
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Kehidupan rumah tangga pasangan muda itu hanya bahagia, apalagi belum memiliki anak, masih banyak waktu untuk selalu bersama dan saling berbagi.
Sama halnya seperti Suci dan Zhein, masih mengenal pribadi masing masing dan terbuka.
"Sayang, apa kamu mau ikut ke kampus? Mas hanya ada satu mata kuliah untuk satu kelas saja. Kamu bisa tunggu Mas di perpustakaan atau si Kantin, nanti Mas pesankan makanan untukmu. Bawa buku atau majalah biar tidak jenuh." ucap Zhein lembut sambil memakai kemeja dan celana kainnya.
"Suci mau ikut, tapi takut jadi beban untuk kamu." ucap Suci melemah.
"Ayok ikut, ibu hamil itu harus sering tersenyum dan bahagia." ucap Zhein lembut.
"Aku ganti baju dulu ya Mas, sarapan udah siap, Mas duluan aja gak papa." ucap Suci sambil mengganti bajunya.
Setelah berganti pakaian, Suci pun ke ruang makan untuk menemani suaminya sarapan.
"Ini sayang susu hamilnya." ucap Zhein pelan.
Khusus susu ibu hamil memang Zhein yang meminta agar dia yang membuat. Bagi Zhein perhatian untuk anak dan ibunya selama kehamilan itu penting. Perhatian kecil tapi memiliki energi yang berbeda.
"Makasih Mas, langsung habis." ucap Suci menenggak susu itu hingga habis tidak bersisa.
"Sudah? ayok kita berangkat nanti Mas kesiangan." ucap Zhein lembut.
"Iya Mas, aku juga sudah beres." ucap Suci mengambil tas dan sebuah buku serta bekal untuk menunggu Zhein.
Mereka telah sampai di kampus, dan mencari tempat nyaman untuk Suci membaca bukunya. Taman adalah pilihan terbaik untuk Suci.
"Mas ditaman aja, Suci mau baca buku aja, lagi pula Suci sudah bawa bekal." ucap Suci menunjukkan tas kecilnya berisi sandwich, air mineral dan beberapa cemilan kesukaannya.
"Baiklah sayang, itu disana, ada bangku taman di bawah pohon. Ayok Mas anter ya." ucap Zhein dengan lembut.
Mereka berjalan menuju bangku itu dengan pelan. Suci pun terbiasa dengan menggandeng suaminya, hingga banyak pasang mata melihat ke arahnya.
"Sayang, aku disini gak papa. Ini cukup nyaman. Kalau cape duduk di atas aku bisa duduk dibawah." ucap Suci.
"Mas tinggal ya. Kamu jangan kemana-mana, disini aja. Ponselnya aktifkan, biar Mas gampang menghubungimu. Kalau ada apa-apa kamu langsung telepon Mas." ucap Zhein tegas.
"Iya Mas. Udah sana ngajar dulu, nanti terlambat sayang." ucap Suci sambil mendorong Zhein pergi.
Suci tidak mau dia menjadi beban bagi suaminya.
Baru setengah jam duduk sambil membaca buku, pinggang Suci sudah merasa pegal. Suci pun mengamati keadaan sekitar untuk mengusir rasa bosannya.
Banyak juga yang duduk santai ditaman ini untuk sekedar membaca. Suci membuka kotak sandwichnya dan mulai memakannya.
"Assalamualaikum... wanitaku" ucap seseorang dari belakang.
Suci pun menengok ke belakang, sedikit terkejut, tapi memang ini juga kampusnya. Jadi tidak ada salahnya dia berada disini, yang salah kenapa harus menyapa Suci.
"Waalaikumsalam Mas Fathan." ucap Suci pelan.
"Kamu tidak menyuruh Mas duduk?" ucap Fathan lembut.
"Ahhh, iya Mas Fathan silahkan duduk." ucap Suci datar.
"Suamimu lagi mengajar?" ucap Fathan lembut.
Melihat senyum Suci dibalik cadarnya membuat hatinya makin teriris. Fathan masih ada rasa tidak terima tentang kenyataan yang diberikan oleh Umi Khadijah.
"Iya Mas." ucap Suci singkat.
__ADS_1
"Tumben ikut? gak jenuh? ayok jalan jalan kesana."
"Tidak Mas. Suci akan menunggu Mas Zhein." ucap Suci lembut.
"Kenapa dulu kamu berjanji kalau akhirnya kamu juga yang mengingkari Suci. Jujur aku masih belum menerima keadaan ini. Kamu menikah dengan laki laki lain. Aku sakit Suci, hatiku perih mendengar kamu sudah menikah. Aku hancur, aku laki laki tapi..." ucap Fathan terhenti matanya sudah berkaca-kaca.
"Maafkan aku Mas Fathan, bukan maksud aku untuk menyakiti hatimu. Mungkin ini sudah takdir. Kita tidak berjodoh Mas." ucap Suci pelan.
Perutnya terasa nyeri karena mengulang memori yang sudah dikubur rapat rapat.
"Aku tetap ingin kamu? aku harus bagaimana?" ucap Fathan tegas dan menoleh ke arah Suci dengan tajam.
"Aku sudah bersuami Mas, dan aku bahagia dengan suamiku, dan aku sedang mengandung anaknya. Tolong lupakan semuanya. Suci mohon Mas, lupakan Suci." ucap Suci dengan terisak.
"Kamu sudah mengandung?" ucap Fathan pelan.
"Iya ini buah cintaku dengan Mas Zhein." ucap Suci lirih.
"Apa kamu masih mencintaiku Suci, seperti dulu? apakah rasa itu masih ada untukku?" ucap Fathan pelan.
"Sedikitpun tidak Mas, cintaku untukmu sudah tidak ada. Cintaku saat ini hanya untuk suamiku." ucap Suci mantap.
"Menurutmu apa yang akan kamu lakukan kalau kita sebenarnya bersaudara?" ucap Fathan.
"Tidak usah berandai andai yang tidak mungkin Mas. Keturunan kita itu jelas tidak mungkin kan kita bersaudara. Lalu Umi Khadijah, Umi ku?" ucap Suci sedikit ketus.
"Kita akan selalu bertemu dan kita akan selalu bersama Suci." ucap Fathan keras.
"Cukup Mas Fathan, lebih baik kamu pergi. Arghhh.... perutku sakit..." ucap Suci pelan sambil menahan tangis karena sakit.
"Kamu kenapa Suci, aku antar kamu ke rumah sakit. Ayok Suci aku pegang." ucap Fathan cemas.
"Jangan sentuh aku Mas, biarkan aku disini menunggu suamiku. Aku berjanji menunggunya disini. Aku tidak ingin membuatnya khawatir dan cemas. Lebih baik kamu pergi dari sini. Aku tidak ingin suamiku salah paham lagi tentangmu Mas Fathan." ucap Suci sambil meringis menahan sakit.
Rasa sayang dan cinta kepada Suci harus berubah menjadi rasa sayang kepada adik. Cukup berat menerima kenyataan itu.
"Pergi Mas Fathan, Suci mohon. Suci tidak ingin mengecewakan Mas Zhein. Suci tidak mau durhaka, karena harus bertemu Mas Fathan disini." ucap Suci pelan.
Rasa sakit karena perutnya yang keram pun tidak tertahankan.
"Kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit?" ucap Fathan panik.
Wajah pucat Suci membuat Fathan cemas.
"Tolong panggilkan Mas Zhein , Mas Fathan, tolong Suci." Ucap Suci terbata bata, hingga tidak sadarkan diri.
Fathan langsung berdiri, ada rasa cemas dan panik. Semua campur aduk. Dengan langkah berani, Fathan mengangkat tubuh Suci dan langsung dibawa ke dalam mobil. Fathan langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Fathan langsung memanggil tenaga medis untuk memeriksa Suci.
Ada perasaan bersalah, karena membuat situasi dan kondisinya seperti ini.
Dokter yang memeriksa Suci pun keluar dari ruangan. Fathan segera menyamai langkah dokter wanita itu untuk menanyakan keadaan Suci.
"Maaf, dokter..." ucap Fathan terhenti dan melirik ke arah name tag dokter tersebut, tertulis dengan besar namanya sebagai dokter kandungan.
"Ekhhmmmmm dokter Raina, bagaimana keadaan Suci?" ucap Fathan cemas.
"Kalau boleh tahu, anda siapanya Ibu Suci?" ucap dokter Raina pelan.
"Saya hanya temannya Suci, saya melihatnya pingsan lalu saya bawa kemari. Apa saya salah?" ucap Fathan pelan.
"Kalau hanya teman, kenapa anda begitu cemas?" ucap Raina menyelidik.
__ADS_1
"Karena saya yang ada disana pada waktu itu, saya panik." ucap Fathan tak mau kalah.
"Hanya itu?" ucap dokter Raina pelan.
"Iya dokter, kenapa anda mempersulit saya dokter. Saya hanya ingin tahu keadaan pasien." ucap Fathan keras.
"Assalamualaikum... Raina, ada apa dengan Suci? aku mencarinya ditaman tidak ada sampai aku frustasi. Untung kamu menghubungiku Raina?" ucap Zhein pelan dengan nafas tidak beraturan.
"Waalaikumsalam..Kamu kenal dia Zhein?" tanya Raina sambil menunjuk Fathan.
"Kenal Raina." ucap Zhein menatap Fathan penuh tanya.
"Suci pingsan dan di bawa oleh dia. Istrimu baik baik saja, setengah jam lagi pasti sadar. Ibu hamil jangan dibuat stress biar berakibat fatal nantinya." ucap Raina dengan ketus.
"Biar saya bicara dengan Fathan sebentar Raina." ucap Zhein pelan.
"Baiklah, aku akan membawa Suci ke ruang perawatan Zhein, aku akan menemaninya." ucap Raina pelan.
Raina pun pergi menuju ruangannya untuk mengambil barang yang tertinggal, kemudian menuju ruang perawatan dimana Suci akan dirawat.
"Terima kasih Fathan, kamu sudah membawa Suci ke rumah sakit disaat yang genting. Kalau tidak ada dirimu, apa yang akan terjadi pada Suci." ucap Zhein sopan.
"Tidak usah berterima kasih Zhein, bukankah sesama mahluk hidup harus saling membantu." ucap Fathan datar.
"Apa kamu masih mencintai Suci, Fathan? mencintai sebagai perempuan, bukan sebagai saudara." tanya Zhein menebak.
"Maksudmu Zhein?" ucap Fathan tenang dan tidak terpancing.
"Sudah jelas bukan pertanyaanku? apakah kamu masih mencintai Suci?" tanya Zhein menyelidik dan menatap kedua mata Fathan untuk mencari sebuah kejujuran.
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu? Apapun keadaannya Suci tetap menjadi istrimu dan dua milikmu seutuhnya." ucap Fathan ketus.
"Jawab Fathan! Aku pun menanyakan hal yang sama kepada istriku, dan Suci pun menjawabnya." ucap Zhein menatap koridor sepi itu.
"Lebih baik aku pulang, pembicaraanmu kacau Zhein." ucap Fathan keras dan segera berbalik untuk pergi.
"Karena aku suami Suci, aku tidak ingin dua memikirkan laki laki lain selain aku, dan aku juga tidak ingin dua dipikirkan oleh laki laki lain. AKU CEMBURU FATHAN!!!" ucap Zhein lirih.
"Kamu memang Zhein, kamu mendapatkan Suci, wanita yang selalu aku idam idamkan, wanita yang namanya selalu aku sebut di sepertiga malamku ternyata bukan jodohku. Aku sakit Zhein, aku hancur." ucap Fathan keras.
"Aku pun hancur Fathan, aku selalu bersikap baik dan sewajarnya, tapi hati Suci belum lepas darimu Fathan. Lepaskan Suci, Fathan. Jangan buat aku menjadi suami yang tidak berguna." ucap Zhein lirih.
"Sudahlah Zhein, kamu tidak perlu tahu isi hatiku yang sebenarnya." ucap Fathan pelan.
"Aku harus tahu Fathan, buang jauh rasa cintamu pada Suci. Aku tahu kalian bersaudara. Betul kan?" ucap Zhein mantap.
Deg......
"Aku pergi Zhein." ucap Fathan lirih.
"Jawab Fathan!!! kalian bersaudara?" ucap Zhein tegas.
"Bukan urusanmu Zhein. Urus saja istrimu itu." ucap Fathan meninggalkan Zhein sendiri di koridor sepi itu.
Hatinya terasa sakit dan perih, menerima kenyataan bahwa mereka bersaudara.
Maafkan aku Zhein, aku memang masih mencintai Suci, sulit bagiku menerima kenyataan pahit ini. Setelah kenyataan Suci telah menikah sekarang secara tiba tiba dia menjadi adikku.
----------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚