Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 92 RAHASIA YANG DIUNGKAP


__ADS_3

Hari semakin senja, semua orang berkumpul menunggu waktu adzan Maghrib. Mereka akan melakukan Sholat Maghrib berjamaah di ruang keluarga.


Adzan Maghrib pun sudah berkumandang, semua orang telah menyiapkan peralatan sholatnya. Banyak sajadah digelar, sholat Maghrib akan di imami oleh Kakek Furqon.


Tiga shaf pertama untuk para lelaki dan shaf berikutnya untuk perempuan.


Keluarga besar yang bukan keluarga pun merasa menjadi bagian dari keluarga Atmojo. Keterkaitan satu dengan yang lainnya membuat mereka memiliki tali persaudaraan.


Setelah Sholat Maghrib berjamaah, mereka pun makan bersama di ruang makan. Masih dengan suasana hangat tapi sudah ada aura menegang.


Leo pun datang bersama kekasih barunya. Memenuhi undangan mantan mertuanya itu.


Suasana seketika langsung berubah menjadi tegang. Suci yang melihat kedatangan Papa Leo pun langsung menghampiri, seburuk-buruknya seorang papa tetap saja mereka berjasa karena merawat dirimu.


Makanan yang terasa nikmat pun jadi kurang nafsu melihat kedatangan Leo.


Eyang Atmojo pun keluar menuju ruang tamu. Semua mengikuti dan berkumpul disana.


"Ada rahasia besar, yang harus diungkap dan diselesaikan hari ini juga. Agar bila saya meninggal, saya tidak meninggal dengan rasa penasaran." ucap Eyang Atmojo dengan datar.


Semua orang saling berpandangan, siapa yang lebih dulu harus menceritakan kejadian ini.


Suci hanya diam, sesekali matanya melihat satu per satu orang orang yang ada di dalam ruangan itu. Tangannya mempermainkan ujung jilbabnya yang menandakan kecemasan dan kepanikkan.


"Kamu baik baik saja?" tanya Zhein yang setia merangkul bahu suci.


Suci menatap sendu ke arah Zhein, dan menganggukkan kepalanya.


"Aku baik baik saja Mas. Kamu tahu sebenarnya ini ada apa? kenapa banyak sekali orang yang terlibat? Papa Leo juga kenapa harus membawa wanita lain." ucap Suci sedikit kecewa dan kesal.


"Kamu tidak boleh menghakimi sendiri. Papa dan Mama kan sudah bercerai atas keputusan mereka berdua, kamu harus menerima sayang." ucap Zhein lembut, tangannya mengusap lengan Suci dengan pelan.


"Siapa yang ingin menjelaskan terlebih dahulu, saya hanya ingin kejujuran kalian semua biar semua tahu kebenarannya terlebih ini menyangkut jati diri cucu kesayangan ku Suci." ucap Eyang Atmojo dengan nada yang tegas dan keras.


Suci menoleh ke arah Zhein, dan Zhein hanya mengusap lengan Suci, dan mendekapkan tubuhnya ke dadanya. Zhein tahu Suci pasti kecewa berat dengan kejadian ini. Tapi hal ini harus diungkap biar tidak ada kesalah pahaman di masa yang akan datang.

__ADS_1


Aisyah dan Baihaqi juga menunjukkan wajah yang cemas, sebab diketahui, Baihaqi juga tidak tahu asal usul Aisyah. Yang Baihaqi tahu Aisyah anak dari Umi Khadijah dan Ayah Tito.


"Aku yang akan menjelaskan lebih dulu." ucap Tito dengan suara lantang.


Tito terlibat cinta segitiga yang mengakibatkan memiliki tiga anak dari rahim yang berbeda, saat ini waktunya harus diungkap kebenarannya.


Penjelasan Tito membuat sebagian orang yang ada di ruangan itu pun ikut tercengang sebagian lagi ada yang tampak biasa saja.


Tito menjelaskan dengan detail sesuai runtutan kejadian yang dialaminya.


Suara isakan pun mulai terdengar lirih dari sebagian orang, ada yang menunduk saja, ada yang menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.


Sama halnya Suci yang sudah sembab sejak tadi mendengarkan apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu. Wajahnya dibenamkan ke dada Zhein seperti meminta perlindungan, perutnya yang mengencang akibat urat syaraf yang menegang karena mendengar pengakuan Tito sebagai ayah kandungnya.


Suci menguatkan dirinya untuk menegakkan duduknya dan berbicara keras memotong penjelasan Tito.


"Apakah anda Papa saya yang sesungguhnya?" tanya Suci pelan, suaranya serak terbata bata.


"Iya Anakku, kamu Suci anakku maafkan aku, aku takut mengungkap ini semua. Karena Leo mengancamku." ucap Tito pelan.


"Jawab Papa Leo, apa benar ini semua perlakuanku?" ucap Suci menghentak.


Leo tidak bergeming sedikitpun, bibirnya mengatup rapat seakan tidak ingin menjelaskan apapun itu.


"Kalau anda diam, berati itu semua ku anggap benar dan fakta. Kenapa papa tega berbuat sekeji ini, kenapa? Apa salah keluargaku padamu papa!!! aku benci denganmu papa." ucap Suci dengan amarahnya.


Suci sudah berdiri tegak, disisinya ada Zhein yang membiarkan Suci meluapkan semua emosi dan kekesalannya.


"Suci, sudahlah, kita semua salah disini. Mama pun salah." ucap Mama Laras pelan.


Mama Laras pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Suci yang sedang dikuasai amarah besar.


"Mama, dia itu bersalah kenapa mama malah membelanya?" kenapa Ma!!!" tanya Suci keras.


"Mama bukan membelanya Suci, tapi dengan papa Leo mengakui semuanya itu sudah cukup bukan. Yang terpenting kamu sudah mengetahui siapa papa kamu sebenarnya." ucap Mam Laras dengan lembut.

__ADS_1


"Kalian kenapa diam saja, kamu Mas Fathan, Aisyah?!!! kalian semua diam, karena bingung atau memang sudah tahu rahasia ini?!!!! HANYA AKU YANG BELUM MENGETAHUI INI???" ucap Suci keras.


"Suci...." ucap Fathan pelan.


"Cukup jangan katakan apapun, aku kecewa dengan kalian semua." ucap Suci mengedarkan pandangannya ke semua orang.


Suci pun menengok ke arah Zhein yang dari tadi hanya menyimak dan diam tidak berkutik.


"Jangan jangan kamu juga sudah mengetahui ini Mas? Kamu menyembunyikannya dari aku?? IYA!!!" ucap Suci yang benar benar kesal.


"Suci, Mas minta maaf." ucap Zhein pelan menarik tubuh Suci dan memeluknya.


"Kenapa Mas, kenapa kamu diam, kita selalu bersama, kamu bisa mengatakannya, aku seperti orang bodoh disini, semua orang tahu tentang aku. Tapi aku tidak mengenali diriku sendiri. Kami jahat Mas, kamu jahat!!!" ucap Suci yang menangis deras.


Kepalanya terus menempel pada dada Zhein, tangan Zhein pun mengusap punggung Suci dengan lembut. Zhein bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh istrinya.


Tangisannya makin menjadi jadi, dada Zhein pun menjadi bulan bulanan Suci untuk terus dipukul.


"Tenangkan dirimu sayang, semua ada hikmahnya. Jangan membenci papa Leo. Dia seperti itu juga telah mengurus kami sejak kecil. Kami harus menerima takdir ini. Aku akan selalu menemanimu sayang." ucap Zhein lembut sambil mengecup kepala Suci berkali kali..


Zhein ingin menenangkan hati Suci, agar emosinya masih bisa dikontrol badan meluap sewajarnya.


Suci mendongakkan kepalanya menatap Zhein.


"Aku kecewa Mas, dengan semuanya. Aku ingin ke kamar. AKU BENCI KALIAN SEMUA......!!!!!!!" ucap Suci keras dan lantang berteriak.


Suci pun melepaskan diri dari dekapan Suaminya dan berlari menuju kamarnya, menutup rapat rapat dan menguncinya.


Zhein pun mengejar Suci tapi terlambat, pintu sudah terkunci dari dalam.


Semua orang merasa bersalah atas kejadian ini terutama Tito, Leo dan Larasati.


Semua sudah terungkap, masalah pun selesai. Mereka pikir akan selesai setelah semuanya diungkap tapi nyatanya ini menambah beban bagi Suci yang sama sekali merasa dibohongi satu keluarga besar.


KENAPA CUMA AKU YANG BODOH DISINI, gumamnya pelan.

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2