
SELAMAT MEMBACA
πππππ
Hari ini Abi Tito dan ditemani Kakek Furqon kembali pulang ke rumah Khadijah. Hari ini mereka berniat membuka semua kebenaran agar terungkap dengan jelas sehingga tidak ada kesalah pahaman didalam rumah tangga mereka. Kakek Furqon sebagai orang tua Khadijah dan mertua Tito, mendukung Tito untuk jujur kepada istrinya. Seharusnya hal hal yang tidak disengaja ini memang tidak pernah terjadi. Tapi Allah SWT mempunyai rencana lain, dan tentunya itu rencana yang indah dan tepat untuk hambanya.
"Assalamualaikum... Khadijah?" ucap Tito suaminya sambil mengetuk pintu rumah itu.
"Waalaikumsalam.. Mas Tito, Abi Furqon, silahkan masuk, maaf Khadijah sedang memasak jadi tidak terlalu terdengar suara ketukan pintu." ucap Khadijah pelan sambil mencium punggung tangan suami dan ayahnya itu, kemudian mempersilahkan suami dan ayahnya masuk ke dalam rumah.
Rumah sederhana peninggalan Umi Khadijah. Semenjak Umi Khadijah meninggal, rumah ini tidak ada yang merawat. Setelah Khadijah menyelesaikan studinya dan melahirkan Fatimah, Khadijah kembali menetap di rumah ini.
"Fathan sudah berangkat Khadijah? Fatimah kemana?" ucap Abah Furqon lembut.
"Sudah dua hari Fathan berangkat ke Kairo, bukankah Fathan berpamitan dengan Abi? Sedangkan Fatimah sudah berangkat pagi pagi ke sekolah ada acara untuk bulan Muharam." ucap Khadijah lembut dan menyelidik.
Kakek Furqon menatap Khadijah dengan lembut kemudian menoleh ke arah Tito yang sedang menatap Khadijah pun terlihat cemas dan panik terpancar dari wajahnya.
"Memang sudah berpamitan, siapa tahu masih galau patah hati jadi tidak berangkat ke Kairo." ucap Kakek Furqon terkekeh untuk mencairkan suasana.
Tito hanya tersenyum kecut, hatinya pun tak kuasa untuk mengatakan kejujuran ini. Tapi ini demi kebaikan bersama.
"Sebenarnya Abi ada apa kemari, dan bisa bersama Mas Tito?" ucap Khadijah pelan.
"Khadijah, Abi lapar, bukankah kamu sudah memasak?" ucap Abi datar.
Sulit untuk membuka percakapan ini untuk memberitahukan tujuan maksud kedatangannya. Apalagi setelah melihat Khadijah yang baik dan ramah, sungguh tidak tega menyakiti dan mengecewakan hatinya, sekalipun itu bukan kesalahan yang disengaja. Kantung mata Khadijah yang sedikit menghitam dan bengkak, mungkin terlalu lelah menangis.
"Astaghfirullah.. Abi, ayok makan, Khadijah siapkan. Abi gak pernah berubah selalu saja makan masakan Khadijah." ucap Khadijah lembut.
__ADS_1
"Melihatmu seperti melihat mendiang Umimu, kalian itu sangat mirip sekali. Masakan kalian pun rasanya sama, jadi Abi selalu ingat Umimu bila makan masakanmu Khadijah. Apa kamu keberatan Khadijah?" ucap Abi Furqon tersenyum.
"Apakah menurut Abi, ada seorang anak yang ingin durhaka kepada Abinya? Abi lebih paham agama, dan abi yang selalu mengajarkan Khadijah untuk hormat kepada Abi." ucap Khadijah menjelaskan
"Abi, Mas Tito ayok makan, ini nasinya cukup? ini sayur dan lauknya." ucap Khadijah begitu telaten mengurus kedua pria itu.
"Khadijah, semua itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Kita hanya bisa menerima takdir kita dengan sabar bila itu tidak sesuai harapan kita. Kamu ingat cerita Nabi Muhammad Saw." ucap Kakek Furqon.
Tak lama, Khadijah pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta. Rasulullah mendekap erat istri tercintanya itu dengan perasaan sedih yang teramat sangat. Air mata pun mentes dari mata Rasulullah dan beberapa orang yang ada di sana, di dekat Khadijah.
Saat itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya, "Untuk siapa sajakah kain kafan itu wahai Jibril?". βKafan ini untuk Khadijah, untuk engkau, ya, Rasulullah, untuk Fathimah, Ali, dan Hasan,β jawab Jibril.
Kemudian Jibril berhenti berkata dan menangis.
Rasulullah bertanya, "Kenapa Ya Jibril?". βCucumu yang satu, Husain (putera Sayyidina Ali) tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,β sahut Jibril.
"Kamu mengerti Khadijah, seorang Rasul, Kekasih Allah pun mempunyai takdirnya sendiri. Menerima dengan sabar dan ikhlas. Apalagi kita hanya seorang hamba yang tidak pernah luput dari dosa." ucap Kakek Furqon menjelaskan.
"Itu memang hal yang wajar, akan tetapi jangan berkepanjangan itu tidak dibenarkan. Dan kamu harus benar benar tahu kebenarannya, bukan dari sepihak atau hanya mendengar setengahnya." ucap Kakek Furqon.
"Iya Abi, Khadijah paham maksud Abi." ucap Khadijah melirik Tito suaminya.
Mereka bertiga pun telah selesai menyantap makan pagi menjelang siang. Mereka pun duduk bersama di ruang keluarga.
"Ada yang ingin disampaikan oleh suamimu Khadijah, sesuatu kebenaran yang terjadi di masa lampau. Abi harap kmu mendengarkan dulu, dan tidak memotong pembicaraannya." ucap Kakek Furqon.
Khadijah hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju kepada Abi dan suaminya.
Hatinya sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan dan dirinya sendiri. Khadijah sudah siap dengan segala kemungkinan yang buruk sekalipun. Matanya pun sudah sangat lelah, dan air matanya mungkin sudah kering karena setiap malam menangis.
__ADS_1
Tito pun menghela nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Suap tidak siap, tapi ini waktu yang tepat dan baik untuk jujur. Harapannya untuk tetap bersama Khadijah setelah pengakuan ini pun sangat besar. Ingin memulai semuanya dari awal, semoga mengakui kesalahan fatal ini bisa membuat kita lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan.
"Khadijah maafkan aku, selama ini aku kurang memperhatikan kamu, Fathan dan Fatima. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, hingga aku lupa terhadap keluarga kecilku.
Dua puluh tahun yang lalu saat kamu sudah melahirkan Fathan, dan saat kamu sudah kembali lagi ke Kairo untuk kuliah. Saat itu usaha hotel dan restoranku bangkrut. Aku frustasi, aku yang baru saja berniat kembali ke jalan Allah SWT pun hilang kendali, dan aku kembali dalam kemaksiatan. Aku kembali ke Indonesia untuk menenangkan pikiranku tanpa sepengetahuanmu. Aku kembali berkumpul dengan teman-teman ku di dunia malam. Termasuk dengan Leo dan Kevin. Hingga suatu saat aku dijebak oleh Leo sahabatku, minumanku dicampur dengan obat perangsang, dan aku meniduri seorang wanita hingga ia mengandung anakku......
Wanita itu pun dijebak oleh Leo karena ingin memperoleh keturunan agar seluruh warisan orang tuanya jatuh ke tangannya. Aku sadar waktu berbuat itu kepada wanita itu, hanya saja wanita itu sedang tidak sadar, dia mabuk berat.
Wanita itu adalah Larasati... Aku harap kamu bisa memahami ku Khadijah.
Satu hal lagi, setelah aku melakukan itu pada Larasati, aku tambah frustasi dan aku takut Bowo akan marah padaku. Aku menaiki motor dengan kecepatan tinggi hingga terjadi tabrakan dan aku pingsan.
Lagi lagi aku ditolong oleh seorang wanita. Dia yang merawatku hingga sembuh di Kota S. Hingga akhirnya aku menikahi wanita itu, karena aku hilang ingatan. Sebulan setelahnya wanita itupun mengandung anakku dan aku mencari nafkah ke Kota P dan bertemu Abi Furqon.
Aku dirawat oleh Abi, hingga aku mengingat semuanya. Hingga aku mendengar wanita yang aku nikahi itu meninggal karena melahirkan.
Wanita itu adalah Siti.....
Aku siap dengan semua konsekuensinya, aku siap mendengar amarahmu, aku siap kamu pukul bila itu semua bisa memaafkan kesalahanku.
Maafkan aku Khadijah... " ucap Tito kepada Khadijah istrinya.
Khadijah hanya menatap sendu wajah suaminya. Kebenaran yang terungkap membuat lega sekaligus membuatnya sakit. Kedua wanita yang menjadi sahabatnya itu pernah bersama, dan bersenggama dengan suaminya. Alangkah Khadijah tidak bisa berhenti memikirkan kalau Khadijah harus berbagi suami dengan kedua sahabatnya.
Tangisan Khadijah sudah tidak bisa dibendung, semua deras bahkan semakin deras.
---------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
πππππ