
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari ini kepulangan Eyang Atmojo dari rumah sakit, beliau sudah dinyatakan sembuh dan kondisinya pun sudah pulih kembali.
Semua orang menjemput Eyang di rumah sakit. Eyang pun senang aku kembali ke rumahnya pasalnya Eyang sudah mulai bosan berada di rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang pun, semua terdiam, tidak ada yang berbicara satu orang pun.
Suci pun mulai mencairkan suasana pagi di dalam mobil.
"Alhamdulillah, eyang sudah sembuh. Eyang jaga kesehatan ya, nanti siang Suci pulang Eyang, kasihan mas zhein, banyak pekerjaannya yang tertunda. Untung kemarin sebagian liburnya cuti nikah." ucap Suci lembut sambil memegang tangan Eyang.
Begitu pun dengan Larasati yang duduk disebelah kiri Ibundanya, mengapit lengan ibundanya dan menautkan jemarinya kepada jemari ibu Atmojo.
"Iya Suci saya, menurutlah pada suamimu. Kamu menjenguk Eyang saja, Eyang sudah senang, ditambah ibumu sudah menemani Eyang. Eyang akan sering ke tempatmu. Semoga cepat dapat momongan biar rumah tanggamu makin sempurna." ucap Eyang Atmojo lembut.
"Iya Eyang, kan lagi on proses Eyang." jawab Suci malu malu sambil melirik spion depan, suaminya tersenyum melirik Suci dan fokus kembali pada setir mobilnya.
"Bowo dan Ameera, kamu juga Kembali pulang setelah ini?" ucap Eyang.
"Iya ibu, aku dan ameera akan pulang. Minggu depan akubhatus ke Jepang menemui klienku, sekalian mau bulan madu untuk ke sekian kalinya, semoga berbuah hasil.' ucap Pakde Bowo penuh harap.
"Aamiin..." seisi mobil pun serempak menjawab kompak.
" Makasih doanya ya semuanya." ucap ameera.
Usia Bude Ameera dan Pakde Bowo terpaut sebelas tahun. Waktu itu usia Bude Ameera sekitar 19 tahun, baru selesai SMA. Dan Pakde Bowo berusia 30 tahun, sudah mapan. Sekarang usia pernikahan mereka sudah sepuluh tahun dan belum memiliki keturunan.
"Bude ameera yang sabar, Allah SWT pasti memberikan kok, siapa tahu nanti bareng sama Suci. Kita jadi Mahmud bude." ucap Suci sambil terkekeh.
__ADS_1
" Iya Suci mudah mudahan ya, seru juga hamil bareng." ucap bude Ameera sedikit manja.
Mobil pun sudah masuk pelataran rumah besar kediaman Eyang Atmojo. Tapi ada pemandangan tidak biasa tapi tidak asing. Mobil papa Leo terparkir rapih disudut taman rumah.
Mama Larasati yang melihat mobil papa Leo tampak terlihat pucat seketika. Sungguh perasaanya tidak enak kali ini, pasti akan ada peristiwa besar yang terjadi.
Zhein dan Suci pun melihat perubahan raut wajah mama Laras.
"Mama are you okey? ada masalah sama papa?" ucap Suci pelan bertanya pada mama.
Semua orang didalam mobil pun memandang iba kepada Laras.
"Mama okey Nak, tapi mama ingin pisah dengan papa, mama mau hidup tenang dengan ibu, suci dan cucu mama nanti tanpa bayang bayang Leo." ucap mama kembali terisak mengingat perlakuan kasar Leo akhir akhir ini terhadapnya.
"Mama yakin? mau pisah? mama sudah dua puluh tahun berumah tangga, apa tidak ada solusi?" ucap suci kemudian.
"Saat ini bukan waktu yang tepat menceritakan masalah mama, suatu saat mama akan cerita kepadamu suci. Ayok kita turun, kasihan ibu butuh istirahat." ucap Larasati lembut.
Semua hanya menurut untuk turun mobil dan memapah Eyang masuk rumah menuju kamarnya.
"Halo ibu, apa kabar? ibu sudah sehat?" ucap Leo menghormati.
"Alhamdulillah Leo, ibu sudah lebih baik, maaf ibu tidak bisa menemanimu, ibu harus rebahan dikamar, kalau ada yang ingin dibicarakan dengan ibu, silahkan ke kamar, ibu tunggu Leo." ucap ibu Atmojo lembut.
"Nanti saya ke kamar ibu, saya ada urusan dengan Larasati terlebih dahulu ibu." ucap Leo sopan.
"Baiklah Leo, ibu ke kamar dulu." ucap ibu, yang masih dipapah oleh Pakde Bowo dan bude ameera.
"Larasati!" panggil Leo kepada Larasati.
Larasati pun mendekati Leo diikuti Suci.
__ADS_1
"Siapa dia Larasati? asistenmu yang baru?" ucap Leo dengan senyum sinis.
"Dia Suci anakku!! Anak yang aku lahirkan dari rahimku." ucap Larasati.
"Ohh anak durhaka itu rupanya. Dia memang anakmu tapi bukan anakku Laras. Kamu ingat ingat, berapa pria yang sudah kamu tiduri? Mungkin salah satunya dia ayah kandung Suci. Satu hal, aku itu mandul Laras, aku tidak bisa memiliki keturunan. Aku bersedia menikahimu karena keturunan, tapi dia bukan anakku. Orang tuaku berniat memberikan harta warisan kepadaku bila aku menikah dan punya anak, disaat yang tepat kamu datang meminta pertanggungjawabanku. Dulu kukira itu memang anakku. Setelah aku cek ke dokter aku mandul. Jadi jelas Suci bukan anakku. Kamu mau pisah denganku? seperti yang kamu inginkan? silahkan, aku tidak perduli. Yang penting uangku banyak dan aku masih bisa memuaskan nafsuku pada perempuan perempuan panggilan yang aku inginkan. Aku hanya mengingatkan satu hal. Jangan pernah kamu datang lagi ke rumahku, mulai saat ini kamu tidak ada hak masuk ke rumahku. Titip salamku untuk ibu." ucap Leo datar.
Larasati hanya terdiam, dia begitu pucat mendengar penuturan Leo. Aibnya dibuka didepan semua orang termasuk besan dan menantunya. Dadanya terasa sesak, tangan mengepal, nafasnya pun memburu, kesal, kecewa dan marah menjadi satu. Air matanya jatuh sangat deras.
"KAMU JAHAT LEO, KAMU LAKI KAKI BRENGSEK, KAMU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU!!!!!" ucap Larasati dengan suara yang keras.
Rasa malunya sudah hilang, harga dirinya pun sudah jatuh. Laras hanya ingin Leo meminta maaf atas perlakuannya selama ini. Bukan datang untuk menginjak injak harga diri dan martabatnya.
"KALAU AKU PRIA BRENGSEK, KAMU WANITA SEPERTI APA? HAH? JAL*NG!!!!! IYA?! AKUI DIDEOAN KELUARGAMU!!! SUAPA AYAH SUCI SRBENARNYA!!!?????" ucap Leo tak kalah murka.
"Mama, apa benar yang dikatakan papa? benarkah mama? Suci bukan anak papa? lalu Suci anak siapa ma? jawab Suci ma?" ucap Suci berteriak dan menangis.
Zhein memeluk Suci, mendinginkan hati dan pikiran Suci agar tidak tersulut emosi.
"Jawab itu, anakmu bertanya!!! kamu tidak bisa menjawab kan???!!! terlalu banyak lelaki yang tidur denganmu Larasati. Sampai kami tidak tahu siapa ayah dari Suci." ucap Leo sini dan ketus.
" Maafkan mama Nak, mama tidak tahu, memang betul kata kata papamu, mama ini wanita rendah yang telah tidur dengan beberapa pria, sampai mama pun tidak tahu siapa papamu Nak? maafkan mama Nak, mama ini penzina, dosa mama besar Nak. Mama malu dengan masa lalu mama. Mama salah pergaulan. Kamu boleh membenci mama Nak, bencilah mama." ucap mama Larasati terbata bata mengakui semua perbuatan dosanya.
Duaaaaaaarrrrrrrrrrrrr............
Mendengar ucapan mama, hati Suci pun seperti tersambar petir yang hancur berrserakan. Sampai mama pun tidak tahu siapa ayah Suci.
"Siapakah ayahku mama??? aku ingin bertemu ayahku???" ucap Suci menangis dipangkuan mama Larasati.
-------------------------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚