
Zhein pun kembali dengan menenteng satu kantong plastik besar yang berisikan cemilan untuk istri tercintanya.
Zhein memberikan plastik itu dan membuka minumannya terlebih dahulu. Zhein tahu ibu hamil tidak boleh sampai dehidrasi.
"Ini minum dulu, kasihan anakku ikut prihatin lihat Abi sidang ya Nak." ucap Zhein sambil memegang perut Suci yang mengeras seperti tadi pagi.
"Mas ini banyak banget, siapa yang mau makan?" tanya Suci pelan.
"Kamu dan anak kita. Biar gak jenuh nungguin Abi nya, mau makan yang mana dulu, Mas bukain?" tanya Zhein dengan lembut.
Suci pun mengaduk aduk isi plastik itu dan mencari apa yang sedang ingin dia makan. Suci pun tertuju pada cemilan keripik singkong balado.
"Ini Mas, kayaknya enak. Keripik Singkong Blaem blaem. Namanya lucu." ucap Suci membaca merek kemasan camilan itu.
Zhein pun dengan sabar membuka bungkus camilan itu dan memberikannya pada Suci.
"Sayang, kalau pedes, ganti yang lain, Mas gak mau perut kamu sakit gara gara blaem blaem ini." ucap Zhein menunjuk pada bungkus keripik singkong itu.
"Iya sayang, suamiku ini sekarang makin bawel." ucap Suci sambil memencet hidup Zhein yang mancung itu.
Satu jam.....
Dua jam.....
Tiga jam....
Hingga makanan itu habis ludes bersarang di perut Suci.
"Habis Sayang?" tanya Zhein meledek.
"Ini anak kamu Mas, yang minta." ucap Suci membela diri.
"Tadi katanya kebanyakan." ucap Zhein terkekeh mencium pucuk kepala Suci yang tertutup kerudung.
"Terus saja, meledek Suci." ucap Suci sedikit manyun.
"Seneng deh kalau manyun gini tambah gemes." ucap Zhein pelan.
Akhirnya penantian lama pun tiba. Pengumuman hasil kelulusan sidang hari ini pun akan dibacakan oleh dosen penguji. Semua peserta masuk kembali ke dalam ruangan.
Satu per satu peserta sidang pun keluar, ada yang tertawa ada yang menangis. Dari lima peserta hanya tiga peserta yang lulus.
Zhein pun keluar bersama dengan temannya. Zhein hanya tertunduk diam duduk disebelah Suci. Suci menatap Zhein dengan lembut, meminta jawaban hasil kelulusan sidang.
Zhein hanya diam, kemudian berlutut di depan perut Suci, mengusap perut itu dengan lembut dan menangis. Suci pun ikut cemas, dan panik.
"Mas, kamu lulus kan?" tanya Suci pelan sambil memegang kedua pipi Zhein.
Zhein masih terdiam dan membalas tatapan Suci yang ikut bersedih.
__ADS_1
"Mas? jawab aku?" ucap Suci semakin penasaran.
Zhein pun tersenyum dan berkata, " AKU LULUS SAYANG..."ucap Zhein setengah berteriak.
Secara refleks Suci pun mencium bibir zhein dengan lembut, mengabaikan orang orang yang melihatnya.
Zhein kembali terdiam merasakan aliran darahnya yang mengalir semakin cepat semakin membuatnya semangat.
"Abi lulus Nak." Zhein pun menciumi perut Suci.
"Sudah sayang, banyak orang gak enak." ucap Suci pelan.
Sepanjang koridor yang dilewati Zhein dan Suci banyak ucapan selamat yang ditujukan kepada Zhein.
Mahasiswi Zhein pun sudah berkumpul di lobby kampus untuk memberikan ucapan selamat dan buket bunga serta hadiah perpisahan. Kelulusan Zhein, berkahir pula masa tugasnya di kampus ini.
Banyak mahasiswi yang menangis karena bahagia secara Zhein dosen muda dan ganteng jadi idola banyak mahasiswi ternyata sudah menikah, dan saat ini istrinya hadir bersamanya. Kemesraan antara Zhein dan Suci banyak membuat iri dan patah hati mahasiswinya.
"Mas, sebanyak itu fans kamu?" tanya Suci pelan sambil menelan salivanya.
"Itu belum seberapa, masih lebih banyak lagi. Tapi cuma kamu yang bisa membuatku selalu jatuh cinta dan bahagia." ucap Zhein menguatkan istrinya sambil mengedipkan satu matanya ke arah Suci.
Suci hanya tersenyum, sebenarnya ini bukan pertama kalinya Suci ikut ke kampus dan selalu disuguhkan pemandangan para fans mahasiswinya. Kadang ada yang nekat sampai mengajak kencan. Allahuakbar.... anak perempuan jaman sekarang mah gercep lihat cogan...
Zhein pun memutar arah menuju bagian pengajaran untuk menyelesaikan administrasi untuk wisuda minggu depan.
Zhein pun duduk disamping Suci.
"Sudah selesai Mas?" tanya Suci pelan kepada suaminya.
"Sudah, tinggal nunggu undangan untuk malam pelepasan dan undangan acara wisuda." ucap Zhein tersenyum manis.
"Baiklah, Mas, Suci laper." ucap Suci pelan menahan laparnya.
"Astaghfirullah... aku beliin camilan ya." ucap Zhein panik.
"Selesain dulu, setelah ini aku mau kepiting saus padang." ucap Suci pelan.
"Anak Abi pengen kepiting? sebentar ya Nak." ucap Zhein sambil mengusap perut Suci dengan lembut.
Sepuluh menit kemudian, bagian administrasi pun memanggil nama Zhein untuk menerima kuitansi pembayaran dan note penyerahan soft copy dan undangan untuk acara Minggu depan.
"Ayok sayang, kita pulang, mampir ke penjilidan untuk buat hard cover Thesis ini" ucap Zhein pelan.
"Alhamdulillah Mas, semuanya lancar. Aku seneng banget, doa ku satu per satu dikabulkan sama Allah SWT." ucap Suci penuh rasa bahagia.
Zhein dan Suci keluar dari ruangan administrasi, disana sudah banyak fans Zhein menunggu dosen idolanya untuk memberikan selamat.
Zhein Lovers nama fans Zhein di kampusnya. Istri mana yang gak cemburu melihat pemandangan suaminya di gilai banyak wanita muda.
__ADS_1
"Ayok sayang." ucap Zhein merangkul bahunya meninggalkan kampus.
Bunda Jihan dan Mama Larasati sudah menunggu di dekat mobil.
Mereka meninggalkan area kampus menuju restauran seafood sesuai keinginan ibu hamil.
"Jangan kebanyakan kepiting ya sayang, gak bagus juga. Kamu kepiting aja?" tanya Zhein pelan.
"Kepiting saus padang, cumi goreng tepung sama udang asam manis. " ucapnya mantap.
"Pasti habis?" tanya Zhein pelan.
"Kan ada Abi yang bantuin." ucap Suci terkekeh.
Lima belas menit kemudian, pesanan pun datang. Rasa lapar yang sudah ditahan sudah tidak dapat dibendung ketika makanan sedan tersaji di meja.
"Pake nasi sayang, sedikit ya?" ucap Zhein mengambilkan nasi putih ke piring suci.
Suci melahap pesanannya dalam sekejap bersih tak bersisa.
"Ibu hamil yang satu ini kuat makan Bunda." ucap Zhein terkekeh.
Bunda Jihan dan Mama Larasati pun ikut tertawa, karena memang Suci sanggup menghabiskan ketiga makanan tersebut dalam waktu yang cepat.
Lagi lagi pembelaannya, ini anaknya yang pengen, padahal memang ibunya yang *gragas.
Hari* ini benar-benar melelahkan. Suci dan Zhein menuju apartemen.
"Mas itu Kak Raina." ucap Suci pelan menghampiri Raina yang sedang duduk di depan apartemen Zhein.
"Assalamualaikum, Kak Raina?" ucap Suci pelan.
Raina pun mendongakkan kepalanya, ada lebam di pipi kirinya.
"Waalaikumsalam Suci.." ucap Raina menghambur memeluk Suci dan menangis.
Zhein pun segera membuka pintu utamanya dan membawa Raina masuk ke dalam.
"Raina, kamu kenapa? kenapa badanmu lebam seperti ini." tanya Zhein memberondong.
Suci pun mengedipkan matanya.
"Kak Raina kita ke kamar, ganti baju dulu pakai bajuku. Nanti kalau udah tenang baru cerita." ucap Suci pelan.
"Raina minum teh ini biar kamu tenang sayang." ucap Bunda Jihan pelan.
Raina pun menerima teh hangat itu dan meminumnya hingga habis.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1