
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Umi Khadijah dan Mama Larasati hanya saling berpandangan, mereka tidak sanggup memberitahukan kebenaran ini. Seharusnya yang lebih berhak menceritakan ini semua adalah Ayah kandung Aisyah tak lain Tito suami Umi Khadijah.
"Ceritakan Umi, Mama, tentang kebenaran ini." ucap Aisyah serak, tangisannya begitu deras hingga dadanya terasa sesak.
"Umi akan ceritakan sebenarnya, tapi kamu harus tenang Aisyah, kamu jangan histeris seperti ini. Ini semua hanya salah paham, kesalahan yang tidak sengaja di perbuat oleh ayahmu." ucap Umi Khadijah lembut. Matanya yang indah mulai berkaca-kaca kembali melihat Aisyah yang begitu histeris.
"Duduklah Nak, minumlah ini dulu, biar mama yang membersihkan pecahan gelas itu." ucap Mama Larasati dengan lembut.
Menenangkan Aisyah itu tidak mudah, umurnya yang masih labil dan kondisi kejiwaannya yang terguncang karena ibunya meninggal. Kedua paru baya itu tidak tega bila harus menambah beban Aisyah dengan kebenaran jati dirinya yang sebenarnya. Tapi ini adalah kenyataan hidup, pahit ataupun manis pun harus sama-sama kita nikmati bersamaan agar semuanya menjadi seimbang.
Mama Larasati masih membersihkan pecahan gelas yang berserakan. Umi Khadijah mengelap lantai yang basah, kedua paru baya itu terlihat kompak seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi hatinya perih menangis seperti teriris iris.
"Kamu sudah lebih tenang Aisyah. Kamu sudah siap mendengarkan cerita Umi? Umi harap kamu tidak menyanggah pembicaraan umi, dan kamu dengarkan baik baik Aisyah." ucap Umi Khadijah seolah tegas memberikan instruksi.
Aisyah pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Wajahnya telah kusut karena air mata sudah menyebar ke seluruh wajah manisnya itu.
"Iya Umi, Aisyah siap untuk mendengarkannya" ucap Aisyah lirih.
Umi Khadijah pun mulai menceritakan awal kejadian itu bermula hingga menua kejadian demi kejadian terjadi dan semuanya saling berkaitan hingga akhir cerita itu selesai. Umi Khadijah menceritakan dengan pelan agar bisa dimengerti dan jelas. Tidak ada yang dilebih-lebihkan atau dikurangi. Semuanya apa yang seperti suaminya ceritakan.
"Seperti itu ceritanya Aisyah. Maafkan suami Umi ya. Abi Tito itu juga ayah kandung Aisyah, anggap Umi seperti bunda Aisyah sayang. Umi tidak akan membedakan kalian. Terlebih Siti sudah banyak berkorban untuk ini, jadi kamu sekarang menjadi tanggung jawab Umi." ucap Umi Khadijah pelan sambil memeluk Aisyah.
Aisyah masih sesegukan menahan tangisnya agar tidak pecah kembali. Berusaha untuk tidak kecewa dan menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, sesuai tausyiah yang sering Aisyah dengar di pengajian.
Hatinya telah pasrah, rasa kecewanya tergantikan resa lega karena mengetahui semuanya, terlebih Umi Khadijah dan Mama Larasati juga menganggapnya sebagai anak.
"Terima kasih Umi Khadijah telah menceritakan semuanya tentang kebenaran jati diri Aisyah. Aisyah ingin bertemu ayah Aisyah?" ucap Aisyah pelan.
Jujur Aisyah rindu dengan ayahnya walau tidak mengenal. Ingin berada di pelukan sang ayah, disaat sang ibu sudah tidak bisa memeluknya lagi.
__ADS_1
"Ayahmu sedang ada tugas di luar kota. Umi ingin Aisyah tinggal disini, biar nenek cempaka berada di rumah Mama Laras. Jadi bila ayahmu datang, kamu bisa langsung menemuinya. Sekalian kamu menemani Fatima. Kamu mau Aisyah?" tanya Umi Khadijah.
"Iya Aisyah kamu lebih baik disini, nanti sesekali main ke rumah Mama, Mama akan membicarakan ini dengan nenek cempaka. Beliau pasti setuju untuk hal ini." Ucap Mama Laras lembut.
"Iya Umi, Mama, Aisyah mau tinggal disini. Mas Fathan dan Kak Suci sudah tahu?" tanya Aisyah pelan.
"Fathan sudah Umi beritahu, dia sempat syok tapi akhirnya bisa menerima takdir ini. Kalau Suci sudah tahu Laras?" ucap Umi Khadijah pelan.
"Suci belum ku beritahu, aku baru tahu kebenarannya juga sekarang, kemarin kemarin aku hanya mengira ngira. Leo tidak pernah memberitahuku soal ini. Nanti Suci pasti akan ku beritahukan, dia sedang mengandung takut kepikiran nantinya." ucap Mama Laras sedikit cemas.
"Betul Laras. Lebih baik ceritakan pada Zhein, takutnya Suci stres memikirkan ini, kasihan bayi dalam kandungannya." ucap Umi Khadijah pelan.
"Kamu sudah memasak Khadijah?" tanya Mama Larasati mengalihkan pembicaraan.
"Belum Laras, tadi baru mau masak, kalian datang." ucap Umi Khadijah pelan.
"Ayok kita masak, aku bantu Khadijah, nanti kita makan bersama Aisyah dan Fatima." ucap Laras pelan.
💚💚💚💚💚
Hari ini hasil laboratorium Suci keluar setelah pemeriksaan kemarin. Dokter Meta telah mengabari bahwa hasil laboratorium bisa diambil siang ini. Perasaan cemas dan was was melingkupi hati Zhein saat ini.
"Suci, Mas ingin ke kampus dulu ya." ucap Zhein lembut sambil mengecup kening Suci.
"Iya Mas, hati hati. Hasil laboratorium kapan Mas? sudah ada kabar dari dokter Meta?" tanya Suci pelan.
"Belum ada Suci, kalau sudah ada biar Mas ambil nanti pulang dari kampus. Ingat jangan membukakan pintu selama Mas pergi." ucap Zhein tegas.
"Iya Mas, aku paham. Aku mau masak buat kamu, aku punya resep baru." ucap Suci sambil mengecup pipi suaminya.
"Kamu jangan terlalu capek sayang. Aku gak mau bayi kita ikut lelah. Minum susunya, Mas sudah buatkan ada di dalam kulkas." ucap Zhein lembut.
"Makasih ya Mas." ucap Suci mengecup bibir Zhein sambil memeluk erat.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya. Hati hati dirumah sayang, langsung telepon aku ya kalau ada masalah." ucap Zhein tegas.
"Iya Mas Zhein." ucap Suci sambil mencium punggung tangan suaminya itu.
Suci pun melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Hari ini tubuhnya terasa ringan dan enak dibawa bekerja.
"Sayang baik baik di perut umi, Abi lagi pergi sebentar nanti kembali lagi." ucap Suci kepada buah hatinya.
Semenjak Suci mengandung, Zhein dan Suci sering mengajak buah hatinya bicara ataupun mendengarkan Abinya membaca Al Qur'an agar terbiasa.
Zhein melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit. Matanya membaca ruangan dokter bernama Meta.
"Assalamualaikum... Dokter Meta? Raina?" ucap Zhein pelan. Hatinya sudah campur aduk bila sesuatu yang tidak diinginkan benar terjadi pada Suci.
"Waalaikumsalam Zhein, mari masuk dan duduklah." ucap kedua dokter itu dengan tersenyum.
Dokter Meta memberikan amplop berisikan hasil laboratorium milik Suci.
"Boleh saya buka dokter?" ucap Zhein ragu.
"Silahkan Pak Zhein, bukalah, dan saya akan menjelaskan." ucap dokter Meta meyakinkan.
Dibukanya perlahan amplop itu, bibirnya terus saja bersholawat memohon agar semua baik baik saja. Zhein mempunyai impian agar keluarga kecilnya bahagia dunia akhirat hingga menua nanti. Semoga hasil ini, yang terbaik untukku.
Bismillahirrahmanirrahim....
-------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1