
Mobil pun sudah berhenti tepat di depan rumah Anggie. Ada perasaan yang tidak karuan dari dalam hatinya. Rasa takut, cemas, panik, gugup dan tidak ikhlas.
"Pak Amin tunggu disini saja. Saya tidak lama." ucap Aisyah meyakinkan.
"Baik Bu Aisyah." jawab Pak Amin dengan sopan.
Aisyah membuka pintu mobil dan turun dari mobil hitamnya. Kakinya berjalan terasa berat menuju pintu pagar rumah Anggie.
"Assalamualaikum.... permisi.." ucap Aisyah pelan.
Satu orang asisten pun berlari dari arah samping dan membuka pintu pagar.
"Waalaikumsalam... " jawab asisten rumah tangga itu.
"Bu Margareth dan Anggie ada? eh... maksud saya Nastiti?" tanya Aisyah pelan dan sopan.
"Bu Margaretha sedang keluar, bila non Nastiti ada di kamarnya, mari saya antar." ucap asisten itu dengan ramah.
Aisyah berjalan tepat di belakang asisten itu. Perasaannya semakin bergemuruh, detak jantungnya pun menjadi berdetak terlalu cepat dan tidak normal.
__ADS_1
Asisten itu menunjukkan kamar Anggie. Sejak kemarin Anggie hanya mengurung diri dan mengunci pintu kamarnya.
Kamar dengan ukiran pintu khas Jepara yang sangat cantik.
"Assalamualaikum... Anggie... Ini aku Aisyah." ucap Aisyah pelan dan lembut. Padahal hatinya terasa sakit dan perih karena kejadian buruk ini.
Di balik pintu Anggie mendegar ketukan dan ucapan salam dari Aisyah. Orang yang telah menolongnya saat semua orang menutup mata dengan keadaannya.
Tangisannya pun luruh begitu saja. Hatinya pun terasa sakit dan perih. Tapi apa yang yang bisa Anggie lakukan, ia tetap harus melakukan karena bayi yang dikandungnya memerlukan sosok Ayah.
Anggie pun mengusap sisa air mata yang masih tersisa di pipinya dengan telapak tangannya. Kedua matanya masih sembab dan terlihat sedikit bengkak.
"Boleh aku masuk, aku membawakan makan untukmu. Katanya kamu belum makan sejak kemarin. Apa kamu tidak sayang dengan bayi yang ada dalam kandunganmu?" tanya Aisyah lembut dan mengusap perut Anggie dengan pelan.
"Masuk Kak Aisyah, silahkan duduk." ucap Anggie yang kemudian menutup pintu kamarnya dan duduk di tepian ranjang.
Aisyah masih takjub dengan keindahan kamar Anggie yang benar-benar rapih dan mewah. Aisyah pun duduk di kursi meja belajar Anggie.
"Mau aku suapi?" tanya Aisyah pelan.
__ADS_1
Anggie pun ragu dan malu di perlakukan seperti itu oleh Aisyah. Wanita yang saat ini ada di hadapannya adalah wanita berhati mulia dan berakhlak sholehah.
Pelan Anggie pun menganggukkan kepalanya dengan pasrah, dan menerima suapan nasi dari Aisyah. Suapan demi suapan dengan sangat telaten Aisyah melakukannya berulang kali hingga nasi itu benar-benar habis.
Satu gelas air putih pun Aisyah sodorkan untuk Anggie. Lalu mengembalikan ke meja belajar, Aisyah pun tersenyum bahagia.
"Apa yang kamu pikirkan saat ini, coba kamu katakan kepadaku Anggie." tanya Aisyah dengan pelan.
"Kamu sungguh berhati mulia Kak Aisyah, tapi aku juga memerlukan sosok Ayah untuk bayi yang ku kandung ini." ucap Anggie lirih dan kemudian terisak kembali.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu Anggie? Berbagi Suami? Aku menerimamu menjadi Maduku? Seperti itu?" tanya Aisyah dengan lembut dan pelan, dan masih terlihat tenang.
"Aku mencintai Pak Baihaqi. Aku sangat mencintainya." ucapnya keras dan jujur.
Seketika bulir kristal itu luruh begitu saja dari kedua mata Aisyah. Batinnya begitu tersentak mendengar ucapan Anggie yang begitu polos dan jujur dari dalam hatinya.
Bukti cintanya kepada Baihaqi pun tampak jelas dengan beberapa foto yang tertempel di dinding. Aisyah begitu takjub melihat pemandangan itu sekaligus hatinya terasa ngilu dan perih.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1