
Malam yang penuh tanya, Zhein dan Suci melanjutkan acara jalan-jalan itu dengan sejuta pertanyaan.
Zhein terbangun di sepertiga malam, ia berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT, agar hari ini diberi kelancaran untuk sidang thesis dan segera mendapatkan pekerjaan tetap menjadi dosen disalah satu universitas di Yogyakarta.
Zhein selalu bersyukur dengan apa yang telah menjadi rejekinya. Memiliki istri yang Sholehah, dan sebentar lagi memiliki anak, dan memiliki orang tua yang baik seperti Bunda Jihan dan Mama Larasati.
"Mas, kok kamu gak bangunin aku untuk sholat tahajud." Ucap Suci pelan dan terduduk ditepian tempat tidur.
Zhein bangkit berdiri dan duduk disebelah istrinya. Mengusap lembut rambut panjang istrinya itu.
"Tadi Mas sudah bangunin kamu sayang, tapi kamu terlalu lelah dan nyenyak tidur. Mumpung masih ada waktu, aku temani berwudhu." tanya Zhein lembut.
Suci pun menganggukan kepalanya dan berdiri menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Suci pun melaksanakan sholat tahajud dan disampingnya Zhein sedang berdzikir dan bersholawat menunggu Suci selesai.
Permintaan Suci yang selalu di munajatkan kepada Allah SWT, agar selalu ditumbuhkan cinta kepada Allah SWT dan Rasulnya, kemudian cinta kepada Zhein suaminya, dan kelancaran dalam mengandung hingga melahirkan nanti, ini permintaan utama. Permintaan yang lain sangat banyak, memohon ampunan, memohon kebahagiaan dunia akhirat, memohon di kuatkan iman Islamnya dan lain sebagainya. Semua disebutkan, entah permohonan mana yang didahulukan oleh Allah SWT untuk dikabulkan.
Zhein menatap Suci penuh kasih sayang. Usia pernikahan mereka memang belum genap satu tahun, tapi mereka merasa sudah hidup bersama bertahun-tahun lamanya.
"Mas, persiapanmu gimana untuk thesis nanti?" tanya Suci pelan.
"Alhamdulillah, sudah dipersiapkan." ucap Zhein mantap dengan menunjuk arah tas yang sudah dipersiapkan di atas meja.
"Mudah mudahan semuanya berjalan lancar ya Mas, kamu wisudanya kapan?" tanya Suci kemudian.
"Kalau lulus, aku ikut wisuda minggu depan. Dengan catatan, hari ini juga aku menyelesaikan administrasinya." ucap Zhein pelan.
"Mas, aku boleh kuliah?" ucap Suci pelan menatap sendu wajah suaminya dengan memohon.
"Mau lanjut yang kemarin atau daftar lagi?" tanya Zhein pelan.
"Aku mau kuliah jurusan psikologi. Gimana?" tanya Suci pelan.
"Kamu kan lagi hamil sayang? setelah melahirkan ya?" tanya Zhein bernegosiasi.
"Ya Mas, setelah sampai di Indonesia kita daftar. Nanti aku minta rekomendasi dari kaprodi untuk mengurus pindah jurusan." ucap Suci semangat.
"Kita bicarakan nanti, kalau Bunda tahu, pasti gak dibolehin. Kalau kamu jenuh, kamu kan bisa di butik ataupun ikut Mas ke kampus." ucap Zhein menjelaskan dengan lembut.
"Jangan bilang Bunda dong Mas, aku juga kan harus seimbang sama kamu. Kamu sudah Magister, masa Istrinya cuma lulusan SMA." ucap Suci pelan mengungkapkan perasaannya yang mengganjal.
__ADS_1
"Sayang... dengarkan Mas, apapun itu kamu, Mas tetap cinta kamu. Buat apa kamu lulusan terbaik di universitas favorite bila akhlakmu tidak baik. Lebih baik kamu seperti ini, jujur, baik dan ramah." ucap Zhein memuji.
"Janji untuk setia dengan Suci. Janji untuk tidak meninggalkan Suci?" tanya Suci pelan.
"Insya Allah, tegur Mas, bila Mas ada salah. Untuk setia, selama istri Mas juga setia, Mas pun akan setia." ucap Zhein dengan mantap.
Suci langsung mengecup bibir Zhein, hatinya selalu berbunga-bunga mendengar kata kata romantis dari suaminya, sepertinya pagi ini moodnya pun menjadi baik.
"Makasih ya Mas." ucap Suci pelan sambil melepaskan mukenanya dan melipat kembali hingga rapi.
Tangan Zhein pun sudah melingkar di perut Suci membuat Suci bersandar di dada Zhein. Sambil menyibakkan daster Suci agar perutnya bisa tersentuh langsung oleh jari jari Zhein. Usapannya begitu lembut dan membuat perut menjadi keras.
"Kok mengeras lagi sayang perutnya, ini beneran gak papa?" tanya Zhein sedikit panik.
Tangannya terus mengusap perut buncit itu.
"Ini alami Mas, gak sakit. Cuma terasa kencang aja." ucap Suci pelan.
"Di usap usap begini sakit gak?" tanya Zhein.
"Gak Mas, anaknya seneng tuh." ucap Suci sekenanya.
"Dua duanya." ucap Suci terkekeh.
"Tetap bersama Mas ya sayang. Temani Mas dalam suka ataupun duka. Kita gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari." ucap Zhein pelan sambil menciumi pucuk kepala Suci penuh kasih sayang.
"I love you Mas..." ucap Suci pelan menciumi leher Zhein.
"I love you too Sayang..." ucap Zhein lirih.
Kemesraan mereka tidak berlangsung lama, adzan Shubuh telah berkumandang dengan merdu, membangunkan hamba hambanya yang masih nyenyak dalam tidurnya.
Zhein dan Suci berwudhu kembali dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah selesai Suci pun membuat sarapan pagi.
Walaupun sedang mengandung, Suci masih cekatan dan terampil dalam masak memasak.
"Sayang, masak apa sih, Mas udah buatin susunya, nanti minum ya." ucap Zhein tepat di telinga Suci. Tangannya melingkar di pinggang Suci menggapai perut buncit itu.
Hembusan nafas Zhein membuat leher Suci terasa merinding.
"Nasi goreng Mas, sayang nasinya." ucap Suci sambil mengaduk aduk nasib di dalam wajan itu.
__ADS_1
"Ekhemmmm.... terus ...." ucapan Bunda mengangetkan keduanya.
"Bunda... ngintip aja." ucap Zhein dengan cuek tetap dengan memeluk Suci dari belakang. Sesekali malah mencium pipi suci membuat Bunda menjadi kesal.
Sarapan pun sudah siap. Semua sudah berkumpul di meja makan menyantap sarapan pagi. Setelah ini mereka semua bersiap untuk mengantar Zhein untuk sidang thesis.
Suci sudah mandi dan sudah memakai gamis lengkap dengan kerudung panjangnya. Zhein juga sudah merapikan diri dengan pakaian hitam putih dipadukan dengan jas hitam.
Zhein pun melaksanakan sholat Dhuha dan sholat hajat, untuk kelancaran hari ini.
Mereka sudah siap dan berangkat menuju kampus. Setelah sampai di kampus Zhein menggandeng Suci menuju ruangan sidang. Disana sudah ada beberapa peserta yang ikut sidang juga.
"Mas, kamu antrian ke berapa?" tanya Suci yang ikut tegang.
"Belum ada antrian, nanti dipanggil acak, semoga Mas yang pertama, biar bisa urus administrasi hari ini." ucap Zhein pelan.
Walaupun sudah biasa berbicara di depan tetap saja rasa takut dan cemas pasti ada.
Semua dosen telah datang. Ada dosen pembimbing dan dua dosen untuk menguji thesis mahasiswanya.
Hingga samar terdengar satu nama di panggil Muhammad Zhein.
Zhein pun mengecup kening istrinya untuk menghilangkan kegugupannya.
Sidang thesis pun di mulai. Ada lima peserta, masing-masing peserta diberi waktu setengah jam untuk menjelaskan dan setengah jam untuk pengujian. Zhein pun keluar dengan penuh keyakinan.
"Alhamdulillah Mas kita tinggal menunggu hasilnya saja. Sekitar jam dua, tadi Suci baca pengumumannya." ucap Suci pelan.
"Bunda dan Mama mana?" hanya Zhein pelan.
"Tadi ke toilet tapi berlanjut berjalan jalan di taman kampus." ucap Suci menunjuk kedua ibu itu.
"Kita menunggu disini gak papa? atau mau beli cemilan?" tanya Zhein pelan.
"Aku disini aja Mas, kamu yang beli aku lelah." ucap Suci pelan.
"Kamu disini jangan kemana-mana lagi. Ingat!!" ucap Zhein dengan tegasnya.
Zhein pun berlari menuju kantin di ujung koridor kampus.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1