Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 67 UNGKAPAN HATI AISYAH


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Sejak siang Zhein menunggu istrinya yang belum sadar. Sudah dua jam berlalu, Zhein masih setia menunggu disamping bed Suci dirawat.


"Sabar Zhein, lebih baik Suci di rumah agar banyak istirahat. Dia masih terlalu muda untuk mengandung. Mungkin faktor tubuhnya juga yang kurang stabil. Jangan dibebani pikiran." ucap Raina menjelaskan panjang lebar.


"Akan aku usahakan Raina. Aku ingin dia dan kandungannya sehat. Aku pikir dengan ku bawa jalan mungkin dia lebih terhibur dan rileks. Tapi kenyataannya tidak, aku merasa bersalah Raina." ucap Zhein datar.


Wajahnya sendu dan pilu menatap Suci yang tergolek lemah dan tidak berdaya. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi istrinya yang masih belum sadar. Genggaman tangan semakin erat, hingga memberikan energi positif di dalamnya.


"Ada hubungan apa Suci dan laki laki tadi Zhein? Dia seperti cemas dan panik. Sorot matanya tajam sekali." ucap Raina yang terlihat kesal mengingat adu mulutnya dengan laki laki tadi.


"Dia Fathan, Raina. Dia tetangga Suci, mereka berdua saling mencintai dan berjanji untuk menikah. Namun kenyataannya, takdir berkata lain. Suci membawa dirinya untuk menjadi bagian keluargaku, dan semua mengalir begitu saja hingga kami menikah. Mungkin rasa cinta pada keduanya masih ada Raina. Aku sedang berusaha, agar Suci bisa melupakan Fathan. Tapi..." ucap Zhein terdiam.


Matanya menatap wajah Suci, disudut matanya ada butiran kristal yang akan terjatuh.


"Tapi apa Zhein?" ucap Raina menyelidik. Raina penasaran tentang laki laki itu.


"Kenyataan pahit kembali menghampiri, mereka saudara se-Ayah, Raina. Fathan sudah tahu tapi dia tidak bisa menerima. Sedangkan Suci memang belum diberitahu alasannya kondisinya sedang mengandung, yang ditakutkan akan menjadi beban pikirannya di kemudian hari." ucap Zhein dengan tenang.


Penjelasan Zhein sangat dekat tail dan lengkap membuat Raina tidak memiliki pertanyaan untuk diajukan kembali kepada Zhein.


"Ternyata masalahnya pelik juga. Jujur Zhein pertama lihat Fathan sempat kagum. Orang baik mau mengantarkan ibu hamil yang sedang tidak sadarkan diri, tapi ternyata karena ada rasa." ucap Raina datar.


"Kamu suka Raina? coba buka hatimu, siapa tahu dia cocok untukmu. Fathan itu baik dan setia, nyatanya istri orang aja masih dicintai. Betul gak?" ucap Zhein pelan.


"Entahlah Zhein, aku ingin takdir yang membawaku kepada jodohku. Aku sudah tidak mau repot memikirkan jodoh, disaat yang kita harapkan tidak sesuai keinginan kita itu akan lebih menyakitkan. Belajar dari pengalaman dengan Bima Zhein." ucap Raina pelan.


Tatapannya sendu karena harus kembali menceritakan Bima.


"Banyakin sholat malam Raina, Allah SWT akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang menjadi keinginan kita. Selama dia kita belum dikabulkan, maka Allah SWT menginginkan kita untuk lebih dekat lagi kepadaNya." ucap Zhein lembut.


Bibir Raina pun tertarik hingga membuat senyuman yang manis.


"Lihat itu Zhein, Suci menggerakkan jari jarinya." ucap Raina pelan.


Raina pun berjalan ke bed Suci dan memeriksa kembali keadaan Suci.

__ADS_1


"Alhamdulillah semuanya normal Zhein, biarkan Suci istirahat malam ini. Besok baru aku perbolehkan pulang.


"Baiklah Raina, berikan yang terbaik untuk istri dan anakku." ucap Zhein pelan.


Tidak lama Suci membuka matanya dengan pelan. Suci pun menoleh ke arah Zhein.


"Suci dimana Mas?" ucap Suci pelan.


"Sayang, kamu kelelahan, kamu istirahat dulu, atau mau minum?" ucap Zhein lembut.


Suci hanya menggelengkan kepalanya. Tatapannya beralih kepada perutnya yang masih rata.


"Anak kita bagaiman Mas?" ucap Suci pelan.


"Alhamdulillah sayang, anak kita kuat, dia baik baik saja. Kamu juga harus kuat seperti anakmu, agar cepat sembuh." ucap Zhein lembut sambil mengecup kening Suci.


"Alhamdulillah, anakmu sungguh pinta dan pengertian Mas." ucap Suci tersenyum.


Semua keadaan kembali normal, dan semuanya telah membaik tanpa ada celah keburukan sedikit pun.


Kebahagian pasangan suami istri, ketika kehamilan mereka baik baik saja hingga tiba waktunya persalinan nanti. Semoga semuanya lancar dan sempurna.


💚💚💚💚💚


Namun sekarang harapan itu telah pupus walaupun Suci sudah menikah dengan orang lain yang Aisyah pun tidak mengenalnya. Tapi walaupun tidak mengenalnya, Zhein terasa dekat dan penyayang.


Maafkan aku Suci, aku selalu mudah jatuh cinta, sekarang aku jatuh cinta pada suamimu sendiri. Aku sudah berusaha menghilangkannya tapi itu sulit.


Tapi aku akan berusaha melupakan Zhein dengan cepat. Aku takut azab Allah SWT, karena menginginkan suami kakakku sendiri, gumam Aisyah pelan.


"Assalamualaikum Aisyah.... " panggil Umi Khadijah sambil mengetuk pintu kamar Aisyah.


"Waalaikumsalam, Umi ada apa?" ucap Aisyah pelan.


"Ayahmu Tito akan datang. Beliau tahu kamu tinggal di rumah ini." ucap Umi Khadijah dengan sangat lembut.


"Benarkah Umi? Alhamdulillah Aisyah bisa bertemu ayah Aisyah. Tapi Umi, Aisyah harus bagaimana?" ucap Asiyah sopan.


Perasaan Aisyah sedang dalam pergalauan tingkat tinggi.

__ADS_1


"Ikuti kata hatimu Aisyah. Apa yang harus kamu lakukan itu kan, hanya kamu yang tahu." ucap Umi Khadijah dengan lembut.


"Iya Umi, terima kasih sudah menerimaku dengan baik." ucap Aisyah dengan baik dan memeluk Umi Khadijah.


Tiga jam sudah berlalu, Aisyah semakin cemas dan panik akan bertemu Tito ayah kandungnya. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya pun terasa dingin. Kakinya terasa lemas. Pertemuan pertama dengan ayah kandungnya, bisa memeluk dan bersenda gurau itulah impian Aisyah. Aisyah hanya mondar mandir di dalam kamarnya.


"Aisyah..." panggil Umi Khadijah pelan.


"Iya Umi, ada apa?" ucap Aisyah sopan menghampiri Umi Khadijah.


"Bantu Umi menyiapkan makan siang di meja makan. Kamu keberatan Aisyah?" tanya Umi Khadijah lembut.


"Tidak Umi, Aisyah akan bereskan meja makan. Aisyah senang Umi." ucap Aisyah pelan.


"Aisyah... kamu baik sekali Nak?" ucap Umi Khadijah menyanjung.


"Assalamualaikum... Umi" ucap Fatima memanggil uminya.


"Waalaikumsalam anak umi sudah pulang sayang. Kenapa sayang? kok teriak teriak." tanya Umi Khadijah kepada Fatima.


"Umi ada tamu, Guru Fatima, Pak Baihaqi dan ketua OSIS Fatima disekolah Kak Haikal. Mereka ingin meminta sumbangan untuk renovasi masjid sekolah Umi. Temui ya." ucap Fatima dengan nada manja.


"Iya sebentar Umi ke kamar dulu. Aisyah buatkan minuman dulu ya Nak, antarkan ke depan ya Nak." ucap Umi Khadijah pelan.


"Iya Umi, Aisyah buatkan minuman dulu." ucap Aisyah sopan.


Aisyah membuat sirup rasa jeruk yang dingin dan menyiapkan cemilan kue kering di toples kecil. Aisyah pun ke depan membawa minuman dan cemilan itu untuk tamu Umi.


"Diminum Pak." ucap Asiyah menatap kedua tamunya.


"Iya terima kasih." ucap Baihaqi lembut.


Aisyah pun kembali ke dapur. Jantungnya berdegup kencang. Tatapan itu sama persis dengan tatapan teduh seseorang yang ia kagumi.


------------++-------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR


JAZAKALLAH KHAIRAN

__ADS_1


💚💚💚💚💚


__ADS_2