
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Acara jalan jalan dan bermain main ke gua sempit sudah dilakukan dengan sukses, walupun dengan waktu yang singkat, tapi sensasinya itu masih terasa sampai sekarang. Masih ada malam malam atau siang siang yang lain, untuk berkunjung ke gua itu kembali. Yang penting mood keduanya bagus.
Setelah selesai mandi junub, Suci pun mengajak Zhein untuk ke ruang makan untuk makan siang.
"Enak mas makanannya, apa mau nambah biar suci ambilin, mau pake lauk yang mana?" ucap suci lembut sambil melayani suaminya untuk mengambil makanannya.
"Enak makan kamu kayak tadi, hehehehe.." ucap Zhein sambil terkekeh.
"Aishhh.... mulai lagi deh godain suci mulu." ucap suci pura pura kesal.
"Sayang, kok kamu jalannya biasa aja, kalau baca baca tentang gituan, biasanya sakit dan perih. Kamu gak sakit itu anunya itu eh gua sempitnya." ucap Zhein pelan takut terdengar yang lain.
"Sakit sih pas awal aja mas, kalo sekarang tuh rasanya lebih kebas kayak ada yang masih ganjel gitu di gua sempit suci. hehehehe ... Suci malu mas jelasinnya, udah makan dulu ya." ucap suci polos.
"Sama suami masa iya malu sih, jadi kan mas tahu, ohh itu tandanya suci mau nambah, atau mau lagi. hehehhehe." ucap Zhein terbahak bahak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Susah nih punya suami mesum, lama lama suci otaknya dicuci sama mas zhein." jawabnya cuek sambil mengunyah makanannya.
Acara makan pun terhenti dengan suara teriakan yang sangat kencang. Suara seorang wanita yang sudah tidak asing lagi.
"IBU..... IBU.... DIMANA IBU.... INI SEMUA SALAH IBU, SALAH IBU!!!!. HARUSNYA IBU TIDAK IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGAKU. HARUSNYA IBU ITU SADAR!!! IBU ITU HANYA SEORANG EYANG BUKAN BERARTI MEMILIKI HAK MENGATUR SUCI. IBU TAHU APA HASIL DARI PERBUATAN IBU!!!! AKU AKAN DICERAIKAN MAS LEO!!!!!" ucap mama Larasati dengan nada keras dan kencang.
Suci yang mendengar teriakan dari mama Larasati pun keluar menghampiri.
__ADS_1
"Mama.... cukup ma, salahkan suci ma, jangan mama berteriak, ini rumah eyang, malu ma sama tetangga." ucap suci dengan terbata bata.
Zhein pun berlari mengikuti Suci. Zhein takut terjadi sesuatu dengan Suci. Zhein pun memegang bahu Suci, agar suci lebih tenang tidak dikuasai amarah seperti mama Larasati, karena seseorang yang sudah dikuasai amarah maka akan mudah baginya bertindak diluar kesadarannya.
Mama Larasati cukup terkejut melihat wanita menggunakan pakaian muslim yang longgar sampai menutupi kakinya, lengkap dengan kerudung dan cadar diwajahnya. Mama Larasati memperhatikan dari atas sampai bawah, kemudian berpindah menatap Zhein secara bergantian. Wajahnya merah padam, rahangnya pun mengeras, dan tangannya terkepal kuat, matanya membesar seakan ingin lari dari kelopaknya.
"Kamu siapa!!? Saya tidak ada urusan dengan kamu!? dimana ibu Atmojo cepat katakan pada saya!!!!!" ucap mama Larasati dengan nada membentak.
"Mama, ini aku Suci dan ini suamiku Zhein, kenapa mama tidak mengenaliku sama sekali." ucap Suci sambil terisak kencang. Air matanya luruh seperti anak sungai mengalir deras.
Mama Larasati pun kaget, ternyata gadis didepannya itu anaknya yang selama ini dia rindukan. Tapi karena rasa ego nya yang terlalu tinggi, mama Larasati pun seolah olah tidak mengenalnya.
"MAMA KATAMU!!!!! ANAKKU SUDAH MATI CAMKAN ITU, SUDAH MATI!????!!!!!!! DIA LEBIH MEMILIH KEHIDUPANNYA DIBANDING MAMANYA YANG SUDAH SEMBILAN BULAN MENGANDUNG DAN MELAHIRKAN MEMPERTARUHKAN NYAWA!!!! JADI GAK PERLU SITU PANGGIL SAYA MAMA!!!! SATA GAK PUNYA ANAK MODELAN KAYAK KAMU!!!! TERTUTUP GAK JELAS. ANAK MAMA TUH SEKSI, BOHAY, YANG SUKA JUGA KAUM ADAM YANG BERMUTU DAN KAYA. TIDAK MODELAN USTADZ SEPERTI INI!!!!? ucap mama Larasati dengan ketus.
"Mama kita bicarakan baik baik ya, ayok masuk dulu." ucap Suci sambil meraih tubuh mamanya untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Mama, tolong jangan salah paham dengan keputusanku, ini semua TAKDIR ma, harus kita hadapi, mama itu cantik, pintar kenapa harus takut ditinggalkan oleh papa yang dari dulu memang suka main perempuan." ucap Suci sambil mengusap air mata mamanya dengan telapak tangan suci.
"Kita semua sayang mama." ucap Zhein kemudian membuka pembicaraan. Jujur bingung perseteruan anak dan mamanya ini.
"DIAM KAMU GURU AGAMA!!!! GAK USAH SOK PEDULI DENGAN SAYA, CUKUP SUCI YANG KAMU CUCI OTAKNYA UNTUK MENGIKUTI KAMU DAN GAYAMU!!! PAHAM!!!" ucap mama Larasati dengan kasar.
"Mama, mas Zhein itu suamiku, mama gak boleh merendahkan suami suci dengan berkata seperti tadi. Derajatnya di mata Allah SWT beliau begitu tinggi karena iman dan ketaqwaannya. Walaupun mama banyak uang, itu tidak menjamin mama masuk surga. Lebih baik suamiku yang hanya Guru Agama, dia lebih TERHORMAT dari pada mama. Ayok mas, mending kita ke kamar, percuma kita berhadapan dengan orang sombong, kaku, dan hanya bisa merendahkan orang lain. Mama itu tidak sadar diri, mama itu seperti apa?" ucap suci sambil menarik tangan Zhein menuju kamarnya.
Sesampai dikamar Suci berteriak sekeras kerasnya dan menangis sekencang kencangnya. Hati suci kecewa melihat mamanya menjadi wanita sombong dan egois seperti itu. Belum lagi papanya, yang kembali lagi pada masa lalunya, yaitu bermain perempuan.
"Suci semua ini skenario dari Allah SWT, kita tidak bisa melawan takdir, yang bisa kita lakukan, melunakkan hati seseorang melalui do'a. Doakan kedua orang tuamu, jangan benci mereka walaupun mereka bersalah. Tapi berilah mereka kasih sayang mu yang tulus. Kamu tahu sayang ibarat pasir yang digenggam tangan lama lama akan habis bilang digenggam terlalu kuat. Itu sama saja dengan Hati seseorang yang kita doakan terus menerus hatinya pasti akan luluh.
__ADS_1
Atau ibarat batu keras yang terkena tetesan air, lama lama batu itu akan terkikis juga.
Kita doakan semoga hati mama Larasati bisa melunak dan luluh dari rasa egonya. Ini dijadikan pengalaman sayang, tingkat iman seseorang itu disesuaikan dengan tingkat ujiannya, kalau kamu berhasil maka ada hikmah dibalik ini semua. Percayalah." ucap Zhein menjelaskan.
Suci pun langsung memeluk Zhein, ada perasaan nyaman dan tenang saat kepala ini menyentuh dada bidangnya. Dada ini menjadi candu untuk Suci.
-Di Ruang Tamu-
Mama Larasati mencoba mencerna semua kata kata Suci. Betul kata Suci, memang suamiku dari dulu hanya bersenang senang dengan wanita lain. Dan aku harus bekerja dari pagi sampai malam. Hingga waktuku hanya habis untuk mengurusi kantor. Tapi, hanya Leo yang bisa memberikan kekayaan ini, dan aku bebas menikmati Hary kekayaan itu.
Hufffhhh, sudahlah buat apa juga aku pikirkan, lebih baik aku ke kamar ibu dulu, batin mama Larasati.
Larasati pun berjalan menuju kamar Ibu, tapi Larasati tidak menemukannya. Akhirnya ditanyalah asisten yang mengurusi Eyang.
"Lho Bu Larasati gak tahu, kan Eyang Atmojo dirumah sakit. Sudah 3 hari. Dan saat ini sedang dijaga oleh Pak Bowo, Bu Ameera, dan Bunda Jihan mertua mbak Suci. Eyang Atmojo koma, dan tidak sadarkan diri dua hari. Kemarin mbak suci dan mas Zhein yang menjaga disana sampe Eyang sadar." ucap Nia, asisten Eyang.
"Aku ingin dikamar Ibu dulu, mau istirahat disini, jangan ganggu aku Nia." ucapan Larasati tegas.
IBU........AKU RINDU PADAMU........
-------------------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1