
MASIH PART 21+++
MAAF YA.....
💚💚💚💚💚
Hanya ada satu kamar yang tenang sejak malam, keduanya merasa lelah, terlebih kehamilan Suci harus menjaga stamina. Kalau mengikuti hasrat Zhein pun sama dengan yang lain. Mau jadi pengantin juga tapi kondisi pasangan tidak memungkinkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, sesuai dengan rutinitas pagi. Zhein sudah bangun lebih dulu kemudian membangunkan Suci untuk melaksanakan sholat tahajud bersama. Membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk anak yang masih dalam kandungannya.
Rutinitas pun sudah selesai, menunggu waktu shubuh yang masih sekitar satu jam ke depan. Mengikuti nalurinya Zhein pun mendekati Suci yang sudah merebahkan di kasur. Zhein duduk di pinggir ranjang, daster Suci disibakkan dan mulai mengusap lembut perut itu dan sesekali memberikan kecupan lembut di perut Suci.
Tangan yang tidak dapat mengontrol diri pun, mulai menyusuri yang lain, menyusuri gunung kembar dan gua sempit yang sepertinya sudah terasa basah dan menganga. Sungguh cerdik para pria membuat wanita itu jatuh tak berdaya di kasur.
Zhein pun mulai mencium bibir Suci dengan lembut, ciuman berhasrat yang harus dituntaskan di atas kasur empuk itu. Tangannya pun sudah menelusur dan menyelinap ke dalam pakaian dalam untuk membuka pengaitnya.
Desahan dan desisan mulai terdengar dari bibir kecil Suci.
"Mas mau menengok adik ya... Biarkan anak kita semakin mengenal Abinya." ucap Zhein pelan sambil menatap Suci penuh harap.
"Boleh Mas, tapi kan, yang masuk berkepala botak, nanti setelah lahir yang mengadzani berambut? gak masalah?" ucap Suci terkekeh.
"Heeemmmm lagi begini sempet ya bercanda sama Mas. Ini lihat ularnya sudah menunjuk aja, ngajak melata lagi, mencari kehangatan. Kamu sudah basah Suci..." ucap Zhein pelan dan mencium kembali bibir Suci.
Sang Ular kelaparan itu pun mulai menyusup pelan ke arah gua sempit yang tengah menganga karena bersiap menerima kedatangan tamu agung. Pelan dan perlahan ular itu pun beringsut maju mundur mengukur jarak kedalaman gua sempit. Gua sempit membuat tubuh sang ular pun mulai mengembang sempurna hingga terasa penuh dan sesak berada di dalamnya.
Desahan keduanya mulai tidak terkontrol lagi, entah sudah berapa kali celupan celupan itu membuat basah disekitarnya. Kali ini sungguh luar biasa nikmatnya, entah bagaimana Sang Pencipta bisa membuat semuanya ini begitu sempurna hingga pasangannya bisa menikmati agar menjadikan benih benih yang sempurna juga.
"Mas...... heeeummmm" ucap Suci lirih karena begitu menikmati permainan Suaminya yang semakin lihai dan teratur.
Zhein pun mendongakkan kepalanya melihat Suci dengan intens dan memperlambat gerakannya.
"Heeeuuumm kenapa...." tanya Zhein pelan sedikit mendesah menahan rasa nikmat agar tidak mengeluarkan suara yang tidak terkontrol.
Suci hanya tersenyum dengan sempurna. Senyum manis yang membingkai wajah ayunya memberikan kesan kepuasan dan menikmati semua alur yang ada.
Zhein pun malah tampak makin bersemangat, terlihat dari keringat yang sudah membasahi kening dan rambutnya yang hitam. Terlihat tampan bila pria sedang menikmati sesuatu.
__ADS_1
"Sebentar lagi selesai sayang, Mas pelan pelan kok." ucap Zhein begitu meyakinkan Suci.
Tepat beberapa kali ular itu mengumpat akhirnya mendapatkan tempat yang pas untuk mengeluarkan bisanya.
"Uhhhhhhghhh awww yeuhhhhh....." ucapnya lirih dan cukup tegas hingga membuat tubuh suci pun bergidik merinding dan meremang.
Mereka sudah terbiasa dengan hal ini, tapi tetap saja ada kesan tersendiri setiap momentnya. Luar biasa mantap.
Dengan pelan ular itu pun keluar dari gua sempit itu dan membersihkan dari bisa yang membuat lengket di badan ular.
"Kamu menikmati kan Suci?" tanya Zhein pelan. Mengusap kembali pipi yang terlihat mulai chubby itu.
"Kamu itu liar biasa Mas, aku hanya mengimbangi permainanmu agar kamu merasakan hal yang sama sepertiku." ucap Suci sedikit malu.
"Hari ini kamu memang berbeda, ada rasa berkedut di sekitar gua, aku baru merasakan, seperti jepitan kecil membuatku semakin semangat tadi." ucap Zhein yang terlihat puas dengan apa yang dialaminya tadi.
"Syukurlah kalau kamu suka, itu tehnik baru Mas?" ucap Suci terkekeh, sambil mengecup pipi Zhein.
"Diam diam belajar sendiri ya, mulai nakal nih Istri Mas ya." ucap Zhein pelan.
"Bukan nakal Mas, ingin membuatmu bahagia." ucap Suci pelan.
"Gombal terus kamu Mas." ucap Suci pelan.
"Katanya dulu suka di gombalin sama Mas?" ucap Zhein menatap lembut istrinya.
"Itu kan dulu, sekarang maunya dimanja." ucap Suci merengek.
"Sini Mas peluk ya sayang." ucap Zhein pelan sambil memeluk tubuh Suci agar terus berdekapan.
"Mas....." panggil Suci pelan.
"Apa..." jawab Zhein pelan.
"Rasanya melahirkan seperti apa?" tanya Suci pelan, raut wajahnya berubah cemas dna takut.
Zhein pun memandang istrinya penuh cinta sekaligus iba. Di umur yang masih muda harus melahirkan yang Zhein sendiri tidak tahu bagaimana rasanya.
__ADS_1
"Percaya dan pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Mas akan selalu menemanimu apalagi saat kamu melahirkan nanti." ucap Zhein pelan.
"Kamu janji akan menemani aku lahiran ya Mas, jangan sibuk dengan urusan kampus." ucap Suci pelan.
"Mas janji, Mas akan usahakan demi kamu dan demi anak kita. Aku ingin kamu dan anak kita selamat semua, sehat semua. Mas pun takut kehilangan kamu Suci." ucap Zhein lembut, bibirnya mengecup kening Suci berkali kali untuk menguatkan istrinya yang sedang mengandung.
"Makasih ya Mas, mau jadi Suami Siaga Suci." ucap Suci pelan.
"3S ya?" tanya Zhein meledek.
"Ihh kamu itu.. iya 3S... SUAMI SIAGA SUCI"ucap Suci lantang.
Kemesraan mereka berdua tentu membuat iri banyak orang. Siapa yang tidak mau rumah tangganya bahagia, harmonis, dan penuh kehangatan. Semua ingin dan semua mau. Itu semua bagaimana dari awal kita memondasi rumah tangga kita. Bila pondasi kejujuran, iman dan saling percaya itu kuat, maka semuanya akan baik baik saja.
Adzan shubuh pun sudah berkumandang, Zhein dan Suci pun segera membersihkan diri dan mandi junub kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat shubuh berjamaah.
Dua sajadah sudah tergelar, satu sajadah di shaf depan untuk Zhein dan satu sajadah berada dibelakangnya untuk Suci.
Mereka melaksanakan sholat shubuh dengan khusyuk, kemudian dilanjutkan dengan rutinitas pagi.
"Mas, yuk ke ruang makan, Suci masakin buat kamu." ucap Suci pelan sambil mengapit lengan Zhein menuju ruang makan.
Tapi Suci salah duga, banyak makanan yang sudah tersaji di meja makan.
"Sayang, ini sudah siap semua, tapi kok sepi. tanya Zhein pelan.
"Mas, mereka kelelahan, mereka pengantin baru." ucap Suci terkekeh.
"Tapi Umi dan Papah? tumben belum keluar? biasanya sudah duduk di meja minim.kopibsambik baca koran." ucap Zhein pelan.
Zhein tahu kebiasaan Papa Tito dari Fathan. Mereka bercerita tentang keluarganya masing-masing dan kebiasaannya.
ceklekkk..... tap... tap....
Zhein dan Suci menatap arah pintu terbuka, dan melihat dengan seksama.
"Kalian......" ucap Suci pelan.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN