
Perjalanan menuju rumah Eyang Atmojo membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar Empat Jam bila kecepatan rata rata sekitar 60KM/JAM. Sedangkan itu baru setengah perjalanannya saja, pinggang sudah mulai pegal, pantat terasa panas. Ditambah sinar matahari yang menyorot langsung ke arah kaca jendela mobil, semakin panas hawa di dalamnya walaupun AC sudah terpasang Maximal.
Perjalanan kali ini, Zhein menyetir sendiri dengan Suci yang duduk manis disebelah Supir Gantengnya itu. Sedangkan Bunda Jihan, Mama Laras dan Raina ada dibelakang.
Bisa hari ini atau besok akan ada pertemuan keluarga besar, semua berkumpul di rumah Eyang Atmojo. Semua sudah diberitahukan, tapi mengenai acara semua dirahasiakan oleh Eyang Atmojo.
"Kamu pegal sayang?" tanya Zhein sambil menengok ke arah Suci. Satu tangannya mengusap pinggang istrinya dengan lembut.
"Fokus setir Mas, bawa nyawa banyak ini." ucap Suci pelan.
"Mau makan dulu Bunda, Mama?" tanya Zhein lembut.
"Nanti saja di rumah Eyang, ini sudah banyak cemilan. Atau kamu mau makan Suci?" tanya Bunda Jihan lembut.
"Gak Mas, aku mual aja nih. Aku tiduran aja ya." Ucap Suci pelan.
"Kamu beneran gak papa? Bunda minta plastik, Suci sedang mual." ucap Zhein dengan cemas.
"Ibu hamil ya begitu Zhein, mual itu biasa, gak usah cemas gitu." ucap Raina pelan.
Dua jam kemudian... Mobil pun sudah terparkir cantik di pekarangan rumah Eyang Atmojo yang luas itu.
"Assalamualaikum... Eyang" ucap Suci langsung memeluk Eyang Atmojo dengan erat. Mencium tangan Eyang dan mengecup kedua pipinya.
"Waalaikumsalam... Cucu Eyang.. Gimana ini cicit Eyang, Suci?" tanya Eyang Atmojo kepada Suci sambil mengelus perut Suci dengan lembut.
"Alhamdulillah Eyang sehat semua." ucap Suci.
"Alhamdulillah kalau begitu. Laras, Jihan, cucu mantu Eyang, kamu pasti Raina?" tanya Eyang Atmojo dengan lembut.
Satu per satu menyalami Eyang Atmojo secara bergantian termasuk Raina.
Nenek cempaka datang membawa minuman dan makanan ringan untuk semua tamu Eyang.
"Nenek cempaka, apakah Aisyah akan datang bersama suaminya?" tanya Suci dengan sopan.
"Nanti malam akan datang Suci, kamu tunggu saja." ucap Nenek Cempaka pelan.
"Mama Kirana kemana Eyang?" tanya Raina dengan sopan.
"Tadi ikut pengajian bersama Umi Khadijah." ucap Eyang Atmojo.
__ADS_1
"Sayang, aku buatkan susu untukmu, kamu belum minum susu kan?" tanya Zhein pelan.
"Mas, kamu juga kan lelah, nanti saja ya." ucap Suci dengan tenang.
"Minum atau ..." ucapan Zhein pun terhenti.
"Iya Mas, buatkan untuk anakmu ya." ucap Suci mengalah.
"Gitu donk, nurut sama Suami." ucap Zhein sambil memencet hidung Suci. Suci hanya meringis kesakitan.
"Eyang sebenarnya kita mau ada acara apa?" tanya Suci dengan sopan.
"Nanti lihat saja sayang. Kamu kalau capek istirahat dulu Suci." ucap Eyang Atmojo pelan.
"Suci ini susunya minum dulu, setelah itu istirahat. Lihat perut kamu sudah terlihat kencang lagi.
"Iya Nak, istirahat dulu. Kalau bisa datang semua hari ini. Acara akan dilakukan nanti malam." ucap Mama Laras dengan lembut.
Suci pun mengalah, rasa cape di tubuhnya sudah semakin menjadi jadi. Tulang tulangnya mulai terasa lemas tak berdaya. Zhein pun memapah Suci berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Nenek cempaka membawakan tas berisikan keperluan mereka berdua.
"Sayang mau ganti baju? biar Mas pakaikan, kamu duduk saja." ucap Zhein pelan sambil mengunci pintu kamar dan mengambil daster berukuran besar untuk Suci.
Hari semakin sore Suci dan Zhein masih terlelap dalam tidur siangnya.
Hiruk pikuk suara ramai dari arah ruang tamu pun membuat Zhein terbangun.
Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu. Malam ini akan ada pertemuan besar, antara keluarga besar Eyang Atmojo, keluarga besar Alvaro, Keluarga Besar Furqon dan Leo. Aisyah dan Baihaqi pun datang. Begitu juga Wibowo dan istrinya Ameera yang tengah hamil muda.
Acara ini sebenarnya hanya silaturahmi dan makan malam di taman belakang.
Keluarga Besar ini memang sedang mengalami ujian, tapi dengan terjalinnya silaturahmi maka kesalahan kesalahan di masa lalu pun bisa dengan mudah termaafkan.
Intinya niat baik meminta maaf, dan membuktikan untuk tidak melakukannya lagi.
"Sayang, kamu mandi dulu lalubsyholat ashar. Di depan sudah ramai. Mungkin sudah berkumpul." ucap Zhein membangunkan istrinya.
Suci pun terbangun, wajahnya masih kusut. Dengan penuh semangat, Suci pun bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Zhein pun melakukan hal yang sama.
Mereka sholat ashar berjamaah. Setelah selesai mereka berdua pun keluar dari kamar. Semua saudaranya memeluk Suci dan mengucapkan selamat atas kehamilannya dan atas kelulusan Zhein menempuh gelar magisternya.
"Bude Meera sudah hamil juga? berapa bulan?" tanya Suci pelan.
__ADS_1
"Baru dua bulan Suci, tapi bude seneng banget, Allah SWT mengabulkan doa bude." ucap Bude Meera sambil mengelus perut Suci yang sudah terlihat membesar.
Zhein pun memilih mengobrol dengan para bapak bapak disana. Ada Pakde Bowo, Reihan dan Fathan.
"Assalamualaikum, pakde.. Fathan... kamu Reihan?" tanya Zhein menyalami semuanya.
"Waalaikumsalam hai Ustadz Zhein. Ini Kak Reihan, kakak iparku." ucap Fathan mantap.
"Hallo kak Reihan, Raina sahabatku sejak SMA." ucap Zhein menjelaskan.
"Aku tahu, Mama Kirana sering menceritakan tentang kamu dan Bima. Terima kasih sudah menjaga adikku Raina." ucap Reihan dengan tegas.
"Banyak hal besar yang akan terungkap malam ini Zhein, kamu harus siap memegang istrimu. Satu hal lagi, ternyata Kak Reihan ini mantannya Siska." ucap Fathan menjelaskan.
"Serius Kak Reihan?" ucap Zhein menyelidik.
"Iya. Aku kehilangan jejaknya. Aku berkenalan dengan Siska waktu aku pulang ke Indonesia sekitar lima tahun yang lalu. Aku bertemu di Pantai Baron. Sepertinya dia patah hati, karena mencintai sepupunya sendiri. Ternyata itu kami Zhein? Hidup ini ternyata rumit, tapi jodoh akan datang tepat pada waktunya. Aku akan melamar Siska Anggraeni." ucap Reihan pelan.
"Aku dukung Kak Reihan, Siska berhak mendapatkan yang terbaik. Semoga Kak Reihan bisa membahagiakan Siska." ucap Zhein pelan.
Ada dua buah mobil masuk ke dalam parkiran rumah Eyang Atmojo. Terlihat, Kakek Furqon bersama Tito Azzam dan Khadijah. Satu mobil lagi keluarga Besar kakek Alvaro bersama Fatima.
Semua saling menyapa dan berbincang dengan baik. Sepertinya semua baik baik saja. Tapi ada duka di dalamnya.
Kedatangan Aisyah dan Baihaqi sebagai pasangan pengantin baru pun turut hadir. Terakhir menunggu Leo.
Raina dan Mama Kirana pun langsung ikut mengakrabkan diri dengan yang lainnya.
Suci, Aisyah dan Raina berkumpul bersama sebagai calon mamah muda.
Bunda Jihan, Mama Laras, Mama Kirana, Ameera dan Umi Khadijah, berbincang sendiri di Sofa tengah.
Para papah muda berada diteras, mereka Zhein, Baihaqi, Fathan dan Reihan.
Sedangkan lelaki paruh baya pun menjadi satu. Ada Kakek Furqon, Kakek Alvaro, Pakde Bowo dan Tito Azzam.
Semua asyik dengan obrolannya masing masing-masing.
Sekarang mereka bisa tertawa, apakah satu jam kemudian tawa itu masih ada?.....
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1