayang, apa perlu ku gendong?" ucap Zhein begitu lembut sambil mengusap air mata Suci.
Suci pun menggeleng, kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya bersama Zhein.
Sedangkan bunda Jihan memeluk sayang tubuh Larasati yang sudah tidak berdaya, dan memapahnya ke arah sofa agar lebih nyaman.
"Jangan berlarut dalam kesedihan sayang, mas tahu persis bagaimana perasaanmu saat ini. Mencoba ikhlas setiap apa yang terjadi kepada kita. Ada mas yang selalu menemanimu Suci. Berbagilah kesedihanmu dengan mas. Mas janji akan membantu mencari siapa ayah kandungmu." ucap Zhein dengan mantap, sambil membuka niqab suci yang sudah basah karena air mata kemudian merebahkannya.
Suci hanya terdiam dan menurut. Jiwanya sangat terguncang mendengar pernyataan papa Leo. Lalu siapa aku? Suci pun terbangun lagi dan hendak berdiri.
"Kamu mau kemana Suci?" ucap Zhein lembut.
"Aku ingin penjelasan dari mama, mas." ucap Suci masih menangis.
"Biarkan mama Larasati menenangkan hati dan pikirannya dulu. Nanti baru kita tanyakan lagi." ucap Zhein lembut sambil memeluk Suci dan kemudian mencium pipinya.
"Yuk kita tiduran dulu, mas juga sudah lelah, nanti siang kan kita pulang, biar agak fresh." ucap Zhein sambil membawa Suci tidur di sebelahnya.
💚💚💚💚💚
__ADS_1
"Sudah Jeng Laras, itu masa lalu, jangan diingat ingat. Sekarang bertobat sebelum semuanya terlambat. Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Biar Jeng Laras lebih tenang dan adem. Kalau mau cerita, saya siap mendengarkan Jeng Laras." ucap bunda pelan sambil mengusap usap punggung Larasati dengan pelan.
"Aku malu denganmu Jeng Jihan. Aku seperti wanita murahan yang hanya butuh belaian kasih sayang seorang pria. Aku menjatuhkan harga diriku sendiri, mempermalukan keluarga besarku dengan mencuatnya aibku ini. Aku bahkan malu dengan Suci dan diriku srndiri. Aku tidak pantas disini Jeng Jihan." ucap Larasati penuh penyesalan.
Larasati benar benar terpuruk. Penyesalan yang selalu datang diakhir membuat dadanya begitu sesak mengingat kejadian di masa silam. Tujuan hidupnya pun sudah pupus, tidak ada lagi yang Larasati harapkan sekarang.
"Jeng Laras, Allah SWT itu Maha baik, Allah SWT selalu memberikan ujian sesuai kemampuan hambanya. Jeng Laras itu wanita pilihan, wanita yang kuat dan tangguh. Jeng Jihan harus punya motivasi hidup dan bangkit dari semua keterpurukan. Niatkan dari dalam hati untuk menjadi yang lebih baik. QIBILTU... Jeng Laras pasti bisa dan mampu, aku pasti membantu Jeng Laras." ucap Bunda Jihan menyakinkan.
"Bantu aku menjadi seperti Suci. Jeng Jihan bisa membantuku?" tanya Larasati dengan tulus.
"Jeng Laras serius? gak lagi bercanda kan?" ucap bunda Jihan meyakinkan.
Karena sebuah agama itu bukan untuk bermain main, tapi untuk diyakini. Jangan pernah berhijrah karena si A, si B atau si C tapi karena diri sendiri dan karena Allah SWT.
"Jeng Jihan tahu, dulu aku seorang muslimah, aku pintar mengaji dan sering mengajar mengaji. Pergaulanku menjadi salah semenjak aku SMA, kehidupanku menjadi liar dan bebas. Hingga saat ini, aku hancur karena telah meninggalkan Allah SWT. Entah setan apa yang saat itu menguasai diriku. Tapi aku sekarang sadar setelah melihat Suci, aku bahagia bila melihat anakku bahagia. Aku tidak tahu siapa ayahnya. Kenapa aku sampai bodoh, sampai tidak tahu siapa ayah Suci." ucap Larasati sendu.
"Jadikan semuanya pelajaran Jeng Laras. Aku akan membantumu, seperti aku membantu Suci mencari hidayahnya karena Allah SWT." ucap Bunda Jihan.
"Aibmu itu masa lalumu. Jalan hidupmu itu Takdirmu. Dan jalan hidupku itu Takdirku. Kalau kita ikhlas menerima takdir, maka akan ada hikmah dibalik ini semua." ucap bunda Jihan lembut.
"Terima kasih Jeng Jihan. Kapan bisa membimbingku Bu ustadzah?" ucap mama Larasati sambil tersenyum lebar.
"Bagaimana kalau belajarnya dikarantina dirumahku, ikut aku ke rumah, nanti biar Zhein mempersiapkan semuanya." ucap Bunda Jihan.
"Dengan senang hati besanku, aku bersiap siap dulu, dan berpamitan pada ibu Atmojo." ucap Larasati.
Setelah menceritakan semua keinginan berhijrahnya Larasati kepada ibu Atmojo, mereka kembali pulang ke rumah bunda Jihan dan Zhein.
__ADS_1
Suci yang awalnya kaget dengan keinginan mama Larasati pun ikut mendukung proses hijrahnya. Begitu pun dengan Zhein mengucap syukur karena semua permasalahan telah ada jalan keluarnya. Satu hal yang masih mengganjal adalah Siapa Ayah Suci.
Suci sudah mulai tenang dan sudah menerima keadaannya, mungkin dengan berjalannya waktu semua akan terjawab. Mungkin mama Larasati butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Perjalanan menuju rumah Zhein pun terasa sangat lama. Zhein yang sedari tadi memelukku membuat hatiku menjadi tenang. Berada dipelukan suami itu rasanya seperti disiram air hujan sehingga terasa sejuk. Sesekali aku merasakan kecupan bibir Zhein yang mendarat dikeningku. Betapa menjadi ringan bebanku ini, mas Zhein seperti tahu apa yang menjadi mood booster ku.
"Mas Zhein pelukanmu begitu hangat, aku nyaman bila seperti ini terus, seakan beban di pundakku hilang sayang." ucapku lirih tepat ditelinganya.
Aku malu bila harus terdengar mama Larasati dan bunda Jihan bisa digoda habis habisan didalam mobil.
"Kamu suka aku peluk seperti ini istriku? lakukanlah setiap saat dan setiap hari, dadaku akan selalu ada untukmu. I love u humairahku." ucap Zhein tak kalah lirih tepat diteligaku juga sambil terkekeh kecil dan mengecup keningku.
Kemesraan yang sederhana tapi bisa membuat hati ini melayang dan sangat bahagia. Kemesraan yang tulus bukan karena nafsu. Kemesraan yang dipupuk agar tetap terjaga keharmonisan. Kemesraan yang harus diungkapkan agar terjalin komunikasi dan kejujuran. Kemesraan yang didatangkan dari Allah SWT menuju keluarga yang Sakinah Mawadah dan Warahmah.
"Tetaplah bersamaku mas, apapun itu yang terjadi." ucap Suci kepada suaminya kemudian membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Mas akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi mas tidak akan pernah meninggalkanmu istriku." ucap Zhein dengan mantap dengan mengecup terus menerus kening Suci hingga basah.
Suci hanya terdiam mendapatkan perlakuan mesra dari suaminya. Hatinya sangat senang, perhatian seperti itu terlihat sederhana tapi dilakukan dengan ketulusan.
Kelak kau akan menyadari memiliki pasangan yang paham agama, jauh lebih baik dibandingkan memiliki pasangan yang hanya paham ilmu dunia.
***Semua orang itu berhak berubah. Masa lalu yang buruk bukanlah suatu penghalang untuk menjadi lebih baik dari yang dulunya kurang baik.
--------+----+++-------++++-------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚***